Satu malam yang seharusnya terlupakan justru mengubah segalanya. Nayra, mahasiswi yang hidupnya sederhana, terbangun dengan kenyataan pahit—dia hamil dari pria asing yang bahkan tidak ia kenal namanya. Di tengah ketakutan dan tekanan, Nayra memilih mempertahankan janin itu, meski harus menanggung semuanya seorang diri.
Sementara itu, Arsen—seorang CEO dingin yang tak pernah memikirkan cinta—mulai dihantui bayangan malam yang sama. Hanya berbekal satu nama, ia mencari gadis yang tanpa sengaja telah mengubah hidupnya. Namun saat akhirnya mereka bertemu kembali, kenyataan jauh lebih rumit dari yang ia bayangkan.
Ketika tanggung jawab berubah menjadi perasaan, dan jarak usia menjadi tembok yang sulit ditembus… akankah Nayra membuka hatinya, atau justru memilih menjauh dari pria yang dulu hanya ia anggap kesalahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dina Auliya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jarak Yang Semakin Dekat
Pagi itu terasa lebih tenang dari biasanya. Langit cerah, angin berhembus pelan, dan suasana kampus belum terlalu ramai.
Namun bagi Nayra— Ketenangan itu justru terasa menekan. Ia berjalan pelan di koridor, satu tangan memegang tas, tangan lainnya tanpa sadar menyentuh perutnya.
Kebiasaan baru. Refleks yang muncul begitu saja.
“Na.” Sinta berjalan di sampingnya.
“Iya?”
“Kamu akhir-akhir ini sering banget bengong.”
Nayra tersenyum tipis. “Aku lagi banyak pikiran.”
Sinta mengangguk. “Kelihatan.”
Mereka berhenti di depan kelas.
“Kamu masuk dulu,” kata Sinta. “Aku ke perpustakaan lagi.”
Nayra mengangguk. “Jangan lama-lama.”
Sinta tersenyum. “Siap.”
***
Arsen duduk di kursi belakang mobil. Berkas di tangannya terbuka.Nama itu kembali terlihat. Nayra.
Raka mengemudi di depan.
“Pak, kita langsung ke kampus lagi?” tanyanya.
Arsen tidak langsung menjawab. Matanya masih tertuju pada berkas.
“Dia sering ke klinik…” gumamnya pelan.
Raka mengangguk. “Iya, itu yang paling mencurigakan.”
Arsen menghela napas pelan. “Aku mau lihat dia.”
Raka sedikit tersenyum. “Berarti kita ke kampus.”
Arsen mengangguk. “Sekarang.”
Di dalam kelas—
Nayra duduk diam. Hari ini ia mencoba lebih fokus. Namun tetap saja— Pikirannya mudah teralihkan. Tangannya menulis, tapi matanya sesekali kosong.
“Na.”Bisikan dari samping membuatnya menoleh. Rina.
“Iya?”
“kamu nanti ke kantin nggak?” tanya Rina.
Nayra ragu sebentar. “Iya… mungkin.”
Rina tersenyum. “Ikut ya.”
Nayra mengangguk. “Ya.” Meski dalam hati—Ia tidak yakin.
Satu jam kemudian— Bel berbunyi. Mahasiswa mulai keluar kelas.
Nayra berjalan bersama Rina dan beberapa teman lainnya. Sinta belum terlihat.
“Eh, Sinta ke mana?” tanya Rina.
“Perpustakaan,” jawab Nayra.
“Oh…”
Mereka berjalan menuju kantin. Langkah Nayra sedikit lebih pelan dari yang lain.
Namun ia berusaha tetap mengikuti.
Di gerbang kampus—
Mobil hitam kembali berhenti. Arsen turun.
Kali ini, langkahnya lebih pasti.
“Pak, kita langsung ke klinik kampus?” tanya Raka.
Arsen menggeleng. “Tidak.”
“Terus?”
Arsen menatap ke dalam kampus. “Dia pasti ada di sini.”
Raka mengangguk pelan.
“Baik… kita cari.”
Di kantin—
Nayra duduk bersama Rina dan teman-teman lainnya.Suasana cukup ramai. Namun kali ini— Ia mencoba lebih santai.
