Bagi Arunika Nirmala, mencintai Marsellino adalah luka yang paling dalam. Namun, saat Marsellino memilih wanita lain, sebuah tawaran gila datang dari Thomas Adiputra—kakak Marsel sekaligus CEO dingin bermulut pedas yang selalu menghinanya.
Sebuah kontrak pernikahan disodorkan. Thomas butuh tameng dari perjodohan ibunya, dan Arunika butuh harga diri di depan pria yang membuangnya.
Arunika pikir ini hanya transaksi bisnis dua tahun yang hambar. Ia tidak tahu bahwa bagi Thomas, kontrak ini adalah rencana sepuluh tahun untuk menjerat satu-satunya gadis yang pernah ia cintai dalam diam.
"Hapus sampah itu dari ponselmu, Arunika. Sekarang, kamu adalah milikku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 32
Hujan deras mengguyur Jakarta malam itu, menciptakan simfoni statis yang meredam kebisingan kota di balik jendela kaca apartemen mewah milik Aletta. Di dalam unit yang didominasi warna monokrom itu, suasana terasa sangat berat dan mencekam.
Marcell berdiri di depan jendela besar, menatap butiran air yang meluncur jatuh. Tangannya terkepal kuat hingga buku-bukunya memutih. Bayangan saat makan malam di rumah orang tua Arunika beberapa jam lalu masih berputar seperti kaset rusak di kepalanya. Suara tawa Thomas, cara kakaknya itu dengan posesif merangkul Arunika, dan yang paling menyakitkan—suapan manja Thomas yang seolah-olah sengaja dilakukan untuk menampar wajah Marcell.
"Brengsek!" umpat Marcell rendah, suaranya parau karena amarah yang tertahan di tenggorokan.
Aletta berjalan mendekat, ia hanya mengenakan jubah mandi sutra tipis yang memperlihatkan lekuk tubuhnya. Ia bisa merasakan aura gelap yang memancar dari tubuh Marcell. Ia tahu kekasihnya itu tidak benar-benar bersamanya malam ini. Raganya ada di sini, tapi jiwanya masih tertinggal di meja makan keluarga Arunika.
"Masih mikirin mereka?" tanya Aletta, suaranya serak dan menggoda, mencoba menarik perhatian Marcell kembali padanya. Ia melingkarkan lengannya di pinggang Marcell dari belakang, menyandarkan wajahnya di punggung pria itu yang tegang.
Marcell tidak menjawab. Pikirannya masih dipenuhi bayangan Arunika yang tersenyum malu-malu saat menatap Thomas. Gadis yang dulu selalu mengejarnya, kini seolah-olah sudah benar-benar menghapus keberadaannya dari hatinya.
"Lepas, Al," ujar Marcell dingin.
"Kenapa? Kamu nggak suka aku di sini?" Aletta justru semakin merapat, tangannya mulai merayap naik ke dada Marcell, merasakan detak jantung pria itu yang berpacu liar karena amarah. "Kamu marah karena Thomas pamer kemesraan? Atau kamu marah karena tahu Arunika bukan lagi milikmu?"
Kata-kata Aletta seperti bensin yang menyambar api. Marcell berbalik dengan cepat, mencengkeram bahu Aletta dan menekannya ke dinding kaca yang dingin. Matanya memerah, penuh dengan rasa frustrasi yang memuncak.
"Jangan sebut nama dia lagi," desis Marcell tepat di depan wajah Aletta. Napasnya memburu, menerpa kulit wajah Aletta.
Aletta tidak takut. Ia justru tersenyum menantang, tangannya menarik kerah kemeja Marcell agar wajah pria itu semakin dekat. "Kenapa? Sakit ya? Kalau kamu mau dia, kenapa kamu nggak ambil saja? Tapi kenyataannya, sekarang kamu cuma punya aku, Marcell. Cuma aku yang mau sama pria pecundang yang kalah sama kakaknya sendiri."
"Diam!" bentak Marcell.
