NovelToon NovelToon
Suamiku,Suami Sahabatku

Suamiku,Suami Sahabatku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nirna Juanda

Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mencari Ketenangan

POV KANAYA

Aku tidak meninggalkan pesan.

Tidak ada kata perpisahan.

Tidak ada penjelasan panjang yang menjelaskan luka yang bahkan aku sendiri sulit memahaminya.

Aku hanya pergi.

Dengan satu koper kecil di tangan

berisi pakaian secukupnya dan hati yang sudah terlalu penuh untuk tetap tinggal.

Aku tidak menoleh.

Bukan karena tidak ingin.

Tapi karena aku tahu… sekali saja aku menoleh, aku mungkin akan runtuh.

Dan aku tidak boleh runtuh di sana.

Tidak di rumah yang seharusnya menjadi tempatku pulang,

namun justru menjadi tempat aku kehilangan segalanya.

Aku lelah.

Bukan lelah mencintai.

Tapi lelah… menjadi satu-satunya yang berjuang dalam diam.

Lelah menjadi kuat sendirian

di dalam hubungan yang seharusnya saling menguatkan.

Tempat yang aku tuju hanya satu.

Rumah ibu.

Rumah masa kecilku.

Tempat di mana aku dulu belajar arti pulang—

sebelum dunia dewasa mengajarkanku arti kehilangan.

Perjalanan terasa panjang.

Setiap kilometer yang kulewati seperti mengikis sedikit demi sedikit sisa kekuatanku.

Aku mencoba menahan air mata.

Aku tidak ingin menangis di perjalanan.

Aku tidak ingin orang lain melihat bagaimana hancurnya aku saat ini.

Namun saat pintu rumah itu terbuka

Semua pertahananku runtuh.

Ibu tidak bertanya apa-apa.

Tidak satu pun.

Ia hanya menarikku ke dalam pelukannya.

Hangat.

Akrab.

Seolah aku tidak pernah pergi dari tempat ini.

Dan di sanalah

Aku menangis.

Tanpa suara.

Tanpa kata.

Tangis yang selama ini aku tahan,

akhirnya menemukan tempatnya untuk jatuh.

Aku menggenggam baju ibu erat-erat,

seperti anak kecil yang takut kehilangan segalanya.

Dan mungkin memang benar

Aku baru saja kehilangan segalanya.,,

Pagi itu langit mendung.

Udara terasa dingin, menusuk kulitku yang sudah lelah.

Aku berdiri di depan makam ayah.

Tanahnya masih basah oleh hujan semalam.

Aroma tanah yang lembap itu mengingatkanku pada banyak hal

Tentang kehilangan pertama dalam hidupku.

Dan sekarang…

aku datang dengan kehilangan yang lain.

Aku bersimpuh perlahan.

Tanganku gemetar saat menyentuh nisan itu.

Dingin.

Keras.

Dan diam.

“Ayah…”

Suaraku pecah bahkan sebelum kalimat itu selesai.

Ada banyak hal yang ingin aku katakan.

Namun semuanya terasa tersangkut di tenggorokan.

Berat.

Terlalu berat.

“Ayah bilang… pernikahan itu bukan soal bahagia terus…”

Aku menunduk.

Air mataku jatuh satu per satu.

“…tapi soal bertahan dan saling menjaga…”

Kalimat itu masih aku ingat jelas.

Suara ayah…

cara beliau menatapku waktu itu…

seolah ingin memastikan aku benar-benar memahami arti dari sebuah ikatan.

Dan aku mencoba.

Sungguh.

“Aku sudah berusaha, Ayah…”

Dadaku sesak.

Kata-kata itu keluar dengan susah payah.

“Aku menahan sakit…”

“Aku menahan cemburu…”

“Aku menahan kecewa…”

Air mataku jatuh semakin deras.

“Karena aku ingin jadi istri seorang pria yang Ayah banggakan…”

Aku ingin berhasil.

Aku ingin menunjukkan bahwa aku bisa menjaga pernikahanku.

Bahwa aku bisa bertahan seperti yang Ayah ajarkan.

Tapi…

“Aku gagal, Ayah…”

Tangisku pecah.

Tidak ada lagi yang bisa aku tahan.

“Aku tidak bisa mempertahankan kebahagiaan itu…”

Atau mungkin…

Sejak awal, kebahagiaan itu memang tidak pernah benar-benar ada.

Aku teringat sesuatu.

Suara Ayah sebelum beliau pergi.

Masih jelas.

Masih hidup di ingatanku.

“Kalau suatu hari kau menikah, jangan bertahan karena takut…”

Aku mengangkat wajahku perlahan.

Air mata masih terus mengalir.

“Bertahanlah karena kamu dicintai dan dihargai.”

Aku tersenyum pahit.

Kalimat itu… sekarang terasa seperti pisau yang perlahan mengiris hatiku.

“Aku bertahan karena janji, Ayah…”

Suaraku lirih.

“…bukan karena cinta.”

Aku menggeleng pelan.

