Dipaksa pamannya menikah setelah lulus SMA, kehidupan Andara yang sudah yatim piatu tidak menjadi lebih baik.
Setelah difitnah sudah tidak perawan, dituduh berzinah saat hamil setelah 3 bulan menikah, Andara menjadi janda di usia sembilanbelas tahun.
Penderitaan tidak berhenti di situ, rumah peninggalan orangtua Andara diambil paksa oleh keluarga Irfan, mantan suaminya dengan alasan melunasi hutang-hutang orangtua dan paman Andara.
Dikucilkan karena dianggap aib dan pembawa sial membuat Andara memutuskan untuk mengadu nasib ke Jakarta dalam keadaan hamil.
Bagaimana kehidupan Andara selanjutnya ?
Apakah nasib Andara bisa berubah setelah bertemu dengan bayi Lily yang kehilangan ibunya saat ia dilahirkan ?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bareta, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Langit senja tidak lagi kemerahan tapi gelap seperti malam. Cahaya kilat dan suara petir bersahutan namun belum ada setetes pun air turun dari langit.
Bukan situasi alam yang membuat Andara gelisah tapi kondisi Fajar, putranya yang baru berusia 4 bulan.
Sudah 3 hari Fajar rewel dan sesekali badannya panas. Tadi pagi Andara terpaksa menitipkannya pada tetangga seberang rumah karena ia harus mengantarkan jahitan. Uangnya sudah menipis sementara kebutuhan Fajar tidak ada lagi yang bisa dikurangi. Untung saja ASI Andara lancar sehingga tidak perlu beli susu formula.
“Ini surat rujukannya. Sebaiknya Fajar segera dibawa ke rumah sakit.”
“Baik dokter. Terima kasih.”
Tidak ingin membuang waktu sedetik pun, Andara cepat-cepat keluar dari puskesmas. Dua hari yang lalu Andara sudah membawa Fajar di sini dan dokter bilang hanya demam biasa.
Baru ingat kalau kuotanya belum diisi, Andara pun menghentikan angkot yang melintas. Tidak mungkin membawa Fajar naik ojek karena selain angin bertiup cukup kencang, Andara khawatir hujan tiba-tiba turun.
”Bisa lebih cepat sedikit Pak ?” pinta Andara dengan nada memohon.
Ada 4 penumpang lain di dalam angkot yang sejak tadi mencuri-curi pandang menatap Andara yang terlihat seperti gadis belia.
“Kalau mau cepat naik taksi Neng,” sahut sopir angkot dengan nada sinis.
“Maaf,” ujar Andara sambil menghela nafas.
Sebetulnya Fajar sudah tidak rewel tapi Andara justru bertambah cemas karena wajah putranya malah berubah pucat dan sekilas seperti agak membiru. Cahaya di dalam angkot yang kekuningan membuat Andara tidak terlalu yakin dengan pengelihatannya.
Perjalanan panjang yang menegangkan akhirnya berakhir.
Tanpa minta uang kembalian, Andara bergegas turun dan berlari masuk ke rumah sakit ke arah pintu bertuliskan Unit Gawat Darurat.
“Aaaauugghhtt.”
Hampir saja Andara jatuh karena sandal jepitnya putus. Tetesan gerimis mulai turun. Tidak ingin langkahnya terhambat, Andara malah melepaskan sandalnya yang sebelah lagi lalu kembali berlari tanpa memakai alas.
Beruntung Andara sudah sampai di depan pintu saat hujan mendadak turun cukup deras.
“Tolong anak saya suster,” pinta Andara dengan wajah memelas.
Melihat Andara masuk dengan keringat bercucuran dan wajah pucat pasi, kedua perawat yang duduk di meja jaga langsung bangun dan salah seorang mengambil alih Fajar dari gendongan ibunya.
“Ibu tunggu di sini, dokter akan segera memeriksa putra ibu.”
Kepala Andara mengangguk, sekujur tubuhnya terasa lemas seakan tidak bertulang.
“Sebaiknya ibu duduk.” Perawat yang satunya memapah Andara duduk di kursi dekat situ.
Tidak lama seorang dokter perempuan datang tergopoh-gopoh dan langsung masuk ke dalam bilik tempat Fajar dibawa..
Beberapa saat kemudian tirai disibak dan dokter perempuan itu menghampiri Andara yang buru-buru bangun.
“Bagaimana anak saya dokter ?”
“Sebelumnya perkenalkan saya dokter Dita, spesialis anak di sini.”
“Saya Andara, ibunya Fajar, bayi yang baru saja dokter periksa.”
Dokter Dita menautkan kedua alisnya, ekspresi wajahnya seperti tidak percaya dengan pengakuan Andara karena perempuan di hadapannya terlihat masih belia.
Sadar makna tatapan dokter Dita, Andara kelihtan jengah dan tertunduk malu-malu.