Tanpa peringatan, Marcell menyambar bibir Aletta dalam ciuman yang tidak ada lembut-lembutnya. Ciuman itu adalah bentuk pelampiasan, penuh dengan kekasaran dan kemarahan yang meluap-luap. Ia ingin membuktikan bahwa ia masih memiliki kendali, bahwa ia tidak selemah yang orang-orang pikirkan.
Aletta mengerang di sela ciuman mereka, membalas setiap lumatan Marcell dengan kegilaan yang sama. Ia tahu Marcell sedang menganggapnya sebagai orang lain, ia tahu ia hanyalah objek pelampiasan malam ini, tapi ia tidak peduli. Selama ia bisa memiliki Marcell, ia akan menerima apa pun.
Marcell menggendong Aletta dengan kasar menuju tempat tidur besar di tengah ruangan. Ia menanggalkan kemejanya dengan tidak sabar, memperlihatkan otot-otot tubuhnya yang menegang karena emosi. Ia menindih Aletta, menciumi leher dan bahunya dengan intensitas yang menyakitkan namun membakar gairah.
"Sebut namaku, Marcell! Sebut namaku!" pinta Aletta dengan suara terengah-engah, kuku-kukunya meremas bahu Marcell hingga meninggalkan bekas kemerahan.
Marcell tidak menjawab. Ia justru membungkam mulut Aletta kembali dengan ciuman yang semakin dalam. Di kepalanya, ia membayangkan bahwa ia sedang menaklukkan apa pun yang Thomas miliki. Setiap gerakan, setiap sentuhan, didorong oleh keinginan untuk menghancurkan rasa rendah diri yang selama ini menghantuinya.
Gairah yang menyelimuti mereka berdua terasa sangat pekat dan gelap. Tidak ada cinta di sana, yang ada hanyalah kebutuhan untuk melepaskan beban yang menyesakkan dada. Marcell bergerak dengan dominasi yang hampir kejam, mengeksplorasi tubuh Aletta tanpa ampun, seolah-olah ia sedang membalaskan dendamnya pada dunia.
"Mmph... Marcell... ah!" erangan Aletta memenuhi kamar itu, berpadu dengan suara rintik hujan yang semakin deras di luar.
Keringat bercucuran, membasahi tubuh mereka yang saling bertautan dalam ritme yang liar. Marcell memejamkan matanya rapat-rapat, mencoba menghapus bayangan Arunika dari benaknya, namun semakin ia mencoba, semakin kuat bayangan itu muncul. Ia mempercepat gerakannya, seolah-olah dengan cara itu ia bisa melarikan diri dari kenyataan yang pahit.
Setiap inci kulit yang bersentuhan terasa seperti api yang membakar. Aletta melengkungkan tubuhnya, menyerahkan segalanya pada keganasan Marcell malam itu. Ia membiarkan Marcell menggunakan dirinya sebagai wadah bagi semua kemarahan dan rasa sakit hati pria itu.
Saat puncak kenikmatan itu akhirnya datang, Marcell mengerang rendah, menyembunyikan wajahnya di bantal di samping kepala Aletta. Seluruh tubuhnya menegang, melepaskan semua energi negatif yang terkumpul sepanjang hari. Bukan kepuasan batin yang ia dapatkan, melainkan kelelahan fisik yang luar biasa.
Suasana kembali sunyi, hanya menyisakan napas yang tersengal-sengal di tengah kegelapan kamar. Marcell langsung menjauhkan tubuhnya, duduk di tepi tempat tidur dengan kepala tertunduk. Ia meraih kemejanya yang tergeletak di lantai, tidak sedikit pun menoleh ke arah Aletta yang masih terengah-engah di atas kasur.
"Kamu mau pergi?" tanya Aletta dengan suara lemah, matanya menatap punggung Marcell yang luas.
"Gue butuh udara segar," sahut Marcell singkat. Suaranya kembali dingin dan tidak tersentuh.
"Kamu masih mikirin dia, kan?" Aletta bangkit, menarik selimut untuk menutupi tubuhnya. "Bahkan setelah semua ini, kamu tetap nggak bisa lupain Arunika?"
Marcell tidak menjawab. Ia memakai kemejanya tanpa mengancingkannya, lalu berdiri dan berjalan menuju pintu. Sebelum keluar, ia berhenti sejenak tanpa menoleh.
