NovelToon NovelToon
BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

BENCI SETIPIS TISU: OBSESI TUAN MUDA ARGIAN

Status: sedang berlangsung
Genre:CEO / Obsesi
Popularitas:2.9k
Nilai: 5
Nama Author: Ai_Li

Dunia Aiswa runtuh saat Devan Argian, investor berkuasa yang dingin, mengklaimnya secara sepihak. Bukan sekadar lamaran, ini adalah jeratan. Demi ambisinya, Devan tak segan mengancam nyawa orang-orang tercinta Aiswa. Nasib adiknya yang bekerja sebagai operator alat berat di Kalimantan kini di ujung tanduk; satu perintah dari Devan bisa menghancurkan masa depan, bahkan nyawanya.

​Terjepit antara rasa benci dan keselamatan keluarga, Aiswa terpaksa tunduk dalam "penjara emas" sang tuan muda. Namun, di balik dominasi gelap Devan, hadir Zianna, putri kecil sang investor yang sangat menyayanginya. Akankah ketulusan Zianna dan pesona posesif Devan mampu mengikis kebencian Aiswa hingga setipis tisu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ai_Li, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Sesuap Nasi, Tuduhan Buta, dan Kekecewaan yang Pecah

Untuk pertama kalinya dalam sejarah hidup seorang Devan Argian, pria itu menuruti kemauan orang lain tanpa protes. Alih-alih mengarahkan kemudi ke restoran bintang lima berpelat nomor internasional, Devan justru melajukan mobilnya mengikuti petunjuk arah dari Aiswa, menuju sebuah restoran yang tampak biasa saja di matanya.

Tempat itu mengusung konsep modern tetapi menyajikan menu tulen Nusantara. Bagi Aiswa, restoran ini adalah markas sakral tempatnya berkumpul dan menghabiskan waktu bersama geng "Sembilan Nyawa".

Rasanya ramah di lidah warga lokal, dan yang paling penting, harganya sangat bersahabat bagi kantong guru seperti dirinya yang bergaji pas-pasan. Terlalu murah dan sederhana untuk ukuran seorang CEO Argian Group, tetapi Aiswa tidak peduli. Namanya juga hidup, harus tahu diri.

Sejak zaman kuliah hingga mereka semua kini sibuk meniti karier di tempat masing-masing, restoran inilah yang menjadi saksi bisu tawa dan keluh kesah mereka.

Satu hal yang mendadak membuat dada Aiswa berdenyut agak perih, Aditya bahkan tidak pernah ia ajak ke tempat ini. Dulu, setiap kali mereka hendak makan bersama, Aditya selalu mendominasi dan menentukan restoran yang menurut versinya enak. Aiswa jarang sekali ditanya tentang keinginannya, dan sialnya, Aiswa selalu menurut sejak dulu.

Aiswa menggelengkan kepalanya kuat-kuat, berusaha menyadarkan dirinya sendiri dari pusaran masa lalu.

Hush! Ngapain mikirin dia lagi? Gue kan sudah putus sama Mas Aditya, rutuknya dalam hati. Walau harus diakui hatinya belum benar-benar ikhlas sepenuhnya, Aiswa tahu dia harus mulai melangkah maju sekarang.

Lagipula, jika dia terus-menerus meratapi masa lalu di depan Devan, duda gila di sampingnya ini pasti bisa bertindak jauh lebih nekat lagi.

Mengambil jalan aman, Aiswa memilih fokus pada makanan daripada memikirkan hal-hal rumit yang hanya akan membuatnya sakit kepala.

Tak lama kemudian, pesanan mereka datang. Berbagai hidangan khas Indonesia tersaji hangat di atas meja, mulai dari rendang daging yang hitam pekat, ayam goreng Kalasan dengan kremesan yang melimpah, pepes ikan yang harum daun pisang, hingga sambal lalapan. Seketika, sepasang mata Aiswa berbinar-binar cerah menatap surga dunia di hadapannya.

