Kayla Daviena, seorang gadis konglomerat yang hidupnya suka foya-foya. Karena sikapnya itu, sang ayah mengambil seluruh kartu kreditnya dan bahkan menyuruh Kayla untuk tinggal seorang diri di kos-kosan sederhana di tengah kota! Hidup pas-pasan, tunggakan yang numpuk, piring belum di cuci, semuanya datang bertubi-tubi tanpa henti dalam hidup gadis itu. Siapa sangka ia tiba-tiba bertemu cowok aneh super menyebalkan yang tinggal di sebelah kosnya, dan mendadak di cowok itu memacari dirinya tanpa aba-aba! Apa yang akan terjadi dengan mereka selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dya Veel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penasaran
Sesampainya di kawasan kuliner luar gang, aroma gurih adonan takoyaki yang dipanggang langsung menyambut indra penciuman Kayla. Seolah melupakan fakta bahwa dirinya baru saja kabur dari kejaran mantan, Kayla langsung memesan takoyaki porsi jumbo dengan siraman saus pedas dan mayones yang melimpah.
"Pelan-pelan napa makannya, Oma. Nggak bakal ada yang minta," celetuk Juna yang duduk di seberangnya, santai mengunyah takoyaki miliknya sendiri.
"Diem lo. Gue tuh seharian menderita menahan lapar demi harga diri ya!" balas Kayla penuh emosi, langsung menjejalkan satu bulatan takoyaki utuh yang masih agak panas ke dalam mulutnya.
Akibatnya bisa ditebak. Kayla langsung megap-megap kepanasan, sambil tangannya sibuk mengipasi mulut. Parahnya lagi, noda saus pedas dan mayones sukses belepotan di sudut bibir hingga ke pipi kirinya.
Juna yang melihat pemandangan absurd itu langsung menghentikan kunyahannya. Cowok SMA itu menghela napas panjang, lalu tangannya bergerak mengambil selembar tisu dari kotak di tengah meja. Tatapan mata Juna mendadak berubah fokus dan intens ke arah wajah Kayla.
Melihat Juna yang menatapnya tanpa kedip sambil memegang tisu, jantung Kayla tiba-tiba melewatkan satu detakan. Pikiran gadis itu langsung melayang ke adegan-adegan romantis di drama Korea atau novel best-seller yang sering ia baca.
Juna mengambil satu helai tisu, tangannya terangkat ke atas dan tanpa Kayla sadar di waktu bersamaan jantungnya tiba-tiba berdetak kencang.
Eh tahunya Juna mengelap bibirnya sendiri dengan tisu itu, melayang sudah imajinasi Kayla dari kepalanya.
"Ngapain lo monyong-monyong begitu? Mau nyaingiin lumba-lumba?"
Suara tengil Juna membuyarkan lamunan Kayla. Gadis itu langsung membuka mata dan melotot.
"Nih, lap sendiri. Belepotan mulu kayak anak TK habis lomba makan kerupuk," kata Juna santai sambil melempar selembar tisu baru tepat ke atas wajah Kayla.
"JUNA!!! BOCIL KEMATIAN!!! GUE ULEK JUGA LO YA!!!" amuk Kayla dengan wajah memerah sempurna—antara malu karena sudah kepedean tingkat dewa dan kesal setengah mati karena dikerjai. Juna hanya tertawa terbahak-bahak sampai matanya menyipit, puas sekali melihat wajah Kayla berganti warna mirip kepiting rebus.
Sementara itu, di waktu yang bersamaan di kos-kosan Bu Arin...
Raka tidak bisa tenang. Pikirannya terus berputar memikirkan siluet Kayla yang berboncengan dengan Juna tadi. Rasa penasaran dan cemburu yang membakar dada membuatnya nekat turun dari lantai atas dengan langkah sepelan mungkin. Alih-alih lewat jalur biasa, ia memasang mode investigasi.
Raka pura-pura berjalan santai ke arah dapur bersama, namun matanya bergerak liar menyisir setiap pintu kamar di area kos putri bawah. Ia tahu kosan Bu Arin tidak terlalu besar, jadi harusnya menemukan kamar Kayla bukanlah hal sulit.