“Saya sungguh-sungguh ibunya Fajar dokter. Besok saya akan bawakan buktinya, surat lahir Fajar.”
“Berapa usiamu ? Dimana ayahnya Fajar ?”
“Duapuluh dokter. Ayahnya Fajar di kampung. Dia tidak mau tahu kondisi Fajar setelah kami bercerai.”
“Hhhmmmm.” Kepala dokter Dita mengangguk-angguk. “Boleh saya memanggil kamu Andara saja ?”
“Tentu saja boleh dokter, saya biasa dipanggil Ara.”
“Hhhhmmm Ara.” Dokter Dita masih berusaha tersenyum di antara helaan nafas panjangnya.
“Terus terang kondisi Fajar kurang baik. Malam ini akan kami termpatkan di NICU supaya bisa dipantau lebih intensif.”
“Sebetulnya anak saya sakit apa dokter ?”
“Saya sudah minta perawat untuk melakukan tes darah dan rontgen. Diagnosa sementara ada bakteri atau virus menyerang pencernaan Fajar. Kita tunggu perkembangannya malam ini ya ?”
“Tapi anak saya belum bisa makan apa-apa selain ASI dokter. Saya selalu memastikan kondisi payudara saya bersih sebelum menyusui jadi bagaimana mungkin…..”
Dokter Dita tersenyum. “Bakteri atau virus tidak hanya dari makanan tapi bisa saja masuk ke dalam tubuh lewat pernafasan.”
“Fajar pasti sembuh kan Dok ?”
“Kami akan usahakan yang terbaik Ara.”
Sebuah inkubator disiapkan untuk membawa Fajar ke ruang NICU. Andara tidak bisa lagi menahan air matanya melihat Fajar terbaring lemah dan belum membuka mata. Wajahnya masih pucat meski tidak lagi membiru seperti tadi.
Sebelum keluar dari IGD, dokter Dita sempat menyuruh salah satu perawat untuk memberikan Andara alas kaki.
*****
Sekitar jam 1 subuh kondisi Fajar yang sempat membaik tiba-tiba drop lagi. Dokter Dita yang berada di ruang jaga langsung mengambil tindakan. Namun Tuhan berkehendak lain. Fajar dinyatakan meninggal dunia pukul 1.47.
Rasanya dunia Andara langsung berhenti, tubuhnya lunglai di depan ruang NICU. Kenyataan saat iniadalah yang terberat melampaui semua fitnah yang pernah dituduhkan Irfan, mantan suami Andara sekaligus ayah kandung Fajar.
Dengan isak tangis yang tertahan Andara menerima tubuh mungil Fajar yang sudah tidak bergerak lagi.
Wajah bayi yang biasanya kemerahan mulai membiru. Tidak ada lagi senyum dan celoteh Fajar yang selalu menjadi penghibur dan kekuatan Andara dalam berjuang untuk kehidupan yang lebih baik.
Seribu penyesalan memenuhi ruang hati Andara, membuat dadanya sesak dan sulit bernafas. Tidak ada lagi kehangatan tubuh Fajar saat Andara menciumi wajah putranya untuk terakhir kali.
Atas kebaikan dokter Dita, Andara diijinkan membawa jasad puteranya untuk dimakamkan padahal ia belum menyelesaikan biaya rumah sakit.
Bukan hanya menjadi penjamin, dokter Dita juga memberikan sejumlah uang untuk Andara.
”Berikan pemakaman yang layak untuk Fajar dan tidak usah memikirkan bagaimana membayar biaya rumah sakit.”
“Tapi dokter…..”
“Kamu sudah berusaha menjadi ibu yang baik Andara tapi Tuhan berkehendak lain dan jangan pernah menyesalinya lagi.”
Dokter Dita mengusap air mata Andara dengan tisu.
“Terima kasih Dokter. Saya pasti akan kembali setelah pemakaman Fajar selesai.”
“Tidak usah terburu-buru,”. sahut dokter Dita sambil tersenyum.
Dengan senyum tipis, Andara menganggukkan kepala, berusaha tegar karena tidak ada keluarga yang bisa dijadikan tempatnya bersandar.
Hujan gerimis yang turun sejak jam 3 subuh belum bosan membasahi bumi, seirama dengan air mata yang terus mengalir, membasahi kedua pipi Andara.
Beberapa orang tetangga yang sempat menemani Andara menghantar Fajar ke tempat peristirahatan terakhirnya sudah pergi tapi Andara masih betah bersimpuh sendirian.
Rasanya Andara ingin berteriak pada Tuhan, bertanya kenapa hidupnya dipenuhi dengan cobaan yang semakin berat ? Bagaimana bila Andara ingin menyerah ?
“Maafkan mama sayang….. Maafkan mama.” Kedua bahu Andara kembali berguncang.