Kirana Maheswari dikenal sebagai wanita yang dingin dan sulit didekati. Sebagai sekretaris pribadi di Pradana Group, ia selalu menjaga profesionalitas dan tidak pernah memberi ruang bagi siapa pun untuk masuk ke kehidupan pribadinya.
Semua orang tahu Kirana sudah menikah.
Dan semua orang juga tahu bahwa ia sangat menjaga jarak dari pria mana pun.
Kecuali satu orang yang seolah tidak pernah mengerti arti menjaga jarak.
Aiden Pradana.
CEO muda yang tampan, kaya, cerdas, dan terkenal tidak pernah gagal mendapatkan apa yang diinginkannya.
Awalnya Aiden hanya penasaran.
Ia tidak mengerti mengapa ada seorang wanita yang sama sekali tidak terpengaruh oleh pesonanya. Saat wanita lain berlomba mencari perhatian darinya, Kirana justru selalu menghindar dan hanya berbicara seperlunya.
Semakin diabaikan, semakin besar rasa penasarannya.
Semakin Kirana menjaga jarak, semakin keras kepala Aiden mendekat.
Namun Aiden segera menyadari bahwa ketertarikannya telah berubah
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yanti Topato, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jam Tangan
Layar monitor yang tiba-tiba gelap membuat seluruh ruangan membeku, petugas keamanan langsung menekan beberapa tombol tetapi rekaman yang baru saja muncul tidak kembali terbuka. Aiden menatap layar itu dengan rahang mengeras, sementara Kirana masih berdiri di tempatnya dengan wajah tegang karena ingatan tentang jam tangan itu semakin jelas di kepalanya.
"Kenapa hilang?" Aiden menatap petugas.
"Sistem terputus, Tuan." Petugas menunduk.
"Terputus atau diputus?" Armand mengernyit.
"Kemungkinan diputus." Petugas mengusap kening.
"Bagus sekali." Gavin menunjuk layar. "Kantor ini seperti rumah hantu premium."
"Tidak sekarang, Gavin." Aiden melirik tajam.
"Baik." Gavin langsung diam.
Kirana masih memandangi layar gelap itu sambil berusaha menyusun ingatan yang baru saja muncul, jam tangan berwarna hitam dengan garis perak di bagian pinggirnya bukan barang langka tetapi ia yakin pernah melihatnya hampir setiap hari. Bukan di tangan Rendra, bukan di tangan Aiden dan bukan pula di tangan Gavin.
"Kirana." Aiden menoleh.
"Iya?" Kirana mengangkat kepala.
"Kamu bilang mengenali jam itu."
"Saya pernah melihatnya." Kirana mengangguk.
"Di tangan siapa?" Armand mendekat.
Kirana tidak langsung menjawab, ia tahu satu nama sudah berada di ujung lidahnya tetapi menyebut nama itu tanpa bukti akan membuat situasi semakin kacau. Namun jika ia diam, orang itu bisa pergi lebih jauh.
"Niko." Kirana akhirnya bersuara.
Semua orang langsung saling berpandangan, nama itu bukan nama asing di lantai eksekutif karena Niko adalah staf IT senior yang sering membantu perbaikan sistem di ruang direksi. Ia memiliki akses ke banyak ruangan, paham jaringan keamanan, dan cukup tenang untuk tidak menarik perhatian siapa pun.
"Niko dari IT?" Gavin membelalakkan mata.
"Iya." Kirana mengangguk.
"Dia sering naik ke lantai ini." Armand menatap Aiden.
"Dan dia punya akses sistem." Aiden mengambil ponselnya.
Petugas keamanan langsung menghubungi bagian IT untuk mencari keberadaan Niko, beberapa detik menunggu terasa terlalu lama karena semua orang mulai memahami betapa dekatnya pelaku dengan mereka selama ini. Jika benar Niko terlibat, berarti pencurian flashdisk dan penghapusan rekaman bukan tindakan mendadak.
"Tuan." Petugas menurunkan ponselnya.
"Apa?" Aiden menoleh.
"Niko tidak ada di ruang IT."
"Hubungi ponselnya." Aiden melangkah ke pintu.
"Sudah dicoba." Petugas menggeleng. "Tidak aktif."
Aiden tidak menunggu lebih lama, ia keluar dari ruangannya dengan langkah cepat diikuti Armand, Gavin, Kirana, dan beberapa petugas keamanan. Rendra sempat berdiri ragu di dekat pintu, tetapi akhirnya ikut berjalan karena nama Niko membuat ingatan lama yang selama ini ia abaikan kembali muncul.
