NovelToon NovelToon
Disty Milik Javeno (Aku Pelacur Milik Javeno)

Disty Milik Javeno (Aku Pelacur Milik Javeno)

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyelamat
Popularitas:923
Nilai: 5
Nama Author: S.Lintang

⚠️⚠️

Bukan Cinta Yang Memiliki.
Tapi Obsesi Yang Menjerat.

⚠️⚠️

~•~

Aku bukan milikmu
tapi kamu tidak pernah melepaskanku.
- Disty -

Kamu milikku, dan tidak ada
yang berhak memilikimu selain aku.
- Javeno -

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon S.Lintang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20

Disty memperhatikan Zayna yang lebih banyak diam setelah istirahat selesai sampai pulang sekolah sekarang. Zayna itu cerewet dan tidak akan berhenti mengoceh kalau tidak ada sesuatu yang terjadi.

"Zay," panggil Disty membuyarkan pikiran Zayna yang terasa berat.

Zayna menoleh dan tersenyum. "Kenapa?" tanya Disty.

"Gue? Gapapa, cuma mikir aja, tadi tuh kayak susah banget pelajaran nya, makanya diem," ucap Zayna tersenyum, menyembunyikan nya.

Disty mengangguk singkat dan berdiri bersama tas nya.

"Oh iya, lo mau langsung pulang?" tanya Zayna ikut berdiri.

"Iya," jawab Disty.

"Kalau gue minta temenin belajar sebentar di perpus lo mau nggak? Nggak lama kok," ucap Zayna meminta tanpa raut mencurigakan.

Disty tampak berpikir. "Sebentar doang nggak akan jadi masalah kan? Javeno nggak akan marah kayaknya," batinnya.

"Ayo," kata Disty mengangguk setuju.

Zayna tersenyum dan mereka berdua bergandengan tangan menuju perpustakaan. Saat masuk, masih ada penjaga perpus di dalam, tapi sudah tidak ada murid lagi karena sekolah sudah berakhir.

Zayna dan Disty memilih buku pelajaran yang akan mereka pelajari bersama.

"Sstt gue kebelet Dis, gue tinggal ke toilet sebentar ya. Lo belajar duluan aja, nggak bisa nahan gue," kata Zayna memperagakan kalau ia sedang menahan sesuatu.

Disty mendengkus dan mengangguk. "Oke," sahutnya.

Zayna segera keluar, dan saat keluar, ia bertemu dengan Zaffar yang memberi senyum lebar padanya.

"Lo sampe di rumah, nggak lama bakal ada mobil yang bawa keluarga lo dan bebasin mereka di depan rumah lo," bisik Zaffar setelahnya melangkah menuju perpustakaan.

"Sorry Dis, tapi untuk sekarang gue bakal selamatin keluarga gue duluan, setelah gue pastiin mereka aman, gue bakal datang lagi sendiri dan selamatin lo dari Zaffar," batin Zayna mengepalkan tangan dengan air mata.

Segera memacu motornya dengan cepat agar cepat sampai di rumah. Agar ia juga masih bisa sempat menyelamatkan Disty sebelum sesuatu yang buruk terjadi nanti.

Sedangkan Zaffar sudah masuk ke perpustakaan, melihat Disty yang masih fokus memilih-milih buku. Tatapan matanya beralih pada penjaga perpus, meminta untuk segera keluar dan langsung pergi.

Uang yang Zaffar berikan sangat banyak, itu sebabnya pengurus perpus itu setuju saja, sambil melangkah keluar, ia memberikan kunci pada Zaffar.

Zaffar yang tersenyum kemenangan dan segera mengunci pintu perpustakaan ini dari dalam, agar tidak ada yang membukanya dari luar.

Disty yang mendengar suara pintu yang terkunci langsung membalik badan. Matanya membulat sempurna saat melihat keberadaan Zaffar yang mendekat dengan langkah pelan tapi penuh ancaman.

Disty mundur, matanya bergerak mencari seseorang, tapi tidak ada, bahkan penjaga perpus juga tidak ada.

"Hari ini_ gue bakal dapetin apa yang selama ini gue nanti," kata Zaffar tersenyum lebar.

Takut? Tentu saja, Disty takut.

"Menjauh!" peringat Disty sambil melempar buku-buku yang bisa ia ambil dan melempar kearah Zaffar yang terus mengelak.

"Sekolah udah sepi," ucap Zaffar memberitahu, yang semakin membuat Disty gemetar ketakutan.

"ZAYNA!!" teriak Disty memanggil.

Zaffar tertawa geli mendengar itu. "Udah gue bilang, sekolah udah sepi. Zayna juga gue lihat pulang tadi," ucapnya.

"Aku nggak akan kasar sama kamu kalau kamu nurut dan diem Dis, aku udah lama loh penasaran sama kamu," ucap Zaffar mengubah kosakata nya.

Disty menggeleng. Ia tidak menangis walaupun takut.

"JAVEN!!" teriak Disty dengan keringat dingin.

"Gue benci banget sama dia, karena setiap kali kita berdua_ dia selalu datang dan ganggu. Tapi hari ini dia nggak ada, udah gue pastiin kalau dia juga pulang tadi, sekolah sepi sayang," papar Zaffar lalu berhasil menangkap tangan Disty.

"Lepas!" Disty memberontak.

Kekuatan Zaffar jauh lebih besar dari pada dirinya yang hanya gadis lemah. Zaffar berhasil mengikat kedua tangan Disty menggunakan ikat pinggang pemuda itu.

