Di alam para Dewa, aturan sudah tertulis sejak zaman dahulu kala: Laki-laki adalah Dewa, Wanita adalah Malaikat. Namun, Lisa adalah pengecualian. Dalam darahnya mengalir kekuatan agung sang Raja Dewa, dan tanda suci terukir di tubuhnya membuktikan dia layak menyandang gelar "Dewa", bukan sekadar "Malaikat".
Sayangnya, dunia tak siap menerima itu. Lisa tumbuh dengan anggun, lemah lembut, namun kesepian. Ayahnya, sang Penguasa Langit, bersikap dingin dan menghilang sejak ia berusia 5 tahun. Lisa mengira dirinya dibenci dan ditolak.
Namun, kenyataannya berbeda. Sang Ayah bukan tak punya hati, ia justru menyembunyikan Lisa demi melindunginya dari kecemburuan dan bahaya maut dari Dewa-Dewa lain. Ketika Lisa dewasa dan menuntut haknya, ia harus menempuh jalan berdarah, menguasai sihir terkuat, dan memimpin perubahan sejarah. Di tengah pertarungan memperebutkan takdir, ia juga akan menemukan cinta, memecahkan kesalahpahaman besar, dan akhirnya mengerti arti pengorbanan sang Ayah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M.Liss, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Kelompok makhluk itu bukan sekadar gerombolan biasa. Ada sekitar sepuluh makhluk tingkat menengah berwujud serigala bayangan dan roh jahat yang melayang, ditambah tiga sosok raksasa bertanduk—makhluk tingkat tinggi yang tubuhnya diselimuti kulit batu keras dan aura mematikan yang jauh lebih berat daripada Iblis Darah yang baru saja mereka kalahkan. Mereka tidak menyerang sembarangan; makhluk-makhluk itu bergerak berkelompok, saling menutupi celah, dan bahkan terlihat memiliki pola serangan yang teratur seolah dipimpin oleh akal yang cerdas.
"Jangan remehkan mereka!" seru Lisa lantang, matanya bergerak cepat mengamati setiap pergerakan musuh. "Mereka memiliki formasi! Makhluk tingkat menengah akan memancing, dan makhluk tingkat tinggi akan memukul saat kita lengah! Pertahankan posisi!"
Tiga raksasa tingkat tinggi itu menghentakkan kaki serentak, membuat tanah berguncang hebat. Mereka meraung, lalu berlari maju beriringan, bahu menyandar bahu, membentuk dinding hidup yang mengerikan. Di belakang dan sela-sela kaki mereka, puluhan makhluk tingkat menengah melesat cepat seperti anak panah, berniat menerobos masuk ke celah pertahanan.
"XIOYAN! GILIRANMU!" teriak Fredrin sambil melompat maju, pedangnya menyambar leher seekor serigala bayangan yang berusaha menerobos dari samping. Darah hitam memancar, tapi makhluk lain langsung menggantikan posisi temannya itu tanpa ragu.
xioyan, sosok bangsa Nivara itu, melangkah maju dengan tenang namun penuh kekuatan. Ia menancapkan kedua kakinya ke tanah, menekan energi dalam tubuhnya sampai terbentuk sebuah sayap dari energi/aura itu kemudian xioyan mengembangkan kedua sayap lebarnya di punggung hingga tampak seperti perisai raksasa, dan mengangkat tameng besar yang terbuat dari logam ajaib yang sangat keras. Aura pertahanan yang tebal dan kokoh menyelimuti seluruh tubuhnya.
"Tenang saja! Selama aku berdiri, tak ada satu pun yang bisa lewat!" seru xioyan dengan suara menggelegar.
Saat ketiga raksasa tingkat tinggi itu menghantamkan kepalan tangan dan bahu mereka serentak ke arahnya, xioyan tidak mundur selangkah pun. Ia menerima benturan dahsyat itu dengan seluruh kekuatan tubuh dan tamengnya.
DUGERR!!