Devan yang duduk di seberang meja diam-diam memperhatikan perubahan ekspresi itu. Sudut bibirnya berkedut menahan gemas melihat binar kebahagiaan yang begitu murni dari wajah gadisnya.

Tanpa meminta izin atau bahkan berbasa-basi menawarkan Devan untuk mencicipi terlebih dahulu, Aiswa langsung menyambar sendok. Setelah merapalkan doa makan dalam hati, ia langsung menyantap hidangan itu dengan lahap.

Cara makan Aiswa benar-benar seperti orang yang kelaparan selama tiga hari berturut-turut. Suapannya besar, membuat kedua pipinya mengembang penuh seperti seekor tupai yang sedang menyembunyikan kacang.

Namun, bukannya merasa ilfil atau terganggu dengan etika makan Aiswa yang jauh dari standar table manner kaum ekspatriat, Devan malah semakin terpaku dan suka melihatnya.

Memang benar kata pepatah, jika seseorang sudah telanjur jatuh cinta, kelakuan seajaib apa pun dari orang yang disukai akan tetap terlihat indah dan menawan di matanya.

Sadar sejak tadi hanya dirinya yang sibuk mengunyah, Aiswa akhirnya merasa agak tidak enak juga.

"Makan, Pak," tawar Aiswa dengan mulut yang masih sedikit penuh.

"Kamu saja," sahut Devan langsung, menumpu dagunya dengan satu tangan.

"Melihat kamu makan seperti itu, saya sudah kenyang duluan."

Bagi Devan, pertunjukan visual Aiswa yang makan dengan lahap jauh lebih menarik untuk dinikmati daripada mencicipi makanan itu sendiri, meskipun aromanya harus diakui cukup menggugah selera.

Aiswa berdecak pelan, mengunyah rendangnya dengan gemas.

"Ck, Tuan Devan Argian ini beneran nggak asyik banget, ya. Masa saya disuruh makan sendirian? Mending Bapak cicipi dulu deh sesuap, dijamin langsung nagih!" Tanpa pikir panjang, Aiswa menyodorkan potongan ayam Kalasan ke arah Devan.

Namun, Devan sama sekali tidak melirik makanan tersebut. Sepasang matanya yang tajam tetap mengunci intens wajah Aiswa.

Karena merasa gemas tawarannya diabaikan, secara spontan dan tanpa sadar, Aiswa menyendokkan nasi hangat, sedikit bumbu rendang, dan secuil daging empuk ke dalam sendoknya. Dengan gerakan cepat, ia mengarahkannya tepat ke depan bibir Devan.

Aksi nekat nan spontan itu tentu saja membuat Devan terpaku sesaat. Detak jantung sang CEO sempat berhenti satu ketukan. Karena terlalu terkejut dan terhipnotis oleh perhatian kecil itu, secara refleks Devan membuka mulutnya, menerima suapan pertama dari tangan Aiswa.

Kehangatan nasi dan bumbu Nusantara itu lantas memenuhi indra pengecapnya, terasa berkali-kali lipat lebih nikmat.

"Gimana? Enak, kan?" tanya Aiswa antusias, sebuah senyuman tulus tanpa sadar terukir di wajah manisnya.

Sebenarnya, bukan rasa bumbu rendang yang membuat Devan sedari tadi terpaku, melainkan fakta mengenai siapa sosok yang baru saja menyuapinya. Bahkan, jika diperhatikan baik-baik, Aiswa menyuapi Devan menggunakan sendok yang baru saja ia pakai sendiri untuk makan tadi.

"Lumayan," jawab Devan singkat, berusaha sekuat tenaga menyembunyikan debaran aneh di dadanya.

Aiswa awalnya tersenyum puas. Namun, beberapa detik kemudian, otaknya baru memproses apa yang baru saja terjadi. Pandangannya turun ke arah sendok di tangannya, lalu beralih ke bibir Devan.

