Kanaya dan Amira dua sahabat yang tak terpisahkan sejak kecil.
Tak ada rahasia di antara mereka… hingga cinta datang dengan cara yang salah.
Kanaya dipaksa menikah dengan pria pilihan keluarga, Fatan Adrian Mahendra—pernikahan tanpa cinta yang terasa seperti hukuman.
Sementara Amira hidup dalam kebahagiaan, menikahi pria yang ia cintai sepenuh hati—Adrian.
Namun takdir menyimpan rahasia yang kejam.
Pria yang mereka cintai…
adalah orang yang sama.
Satu pria. Dua nama. Dua pernikahan.
Dan satu pengkhianatan yang menghancurkan segalanya.
Saat kebenaran terungkap,
siapa yang akan bertahan?
Dan siapa yang harus merelakan… cinta yang sejak awal tak pernah utuh?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nirna Juanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari Ketenangan
POV KANAYA
Aku tidak meninggalkan pesan.
Tidak ada kata perpisahan.
Tidak ada penjelasan panjang yang menjelaskan luka yang bahkan aku sendiri sulit memahaminya.
Aku hanya pergi.
Dengan satu koper kecil di tangan
berisi pakaian secukupnya dan hati yang sudah terlalu penuh untuk tetap tinggal.
Aku tidak menoleh.
Bukan karena tidak ingin.
Tapi karena aku tahu… sekali saja aku menoleh, aku mungkin akan runtuh.
Dan aku tidak boleh runtuh di sana.
Tidak di rumah yang seharusnya menjadi tempatku pulang,
namun justru menjadi tempat aku kehilangan segalanya.
Aku lelah.
Bukan lelah mencintai.
Tapi lelah… menjadi satu-satunya yang berjuang dalam diam.
Lelah menjadi kuat sendirian
di dalam hubungan yang seharusnya saling menguatkan.
Tempat yang aku tuju hanya satu.
Rumah ibu.
Rumah masa kecilku.
Tempat di mana aku dulu belajar arti pulang—
sebelum dunia dewasa mengajarkanku arti kehilangan.
Perjalanan terasa panjang.
Setiap kilometer yang kulewati seperti mengikis sedikit demi sedikit sisa kekuatanku.
Aku mencoba menahan air mata.
Aku tidak ingin menangis di perjalanan.
Aku tidak ingin orang lain melihat bagaimana hancurnya aku saat ini.
Namun saat pintu rumah itu terbuka
Semua pertahananku runtuh.
Ibu tidak bertanya apa-apa.
Tidak satu pun.
Ia hanya menarikku ke dalam pelukannya.
Hangat.
Akrab.
Seolah aku tidak pernah pergi dari tempat ini.
Dan di sanalah
Aku menangis.
Tanpa suara.
Tanpa kata.
Tangis yang selama ini aku tahan,
akhirnya menemukan tempatnya untuk jatuh.
Aku menggenggam baju ibu erat-erat,
seperti anak kecil yang takut kehilangan segalanya.
Dan mungkin memang benar
Aku baru saja kehilangan segalanya.,,
Pagi itu langit mendung.
Udara terasa dingin, menusuk kulitku yang sudah lelah.
Aku berdiri di depan makam ayah.
Tanahnya masih basah oleh hujan semalam.
Aroma tanah yang lembap itu mengingatkanku pada banyak hal
Tentang kehilangan pertama dalam hidupku.
Dan sekarang…
aku datang dengan kehilangan yang lain.
Aku bersimpuh perlahan.
Tanganku gemetar saat menyentuh nisan itu.
Dingin.
Keras.
Dan diam.
“Ayah…”
Suaraku pecah bahkan sebelum kalimat itu selesai.
Ada banyak hal yang ingin aku katakan.
Namun semuanya terasa tersangkut di tenggorokan.
Berat.
Terlalu berat.
“Ayah bilang… pernikahan itu bukan soal bahagia terus…”
Aku menunduk.
Air mataku jatuh satu per satu.
“…tapi soal bertahan dan saling menjaga…”
Kalimat itu masih aku ingat jelas.
