Aurel, gadis sederhana dari desa Kembang, datang ke Jakarta demi menggantikan ibunya yang sakit. Hidupnya berubah saat ia bekerja di rumah keluarga kaya dan tanpa sengaja terlibat dalam kehidupan Arvano—pria dingin yang tak peduli wanita selain ibunya.
Perasaan yang seharusnya tidak ada— justru tumbuh di antara mereka.
Namun perbedaan status menjadi tembok besar yang memisahkan. Penolakan, penghinaan, dan masa lalu yang tersembunyi mulai menguji hubungan mereka.
Saat semuanya perlahan membaik dan kebahagiaan hampir tergenggam— sesuatu yang tak terduga terjadi.
Aurel menghilang.
Diculik oleh seseorang yang ingin menghancurkan hidupnya.
Dalam keputusan dan waktu yang terus berjalan, Arvano harus memilih—
Menyelamatkan wanita yang ia cintai?
atau kehilangan segalanya untuk kedua kalinya?.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bila Official, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35. Sudah sampai nya
Mobil yang dikendarai Arvano akhirnya memasuki halaman rumah keluarga Argas. Mesin mobil perlahan dimatikan. Suasana di dalam mobil terasa begitu hening. Aurel masih duduk di kursi penumpang sambil menggenggam kedua tangannya yang erat. Jemarinya terasa dingin karena gugup, sejak tadi matanya hanya memandang ke arah rumah besar yang pernah menjadi tempatnya bekerja sekaligus tempat yang menyimpan begitu banyak kenangan.
Arvano menoleh ke arah Aurel. "Kamu siap?"
Aurel menghela napas panjang. "Aku, masih takut."
Arvano tersenyum lembut. "Aku berada di sampingmu. Kali ini aku tidak akan membiarkan siapa pun menyakitimu lagi."
Aurel menatap Arvano beberapa detik. Ucapan sederhana Arvano sedikit mengurangi rasa takut yang memenuhi hatinya. "Terima kasih."
Arvano menganggukkan kepala. "Ayo."
Mereka berdua turun dari mobil.
Di dalam rumah. Bagaskara masih duduk di ruang tamu. Walaupun wajahnya tampak tenang, sebenarnya sejak beberapa menit yang lalu terus melihat ke arah pintu depan.
Sesekali Bagaskara melirik jam dinding. Indah duduk di sampingnya sambil tersenyum kecil. Feni juga tampak tidak sabar. Sedangkan Satrio berdiri di dekat jendela.
Tiba-tiba suara mesin mobil terdengar memasuki halaman.
Brumm.
Satrio langsung menoleh keluar jendela. "Pak, mereka sudah datang."
Bagaskara spontan mengangkat kepalanya. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.
Bagaskara merasa gugup hanya untuk bertemu seseorang. Bukan klien dan bukan relasi bisnis, melainkan seorang gadis sederhana yang pernah diusir dari rumahnya sendiri.
Indah tersenyum. "Itu pasti Arvano dan Aurel."
Bagaskara menganggukkan kepala pelan, namun Bagaskara masih belum berdiri, Bagaskara menarik napas panjang berulang kali. Berusaha mengumpulkan keberanian.
Beberapa detik kemudian terdengar suara pintu pagar ditutup. Disusul langkah kaki mendekati rumah.
Tok. Tok. Tok.
Suara langkah itu terdengar semakin dekat, sampai akhirnya terdengar suara pintu utama dibuka oleh Satrio. Arvano masuk lebih dulu. Di belakangnya berdiri Aurel dengan wajah yang masih terlihat gugup. Begitu melihat mereka. Bagaskara langsung berdiri dari sofa. Indah ikut berdiri. Feni pun ikut bangkit sambil tersenyum lebar. Satrio berdiri di belakang Arvano dan Aurel sambil memperhatikan suasana.
Ruangannya mendadak dipenuhi keheningan. Tidak ada seorang pun yang berbicara. Aurel hanya menundukkan kepala. Ia tidak berani menatap wajah Bagaskara. Kenangan saat dirinya diusir masih terbayang jelas. Bagaskara perlahan berjalan mendekat.
Sampai akhirnya Bagaskara berdiri tepat di depan Aurel. Aurel masih menundukkan kepala, tangannya gemetar. Bagaskara memandang gadis itu beberapa saat, kemudian dengan suara yang pelan berkata, "Aurel."
Aurel perlahan mengangkat wajahnya. Tatapan mereka bertemu.
Bagaskara menghela napas panjang. "Maafkan Aku."
Aurel membeku. Ia sama sekali tidak menyangka akan mendengar ucapan Bagaskara.
Bagaskara kembali berkata, "Aku meminta maaf atas semua ucapan waktu itu, meminta maaf karena sudah mengusirmu dan minta maaf karena menilaimu hanya dari statusmu."
Mata Aurel mulai berkaca-kaca.
Bagaskara melanjutkan, "Aku sadar sudah melakukan kesalahan, terlalu keras, terlalu sombong, dan terlalu memikirkan nama keluarga, sampai Aku lupa melihat ketulusan seseorang."
Air mata mulai menggenang di pelupuk mata Aurel. Ia sama sekali tidak mampu berkata apa-apa.
Bagaskara kembali menundukkan kepalanya. "Aku benar-benar minta maaf."
Ruangan kembali hening. Indah ikut mengusap air matanya. Feni juga terlihat terharu. Arvano hanya tersenyum kecil melihat ayahnya akhirnya mengakui semua kesalahannya. Aurel akhirnya menggeleng pelan. "Pak, tidak usah seperti itu. Saya tidak pernah membenci Bapak, saya hanya sedih."