Di lorong lantai eksekutif, beberapa karyawan menepi saat melihat rombongan itu bergerak cepat. Tidak ada yang berani bertanya karena wajah Aiden sudah cukup menjelaskan bahwa situasi sedang tidak baik. Kirana berjalan di samping Gavin sambil terus memikirkan pertemuan-pertemuan kecil dengan Niko selama beberapa bulan terakhir dan semua hal biasa yang dulu tidak penting kini terasa mencurigakan.
"Dia sering memperbaiki komputer saya." Kirana menatap lurus ke depan.
"Niko?" Gavin meliriknya.
"Iya." Kirana mengangguk.
"Dia juga pernah memperbaiki laptop Bos." Gavin mengusap dagu.
"Kapan?" Aiden menoleh singkat.
"Dua minggu lalu." Gavin menunjuk ruang CEO. "Saat Bos marah karena laptop mati mendadak."
Aiden berhenti sejenak, dua minggu lalu adalah waktu yang cukup untuk menanam akses, memeriksa brankas, atau mempelajari jalur keamanan di ruangannya. Potongan-potongan kecil yang sebelumnya terlihat biasa mulai tersambung dengan terlalu cepat.
"Ke ruang server." Aiden berbalik.
"Kenapa ke sana?" Armand mengernyit.
"Kalau dia menghapus rekaman dari sistem, dia butuh akses pusat." Aiden menekan tombol lift.
Gavin langsung menelan ludah, ruang server berada di lantai bawah gedung dan hanya bisa dimasuki beberapa orang tertentu. Jika Niko benar-benar berada di sana, berarti ia belum keluar dari perusahaan.
Pintu lift terbuka, dan mereka segera masuk. Suasana di dalam lift terasa sesak meskipun tidak semua orang berbicara, Kirana menatap pantulan wajahnya di dinding baja lift sambil menyadari bahwa hari itu sudah terlalu jauh dari sekadar drama rumah tangga. Namun anehnya, di antara semua kekacauan itu, kehadiran Aiden di dekatnya justru membuatnya merasa sedikit lebih aman.
"Kamu takut?" Aiden menoleh pelan.
"Tidak." Kirana menggeleng.
"Bohong." Gavin menyahut pelan.
"Kamu jangan ikut campur." Kirana meliriknya.
"Saya hanya menjadi pendeteksi kebohongan." Gavin mengangkat tangan.
Aiden hampir tersenyum, tetapi ia segera menahan diri ketika pintu lift terbuka di lantai server. Lorong di depan mereka lebih sepi dibanding lantai lain, dengan pencahayaan putih yang terasa dingin. Dua petugas keamanan langsung bergerak lebih dulu menuju pintu akses utama.
"Pintunya terbuka." Petugas berhenti.
"Seharusnya terkunci." Armand menatap panel.
Aiden mendekat dan melihat lampu indikator yang menyala hijau, seseorang baru saja membuka pintu itu menggunakan akses resmi bukan merusaknya dari luar. Itu berarti kecurigaan mereka semakin kuat.
"Masuk." Aiden memberi isyarat.
Mereka memasuki ruang server dengan hati-hati, deretan rak perangkat menyala dengan suara dengung yang konstan sementara lampu-lampu kecil berkedip seperti ratusan mata yang mengawasi. Tidak ada tanda-tanda kerusakan besar, tetapi salah satu meja kerja di ujung ruangan terlihat berantakan.
"Periksa komputer itu." Aiden menunjuk meja.
"Baik." Petugas segera mendekat.
Kirana berdiri beberapa langkah di belakang Aiden sambil memperhatikan lantai, ada sesuatu yang tergeletak di dekat kaki meja, kecil dan hampir tidak terlihat. Ia membungkuk perlahan, lalu mengambil benda itu dengan ujung jarinya.
"Tuan." Kirana memanggil pelan.
"Apa?" Aiden menoleh.
"Ini." Kirana menunjukkan sebuah pengait jam tangan berwarna perak.
Armand mendekat dan menatap benda itu dengan wajah serius, pengait itu memiliki bentuk yang sama dengan jam tangan di rekaman CCTV. Bukti kecil tersebut belum cukup untuk menyatakan semuanya selesai, tetapi cukup untuk mempersempit kecurigaan.
"Dia baru saja di sini." Armand menghela napas.
"Dan mungkin belum jauh." Aiden menatap pintu lain di ujung ruangan.
Gavin mengikuti arah pandangannya, lalu wajahnya langsung berubah.
"Bos." Gavin menunjuk pelan.
"Apa?" Aiden mengernyit.
"Pintu darurat itu bergerak."