Suara ayah…
cara beliau menatapku waktu itu…
seolah ingin memastikan aku benar-benar memahami arti dari sebuah ikatan.
Dan aku mencoba.
Sungguh.
“Aku sudah berusaha, Ayah…”
Dadaku sesak.
Kata-kata itu keluar dengan susah payah.
“Aku menahan sakit…”
“Aku menahan cemburu…”
“Aku menahan kecewa…”
Air mataku jatuh semakin deras.
“Karena aku ingin jadi istri seorang pria yang Ayah banggakan…”
Aku ingin berhasil.
Aku ingin menunjukkan bahwa aku bisa menjaga pernikahanku.
Bahwa aku bisa bertahan seperti yang Ayah ajarkan.
Tapi…
“Aku gagal, Ayah…”
Tangisku pecah.
Tidak ada lagi yang bisa aku tahan.
“Aku tidak bisa mempertahankan kebahagiaan itu…”
Atau mungkin…
Sejak awal, kebahagiaan itu memang tidak pernah benar-benar ada.
Aku teringat sesuatu.
Suara Ayah sebelum beliau pergi.
Masih jelas.
Masih hidup di ingatanku.
“Kalau suatu hari kau menikah, jangan bertahan karena takut…”
Aku mengangkat wajahku perlahan.
Air mata masih terus mengalir.
“Bertahanlah karena kamu dicintai dan dihargai.”
Aku tersenyum pahit.
Kalimat itu… sekarang terasa seperti pisau yang perlahan mengiris hatiku.
“Aku bertahan karena janji, Ayah…”
Suaraku lirih.
“…bukan karena cinta.”
Aku menggeleng pelan.
Mengakui kenyataan yang selama ini coba aku sangkal.
“Dan ternyata…”
Dadaku terasa kosong.
“…aku sendirian dalam pernikahan itu.”
Angin berhembus pelan.
Menyentuh wajahku yang basah oleh air mata.
Seolah ada sesuatu yang mencoba menenangkanku—
atau mungkin hanya alam yang ikut menjadi saksi betapa rapuhnya aku saat ini.
Aku mengusap air mataku perlahan.
Meski aku tahu…
luka ini tidak akan hilang hanya dengan satu tangisan.
“Maafkan aku, Ayah…”
Aku menunduk lebih dalam.
“Kalau aku memilih pergi…”
Aku tidak pergi karena aku lemah.
Aku tidak pergi karena aku menyerah.
Aku pergi karena…
aku tidak ingin kehilangan diriku sendiri.
Jika aku tetap tinggal
Aku akan hancur.
Perlahan.
Tanpa suara.
Tanpa ada yang benar-benar peduli.
“Aku hanya ingin tenang…”
Suaraku hampir seperti bisikan.
“Aku hanya ingin jadi Kanaya lagi…”
Bukan istri yang menunggu.
Bukan wanita yang terus berharap pada sesuatu yang tidak pernah pasti.
Hanya… diriku sendiri.
Yang sederhana.
Yang utuh.
Yang tidak harus memohon untuk dicintai.
Aku menarik napas dalam.
Mencoba mengisi ruang kosong di dadaku dengan sedikit kekuatan yang tersisa.
Langkahku masih terasa berat saat aku berdiri.
Namun untuk pertama kalinya
Keputusan ini terasa jelas.
Aku akan berhenti berharap.
Bukan karena aku tidak lagi percaya pada cinta.
Tapi karena cinta…
Tidak seharusnya diperjuangkan sendirian.
Tidak seharusnya direbut dari kebohongan.
Aku berbalik perlahan dari makam Ayah.
Meninggalkan sebagian dari lukaku di sana.
Mungkin belum sembuh.
Mungkin masih akan terasa sakit untuk waktu yang lama.
Namun setidaknya
Aku sudah memilih.
Untuk pergi.
Untuk menyelamatkan diriku sendiri.
Dan untuk tidak lagi tinggal
di tempat
di mana aku harus memohon
untuk menjadi seseorang yang dipilih.
hati memang penuh misteri
aku berharap akan seru seterusnya
. tapi kenapa sepi ya?