NovelToon NovelToon
The Nethermist

The Nethermist

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Istana/Kuno / Fantasi / Hari Kiamat
Popularitas:1.5k
Nilai: 5
Nama Author: Clevareus

( Versi sekarang adalah Versi remake dari Novel The Nethermist dengan Versi paragraft dan tanda baca yang lebih rapi )

Lima hari sebelum pernikahan politik yang akan menyatukan dua kekuatan besar, dunia Leoric berubah selamanya.
Sebagai putra mahkota yang dipilih di tengah intrik, Leoric bersiap menikahi Clarissa, putri dari keluarga penguasa dataran tinggi. Namun, retakan di langit tiba-tiba muncul, membuka jalan bagi kabut gelap, sihir asing, dan makhluk-makhluk yang menghancurkan segalanya.
Dalam sekejap, kerajaan runtuh dan pernikahan mereka tertunda tanpa kepastian.
Di tengah dunia yang kacau dan kekuatan baru yang belum dipahami, Leoric harus memastikan keselamatan Clarissa—sambil menghadapi kenyataan bahwa kekuasaan, sihir, dan takdir kini berada di luar kendalinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Clevareus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Yang Tersakiti, Memilih Untuk Menyakiti (II)

​Lambaian tangan anak polos itu mengiringi langkah Leona dan kelima pria dewasa ke dalam gang gelap tanpa ujung. Dalam keheningan abadi yang perlahan mencekik, senyum di wajah Leona berangsur-angsur luntur—berubah menjadi topeng palsu yang menyedihkan.

​"Alona, kak Leona ada di mana? Apa kamu lapar? Dan di mana yang lain? Kamu sendirian saja di sini?"

​Suara itu datang dari Theo, remaja anggota regu pencuri. Dia menatap Alona dengan dahi berkerut, penasaran melihat anak yang baru saja kehilangan uangnya itu kini duduk melamun sebatang kara.

​"Iya, Kak Leona sedang memberi jatah untuk pria-pria dewasa yang tadi mengamuk," sahut Alona polos. "Kakak kalau mencuri jangan ketahuan dong. Nanti kalau pria-pria dewasa itu meminta jatah juga, bakal repot lho!"

​"Iya, iya, nih aku bawa makanan." Theo menyodorkan sebungkus makanan kecil, lalu menhela nafas pelan. "Sebagai yang tertua, Kak Leona punya tugas yang berat ya... padahal umurnya sendiri masih tujuh belas tahun. Tapi uangnya banyak juga jika harus terus melunasi pencurian kita yang ketahuan. Mungkin aku akan menyusulnya deh, siapa tahu dia perlu uang tambahan."

​"Kamu baik sekali, Kak. Hati-hati ya!"

​Theo, remaja berbaju kumuh itu, melepas topi tuanya lalu memasangkannya ke kepala Alona sambil tersenyum. "Tolong jaga topiku dulu ya. Oh iya, Kak Leona pergi ke arah mana?"

​"Kak Leona tadi pergi ke arah gang itu. Hati-hati ya, Kak Theo."

​"Oke."

​Theo merogoh kantong celananya. Meski tidak banyak, ia yakin beberapa koin receh hasil jerih payahnya hari ini bisa sedikit meringankan beban berat yang dipikul Leona.

​Remaja itu melangkah cepat memasuki gang sempit yang pengap. Theo berjalan terus selama hampir dua puluh menit, namun lorong itu kosong melompong—tidak ada siapa-siapa, kecuali sebuah pintu kayu besar yang terlihat mencurigakan di ujung jalan.

​Dari sekian banyak bangunan mati di sana, hanya pintu itu yang dijaga ketat oleh beberapa pria berotot. Kenapa pintu lainnya dibiarkan sepi? Insting Theo berbisik bahwa ada yang tidak beres di balik dinding itu.

​Baru saja Theo melangkah mendekat dengan wajah polosnya, dua pria di depan pintu langsung membentaknya kasar.

