Setelah bertahun-tahun diabaikan dan dibuang, akhirnya Alisa pun kembali kerumah Ayahnya, Pak Ali. Mirisnya, kepulangan Alisa bukan untuk kembali jadi putrinya. Melainkan untuk dijadikan pengantin pengganti untuk Kakak sambungnya, Marisa.
Dan Alisa diharuskan langsung bercerai setelah Marisa kembali. Lalu, bagaimana jadi nya, jika Harlan menolak berpisah dan lebih memilih Alisa untuk tetap menjadi istrinya?
Lalu, apa yang akan dilakukan Ibu Yuni dan juga Marisa untuk merebut kembali posisi Alisa?
Saksikan kisahnya disini….
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Triyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab.32
Setelah sarapan, keduanya melanjutkan aktivitas dengan membersihkan diri secara bergantian. Alisa menjadi orang pertama yang masuk ke kamar mandi.
Sementara itu, Harlan membereskan meja makan dan menyusun kembali piring kotor bekas sarapan mereka ke atas nampan.
Sekitar lima menit kemudian, terdengar ketukan pelan dari arah pintu kamar.
“Tok… tok… tok…”
“Permisi, Den Harlan. Ini Bibi Atun. Saya mau mengganti sprei, seperti yang Den Harlan minta tadi,”
“Masuk saja, Bi. Pintunya tidak dikunci.”
Perlahan, pintu kamar terbuka. Tak lama kemudian, seorang wanita paruh baya tampak melangkah masuk sambil membawa setumpuk sprei bersih di tangannya.
Wanita itu bernama Bi Atun, asisten rumah tangga yang sudah lebih dari dua puluh tahun bekerja di rumah utama keluarga Argantara.
Kesetiaan dan ketelatenan nya membuat ia dianggap sebagai bagian dari keluarga besar itu sendiri.
Bi Atun menatap sekeliling kamar sekilas sebelum mulai melepas sprei lama dari atas ranjang. Gerakannya cekatan dan sudah sangat terbiasa dengan pekerjaannya.
Saat sedang membongkar sprei, Bi Atun dibuat tersentak kecil saat ia melihat sesuatu yang aneh menempel di sprei putih itu.
Sebuah bercak noda, yang Bi Atun tentu tahu. Bercak noda apa itu, namun wanita baya itu memilih untuk diam dan tetap fokus pada pekerjaannya.
“Non Alisa sudah bangun, Den?” tanya nya pelan sambil melipat sprei yang sudah berhasil ia lepaskan dari kasur.
“Iya, Bi. Lagi mandi,” jawab Harlan singkat.
Bi Atun mengangguk kecil. Meski wajahnya tampak tenang, sorot matanya sempat memperhatikan keadaan kamar yang lebih berantakan dibanding biasanya.
Belum lagi dengan bercak noda di sprei, membuatnya bertanya-tanya dalam hati. Namun, wanita itu cukup tahu diri untuk tidak banyak bertanya.
“Kalau begitu nanti sekalian Bibi siapkan teh hangat di bawah,” ucapnya ramah.
“Tidak usah repot, Bi. Setelah selesai, kami akan langsung pulang.”
“Baiklah. Kalau begitu.”
Harlan hanya tersenyum tipis lalu kembali fokus dengan ponsel di tangannya.
Suasana kamar sempat hening beberapa saat, hanya diisi suara kain sprei yang digerakkan dan gemericik air dari kamar mandi.
Tak lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka perlahan. Alisa keluar dengan rambut yang masih setengah basah dan handuk kecil tergantung di pundaknya. Langkahnya langsung terhenti sesaat ketika melihat ada Bi Atun di dalam kamar.
“Oh… ada Bibi ternyata,” ucap Alisa sedikit canggung.
“Iya, Non. Lagi ganti sprei.” jawab Bi Atun sembari tersenyum hangat.
Alisa membalas senyum kecil sambil mencuri pandang ke arah Harlan. Entah kenapa, suasana mendadak terasa agak kikuk baginya. Terlebih karena Bi Atun tampak beberapa kali menahan senyum seolah memahami sesuatu.
“Kalau begitu, Den Harlan gantian mandi saja. Biar kamar ini Bibi yang bereskan,” ujar Bi Atun.
“Baik, Bi.” jawab Harlan mengangguk pelan.
Sebelum masuk ke kamar mandi, pria itu sempat mendekati Alisa sebentar. Lalu sedikit mencuri satu kecupan di kening sang istri. Membuat Alisa tersentak kaget.
“Aku mandi dulu, ya. Setelah selesai, kita segera pulang.” bisiknya pelan. Lalu setelah itu, ia pun beranjak masuk kedalam kamar mandi.
Alisa bergeming, wanita itu masih dibuat kaget dengan perlakuan Harlan barusan. Dimana pria itu tiba-tiba menciumnya, padahal di sana masih ada Bi atun.
Alisa segera memalingkan wajahnya, berusaha menyembunyikan pipinya yang mulai menghangat. Jemarinya tanpa sadar mencengkram ujung handuk kecil di pundaknya.
