“Aku benci dosen perfeksionis.”
Itu kalimat pertama yang Rhea tulis di buku catatannya setelah bertemu Arga...dosen muda favorit kampus yang terkenal dingin, disiplin, dan sulit didekati.
Sayangnya, hidup Rhea perlahan mulai dipenuhi pria itu.
Dari kelas pagi yang melelahkan, bimbingan yang selalu berubah menjadi perdebatan, hingga tatapan-tatapan kecil yang mulai terasa berbeda.
Rhea tidak pernah berniat jatuh cinta pada dosennya sendiri.
Masalahnya…Arga sendiri juga mulai merasa sulit melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silvi Wahyu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Macam-Macam Ya Pak!
...****************...
Beberapa menit berlalu dalam keheningan. Arga masih duduk bersandar malas di sofa ruang tengah apartemennya, jemarinya memutar-mutar gelas berisi cairan merah di dalamnya.
Asap tipis dari rokok yang ada di sisi asbak perlahan mengepul memenuhi udara di sekitarnya, sementara pikirannya melayang jauh, terus kembali pada kejadian di parkiran tadi...pada senyum Rhea, dan pada tangan Dito yang dengan seenaknya mengusap kepala gadis itu.
Semakin lama, kepalanya mulai terasa berat.
Pandangannya sedikit kabur, efek dari wine yang jumlahnya sudah jauh melewati batas wajar yang ia minum malam itu.
Namun bukannya berhenti, pria itu justru kembali meneguk isi gelas kristal itu perlahan hingga tandas, lalu memejamkan mata sebentar seolah menikmati rasa panas yang menjalar di tenggorokannya.
Hening. Hanya suara detak jam dinding yang terdengar nyaring di ruangan luas itu.
Sampai tiba-tiba, suara dering ponselnya memecah kebisuan itu secara tiba-tiba. Arga mengernyitkan dahi kecil, melirik layar yang bergetar di meja samping dengan tatapan malas dan asal.
Dan begitu nama pemanggil tertera jelas di sana, seluruh gerakannya seketika berubah cepat. Ia buru-buru menyambar benda pipih itu dan mengangkat panggilan tersebut tanpa menunggu dering selesai.
“Ya?” suaranya terdengar rendah dan sedikit serak.
“Pak Arga…” suara Rhea terdengar dari seberang.
“Hmm.”
“Charger laptop kita ketuker ya, Pak?”
Hening sejenak. Arga diam, berusaha mencerna kalimat itu di tengah kepalanya yang terasa berputar.
“Tidak tahu,” jawabnya ketus dan datar.
“Ya ampun… Pak…” nada suara Rhea langsung berubah terdengar frustrasi.
“Tolong lihat sebentar dong, Pak. Cek dulu di tas Pak Arga ada nggak charger punya saya? Soalnya yang saya bawa ini kayaknya punya Pak Arga”
Arga mengembuskan napas kasar, lalu memijat pelipisnya yang berdenyut pelan.
“Ck. Merepotkan.”
“Tolong lah, Pak…” rengek Rhea pelan.
“Iya, iya. Sebentar.”
Pria itu akhirnya bangkit dari duduk dengan langkah yang sedikit terhuyung kecil menuju meja kerjanya di sudut ruangan. Tangannya membuka tas kerjanya asal-asalan, mengacak-acak isinya hingga terdengar gesekan barang-barang di dalam sana. Beberapa detik kemudian, suaranya kembali terdengar lewat telepon.
“Iya. Tertukar,” jawabnya singkat sambil memegang benda persegi panjang itu.
“Yahhh, Pak…” Rhea langsung mengeluh kecil di ujung telepon. “Laptop saya baterainya mau habis. Saya mau ngerjain tugas.”
Arga kembali berjalan gontai menuju sofa, lalu menjatuhkan tubuhnya duduk kembali dengan kasar. Ia menyandarkan punggungnya lelah, membiarkan ponsel tetap menempel di telinga.
Hening beberapa detik, sampai suara Rhea kembali terdengar, kali ini terdengar sedikit ragu namun tetap polos.
“Kalau begitu… saya ambil ke tempat Pak Arga ya?”
Dan seketika itu juga, seluruh gerakan Arga langsung berhenti. Napasnya tertahan, rahangnya mengeras tipis, sementara tatapannya menatap kosong lurus ke depan selama beberapa detik lamanya. Di dalam kepalanya yang pening itu, ribuan bayangan seolah berputar sekaligus.