​"Hei, bocah! Pikirmu mau ke mana? Tidak ada mainan di sini! Cepat pergi sebelum aku menendang bokong baumu itu!"

​"Ah, maaf, maaf..."

​Theo mundur dengan cepat dan membalikkan badan. Namun, dari sela pintu yang sempat terbuka sedikit tadi, ia sempat melihat sekilas—itu adalah bar dewasa, lengkap dengan undakan tangga menuju lantai atas yang biasanya dipenuhi kamar-kamar penginapan sewaan.

​Ah, sudahlah. Tidak mungkin Kak Leona ada di tempat seperti itu. Theo berusaha menepis pikirannya sendiri sambil berlari kecil menuju markas. Lagipula isinya cuma pria-pria kasar. Ada berapa ya tadi? Mungkin sepuluh lebih... Huh, meskipun cuma sekilas, mereka semua perokok berat, telanjang dada sambil tertawa-tawa. Tidak terbayang baunya seperti apa di dalam.

​Tapi...

​Dalam perjalanan pulang, entah kenapa langkah kaki Theo terasa semakin berat.

​Rasanya... ada yang mengganjal di dadanya.

​Theo bersumpah, sayup-sayup di antara suara tawa kasar dari bar tadi—ia mendengar suara tangisan kecil. Suara yang begitu familier. Suara Kak Leona?

​Tidak, tidak, tidak. Theo menggelengkan kepalanya kuat-kuat, mencoba mengusir prasangka buruknya. Mana mungkin Kak Leona mau masuk ke tempat kotor penuh orang kasar seperti itu?

​Theo terus berlari sekuat tenaga hingga akhirnya sampai di markas mereka—sebuah kolong jembatan kumuh yang memisahkan aliran air gorong-gorong desa. Ia menghampiri Alona yang sedang asyik mengunyah roti, lalu duduk di sebelahnya sembari menghela napas lega.

​Tetapi, saat Theo mendongak untuk menyeka keringatnya... ia merasakan ada yang aneh dengan udara di sekitar mereka.

​Langit di atas sana... rasanya seperti retak?

​CRAKK!

​Sebuah suara hantaman keras menggema dari langit. Orang-orang desa di atas jembatan mulai menjerit, berlarian porak-poranda menembus kepanikan. Di atas sana, langit seolah terpecah menjadi retakan hitam, memuntahkan kabut gelap mengerikan yang merayap cepat ke permukaan tanah.

​Dan bersama kabut itu, sesuatu yang asing ikut turun ke dunia.

​Di tengah desa, seekor monster mengerikan menyerupai ular raksasa dengan dua tangan manusia meliuk di antara jeritan. Makhluk itu memegang tombak, menusuk dan membantai setiap manusia yang tertangkap oleh pandangan matanya.

​Sementara di markas anak-anak buangan di bawah jembatan...

​Sesosok makhluk menyerupai manusia telah berdiri. Kaki dan tangannya berjumlah dua, namun kepalanya dihiasi tanduk runcing, dan sepasang matanya bertambah menjadi tiga. Makhluk itu sedang berdiri diam, menatap Theo dan Alona dengan senyuman yang menyeringai lebar.

​Theo tidak tahu-menahu apa yang sebenarnya sedang terjadi. Otaknya lumpuh, didominasi oleh rasa takut yang begitu pekat hingga celananya hampir basah karena seluruh tubuhnya bergetar hebat.

​Tidak.

​Dia tidak boleh takut!

​Theo yang sempat tersungkur seketika bangkit berdiri. Dengan sisa keberaniannya, ia langsung menyambar dan menggendong Alona yang mulai menangis histeris.

​Monster bermata tiga itu menjulurkan lidahnya yang panjang, lalu melesat maju dengan tangan terangkat—bersiap mencabik apa saja yang berada dalam jangkauannya.