Sementara itu, Bi Atun yang sedari tadi memperhatikan hanya tersenyum tipis sambil merapikan sudut sprei yang baru terpasang di atas kasur.
“Setelah menikah, ternyata Den Harlan romantis juga, ya, Non,” godanya ringan.
“Ma_masa sih, Bi? Memangnya, dulu Mas Harlan, orang nya bagaimana?” tanya Alisa terbata karena salah tingkah.
“Dingin dan cuek. Bahkan, hampir tidak pernah tersenyum. Mukanya selalu terlihat datar, tanpa ekspresi. Baik itu sedang senang ataupun sedang marah. Wajahnya akan tetap sama seperti itu. Tapi… beda dengan sekarang,” jawab Bi Atun, jujur.
“Memangnya, sekarang bagaimana, Bi?” tanya Alisa, sedikit penasaran mendengar tentang Harlan dari orang lain. Selain keluarganya.
Bi Atun berjalan mendekat sambil membawa bantal yang sudah ia ganti sarungnya.
“Bukan hanya tersenyum, tapi Den Harlan, bahkan bersenandung sepanjang pagi. Hal yang tidak pernah dilakukan sebelum menikah dengan Non Alisa,” jawabnya dengan penuh semangat.
“Masa sih, Bi?”
“Tentu saja benar. Bibi sudah lama kerja di rumah ini, bahkan sejak Den Harlan masih anak-anak. Jadi Bibi tahu betul bagaimana Den Harlan. Meski kelihatannya dingin, sebenarnya dia sangat perhatian sama orang yang dia sayang.”
Ucapan itu membuat Alisa terdiam sejenak. Kalimat sederhana dari Bi Atun membuat dadanya terasa hangat dan refleks, ujung bibirnya pun terangkat, membentuk sebuah senyuman.
Benar kata Bi Atuh, selama ini Harlan memang memperlakukannya dengan sangat baik dan sangat perhatian.
“Den Harlan itu tidak pernah dekat sama perempuan, Non. Jadi waktu tahu kalau Den Harlan mau menikah dengan perempuan yang dipilihkan oleh Bu Hesti, semua orang di rumah utama ini kaget.” lanjut Bi Atun lagi sambil menepuk-nepuk bantal agar rapi.
Alisa tersenyum tipis saat mendengar cerita tentang Harlan dari Bi Atun. Kisah Harlan sebelum bertemu dan menikah dengannya.
“Benarkah?”
“Iya… Dulu banyak sekali yang mencoba mendekati Den Harlan, tapi tidak pernah ada yang berhasil. Mungkin karena sudah jodoh, akhirnya Den Harlan setuju menikah dengan putrinya Pak Ali. Meski awalnya tidak menyenangkan, tapi, sepertinya itu adalah jalan yang Allah berikan untuk menyatukan Den Harlan sama Non Alisa.”
Alisa terdiam, memberikan ruang kepada Bi Atun untuk menceritakan semua yang Bi Atun tahu tentang suaminya, Harlan.
Namun sebelum Bi Atun sempat melanjutkan, suara pintu kamar mandi terbuka kembali.
Menampilkan Harlan yang berjalan keluar kamar mandi dengan setelan baju santai. Kaos hitam dan celana pendek berwarna cream membalut tubuh kekar pria itu.
“Ada apa? Apa yang sedang dibicarakan? Kenapa berhenti?” tanyanya sambil melirik keduanya bergantian.
“Tidak ada. Kami tidak bicara apa-apa.” jawab Alisa terlalu cepat karena gugup.
Membuat Harlan menaikkan satu alis curiga. Sementara Bi Atun tersenyum tipis.
“Cuma ngobrol biasa saja, Den.”
Harlan menyipitkan mata sekilas, seolah tidak sepenuhnya percaya. Namun pria itu memilih tidak memperpanjang.
“Kamu sudah selesai? Kalau sudah, kita berangkat sekarang,” lanjut Harlan kepada Alisa.
“Iya, Mas. Ayo.” jawab Alisa sambil mengangguk pelan.
Bi Atun pun segera menyingkir memberi jalan setelah semua sprei selesai diganti.
“Nanti hati-hati di jalan, Den, Non.”
“Iya, Bi. Terima kasih.” jawab Alisa ramah.
Harlan mengambil kunci mobil dan dompetnya di atas meja, lalu tanpa sadar menggenggam tangan Alisa saat mereka berjalan keluar kamar.
Gerakan spontan itu membuat Alisa sedikit tertegun. Namun, detik kemudian Alisa pun mulai merasa nyaman dan santai saat Harlan memperlakukannya dengan begitu manis.
Masa lebih milih anak sambung daripada anak kandung sii.. 😬😬😤😤
Bersyukur Harlan waras n ganti nama mempelai wanitanya.. 😵💫😵💫
Ijab kabul dengan nama wanita lain?
Ngga SAH atuh ijab kabulnya 😱😱
Ini pegimana konsepnya?
Masa seorang ayah kandung tega menjerumuskan anak perempuannya ke lembah zina?? 😱😱😤😤