Semua orang langsung menoleh, pintu besi di ujung ruang server memang belum tertutup sempurna. Ada celah kecil yang masih bergerak pelan, seolah seseorang baru saja melewatinya beberapa detik lalu.
"Kejar." Aiden langsung bergerak.
Petugas keamanan berlari lebih dulu membuka pintu darurat, tangga servis di baliknya turun menuju area belakang gedung tempat kendaraan operasional biasa keluar masuk tanpa melewati lobi utama. Jika Niko menggunakan jalur itu, ia bisa meninggalkan gedung tanpa terekam banyak kamera.
Di anak tangga kedua, sebuah suara langkah terdengar dari bawah.
"Niko!" Aiden berseru sambil menuruni tangga.
Langkah di bawah sana mendadak berhenti, lalu terdengar suara seseorang berlari lebih cepat.
"Itu dia!" Gavin menunjuk ke bawah.
Mereka berlari menuruni tangga dengan cepat, Kirana ikut bergerak tetapi Rendra yang sejak tadi berada di belakang tiba-tiba menahan lengannya. Sentuhan itu membuat Kirana langsung menoleh tajam.
"Lepaskan." Kirana menarik tangannya.
"Jangan turun." Rendra menatapnya.
"Ini bukan urusanmu." Kirana menepis tangannya.
"Ini berbahaya." Rendra menghalangi langkah.
"Saya sudah tahu bahaya sejak menikah denganmu." Kirana menatapnya dingin.
Rendra kehilangan kata-kata, kalimat itu terlalu tajam tetapi ia tidak bisa membantahnya. Kirana melewatinya tanpa menoleh, sedangkan Rendra hanya bisa mengikuti dengan wajah semakin kusut.
Di lantai paling bawah, petugas keamanan hampir berhasil mengejar seseorang yang memakai jaket hitam, sosok itu berlari menuju pintu keluar belakang sambil membawa tas kecil di tangan. Aiden mempercepat langkahnya, sementara Gavin mengikuti dengan napas mulai tidak stabil.
"Niko, berhenti!" Armand berteriak dari belakang.
Sosok itu menoleh sekilas dan kali ini wajahnya terlihat jelas.
"Astaga." Gavin berhenti sebentar. "Ternyata benar."
"Jangan berhenti." Aiden berlari melewatinya.
Niko berhasil mencapai pintu keluar belakang dan mendorongnya dengan keras, namun begitu pintu terbuka ia langsung berhenti mendadak. Di luar sana sudah berdiri dua petugas keamanan lain yang menunggu dengan posisi siap.
"Berakhir di sini." Aiden berhenti beberapa langkah di belakangnya.
Niko menoleh dengan napas berat, wajahnya berkeringat tetapi matanya masih bergerak gelisah mencari celah untuk kabur. Tas kecil di tangannya terlihat berat dan Kirana langsung menebak bahwa flashdisk perusahaan mungkin berada di dalam sana.
"Berikan tas itu." Aiden mengulurkan tangan.
"Tidak bisa." Niko menggeleng.
"Kamu tidak punya pilihan." Armand mendekat.
"Saya punya." Niko tersenyum pucat.
Sebelum siapa pun sempat bereaksi, Niko membuka tas itu dan mengeluarkan sebuah benda kecil berwarna hitam. Aiden langsung mengenali bentuknya, flashdisk yang hilang dari brankasnya.
"Jangan bodoh." Aiden menatapnya tajam.
"Yang bodoh adalah kalian." Niko menggenggam flashdisk itu.
"Apa maksudmu?" Kirana mengernyit.
Niko tertawa pendek, suaranya terdengar goyah tetapi tatapannya justru semakin tajam ketika melihat Rendra di belakang mereka. Kebencian yang selama ini tersembunyi akhirnya muncul tanpa ditutup-tutupi.
"Dia bukan korban." Niko menunjuk Rendra.
"Diam!" Rendra membeku dan mengepalkan tangan.
"Kenapa?" Niko tersenyum miring. "Takut Kirana tahu semuanya?"
Kirana langsung menoleh ke arah Rendra, wajah pria itu berubah pucat dalam sekejap dan reaksi itu jauh lebih jelas daripada penjelasan apa pun. Aiden ikut menatap Rendra, sementara Gavin yang sejak tadi kelelahan langsung berdiri tegak.
"Apa lagi yang kamu sembunyikan?" Kirana bertanya pelan.
Rendra tidak menjawab.
Niko mengangkat flashdisk itu lebih tinggi dengan senyum yang membuat suasana semakin menegang.
"Di sini bukan hanya data perusahaan." Niko menatap Kirana. "Di sini juga ada rekaman suara Rendra, saat dia menyebut alasan sebenarnya menikahimu."