​Theo berlari sekencang mungkin sambil mendekap Alona. Namun, belum sempat ia menjauh dari kolong jembatan, seutas sesuatu yang kenyal dan basah menjerat pergelangan kakinya.

​"Huh?!"

​Theo terpekik kaget. Kakinya telah terlilit erat oleh lidah monster tersebut. Tubuhnya ambruk menghantam tanah, namun di detik-detik terakhir, Theo memutar badannya—memeluk Alona erat-erat dalam gestur mutlak untuk melindungi anak itu dengan tubuhnya sendiri.

​Di sisi lain, pria-pria di dalam bar yang pintunya dijaga tadi mulai berhamburan keluar. Mereka mengumpat, marah dan kesal karena tidak ada satu pun penjaga yang tersisa di depan pintu. Satu per satu dari mereka keluar dengan wajah gusar.

​Total ada enam belas pria yang melangkah keluar dari tempat kotor itu, menyisakan sang kasir sendirian di dalam bangunan.

​Tiga puluh menit berlalu.

​Leona melangkah keluar dari bangunan yang sama. Ia berjalan tersedu-sedu dalam tangis yang diredam sekuat tenaga. Salah satu tangannya gemetar, terus menumpu pada dinding-dinding gang agar tubuhnya tidak ambruk ke tanah. Dadanya sesak, dipenuhi oleh rasa benci yang begitu pekat hingga rasanya mau mati.

​Dalam kepalanya yang hancur, ia mengutuk takdir. Bagaimana bisa desa di Kerajaan besar dengan infrastruktur sebagus ini justru membiarkan warganya membusuk dalam kemiskinan hingga melahirkan manusia manusia seperti mereka?

​Pemerintah kerajaan ini... mereka tidak becus. Hasil kerja mereka nihil... hiks...

​Leona terus meratap dalam diam hingga kakinya tiba di markas bawah jembatan. Namun, langkah kakinya mendadak terkunci. Matanya melotot lebar, menangkap siluet tubuh Theo yang bersandar kaku di tembok gorong-gorong—tidak sadarkan diri, bersimbah darah, dengan tangan yang masih menggenggam erat sebilah pecahan kaca entah dari mana.

​"Huuu... Kak Leonaaa..."

​Sebuah rintihan tipis merayap masuk ke telinga Leona. Nada suara yang begitu tersiksa itu membuat Leona menoleh cepat. Di detik itulah, seluruh dunianya runtuh, menyisakan rasa lemas dan mual yang hebat di kerongkongannya.

​Alona ada di sana, beberapa meter di belakang Theo. Anak kecil itu sedang merangkak sekuat tenaga, menyeret tubuhnya yang terbaring lemah di atas tanah dingin menuju ke arah Leona. Tangan mungil yang beberapa jam lalu ia gunakan untuk melambaikan tangan perpisahan—kini telah terputus total, menyisakan pecahan tulang putih yang mencuat di balik daging yang hancur.

​Tidak jauh dari tempat Alona merangkak, sesosok makhluk mengerikan terbaring kaku tanpa nyawa. Kepalanya hancur, menyisakan bekas tusukan dalam yang mengerikan.

​Leona masih berada dalam kondisi syok yang luar biasa, namun nalurinya bergerak cepat. Ia berlari, mengangkat tubuh mungil Alona dan membawanya mendekat ke arah Theo yang masih pingsan untuk memberikan pertolongan ala kadarnya.

​Dengan tangan yang gemetar hebat, Leona menyobek pakaiannya sendiri—menggunakan lembaran kain kumuh itu untuk membalut luka di tangan Alona yang terus mengucurkan darah segar.

​Di tengah peluh dingin yang bercucuran dan kepanikan yang memuncak, telinga Leona kembali menangkap bisikan lirih dari mulut Alona.

​"Apakah... jatah mereka sudah Kakak bayar? Kakak menangis... pasti uang Kakak habis ya? Maaf ya... karena kami selalu merepotkan Kakak..."