"Jangan pernah bandingkan diri lo sama dia lagi, Al. Lo tahu posisi lo di mana," ujar Marcell tajam sebelum menghilang di balik pintu kamar.
Aletta terdiam, air mata jatuh di pipinya. Ia tahu ia telah kalah. Malam ini, meski ia mendapatkan tubuh Marcell, ia sadar bahwa hati pria itu telah terkunci rapat di sebuah tempat yang tidak akan pernah bisa ia masuki. Sementara itu, Marcell berjalan keluar ke balkon apartemen, membiarkan butiran hujan membasahi wajahnya, mencoba membasuh rasa sesak yang masih menetap di dadanya—rasa sesak karena tahu bahwa Thomas telah memenangkan segalanya yang pernah Marcell inginkan.
***
Di balkon apartemennya yang dingin, Marcell menyesap sisa minumannya dengan tatapan yang kosong namun penuh amarah. Hujan sudah mereda, menyisakan udara lembap yang menusuk tulang. Pikirannya tidak bisa tenang; bayangan Thomas yang menyuapi Arunika tadi malam terus menghantuinya. Baginya, itu bukan sekadar kemesraan, tapi penghinaan terang-terangan.
"Lo pikir lo udah menang, Kak?" gumam Marcell, suaranya parau tertiup angin malam.
Tangannya mencengkeram besi pembatas balkon. Marcell tahu Thomas adalah orang yang sangat terstruktur. Kontrak pernikahan itu pasti tidak dihancurkan begitu saja. Thomas pasti menyimpannya sebagai jaminan hukum jika terjadi sesuatu.
"Gue harus bisa masuk ke apartemen Kak Thomas. Gue harus dapet kontrak itu," Marcell menyusun rencana dalam kepalanya. "Sekali gue dapet bukti hitam di atas putih kalau pernikahan mereka cuma sandiwara berbayar, gue bakal kasih kontrak itu ke Mami. Biar mereka kena. Biar Mami yang hancurin kebahagiaan palsu mereka."
Marcell menyeringai tipis. Ia tahu Mami adalah sosok yang paling tidak bisa mentoleransi kebohongan, apalagi menyangkut nama baik keluarga Adiputra. Jika Mami tahu Thomas membayar Arunika untuk menikahinya, maka tamatlah riwayat hubungan mereka.
Berbanding terbalik dengan aura gelap yang menyelimuti Marcell, suasana di apartemen Thomas justru terasa sangat tenang dan hangat. Lampu utama sudah dipadamkan, menyisakan cahaya temaram dari lampu sudut dan pendaran layar televisi besar yang sedang menampilkan film misteri di Netflix.
Mochi sudah meringkuk nyaman di atas bantal kecil di sudut sofa, sesekali telinganya bergerak saat mendengar suara dentuman dari sound system televisi.
Arunika duduk bersandar di dada bidang Thomas, terbungkus selimut wol tebal yang sama. Thomas merangkul bahunya, sesekali jemarinya bermain dengan helai rambut Arunika yang harum. Gadis itu tampak mulai kesulitan menjaga matanya tetap terbuka.
"Mas..." gumam Arunika sambil menguap lebar, menutupi mulutnya dengan tangan kecilnya. "Itu... siapa yang mati? Kok detektifnya mukanya bingung gitu?"
Thomas melirik istrinya dengan senyum tipis. "Tidak ada yang mati, Nika. Mereka baru saja menemukan saksi kunci. Kamu tadi melewatkan bagian itu karena asyik memejamkan mata."
"Masa sih? Aku cuma merem sedetik tadi," protes Arunika dengan suara khas orang mengantuk. Ia membenarkan posisi kepalanya di pundak Thomas, mencari posisi yang paling nyaman.
"Sedetikmu itu sudah lima menit yang lalu," balas Thomas kalem. "Sudah, kalau kamu mengantuk, kita matikan saja filmnya. Kamu butuh istirahat."
