NovelToon NovelToon
Pesona Antagonis Novel

Pesona Antagonis Novel

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:59.3k
Nilai: 5
Nama Author: mejiku

Asha, seorang gadis SMA yang gemar membaca, tanpa sengaja menemukan sebuah novel romantis bergenre dark yang langsung menarik perhatiannya. Awalnya hanya iseng, ia mulai membaca kisah kelam penuh obsesi, cinta yang beracun, dan tokoh antagonis yang kejam namun memikat. Tanpa sadar, ia terbawa suasana hingga larut malam.
Namun saat ia terbangun, dunia di sekelilingnya terasa asing.
Asha terkejut ketika menyadari bahwa dirinya bukan lagi berada di dunianya sendiri, melainkan masuk ke dalam novel yang semalam ia baca. Lebih buruk lagi, ia bukan tokoh utama yang memiliki perlindungan plot, juga bukan antagonis yang berkuasa melainkan hanya seorang figuran.
Seorang figuran yang dalam cerita aslinya dikenal karena satu hal: tergila-gila pada sang antagonis.
Dan yang paling mengerikan, Asha tahu persis bagaimana akhir dari karakter itu nasib paling mengenaskan yang bahkan tak layak disebut sebagai akhir bahagia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

34

Melody berjalan melewati gerbang sekolah dengan dagu terangkat dan kacamata hitam yang bertengger manis di hidungnya. Meski kemarin habis "perang" melawan seblak dan bubur hambar, pagi ini auranya benar-benar berbeda.

​"Minggir, minggir! Bidadari sisa-sisa perjuangan lambu mau lewat!" serunya pelan sambil mengibaskan rambutnya yang harum stroberi.

​Di koridor dekat loker, Rere dan Rhea sudah berdiri menunggu dengan wajah yang sulit diartikan. Begitu melihat Melody, keduanya langsung lari menghampiri layaknya wartawan yang haus berita.

​"HEH! LO MASIH HIDUP?!" teriak Rere sambil memutar-mutar tubuh Melody, mengecek apakah ada bagian yang hilang.

​"Gila ya lo, Mell! Kemarin satu sekolah heboh denger kabar lo pingsan di pelukan Kaisar. Gue kira lo udah pindah alam gara-gara kualat makan seblak!" sahut Rhea sambil geleng-geleng kepala.

​Melody melepas kacamata hitamnya dengan gerakan dramatis. "Please deh, jangan norak. Princess itu bukannya mati, tapi lagi hiatus buat maintenance usus. Liat nih, makin cantik kan gue? Efek disuapin 'Malaikat Maut' emang beda, langsung seger!"

​Rere langsung menyikut lengan Melody. "Cieeee! Disuapin?! Serius lo?! Gimana rasanya disuapin ketua geng paling galak? Rasanya kayak makan emas atau makan silet?"

​"Rasanya hambar, Re! Hambar se-hambar hatinya si Kulkas!" Melody mendengus. "Bayangin ya, gue lagi sakit, lemes, lunglai, dia malah nakut-nakutin mau bunuh gue kalau gue macem-macem sama si Zoya. Kan psikopat banget!"

​Rhea tertawa ngakak sampai memegangi perutnya. "Ya ampun, itu mah bahasa cinta versi dia kali, Mell. Daripada lo dibunuh beneran, mending lo nikmatin aja tuh perhatiannya. Terus gimana? Lo dijemput lagi pagi ini?"

​"Nggak! Gue berangkat sendiri!" bohong Melody sambil melirik ke kanan-kiri, takut motor besar Kaisar tiba-tiba muncul. "Gue butuh privasi dari tatapan mautnya. Lagian ya, gue males kalau harus dengerin ceramah dia soal 'jangan makan pedas' lagi. Udah kayak dengerin kultum subuh tahu nggak!"

​"Halah, gaya lo nolak," ejek Rere. "Palingan nanti pas liat Kaisar lewat, lo langsung mode reog lagi biar diperhatiin. Eh tapi jujur, Mell... lo nggak apa-apa kan? Perut aman?"

​Melody menepuk perutnya dengan bangga. "Aman terkendali! Udah gue kasih briefing semalam biar nggak berkhianat lagi. Hari ini gue mau fokus jadi cantik dan mempesona, biar si Kulkas itu makin gila liat gue!"

​"Sombongnya mulai kumat," gumam Rhea. "Ya udah ayo ke kelas, sebelum lo pingsan lagi gara-gara kebanyakan gaya!"

​Ketiganya pun berjalan menuju kelas sambil tertawa kencang, mengabaikan tatapan iri siswa lain yang masih penasaran dengan kelanjutan drama "Kaisar dan Si Gadis Seblak".

Suasana kelas mendadak hening begitu Bu Lastri—guru Matematika yang terkenal punya tatapan setajam silet—masuk dan langsung menggebrak meja dengan penggaris kayu panjangnya.

​"Melody! Maju ke depan!" suara Bu Lastri menggelegar, bikin Melody yang lagi asik benerin kutek pakai spidol langsung melonjak kaget.