​Dengan napas yang semakin terengah-engah, satu tangan Alona yang masih utuh terangkat perlahan, mengusap air mata yang membasahi pipi Leona. Sementara itu, Leona terus membalut luka itu sekuat tenaga, mencoba menghentikan aliran darah yang tak kunjung berhenti.

​Air mata Leona mengalir semakin deras. Ia berbisik lirih, menyuruh Alona untuk diam dan jangan banyak bergerak. Leona mencoba menguatkan hatinya, mencoba meyakinkan diri bahwa semuanya akan baik-baik saja, namun—

​Tangan mungil yang tadinya mengusap air mata Leona tiba-tiba terkulai lemas. Jatuh menghantam tanah, dan tidak pernah bergerak lagi.

​Leona mematung. Ia mulai menggoyang-goyangkan tubuh kecil Alona. "Alona? Alona, bangun..."

​Tidak ada jawaban. Yang tersisa di hadapan Leona saat ini hanyalah sesosok jasad anak kecil yang terbujur kaku dengan senyuman tipis di wajahnya—meninggalkan suhu tubuh yang perlahan-lahan mendingin diterpa angin gorong-gorong.

​Air mata Leona sempat terhenti selama beberapa detik akibat rasa tidak percaya yang menghantam jiwanya.

​Sebelum akhirnya, tangis itu pecah tak terkendali. Air matanya tumpah dalam jumlah yang sangat banyak. Leona mendekap erat jasad Alona ke dadanya, menjerit, dan terus memanggil nama anak itu dengan kalimat-kalimat histeris yang sudah tidak membentuk kata lagi.

​Ia menangis dan berteriak seperti orang gila di bawah jembatan gorong-gorong yang sepi. Sendirian. Ratapannya tenggelam di bawah riuhnya jeritan manusia-manusia di atas sana yang sedang dibantai oleh takdir.

​Masa Kini — 13 Februari (6 Hari Setelah Kejadian)

​Leona duduk di sudut sebuah kastil kosong yang sunyi. Bersama tiga orang rekan banditnya, ia bergerak ritmis—mengasah bilah belatinya di atas batu asah dengan tatapan mata yang dingin dan kosong.

​"Kak Leona, apakah Tuan Laios sudah memberi kita tugas baru?"

​"Tidak, Tuan Laios belum memberi kita tugas terbaru..." Leona menjawab tanpa mengalihkan pandangannya dari belati di tangannya. "Mungkin, dia ingin memberi kita waktu lebih untuk mempertajam senjata—dan memberi kita waktu lebih untuk berduka, Theo."

​Salah seorang anggota bandit yang duduk di dekatnya perlahan menarik turun tudung jubah hitamnya, menampilkan garis wajah yang dingin.

​Remaja itu adalah Theo. Bocah enam belas tahun yang sebelumnya hanyalah bawahan Leona di geng pencuri kecil mereka. Kini, ia masih berada di faksi yang sama dengan Leona—terjebak bersama di dalam sebuah dunia yang telah berubah sepenuhnya menjadi kegelapan.