Suara benturan itu memekakkan telinga. Tanah di sekitarnya retak memanjang ke segala arah, debu beterbangan menutupi pandangan. Tubuh kokoh xioyan terdorong sedikit ke belakang, kakinya menggaruk tanah meninggalkan jejak dalam, tapi ia tetap berdiri tegak seperti gunung yang tak tergoyahkan. Kekuatan fisik dan pertahanan alami bangsa Tengu benar-benar menjadi benteng terkuat bagi tim ini.
"Carl! Hancurkan pertahanan depan mereka saat mereka sibuk menyerang xioyan!" perintah Lisa cepat, matanya menangkap celah kecil saat ketiga raksasa itu menarik kembali tangan mereka setelah serangan tadi.
Carl yang sudah menunggu dengan kapak besarnya yang berkilau, tersenyum lebar. "Ini yang aku tunggu!"
Dengan tenaga yang dikumpulkan ke seluruh otot tubuhnya, Carl melompat tinggi ke udara, lalu mengayunkan kapaknya ke bawah dengan kekuatan penuh. Serangan itu bukan sekadar hantaman kasar—ia mengarahkan pukulannya tepat ke persendian bahu salah satu raksasa, titik di mana kulit batunya sedikit lebih tipis dan kurang terlindungi.
BRAKK!!
Raksasa itu meraung kesakitan saat kapak Carl membelokkan masuk ke dalam dagingnya. Keseimbangan barisan depan musuh langsung terguncang. Dua raksasa lainnya berusaha menolong temannya, tapi Fredrin sudah melesat masuk di antara mereka. Ia bergerak lincah, menusuk dan menebas dengan cepat, mengganggu gerakan musuh dan membuat mereka bingung ke mana harus memukul. Fredrin tahu betul: melawan musuh besar dan kuat, kuncinya adalah kecepatan dan ketangkasan, bukan adu tenaga.
Sementara itu, makhluk tingkat menengah yang berusaha menyusup lewat sela-sela dan udara menjadi masalah baru. Mereka bergerak berkelompok, menyerang bergantian agar tidak bisa diprediksi. Gina tidak diam saja. Ia berdiri di balik perlindungan Shoyan, tongkat sihirnya berputar cepat.
"Kalian pikir bisa melewati aku?" ujar ji-na dingin.
Ia tidak melepaskan serangan ledakan besar seperti biasanya. Kali ini, menggunakan strategi yang diajarkan Wu-Yuan, Gina mengeluarkan sihir jaring dan perangkap. Lingkaran sihir berubah menjadi jaring-jaring api yang menjerat kaki dan sayap makhluk-makhluk itu, serta dinding angin berputar yang membelokkan arah serangan mereka. Daripada menghancurkan, Gina memilih untuk mengendalikan pergerakan mereka agar teman-temannya lebih mudah membidik sasaran.
"Floyen! Bagian belakang mereka terbuka sekarang! Musuh utama ada di tengah barisan, penyihir bayangan yang mengatur mereka!" seru Lisa, matanya menangkap sosok berjubah gelap yang bersembunyi di balik raksasa-raksasa itu, terus-menerus melontarkan mantra penguatan ke tubuh makhluk-makhluk itu.
Itulah inti masalahnya. Selama penyihir itu masih hidup, kekuatan dan pertahanan makhluk-makhluk itu akan terus bertambah kuat.
Sebagai jawaban, hanya ada bayangan hitam yang melesat lewat tanpa suara. Floyen sudah hilang dari posisinya sedetik yang lalu. Ia bergerak memanfaatkan kekacauan yang dibuat Fredrin dan Carl, merayap di tanah dan melompat di balik punggung musuh yang sedang sibuk memukul Shoyan. Sangat cepat, sangat tenang, dan tak terlihat.
Penyihir bayangan itu baru menyadari bahaya saat ujung belati dingin sudah menempel di lehernya. Matanya membelalak ngeri.
"Ka—"
Belum sempat ia berteriak, Floyen sudah bergerak lagi, lenyap kembali ke dalam bayangan. Tubuh penyihir itu lemas dan jatuh ke tanah. Segera setelah itu, aura gelap yang menyelimuti makhluk-makhluk itu lenyap seketika. Kekuatan mereka berkurang drastis, gerakan mereka menjadi kaku dan lambat.