"Hmmm... sebentar lagi, Mas. Aku mau tahu siapa pelakunya," Arunika memaksa matanya terbuka lebar, namun hanya bertahan beberapa detik sebelum kepalanya kembali terkulai berat. "Mas, tapi kalau di film-film gitu, biasanya orang yang paling baik yang jadi penjahatnya ya?"
Thomas mengusap lengan Arunika pelan. "Dunia nyata tidak sesederhana itu, Nika. Kadang orang yang paling kita percaya pun bisa menyimpan rahasia besar."
Arunika terdiam sejenak mendengar ucapan Thomas. Ia teringat akan kontrak yang masih tersimpan rapi di brankas ruang kerja Thomas. "Mas..."
"Ya?"
"Mas masih simpen kontrak itu?" tanya Arunika pelan, nyaris berbisik.
Thomas terdiam beberapa saat. Matanya tetap fokus ke layar televisi, namun tangannya berhenti mengusap lengan Arunika. "Masih. Kenapa kamu tiba-tiba tanya itu?"
"Nggak apa-apa. Tiba-tiba kepikiran aja. Kalau seandainya ada orang lain yang tahu, apa yang bakal terjadi?"
Thomas menundukkan kepalanya, mengecup puncak kepala Arunika dengan lembut. "Selama kontrak itu ada di tanganku, tidak akan ada yang tahu. Aku sudah mengganti kodenya. Kamu tidak perlu khawatir soal itu. Fokus saja pada wisudamu dan... pada kita."
Arunika mengangguk, sedikit merasa tenang. "Mas jangan kaku-kaku lagi ya kalau di depan Mama sama Papa. Tadi itu Mas beneran bikin aku mau mati gaya gara-gara minta suapin."
Thomas tertawa rendah, sebuah tawa yang hanya ditunjukkan pada Arunika. "Itu strategi, Sayang. Kamu lihat muka Marcell tadi? Dia seperti ingin menelan garpunya sendiri."
"Mas jahat banget ih," Arunika mencubit perut Thomas pelan. "Tapi... aku suka sih cara Mas belain aku terus."
"Itu tugasku," ujar Thomas mantap. "Sekarang, karena filmnya sudah makin tidak jelas buat kamu, ayo tidur."
Thomas mematikan televisi dengan remote, membuat ruangan itu mendadak menjadi gelap gulita hanya dengan bantuan cahaya bulan dari jendela. Ia tidak membiarkan Arunika berjalan sendiri; dengan sigap, Thomas menggendong Arunika ala bridal style menuju kamar mereka.
"Mas! Aku bisa jalan sendiri tahu!" pekik Arunika tertahan, melingkarkan tangannya di leher Thomas agar tidak jatuh.
"Lantainya dingin, dan aku suka menggendongmu," sahut Thomas singkat sambil melangkah mantap.
Di dalam kamar, Thomas membaringkan Arunika dengan sangat hati-hati. Ia menyelimuti istrinya, lalu ikut berbaring di sampingnya. Di bawah keremangan malam, mereka saling menatap dalam diam.
"Selamat malam, Mas Thomas kaku," bisik Arunika, tangannya mengusap rahang tegas Thomas.
"Selamat malam, Arunika bawel," balas Thomas. Ia menarik Arunika ke dalam pelukannya, membiarkan gadis itu tidur di atas lengannya.
Malam itu, mereka tertidur dengan perasaan damai, tanpa menyadari bahwa di luar sana, sebuah badai sedang dipersiapkan oleh orang terdekat mereka. Marcell sudah mulai mencari tahu kapan Thomas akan meninggalkan apartemennya dalam waktu lama, dan kontrak yang mereka bicarakan tadi kini menjadi incaran utama yang bisa menghancurkan segalanya.
mending nikah kontrak la ngangkang gratisan gimana ceritanya
untuk pelajaran orang tua zaman now terkadang sering masalah harga diri yg dipikirkan tapi kondisi anak nggak dipikirkan ditanya kek duduk bareng itulah yg terjadi pada orang tua zaman now anak tidak menganggap orang tua rumahnya tempat berkeluh kesah akhirnya banyak perbuatan yg membuat malu keluarga terjadi saat ketahuan sudah tidak bisa diperbaiki lagi