“Na, kamu mau pesan apa?” tanya Rina.
“Teh hangat aja,” jawab Nayra.
“Serius? Nggak makan?”
“Nanti.”
Rina menatapnya lagi. Tatapan itu— Masih penuh curiga.
“Kamu beneran nggak apa-apa?”
Nayra tersenyum. “Iya.”
“Kamu kayak orang lagi… jaga sesuatu.”
Kalimat itu membuat Nayra langsung menegang. “Apaan sih…” ia mencoba tertawa kecil.
Rina hanya mengangkat bahu. “Perasaan Aku aja.”
Disaat yang sama. Arsen berjalan melewati koridor menuju kantin. Langkahnya tenang.
Matanya memperhatikan sekitar.
Raka mengikuti di belakang. “Pak, kalau ini benar orangnya… Bapak mau langsung temui?” tanya Raka.
Arsen terdiam sejenak. Lalu berkata, “Lihat dulu.”
Di kantin—
Nayra tiba-tiba merasa tidak nyaman. Ia berhenti berbicara. Matanya menatap ke arah pintu masuk. Entah kenapa— Dadanya berdebar.
“Na?” panggil Rina.
Nayra tidak menjawab. Ia hanya menatap ke arah yang sama.
Dan di detik itu—Arsen melangkah masuk ke kantin. Waktu seperti melambat. Nayra melihatnya. Jelas. Lebih jelas dari kemarin.
Pria itu. Tinggi. Tenang.
Aura dingin yang berbeda dari orang lain. Jantung Nayra berdetak lebih cepat. “Dia…”
gumamnya tanpa sadar.
“Siapa?” tanya Rina.
Nayra tidak menjawab. Matanya tidak lepas dari pria itu.
Di sisi lain— Arsen juga berhenti.
Tatapannya menyapu ruangan. Lalu—
Berhenti pada satu titik. Seorang gadis.
Duduk di antara beberapa teman. Wajahnya…Kali ini terlihat jelas. Dan untuk pertama kalinya— Sesuatu di dalam dirinya terasa bergetar.
“Pak?” bisik Raka.
Arsen tidak menjawab. Matanya terkunci pada sosok itu. “Dia…” gumamnya pelan.
Nayra menahan napas. Perasaan itu—
Kali ini bukan sekadar aneh. Tapi kuat. Sangat kuat. Seperti… mengenali sesuatu yang lama terlupakan.
Sinta belum ada di sana. Dan Nayra—
Sendirian menghadapi perasaan itu.
“Na?” Suara Rina terdengar jauh.
“Kamu kenapa?”
Nayra berdiri pelan. Tanpa sadar. Tanpa rencana. Langkahnya sedikit maju. Matanya masih pada pria itu.
Arsen juga melangkah. Satu langkah. Dua langkah. Semakin dekat.
Namun— Tiba-tiba seseorang berdiri di depan Nayra.
“Eh, Na! Mau ke mana?” Sinta.
Nayra tersentak “Sin…”
Sinta mengernyit. “Kamu kenapa?”
Saat Nayra kembali melihat ke depan—bPria itu sudah tidak di tempatnya. Ia berhenti.
Matanya mencari. Kosong. “Dia…” gumamnya.
“Siapa?” tanya Sinta.
Nayra menoleh ke arahnya. Wajahnya terlihat bingung. “Aku… nggak tahu…”
Disisi lain, Arsen sudah keluar dari kantin. Langkahnya cepat.
Raka sedikit terkejut. “Pak, kenapa keluar?”
Arsen berhenti. Menghela napas. “Belum.”
Raka mengernyit. “Belum?”
Arsen menatap ke depan. “Belum waktunya.”
Nayra kembali duduk. Namun pikirannya tidak lagi di sana. Perasaan itu… Semakin kuat. Dan kali ini— Ia yakin. Pria itu… Bukan orang asing biasa.
Sementara itu— Arsen berdiri di luar gedung.
Tatapannya tajam. “Aku menemukan mu…” gumamnya pelan.
Untuk pertama kalinya— Ia hampir yakin. Bahwa gadis itu… Adalah Nayra yang ia cari.
To be continued 🙂 🙂 🙂