Judul: My alter ego
Kehilangan orang tua, pengkhianatan suami, dan terjebak di kantor yang toksik membuat hidup Hira Lione hancur dalam semalam. Namun, saat keputusasaan mencapai puncaknya, sebuah suara misterius muncul di dalam kepalanya.
Demi membalas dendam, Hira membuat kesepakatan berbahaya: menyerahkan kendali tubuhnya pada sosok alter ego yang dingin dan kejam. Hira yang rapuh kini telah tiada, digantikan oleh predator yang siap meruntuhkan hidup siapa pun yang pernah menginjak-injak harga dirinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon FantasiKuyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4: Undangan Sang Nyonya
Langkah Hira terhenti di tengah koridor lantai delapan. Jari-jarinya mencengkeram ponsel dengan sangat erat.
Matanya menatap lekat pada deretan kalimat di layar yang baru saja masuk.
[Bu Anita: Hira, datang ke ruangan saya sekarang. Ada hal penting yang harus kita bicarakan tentang pekerjaanmu... dan suamimu.]
Di dalam sana, pertahanan sosok Hira yang asli sempat goyah. Ada rasa ngilu yang mendadak menyengat dadanya.
{Dia... dia berani menyebut nama Reza? Setelah apa yang dia lakukan padaku?}
Suara Hira yang asli terdengar bergetar. Luka pengkhianatan semalam kembali tergores lebar.
Sebuah seringai perlahan muncul di wajah Hira. Alter ego itu mengambil kendali penuh, menekan rasa sakit itu kembali ke sudut terdalam pikirannya.
{Tenanglah. Ini justru kabar baik. Mangsa utama kita menyerahkan dirinya sendiri tanpa perlu repot-repot kita pancing.}
Hira memasukkan ponselnya ke dalam tas. Ia memutar tubuh, mengarahkan langkahnya menuju lift khusus eksekutif di ujung lorong.
Sepatu hak tinggi merah marunnya kembali mengetuk lantai, terdengar mantap dan berirama.
Pintu lift terbuka. Hira melangkah masuk dan menekan tombol lantai dua belas. Lantai tempat para direksi bertahta.
Ia menatap pantulan dirinya di pintu lift yang tertutup. Posturnya tegak. Dagu terangkat sempurna. Tidak ada sisa-sisa karyawan penakut yang selalu menunduk saat berjalan.
Begitu pintu lift terbuka di lantai dua belas, Hira langsung disambut oleh meja sekretaris.
"Saya Hira Lione. Bu Anita memanggil saya," ucap Hira dengan nada datar.
Sekretaris itu mengangguk kaku. Tangannya menunjuk ke arah pintu kayu ganda yang menjulang tinggi di sisi kanan ruangan.
"Silakan langsung masuk, Bu Hira. Beliau sudah menunggu di dalam."
Hira tidak mengetuk pintu. Ia langsung memutar gagang kuningan itu dan mendorongnya terbuka.
Ruangan direktur utama itu sangat luas. Sebuah meja kerja besar dari kayu solid berada di tengah, menghadap langsung ke jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan gedung pencakar langit.
Di balik meja itu, Anita duduk bersandar. Wanita yang usianya hampir menyentuh kepala empat itu terlihat sangat terawat. Rambut hitamnya disanggul rapi tanpa sehelai pun yang berantakan.
Anita melipat kedua tangannya di atas meja. Bibirnya melengkung, membentuk senyum yang terlihat ramah namun matanya menyiratkan dominasi.
"Duduk, Hira," perintah Anita.
Nada suaranya tidak tinggi, namun jelas mengandung sebuah keharusan yang tidak boleh dibantah.
Hira menarik kursi di hadapan meja itu dan duduk. Ia menyilangkan kakinya, menatap lurus ke arah Anita tanpa berkedip.
Anita menaikkan sebelah alisnya. Ia sedikit memajukan wajahnya, menatap Hira dengan tatapan menilai.
Wanita itu jelas terkejut melihat postur tubuh bawahannya ini. Tidak ada raut ketakutan atau kegugupan yang biasanya ia lihat dari staf biasa yang dipanggil ke ruangannya.
"Saya sudah mendengar keributan yang kamu buat di ruang rapat pagi ini," Anita memulai percakapan.
Tangannya terulur, mengambil sebuah pena dari atas meja dan memutarnya dengan jari.
"Keberanian yang luar biasa. Mengirimkan bukti transfer vendor langsung ke audit internal tanpa melalui saya dulu. Kamu tahu tindakanmu menyalahi hierarki perusahaan?"
Hira memiringkan kepalanya sedikit. Ekspresinya sama sekali tidak berubah.
"Saya hanya memastikan data itu sampai ke pihak yang tepat, Bu Anita."
Hira menumpukan tangannya di atas pangkuan. "Jika saya lapor ke hierarki yang salah, laporan itu mungkin bisa tidak sengaja terhapus. Atau sengaja dihilangkan."
Senyum Anita menipis. Jari yang sedari tadi memutar pena kini berhenti bergerak.
"Kamu menuduh saya akan melindungi Siska?" tanya Anita pelan.