Langkah kaki Raka mendadak terhenti tepat di depan kamar nomor tiga. Matanya menangkap sepasang sandal rumah berbulu warna pink yang sangat familier tergeletak di depan pintu. Itu sandal kesayangan Kayla!
Dapet, batin Raka tersenyum puas. Ia melangkah mendekat, berniat mengetuk pintu atau memastikan apakah Kayla sudah pulang atau belum.
Namun, tepat saat tangan Raka melayang di udara hendak mengetuk...
"EHEM!!! LAGI NGAPAIN KAMU, MAS?!"
Sebuah suara menggelegar bak petir di siang bolong terdengar dari arah belakang. Raka sentak meloncat kaget sampai hampir menabrak pintu kamar. Ia berbalik dengan wajah pucat dan mendapati Ibu Arin sudah berdiri berkacak pinggang, lengkap dengan daster batik dan sebuah sapu ijuk di tangan kanannya. Tatapan Bu Arin tajam menghakimi, mirip sipir penjara yang menangkap basah tawanan kabur.
"Eh—eh, Ibu... Pagi—eh, Malam, Bu!" gagap Raka, mendadak kehilangan wibawa anak kuliahan elitnya.
"Mas Raka, Ibu kan tadi pagi sudah jelaskan panjang lebar lebaran jalan tol! Area bawah ini kos-kosan putri! Jam malam sudah lewat, ngapain kamu berdiri celingukan di depan pintu kamar anak gadis orang malam-malam begini? Mau ngintip ya?!" tuduh Bu Arin, ujung sapu ijuknya sudah naik satu senti menunjuk dada Raka.
"B-bukan begitu, Bu! Sumpah!" Raka panik, keringat dingin mulai bercucuran. "Saya... saya tadi cuma mau nyari kamar mandi umum, Bu. Terus saya agak linglung salah jalan ke sini, hehe..." Alasan klasik yang sangat tidak meyakinkan.
Bu Arin menyipitkan matanya curiga, menatap Raka dari atas sampai bawah. "Nyari kamar mandi kok sampai ke depan pintu kamar nomor tiga? Kamar mandi atas kan ada, Mas! Lagian kalau linglung ya nanya, bukan malah nongkrong di sini. Sudah, sudah, cepat naik ke atas sebelum Ibu laporkan ke pak RT karena tindakan mencurigakan!"
"I-iya, Bu. Maaf, Bu. Saya naik sekarang," pamit Raka buru-buru, langsung melesat menaiki tangga dengan langkah seribu, merutuki nasib sialnya yang gagal total di misi pertama karena hadangan sang induk singa kosan.
Raka menghela napas kesal, ia baru saja ingin mengeluarkan kunci kamarnya dan kembali masuk ke dalam sana namun suara motor yang tak asing menyapa kedua telinganya dari bawah parkiran bawah sana.
Atensi laki-laki itu kini beralih, ia melirik dari atas sana. Matanya tertuju pada seorang gadis yang sedang duduk di jok belakang motor hitam yang baru saja tiba di parkiran.
"Itu kan, Kayla?!"
Kayla turun dan hendak melepaskan helmnya, namun Juna sudah lebih dulu membantunya.
"Ekhem, lu bisa ngga ngga usah sok pedulian," kata Kayla.
"Dih, ini latihan ya. Biar kalau kita mau sandiwara di depan mantan lo, dia langsung kepanasan," sahut Juna.
Namun saat sedang melepaskan pengait helm Kayla, manik mata Juna beralih ke atas sana. Ia tersenyum tipis, menampilkan senyum kemenangan pada seseorang yang masih memperhatikan keduanya tepat di balkon atas sana.
Raka mengepalkan tangannya erat, tatapannya perlahan berubah menjadi tajam. "Sialan lo bocil SMA!"
Nah akhirnya ketemu Juna. Lumayan ngirit ongkos balik ke kos-kosan