Mampus! Gue menyuapi dia pakai sendok bekas gue sendiri?!

"Eh... maaf, Pak! Sendoknya nggak saya ganti dulu tadi," ucap Aiswa terbata-bata.

Aiswa mendadak merasa sangat tidak sopan dan merutuki kebiasaan cerobohnya jika sudah berhadapan dengan makanan.

Aduh, Aiswa! Lo ngapain sih tadi? Kalau udah ketemu makanan suka lupa situasi banget! Gue kan harusnya lagi kesal sama nih duda! batinnya menjerit protes pada diri sendiri.

"Nggak apa-apa," sahut Devan dengan suara baritonnya yang merendah, menatap Aiswa dengan pandangan yang dalam dan memabukkan.

"Saya suka apa pun yang datang dari kamu. Bahkan, jika kamu menyuapi saya langsung dengan mulutmu pun, saya akan dengan senang hati menerimanya."

Uhuk!

Ucapan vulgar nan blak-blakan itu sontak membuat Aiswa membelalakkan matanya sempurna. Ia hampir saja tersedak air liurnya sendiri. Nafsu makan yang sedari tadi membubung tinggi langsung menguap lenyap seketika ke udara, ya... walaupun sebagian karena perutnya memang sudah mulai terasa kenyang.

"Dasar Duda mesum!" umpat Aiswa dengan wajah yang memerah sempurna sampai ke telinga.

Matanya melotot tajam, bahkan tangan kanannya refleks terangkat, menunjuk ke arah Devan dengan garpu di tangannya sebagai bentuk ancaman.

Aiswa akhirnya melanjutkan sisa makannya dengan perasaan kesal yang menggebu-gebu, mencoba meredam detak jantungnya yang berdentum terlalu keras akibat gombalan berbahaya pria di hadapannya.

Namun, di tengah keheningan yang canggung itu, sebuah suara berat yang sangat familiar memecah atmosfer di antara mereka.

"Aiswa?"

Suara itu begitu melekat di kepala Aiswa, sebuah vokal yang langsung ia kenali bahkan tanpa perlu berbalik. Aiswa tersentak kecil, lalu perlahan menoleh demi menatap manik mata si pemanggil yang berdiri tak jauh dari meja mereka.

"Mas... Mas Aditya?" gumam Aiswa lirih.

Seketika itu juga, tatapan santai dan rileks yang sempat ditunjukkan oleh Devan langsung berubah drastis menjadi sedingin es kutub.

Aura intimidasi yang pekat menguar dari tubuhnya saat ia menatap tajam ke arah Aditya. Devan sangat tidak suka karena momen berharganya bersama Aiswa harus diganggu oleh benalu dari masa lalu.

Aditya berdiri mematung, menatap Aiswa dan Devan bergantian dengan pandangan tak percaya bercampur kecewa.

"Aiswa... kamu dan Pak Devan? Ternyata kalian berdua sudah sedekat ini?" ucap Aditya, suaranya bergetar menahan emosi yang berkecamuk.

Kening Aiswa berkerut dalam, ia benar-benar tidak paham.

"Maksud Mas apa?"

"Kalian makan bersama di tempat ini, bahkan sampai suap-suapan seperti tadi?"

Aditya tertawa hambar, berasumsi sepihak dengan pikiran yang sudah dikuasai rasa cemburu buta. Perasaan yang tidak pernah dia rasakan selama mereka pacaran. Karena Aditya selalu percaya diri kalau Aiswa hanya mencintainya.

"Apa jangan-jangan, semua ancaman penarikan investasi kemarin itu hanyalah alibi kalian saja? Padahal sebenarnya, kalian berdua memang sudah main di belakang aku selama ini, iya?!"

Tuduhan keji itu lantas menusuk ulu hati Aiswa. Dadanya bergemuruh hebat, sama sekali tidak terima dengan asumsi kotor tersebut.