"Kunci keberhasilan kita adalah kerja sama dan membaca situasi," suara tenang Wu-Yuan terdengar di tengah pertempuran. Ia sendiri belum banyak bergerak, hanya berdiri di garis belakang, matanya mengawasi segalanya, dan sesekali melepaskan satu serangan ringan yang sangat akurat untuk menembak jatuh makhluk yang lolos dari pengawasan teman-temannya.
"Musuh tingkat tinggi memang kuat, tapi mereka lambat dan bergantung pada dukungan. Musuh tingkat menengah cepat dan banyak, tapi pertahanan mereka lemah dan mudah dikendalikan," lanjut Wu-Yuan, seolah sedang memberi pelajaran di tengah medan perang. "Kalian sudah memahami inti strategi: gunakan kekuatan masing-masing untuk menutupi kelemahan teman. Shoyan menahan kekuatan kasar mereka, Fredrin dan Carl memecah pertahanan, Gina mengendalikan jumlah dan pergerakan, Floyen memotong akar kekuatan mereka, dan Lisa yang mengatur ritme serangan."
Sekarang, dengan hilangnya dukungan sihir musuh, pertempuran berbalik arah sepenuhnya.
"Serang habis-habisan! Jangan beri mereka waktu untuk berkumpul kembali!" perintah Lisa, suaranya bergetar semangat.
xioyan yang sudah menahan beban berat begitu lama, kini maju selangkah, mengangkat tamengnya dan mendorong ke depan dengan sekuat tenaga, membuat ketiga raksasa itu terhuyung mundur dan kehilangan keseimbangan. Saat mereka terhuyung, Carl dan Fredrin menyerang serentak ke titik-titik lemah yang sudah ditandai Lisa sebelumnya. Gina melepaskan rentetan sihir tajam yang menembus celah pertahanan mereka. Floyen terus bergerak seperti hantu, menghabisi makhluk yang mencoba kabur atau bersembunyi.
Dalam hitungan menit yang terasa begitu panjang dan melelahkan, seluruh makhluk tingkat menengah berserakan di tanah, dan ketiga makhluk tingkat tinggi itu akhirnya ambruk ke tanah, hancur pertahanan dan kekuatannya.
Debu perlahan mereda. Suara raungan dan benturan hilang, digantikan oleh napas berat seluruh anggota tim. Shoyan menghela napas panjang, menurunkan tamengnya yang berat, tubuhnya berkeringat deras namun ia masih berdiri tegak, meski bahunya sedikit naik turun menahan rasa lelah luar biasa. Ia benar-benar telah memikul beban terberat hari ini.
Fredrin menepuk bahu xioyan dengan kekaguman. "Kau hebat, xioyan. Tanpa kau menahan pukulan raksasa-raksasa itu, kita pasti sudah terpukul berantakan sejak awal."
xioyan hanya tersenyum tipis, mengusap keringat di dahinya. "Itu tugasku. Aku adalah benteng kalian."
Wu-Yuan berjalan mendekati tumpukan bangkai makhluk itu, menatap sisa-sisa energi gelap yang perlahan lenyap. Wajahnya yang tenang kini terlihat sedikit lebih serius.
"Kalian bertempur dengan sangat baik. Strategi yang matang dan kerja sama yang solid," ujarnya pelan namun tegas. Ia menoleh ke arah jalan setapak yang semakin menanjak curam ke dalam hutan, tempat di mana energi gelap terasa semakin pekat dan kuat.
"Tapi ingat," tambahnya, matanya menyala tajam. "Yang baru saja kalian kalahkan hanyalah pasukan penjaga. Musuh yang sebenarnya, yang jauh lebih kuat, lebih cerdik, dan lebih berbahaya... sedang menunggu kita di puncak sana. Pertempuran sesungguhnya baru saja akan dimulai."
Lisa menatap ke arah kegelapan di depan, merasakan getaran emosi yang kuat—kegigihan, keberanian, dan sedikit rasa takut yang berubah menjadi semangat. Ia mengangguk mantap.
"Kami siap, Guru. Kami akan terus maju, apa pun yang ada di depan sana."
Bersambung.....