“Kamu…” suaranya terdengar jauh lebih rendah dan berat dari biasanya. “Kamu mau ke sini?”
“Iya,” jawab Rhea polos tanpa curiga sedikit pun.
“Ambil charge. Boleh kan, Pak?”
Arga menelan ludahnya dengan susah payah. Ia mengusap wajahnya sendiri dengan kasar, berusaha menata napas dan logikanya yang mulai kabur karena alkohol.
“Y-Ya sudah… Cepat.”
Tak lama kemudian, sambungan telepon pun terputus.
Arga menurunkan ponselnya perlahan dari telinga, lalu meletakkannya di meja kecil di sampingnya. Ia tertawa kecil tanpa suara, tawa yang terdengar kacau dan penuh kepasrahan, sambil menggelengkan kepala pelan.
“Sial…” gumamnya lirih.
Entah karena efek minuman itu atau karena hal lain, jantungnya justru berdetak jauh lebih kencang dan kacau dari biasanya.
Di tengah kekacauan pikirannya, satu hal yang pasti: kehadiran gadis itu di apartemennya malam ini...saat kondisinya sedang tidak karuan begini...sepertinya bukan ide yang aman sama sekali.
...****************...
Sekitar tiga puluh menit kemudian, Rhea akhirnya sampai di depan unit apartemen Arga, setelah pria itu mengirimkan lantai dan nomor unitnya lewat pesan singkat.
Ia mengetuk pintu beberapa kali, dan begitu pintu itu terbuka...mata Rhea langsung membelalak kaget tak percaya.
“Astaga!”
Di ambang pintu, Arga berdiri santai hanya dengan celana training hitam panjang yang melingkar di pinggangnya, tanpa sehelai kain pun menutupi bagian atas tubuhnya.
Otot-otot perut dan lengannya terlihat jelas, sementara rambutnya sedikit berantakan, dan wajahnya tampak lelah dengan tatapan mata yang berat...jelas sekali efek dari alkohol yang diminumnya tadi.
Arga mengernyit bingung melihat reaksi heboh gadis itu.
“Apa?”
“Kenapa nggak pakai baju sih, Pak…” seru Rhea cepat, suaranya terdengar tertahan karena berusaha menahan malu.
“Terserah saya,” jawab Arga santai sambil bersandar malas di kusen pintu, nada bicaranya datar dan tak merasa bersalah sama sekali. “Ini rumah saya.”
“Ya ampun…” Rhea buru-buru memalingkan wajah, menatap lantai dan meremas tali tasnya lebih erat. “Ya sudah, mana charger saya, Pak?”
Namun Arga justru mendorong daun pintu lebih lebar, memberi jalan masuk.
“Masuk.”
“M-Masuk?” Rhea menoleh kembali dengan wajah bingung.
“Kamu datang ke sini hanya untuk ambil barang lalu langsung pulang?” tanyanya sinis namun tetap datar. “Mana sopan santunmu, Rhea?”
Rhea langsung jadi salah tingkah sendiri. Akhirnya ia melangkah masuk perlahan ke dalam apartemen itu, sementara Arga menutup pintu di belakangnya.
Begitu kakinya melangkah masuk, matanya berkeliling memperhatikan isi ruangan yang dominan bernuansa gelap dan sangat rapi. Lampu ruang tengah hanya menyala redup, menciptakan suasana temaram.
Aroma parfum mahal milik Arga tercium samar, bercampur dengan sisa asap rokok dan aroma alk0hol yang masih menggantung di udara.
Rhea duduk pelan di pinggiran sofa, posisinya kaku dan menjaga jarak, tangannya masih erat menggenggam tas di pangkuan. Pandangannya kemudian jatuh ke meja di depan sofa. Di sana tergeletak botol wine yang isinya sudah tersisa sedikit, bersanding dengan gelas kristal yang masih menyisakan bekas minum.
Rhea langsung menelan ludahnya sendiri. Jantungnya berdegup sedikit lebih kencang.
“P-Pak Arga…mabuk ya?” tanyanya pelan, hati-hati.
“Hmm.”
Jawaban singkat dan bergumam itu justru membuat Rhea semakin kikuk dan merasa tak nyaman.
Arga berjalan santai menuju dapur untuk mengambil botol air minum, lalu kembali lagi ke ruang tengah dan ikut duduk di samping Rhea. Jaraknya cukup dekat, membuat Rhea refleks menegakkan punggung.