Bagi Aiswa, mengenal Devan Argian saja sudah dianggapnya sebagai sebuah kesialan, dan selama bertahun-tahun menjalin hubungan, ia selalu menjaga kesetiaannya hanya untuk Aditya. Ia tidak pernah menyangka bahwa pria yang masih sangat ia cintai itu akan meragukan ketulusannya sampai seburuk ini.

Aiswa langsung bangkit berdiri dari kursinya, bersiap membela diri sendiri dengan sisa-sisa ketegaran yang ia miliki. Sementara itu, Devan tetap duduk tenang di kursinya, mengamati situasi dengan tatapan mata yang semakin menggelap.

"Aku selalu setia ya sama kamu, Mas! Dan aku nggak menyangka Mas Aditya bisa berpikir serendah itu tentang aku!" seru Aiswa dengan suara yang bergetar menahan tangis yang mendesak di pelupuk matanya.

"Perihal kenapa kemarin kita harus putus, kita berdua sama-sama tahu apa penyebab utamanya!"

Aiswa melirik Devan sekilas dengan tatapan penuh luka, sebelum akhirnya kembali menatap lurus ke arah Aditya.

"Aku benar-benar nggak menyangka Mas bakal bicara seperti ini ke aku. Aku... aku kecewa banget sama kamu, Mas. Jangan pernah temui aku lagi!"

Setelah meluapkan seluruh rasa sesak yang menghimpit dadanya, Aiswa langsung menyambar tasnya dan berlari pergi meninggalkan restoran tersebut.

Rasa sesak dan sakit akibat tuduhan buta dari Aditya barusan terasa berkali-kali lipat lebih menyakitkan daripada rasa kesalnya terhadap kelakuan ajaib Devan sepanjang pagi ini. Kepercayaannya telah dihancurkan oleh orang yang paling ia jaga perasaannya selama ini.

Begitu bayangan tubuh Aiswa menghilang di balik pintu restoran, Devan perlahan bangkit berdiri. Postur tubuhnya yang tegap dan tinggi menjulang memberikan tekanan mental yang kuat pada Aditya. Pria itu menatap Aditya dengan pandangan mata yang begitu dingin dan mematikan.

"Selama ini, Aiswa selalu berpikir bahwa Anda adalah pria yang paling baik di dalam hidupnya," ucap Devan dengan suara bariton yang tenang namun sarat akan ancaman yang nyata.

"Dan saya... tidak pernah berniat untuk merusak pikiran baiknya itu tentang Anda."

Devan maju satu langkah, menatap Aditya lurus-lurus.

"Tapi hari ini... Anda sendiri yang menghancurkan bayangan baik itu dengan kebodohan Anda sendiri."

Setelah menjatuhkan kalimat telak yang membuat Aditya seketika terpaku bungkam dengan wajah pucat, Devan langsung berbalik dan melangkah lebar untuk mengejar Aiswa, meninggalkan Aditya sendirian yang kini dihantam rasa penyesalan yang terlambat.

1
Ibu² kang Halu🤩
𝚔𝚎𝚛𝚎𝚗𝚗 𝚒𝚑 𝚌𝚎𝚛𝚒𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊, 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚊𝚍𝚊 𝚕𝚊𝚗𝚓𝚞𝚝𝚊𝚗 𝚐𝚊𝚔 𝚗𝚒𝚑 𝚔𝚊𝚔 𝚊𝚞𝚝𝚑𝚘𝚛???
Ibu² kang Halu🤩: oke kak. semangat ya💪💪 sehat selalu kak🤗
total 2 replies
Lisa
👍 Gercep aj nih si Devan 😊
Lisa
Ceritanya makin asyik nih 😊
Lisa: sama² Kak Ai
total 2 replies
Lisa
Rejeki nomplok utk Lucas nih 😊👍
Lisa
Ceritanya menarik juga nih
Ai_Li: Terima kasih kak sudah baca🥰
total 1 replies
Lisa
Aku mampir Kak
Lisa: Amin..sama² Kak..
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!