"Saya tidak menuduh siapa pun. Saya hanya mempresentasikan fakta berupa angka," balas Hira lugas.
Anita tertawa kecil. Tawa yang sengaja dibuat-buat untuk meremehkan lawan bicaranya. Ia menyandarkan kembali punggungnya ke kursi.
"Reza benar. Dia bilang akhir-akhir ini kamu sedang banyak pikiran karena kepergian orang tuamu. Dia cerita betapa emosionalnya kamu belakangan ini," ucap Anita.
Wanita itu sengaja menekankan nama Reza di setiap kalimatnya.
Di dalam kepala, Hira yang asli kembali merintih pelan.
{Reza... dia menceritakan kelemahanku pada wanita ini? Untuk dijadikan bahan tertawaan?}
Alter ego itu mendecak pelan di dalam pikiran Hira. Ia menjaga wajahnya di dunia nyata agar tetap terlihat santai. Bahkan, sebuah senyum kecil kini terukir di bibirnya.
"Oh? Suami saya bercerita banyak tentang saya kepada Ibu?" potong Hira.
Nadanya terdengar polos, namun matanya menatap tajam bak belati ke arah leher Anita.
Anita mengangguk pelan. Ia mengangkat dagunya, memposisikan dirinya sebagai sosok yang memegang kendali penuh.
"Sebagai atasan suamimu, saya sering menjadi tempatnya bertukar pikiran. Termasuk masalah pribadinya. Reza sangat tertekan melihat kondisimu, Hira."
Hira mengusap ujung roknya dengan jari telunjuk. Gerakannya sangat pelan.
"Tertekan?" Hira mengulang kata itu. Ujung bibirnya perlahan ditarik semakin ke atas. "Mungkin itu sebabnya belakangan ini dia sering sekali mengambil jadwal lembur mendadak."
Anita tidak membalas. Matanya sedikit menyipit. Jari-jarinya mengetuk meja kayu itu tanpa irama.
"Berada di kantor sampai larut malam pasti sangat melelahkan bagi kalian berdua. Sampai-sampai suami saya tidak menyadari kemejanya dikancingkan dengan asal-asalan pagi ini," lanjut Hira tanpa memberikan jeda.
Kali ini, senyum di wajah Anita benar-benar lenyap. Tangan wanita itu tanpa sadar turun dan mencengkeram lengan kursinya sendiri.
Hira tidak berhenti di situ. Ia mencondongkan tubuhnya ke depan.
"Lalu, soal pesan yang Ibu kirimkan pada saya barusan. Ibu bilang ada hal penting tentang pekerjaan saya dan suami saya."
Hira menatap bibir Anita yang dipoles lipstik berwarna ungu menyala. Lipstik yang warnanya persis sama dengan noda yang ia lihat di kerah kemeja Reza pagi tadi.
"Apakah Ibu ingin membahas promosi jabatan untuk Reza?"
Hira memiringkan kepalanya, menatap Anita dengan pandangan polos yang mengerikan.
"Atau... Ibu ingin membahas kompensasi apa yang pantas untuk saya terima, agar saya tidak menyebarkan foto lembur kalian semalam ke dewan komisaris?"
Wajah Anita memucat. Matanya membelalak sempurna. Rahangnya mengeras seketika.
"Apa maksudmu, Hira? Jaga ucapanmu!" desis Anita tajam.
Wanita itu setengah berdiri dari kursinya, berusaha mempertahankan wibawanya yang mulai runtuh.
Hira terkekeh pelan. Ia ikut berdiri dari kursinya dengan gerakan elegan yang tidak terburu-buru.
Ia meletakkan kedua tangannya di atas meja kerja Anita, memajukan wajahnya hingga jarak mereka hanya tersisa beberapa jengkal.
"Saya rasa bahasa saya sangat mudah dipahami, Bu Anita. Jangan pernah memancing saya. Anda sama sekali tidak tahu sedang berhadapan dengan siapa."
Anita membuka mulutnya untuk membalas, namun tiba-tiba pintu ruangan itu terbuka dengan kasar dari luar.
"Bu Anita, maaf saya terlambat untuk laporan mingguannya, saya—"
Suara pria itu terputus.
Hira memutar kepalanya perlahan ke arah pintu. Seringai mematikan itu kembali menghiasi wajahnya.
Di ambang pintu, Reza berdiri kaku. Tangan pria itu masih memegang gagang pintu.
Wajah Reza sepucat kertas saat melihat istrinya berdiri mencondongkan tubuh di atas meja kerja bosnya.
Hira kembali menatap Anita yang terlihat sama paniknya dengan suaminya.
"Wah," ucap Hira pelan, suaranya memecah keheningan ruangan itu. "Pahlawan kita sudah datang."
lg seru nih
jm 9 ketemu dar, trus ketemu her & si botak, trus ketemu taren(lupa) trus ketemu victor, ini ketemu kael🤔 hrs'a sdh sore x thor
kodammu luar biasa!
🤝
ampe qu ulang baca part 1 hlo
biasa'a dirasuki jiwa lain, ini malah dr diri sendiri, mgkin ini kodam yg memberontak🤭
semangat thor💪