“Kenapa?” tanyanya tenang sambil membuka tutup botol minumnya, lalu meneguknya sedikit. Matanya menatap lurus ke arah gadis itu. “Kamu takut?”
“Eh…” Rhea langsung menggeleng cepat, meski suaranya terdengar jauh dari meyakinkan. “Nggak tuh… Kenapa harus takut.”
Alis Arga terangkat tipis, sudut bibirnya sedikit terangkat.
“Kalau tidak takut,” gumamnya pelan, nada bicaranya rendah dan berat, “kenapa tanganmu gemetar begitu?”
Rhea langsung menunduk cepat. Ia sadar benar, jari-jarinya memang menggenggam tas terlalu erat sampai buku-buku jarinya terlihat memutih.
Gadis itu menggigit bibir bawahnya kecil, berusaha menyembunyikan wajah meronanya, serta menghindari tatapan tajam Arga yang rasanya bisa menembus pikirannya.
“Apa kamu tidak takut…” suara Arga kembali terdengar, kali ini lebih rendah dan mendekat, “…datang ke tempat pria dewasa malam-malam begini, sendirian?”
“K-Kenapa takut…” jawab Rhea cepat, meski napasnya mulai terdengar tidak beraturan. “Saya kan cuma mau ambil charger laptop saya yang ketuker sama Pak Arga. Bukan mau ngapa-ngapain.”
“Hmm…”
Arga sedikit mencondongkan tubuhnya ke depan, semakin mendekat tanpa melepaskan tatapannya dari wajah Rhea yang mulai tampak panik.
“Tapi entah kenapa…” bisiknya, suaranya berat dan terdengar serak, “...aku jadi berpikir lain, Rhea.”
Rhea langsung mendongak, matanya berkedip bingung.
“Memangnya Pak Arga berpikir apa?”
Arga diam beberapa detik. Menatap manik mata gadis itu lekat-lekat, lalu perlahan sudut bibirnya terangkat membentuk senyum samar yang penuh tanda tanya.
“Apa kamu berniat menggodaku?”
“EH??”
Rhea langsung membulatkan matanya tak percaya, mulutnya sedikit terbuka kaget.
“Menggoda?” protesnya cepat, suaranya meninggi sedikit karena kaget. “Yang benar aja sih, Pak! Nggak mungkin lah, saya mana berani…”
Namun Arga justru semakin mendekat sedikit lagi, hingga napas mereka hampir saling bersentuhan.
“Apa benar begitu?”
“Iya lah… Pak Arga aneh banget sih.”
“Padahal bisa besok saja di kampus,” gumam Arga pelan, matanya masih menatap lurus ke dalam manik mata Rhea, seolah mencari jawaban di sana. “Kenapa harus sekarang? Malam-malam begini?”
Dan kali ini, Rhea benar-benar bungkam. Ia tidak bisa menjawab apa pun. Pikiran kosong, mulutnya terasa terkunci.
“P-Pak Arga…” ia refleks mundur sedikit hingga punggungnya menyentuh sandaran sofa. “Mau apa sih… makin aneh aja ngomongnya.”
“Hmm?” Arga menatapnya santai, namun sorot matanya berbicara lain. “Mau apa ya… Aku juga bingung.”
Jarak mereka kini terasa terlalu dekat, terlalu sempit, dan terlalu panas hingga membuat napas Rhea mulai kacau bukan main. Jantungnya berdegup nyaring sampai rasanya bisa terdengar sendiri.
“Jangan macam-macam ya, Pak!” peringatnya pelan, suaranya bergetar.
Beberapa detik berlalu dalam keheningan, Arga hanya menatap wajah Rhea yang mulai salah tingkah total dan terlihat pasrah di depannya. Menikmati pemandangan itu sejenak.
Lalu tiba-tiba, pria itu terkekeh pelan. Suara rendah itu terdengar menggema di ruangan hening. Detik berikutnya, ia justru mundur kembali dan berdiri tegak, seolah tidak terjadi apa-apa, seolah baru saja mempermainkan nyawa gadis itu.
“Aku akan ambilkan chargermu. Tunggu sebentar.”
Rhea langsung melongo di tempatnya, tangannya refleks menekan dadanya sendiri yang sejak tadi berdebar tak karuan, berusaha menenangkan detak jantung yang rasanya mau melompat keluar.
Sementara itu, Arga berjalan sedikit gontai menuju kamar, meninggalkan Rhea sendirian di ruang tengah yang sunyi dan temaram itu.