1
AngkaSatu
Epic
AngkaSatu
Wah jadi inspirasiku nanti.
𝐊𝐚𝐞𝐥
cliffhanger yang sangat menarik
𝐊𝐚𝐞𝐥
hm, lagi-lagi terlalu banyak perkenalan karakter. saranku, klo mau dikenalin di satu bab, mending pakai percakapan antar tokoh dan beri ciri khasnya.
Clevareus: itu cuman daftar nama anggota keluarga kerajaannya aja sebenernya, karena ngumpul di satu ruangan. tapi iya juga ditumpuk di 1 paragraft gitu 🤣🔥 makasih ya koreksinya, kedepannya bakal agak kulambatin pacingnya🙏
total 1 replies
DreamXimaginatioN😴
hmm. aku kurang setuju dengan sikap leoric, di suruh mundur eh beneran mundur ternyata, baru udah ada korban berjatuhan balik lagi ke medan perang. jadi kurang epic deh kemunculannya, maaf 😅 ini hanya dalam pikiran ku saja
DreamXimaginatioN😴
wuihh dapat senjata, kayak nya MC bakal OP nih karena si sarioth kalau di lihat mungkin saja termasuk para petinggi monster2 itu 😁
DreamXimaginatioN😴
wah ini ketambahan spasi ya, malah jadi paragraf baru. Segera di perbaiki author 👍😄
ShikiSlurx
parah bangsawan bangsawan disini kayaknya kejam banget deh
WER
semangatnya 💪💪💪
Clevareus: siapp
total 1 replies
𝐊𝐚𝐞𝐥
secara tata bahasa aman sejauh ini. plot-nya juga lumayan. tapi info dump-nya cukup parah. terlalu banyak sejarah yang dijelaskan dalam satu bab. karakternya juga terlalu banyak diperkenalkan.

semangat!
Quinnela Estesa
chapter awal, jangan langsung dikasih adegan tempo tinggi😊 nanti setelahnya bakalan kehabisan bahan bakar deh.

seharusnya fokus dulu ke tokoh utama biar banyak yang kenal.
Clevareus: oke makasih masukannya
total 1 replies
DreamXimaginatioN😴
haha nice lah pokoknya 🔥🔥🔥. Tengkorak 💀 apa itu di belakang nya.../Shame/. Hanya saran sedikit saja, monster-monster yang keluar tidak terlalu di jelaskan ya, jika emang gitu niat author tidak masalah namun setidaknya berikan sedikit jenis garis besar nya aja seperti ada yang bisa terbang/ ada yang berotot atau yang lainnya, gitu aja.
Clevareus: okee siapp
total 1 replies
DreamXimaginatioN😴
uhh... seram nya oii😬
AngkaSatu
Oke sejauh ini masih oke tetapi ada beberapa hal yang bisa diperbaiki. Ini adegan bisa dibuat lebih baik lagi misalnya disaat kedua kekasih itu ingin mengucapkan sumpah setia mereka langit tiba tiba retak dan ada mata yang melihat mereka dari atas tersebut semua orang yang menjadi tamu undangan berlarian kesana kemari. Oke segitu dulu dan maaf jika kritikan ku sedikit nyingung🙏
Clevareus: malahan aku berterimakasih kalau ada yang ngasih saran disini🔥
total 2 replies
DreamXimaginatioN😴
hmm comenter ku seperti kebanyakan pembaca lainnya yaitu terlalu banyak informas tapi bagian tengah sampai akhir mulai menarik kok😁. Aku menyarankan agar kata dan paragraf bagian awal bab pertama pada novel di buat semewah/ sebagus mungkin, buat mancing pembaca. Tapi kembali ke author sendiri sih mau di edit atau tidak. Aku menilai bab ini sudah cukup menarik di tambah tata bahasanya rapi, sudah berkelas ini 👍😁.
AngkaSatu
Pendapatku tentang Clarissa. Menurutku Clarissa itu belum diperkenalkan dengan baik. Orang orang akan bilang "Oh oke dia trauma karena perang" Tetapi bila buat Clarissa nya diperkenalkan dulu kasih dialog dulu maka orang orang akan merasa sedikit perihatin. "Oh kasian sekali Clarissa."
AngkaSatu
Menurutku terlalu banyak informasi yang dilemparkan sekaligus. Orang orang bisa lupa nanti tokoh tokoh pentingnya nanti
Clevareus: oke kak, makasih pendapatnya yaa
total 1 replies
Not Not
Gak tau mau komen apa lagi 😹 udah bagus kok
Clevareus: makasihh 🔥
total 1 replies
Not Not
terlalu banyak info dump diawal/NosePick/ mendingan ditunjukkan lewat adegan
WER
semangatttt authorrrrrr 😆
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!