​"Saya, Bu? Saya lagi?! Duh Bu, baru juga napas," keluh Melody sambil berjalan gontai ke depan kelas. Rere dan Rhea cuma bisa memberikan gestur "selamat jalan" dari bangku belakang.

​Bu Lastri menuliskan soal persamaan linear yang panjangnya kayak kereta api di papan tulis. "Kerjakan ini. Kalau tidak bisa, kamu berdiri di depan kelas sambil hormat ke foto pahlawan sampai jam saya habis!"

​Melody memandangi papan tulis dengan tatapan kosong. Angka-angka di depannya seolah-olah berubah jadi butiran kerupuk seblak yang menari-nari.

​"Anu... Bu," ucap Melody sambil memegang spidol dengan gemetar. "Ini angka x sama y nya lagi berantem ya Bu? Kok mereka dipisah sama tanda kurung begini? Nggak kasihan apa, mereka kan butuh ruang untuk bicara."

​"Melody! Jangan bercanda! Cepat hitung variabelnya!" bentak Bu Lastri.

​Melody menggaruk kepalanya yang nggak gatal. "Variabel itu sejenis makanan korea bukan sih Bu? Duh, otak saya kayaknya masih mode buffering gara-gara asam lambung kemarin. Gimana kalau saya ganti soalnya jadi 'Berapa jumlah air mata Zoya dalam sehari'? Saya pasti bisa jawab, Bu!"

​Seisi kelas langsung tertawa tertahan. Bu Lastri mukanya udah merah padam kayak kepiting rebus.

​"Melody! Kamu mau saya tambah hukumannya?!"

​"Eh, jangan Bu! Oke, oke, saya coba ya..." Melody mulai corat-coret asal di papan tulis. "Jadi begini Bu, kalau 2x + 5y \= 20, maka jawabannya adalah... kita harus ikhlas, Bu. Karena dalam hidup, tidak semua pertanyaan harus ada jawabannya. Terkadang, diam adalah jawaban terbaik."

​TAK!

​Penggaris Bu Lastri mendarat di meja. "MELODY! Kamu pikir ini kelas filsafat?! Itu soal matematika!"

​"Ya habisnya susah, Bu! Ibu kasih soal kok kayak ngajak berantem," protes Melody tanpa dosa. "Ibu tau nggak, gara-gara mikirin x ini, saya jadi kurang gizi? Harusnya Ibu tuh tanya, 'Melody, kamu sudah makan bubur belum hari ini?' Itu baru namanya guru yang perhatian."

​"Keluar! Sekarang kamu berdiri di depan kelas!" perintah Bu Lastri sambil menunjuk pintu.

​Melody justru nyengir lebar. "Siap, Bu! Kebetulan di luar udaranya sejuk, cocok buat bidadari yang butuh healing. Makasih ya Bu atas pengertiannya!"

​Sambil berjalan keluar, Melody sempat-sempatnya dadah-dadah ke Rere dan Rhea. "Gue duluan ya guys, mau meet and greet sama angin koridor!"

​Baru saja ia sampai di depan pintu, ia hampir menabrak dada bidang seseorang. Begitu mendongak, matanya bertemu dengan tatapan datar Kaisar yang kebetulan lewat mau ke kantin (atau mungkin sengaja lewat kelas Melody).

​"Dihukum lagi?" tanya Kaisar pendek.

​"Bukan dihukum, Kai! Ini namanya... panggung kehormatan khusus buat gue!" jawab Melody pede, meski pipinya langsung merona karena ketahuan bego di depan cowok itu.

1
Wahyuningsih
lanjut thor 💪💪💪 dlm upnya
Irsyad layla
lanjut lagi thor
Nazia wafa abqura
kak aq tunggu up ny
Ayunda C.M
lanjut thor
Ayunda C.M
up nya kurang banyak thor
Alvia Vi
gercep ya kaii🤣🤣
Alvia Vi
apa Thomas jahat yaa
Wahyuningsih
💪💪💪💪 thor dlm upnya jgn ampe kendor 😅😅
Irsyad layla
thor please lah lanjut hari ni nggk cukup 1 bab perhari
emalia
Lanjut kk
paijo londo
🤣🤣🤣🤣🤣kocak
paijo londo
naah gitu donk say (melody aka asha) dibuat santai aja kalo jodoh syukur kalo g jodoh ygpp bener gak sha💪💪💪
Kalief Handaru
ya ampun jujurly itu melody ska asha bener2 ajaib petakilannya🤣🤣🤣🤣
Wahyuningsih
💪💪💪 thor n lanjut.... kpn bahagianya thor melodi ama kaisar kn jacian mrka 😭😭 blm prnh ngerasain kebahagiaan kacian kacian
Sulati Cus
🤣🤣🤣klu g mau nemu matematika nyebur got😃km takut mtk lah anak ku yg bungsu mlh takut sm b. indo🤔 emang di luar BMKG
Irsyad layla
lanjut lagi lah thor GK cukup 1 ini
Irsyad layla
lagi thor mumpung libur ini
wahyu andria
thorrr lanjut. .lanjut . .💪💪🤭
Irsyad layla
gacorrrrr thorrrrrrrrr lanjut lagi besok wkwkw 10 bab langsung wjeheheheh
Seven Wann
menye menye bjir
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!