"Akibat yang lo terima bakal buruk Zaf, Javeno nggak akan kasih ampun untuk lo," ucap Disty mengingatkan kalau Zaffar sering masuk rumah sakit karena ulah Javeno.

"Gue udah terbiasa nggak sih? Haha," tawa Zaffar sambil mengambil botol mineral kecil dari dalam tas nya.

"Kalau Javeno aja bisa icipin badan lo dan semuanya, kenapa gue enggak?" Zaffar bertanya dengan tatapan lapar.

Brukkk

Disty tersungkur jatuh saat Zaffar menjegal kakinya yang berusaha lari. Dengan kasar Zaffar menarik kaki Disty.

"ZAFFAR LEPAS!" teriak Disty dengan mata memerah.

"Iya sayang, sebentar lagi kita lepas baju hm," sahut Zaffar tersenyum penuh nafsu.

"Sebelum itu, lo harus minum ini dulu biar permainan lebih seru," ucap Zaffar pelan membuka paksa mulut Disty yang terus bergerak.

Disty tau, itu air yang sudah Zaffar beri obat perangsang pastinya.

"Mmmhtt."

Disty memberontak kuat, membuat air tumpah sebagian tapi juga sudah berhasil masuk ke mulutnya.

Belum sempat Disty menyemburkan air itu, Zaffar sudah lebih dulu membungkam mulutnya dengan bibir pemuda itu.

Berakhir dengan Disty yang terpaksa menelan air yang sudah tercampur obat perangsang.

Disty memberontak ingin melepas ciuman, tapi tidak bisa, Zaffar sangat kasar dan menuntut bahkan tidak segan Zaffar menggigit bibir nya agar bisa leluasa menjelajah rongga mulutnya.

Disty meneteskan air mata, tubuhnya mulai panas dan melemah. Obat perangsang udah mulai aktif.

"Jav," batin Disty memanggil lirih.

Zaffar melepas tautan di mulut setelah merasa puas, lalu ia tersenyum melihat reaksi tubuh Disty yang seperti cacing kepanasan.

"Dosis yang gue pake tinggi Dis, sengaja biar lo nggak kelamaan berontak," kata Zaffar sambil membuka kancing seragam Disty tidak sabaran.

"Lepas Zaf," lirih Disty menangis.

"Iya sayang, ini gue bantu lepas hm," ucap Zaffar. Matanya berbinar melihat dua gundukan besar yang terbungkus bra berwarna putih ini.

"Javen bagus juga modif nya ya sampe bisa jadi sebesar dan sekenyal ini," ujar Zaffar mulai menghisap dan memberi tanda di sana. Bra belum ia buka, tapi ada separuh nya yang tidak terbungkus.

Disty menggigit bibirnya, menahan desahan menjijikkan yang hendak keluar.

"Demi apa pun gue lebih rela kotor karena Javen daripada lo, Zaf," desis Disty dengan desahan tertahan.

"Terserah lo, yang jelas hari ini gue bisa nikmati lo," ucap Zaffar mulai mengeluarkan sebelah dada Disty dan menyusu di sana. Menyedot kuat seolah memaksa air keluar dari sana.

Disty memejamkan mata dengan bibir yang sudah berdarah karena ia benar-benar tidak mau mendesah. Tapi tubuhnya justru ingin meminta lebih sekarang.

"Jav, tolong," batinnya penuh harap kalau Javeno bisa datang.

Disty memang tidak suci lagi, tapi ia tidak rela kalau ada yang menyentuhnya selain Javeno.

BRAKKK!!

"ANJING!" teriak Javeno berhasil mendobrak pintu dengan tendangan nya.

Mengumpat kuat saat melihat Zaffar yang berhasil mengukung dan menyentuh gadisnya lebih jauh di lantai dingin perpustakaan itu.

Zaffar marah karena selalu ada Javeno, padahal tadi ia sudah memastikan kalau Javeno pulang.

Javeno memang pulang, tapi saat Disty tidak kunjung sampai, ia kembali lagi ke sekolah.

Bugh

Javeno memukul kuat rahang Zaffar yang terpental. Zaffar itu tidak terlalu bisa bela diri.

Javeno memukul tanpa ampun, menendang, membogem, bahkan sekarang Javeno membenturkan kepala Zaffar ke dinding perpustakaan berkali-kali dengan amarah yang memuncak.

Gaveno berlari menyusul, lalu melihat keadaan Disty yang menggeliat penuh keringat dingin, apalagi tatapan penuh nafsu itu. Gaveno tau kalau Zaffar pasti memaksa Disty meminum obat perangsang.

"Jav, urus cewek lo," kata Gaveno menghentikan Javeno.

Javeno membenturkan Zaffar ke meja terakhir sebelum kembali pada Disty yang sudah berdiri tertatih menghampiri dirinya.

"Panass," desis Disty.

Javeno melepaskan ikat pinggang yang ada di tangan Disty, matanya masih berkilat amarah karena ada beberapa tanda kepemilikan yang Zaffar tinggalkan.

Disty melompat ke pelukan Javeno seperti koala, di mana Javeno yang segera membawa Disty keluar dari perpustakaan ini.

Disty menghisap kuat serta menggigit leher Javeno untuk mencari apa yang tubuhnya inginkan.

Javeno menahan nafsu yang berhasil Disty berikan. Melajukan mobil dengan kecepatan tinggi. Kalau ke rumah, itu semakin lama sedangkan Disty semakin mengganas karena dosis yang Zaffar beri terlalu tinggi.

Jadi Javeno membawanya ke apartemen pribadi miliknya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!