Mengakui kenyataan yang selama ini coba aku sangkal.

“Dan ternyata…”

Dadaku terasa kosong.

“…aku sendirian dalam pernikahan itu.”

Angin berhembus pelan.

Menyentuh wajahku yang basah oleh air mata.

Seolah ada sesuatu yang mencoba menenangkanku—

atau mungkin hanya alam yang ikut menjadi saksi betapa rapuhnya aku saat ini.

Aku mengusap air mataku perlahan.

Meski aku tahu…

luka ini tidak akan hilang hanya dengan satu tangisan.

“Maafkan aku, Ayah…”

Aku menunduk lebih dalam.

“Kalau aku memilih pergi…”

Aku tidak pergi karena aku lemah.

Aku tidak pergi karena aku menyerah.

Aku pergi karena…

aku tidak ingin kehilangan diriku sendiri.

Jika aku tetap tinggal

Aku akan hancur.

Perlahan.

Tanpa suara.

Tanpa ada yang benar-benar peduli.

“Aku hanya ingin tenang…”

Suaraku hampir seperti bisikan.

“Aku hanya ingin jadi Kanaya lagi…”

Bukan istri yang menunggu.

Bukan wanita yang terus berharap pada sesuatu yang tidak pernah pasti.

Hanya… diriku sendiri.

Yang sederhana.

Yang utuh.

Yang tidak harus memohon untuk dicintai.

Aku menarik napas dalam.

Mencoba mengisi ruang kosong di dadaku dengan sedikit kekuatan yang tersisa.

Langkahku masih terasa berat saat aku berdiri.

Namun untuk pertama kalinya

Keputusan ini terasa jelas.

Aku akan berhenti berharap.

Bukan karena aku tidak lagi percaya pada cinta.

Tapi karena cinta…

Tidak seharusnya diperjuangkan sendirian.

Tidak seharusnya direbut dari kebohongan.

Aku berbalik perlahan dari makam Ayah.

Meninggalkan sebagian dari lukaku di sana.

Mungkin belum sembuh.

Mungkin masih akan terasa sakit untuk waktu yang lama.

Namun setidaknya

Aku sudah memilih.

Untuk pergi.

Untuk menyelamatkan diriku sendiri.

Dan untuk tidak lagi tinggal

di tempat

di mana aku harus memohon

untuk menjadi seseorang yang dipilih.

1
Asih
akhirnya saya puas liat kesombongan srorang lelaki terpuruk
Nirna: Kadang kesombongan memang perlu dijatuhkan dulu supaya seseorang sadar 😊 Terima kasih kak sudah mengikuti ceritanya sampai ikut puas dengan alurnya 🤗❤️
total 1 replies
Asih
lanjutt
Nirna: Terima kasih banyak sudah membaca 😊 Lanjutannya segera aku update ya kak
total 1 replies
Kereng Pangi
bahasanya kbnyak retorika
Nirna: Terima kasih atas masukannya 🙏. Ke depannya akan saya perbaiki supaya bahasanya lebih nyaman dibaca.
total 1 replies
Asih
lanjut semakin seruuu
Nirna: Terima kasih banyak 🙏 Senang banget kakak menikmati ceritanya. Ditunggu terus ya kelanjutannya 😊
total 1 replies
Asih
padahal kalau mau bicara dari hati ke hati dn terus terang.sama kanaya
Nirna: Iya benar juga 😊 Terima kasih sudah ikut memberikan sudut pandang. Nanti akan ada perkembangan cerita yang lebih dalam lagi, ditunggu ya 🙏
total 1 replies
Asih
lanjut dong
Nirna: Siap 😊 Terima kasih sudah menunggu. , jangan bosan mengikuti ceritanya ya 🙏
total 1 replies
rina saragih
waw waw... fatan kapok kamuuu
Nirna: Hehe, iya nih kak 😄 Fatan lagi diuji banget kesabarannya. Kira-kira dia bakal kuat sampai kapan ya? Terima kasih sudah baca dan dukung ceritanya 💖
total 1 replies
rina saragih
kenapa susah sekali menicintai yg halal?
hati memang penuh misteri
Nirna: MasyaAllah, terima kasih sudah mampir dan berkomentar. Semoga ceritanya bisa menyentuh dan menemani 😊Terima kasih banyak sudah membaca dan berbagi pendapat 😊 Memang hati itu penuh misteri, semoga cerita ini bisa sedikit menggambarkan perasaan itu ya🙏
total 1 replies
rina saragih
fatan oh adrian
Nirna: Nah loh, mulai ketahuan ya benang merahnya 😄 Stay tune terus ya kakak🙏
total 1 replies
rina saragih
awal yang bagus
aku berharap akan seru seterusnya
Nirna: Terima kasih banyak 😊 Senang sekali kakak suka di awalnya, semoga bab selanjutnya bisa lebih seru lagi ya
total 1 replies
Angel 💖
karya yang bagus
. tapi kenapa sepi ya?
Nirna: terimakasih banyak kakak sudah berkomentar,iya nih masih sepi🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!