Bagaskara tersenyum tipis. "Aku tahu. Itulah yang membuat Aku semakin merasa bersalah."
Kemudian Bagaskara mempersilakan Aurel. "Duduklah, anggap rumah ini rumahmu sendiri."
Aurel masih ragu.
Namun Indah menghampirinya sambil menggenggam tangannya. "Ayo, kita duduk."
Aurel akhirnya menurut.
Ia duduk di sofa bersama Arvano. Sedangkan Bagaskara kembali duduk di hadapan mereka. Indah duduk di samping Bagaskara. Feni duduk di sebelah Indah. Satrio ikut duduk juga disamping Feni. Suasana mulai terasa lebih hangat.
Bagaskara membuka pembicaraan. "Aurel."
Aurel menatapnya.
Lanjut Bagaskara. "Aku sudah memikirkan semuanya selama beberapa hari, juga sudah mendengar penjelasan Indah, melihat rekaman CCTV, dan mengingat semua yang sudah kamu lakukan. Dari Kamu menjaga Arvano di rumah sakit, selalu mengutamakan keluarga kami, bekerja dengan tulus, tidak pernah meminta apa pun, dan kamu bahkan rela pergi tanpa membawa kebencian."
Bagaskara berhenti sejenak. "Aku sadar, selama ini Aku salah." Bagaskara menoleh kepada Arvano. Lanjut Bagaskara. "Lalu Aku juga melihat bagaimana Arvano memperjuangkanmu, belum pernah melihat anakku mencintai seseorang sedalam itu."
Bagaskara kembali memandang Aurel. "Karena itu, Aku menyetujui hubungan kalian."
Ruangan mendadak dipenuhi senyum.
Arvano langsung menggenggam tangan Aurel. Aurel masih tampak tidak percaya. "Benarkah, Pak?"
Bagaskara mengangguk mantap. "Benar, Aku merestui kalian, kalau kalian memang saling mencintai, Aku tidak punya alasan lagi untuk memisahkan kalian."
Air mata Aurel akhirnya jatuh. Ia segera mengusapnya. "Terima kasih, Pak. Sungguh, terima kasih."
Bagaskara tersenyum hangat. "Mulai hari ini, tidak ada lagi rasa takut, tidak ada lagi pengusiran. Kamu diterima di rumah ini."
Indah yang sejak tadi tersenyum kemudian ikut berbicara. "Aurel."
Aurel menoleh.
Lanjut Indah bicara. "Kamu juga tidak usah kembali menjadi pembantu."
Aurel tampak bingung. "Maksud Ibu?"
Indah menggenggam kedua tangan Aurel. "Kamu akan bekerja bersamaku, bukan sebagai pembantu, tapi sebagai rekan kerja."
Aurel langsung terkejut. "Saya?"
Sahut Indah. "Iya. Aku sudah lama melihat kemampuanmu, kamu cepat belajar, teliti, dan bertanggung jawab. Aku ingin kamu bekerja bersamaku di perusahaan."
Aurel menggeleng pelan. "Tapi saya tidak punya pengalaman."
Indah tersenyum. "Pengalaman bisa dipelajari, dan kamu memiliki kejujuran."
Bagaskara ikut mengangguk. "Aku juga setuju, kamu pantas mendapat kesempatan."
Aurel semakin tidak mampu menahan air matanya. Ia sama sekali tidak menyangka hidupnya berubah secepat ini.
Beberapa hari lalu. Ia keluar dari rumah itu sebagai pembantu yang diusir. Hari ini, Ia kembali sebagai calon menantu yang diterima. Dan bahkan ditawari bekerja di perusahaan keluarga Argas.
Arvano menatap Aurel sambil tersenyum. "Gimana?"
Aurel menoleh kepadanya, lalu tersenyum sambil mengangguk. "Aku mau."
Indah langsung memeluk Aurel. "Nah begitu, mulai besok kita belajar bersama."
Feni ikut menghampiri. "Selamat ya. Akhirnya semuanya selesai."
Satrio juga ikut tersenyum. "Rumah ini akhirnya kembali ramai."
Bagaskara memandang semuanya dengan perasaan lega, sudah lama tidak melihat keluarganya sebahagia ini.
Bagaskara sadar, keputusan yang diambilnya memang terlambat. Namun bersyukur masih diberi kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Beberapa saat kemudian suasana berubah menjadi penuh tawa. Mereka mengobrol bersama. Mengenang berbagai kejadian yang telah berlalu. Membicarakan rencana-rencana baru.
Aurel benar-benar merasa diterima sebagai bagian dari keluarga itu, namun ketika semua orang sedang tersenyum bahagia. Ponsel Bagaskara yang berada di atas meja tiba-tiba bergetar.
Layar ponselnya menyala. Sebuah panggilan masuk dari nomor yang sangat dikenalnya. Bagaskara menatap layar itu beberapa detik. Ekspresi wajahnya perlahan berubah serius, senyumnya menghilang.
Indah yang menyadari perubahan itu langsung bertanya, "Siapa, Pak?"
Bagaskara belum menjawab, hanya terus memandangi nama yang muncul di layar ponselnya.
Sementara Arvano dan Aurel saling berpandangan. Mereka mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.
Bagaskara akhirnya mengangkat telepon itu. "Halo."
Belum sempat berbicara lebih jauh, wajahnya langsung berubah terkejut mendengar suara dari seberang.
Ruangan yang tadi dipenuhi kebahagiaan kembali diselimuti rasa penasaran.