NovelToon NovelToon
Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Istri Putra Mahkota Yang Kejam

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyesalan Suami / Romansa Fantasi
Popularitas:13.4k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Di jantung Kekaisaran Valerieth yang agung, sebuah titah kaisar mengguncang pilar-pilar bangsawan. Lilianne von Eisenhardt, putri tunggal dari penguasa wilayah Utara yang disegani, Duke Kaelric von Eisenhardt, dipaksa memasuki ikatan suci di usianya yang baru menginjak 15 tahun.

Lilianne, yang memiliki kecantikan selembut bunga musim semi namun ketabahan layaknya baja Nordik, dijodohkan dengan sang pewaris takhta yang menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya: Putra Mahkota Arthur Valerius de Valerieth.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 35

***

Uap hangat dari tungku arang kecil di sudut kereta kencana mengembun pada kaca jendela, menghalangi pemandangan hamparan salju putih yang tak berujung di luar. Di dalam ruang sempit yang dilapisi beludru itu, keheningan yang pekat dan canggung perlahan turun, menggantikan badai gairah yang baru saja mereda. Suara derit roda kereta yang menghantam tumpukan es terdengar konstan, seolah menjadi pengingat bahwa mereka semakin dekat dengan pusat pusaran monster di ibu kota.

Arthur tidak langsung mengenakan kembali kemeja wol atau zirah peraknya. Pria itu membiarkan tubuh bagian atasnya yang kekar terekspos di bawah hawa dingin yang menyelinap dari celah pintu. Ia membalikkan posisinya, kini menyandarkan kepala besarnya yang dipenuhi rambut gelap berantakan di atas bahu kecil Lilianne yang masih tersengal-sengal mengumpulkan napas.

Lilianne terduduk lemas, menyandarkan punggungnya pada bantalan kursi. Kulitnya masih terasa panas, dan gaun satin birunya yang kusut menjuntai tak beraturan. Meskipun tubuhnya kelelahan, matanya yang sewarna perak menatap lurus ke depan dengan dingin. Di bawah selimut bulu yang menutupi bagian bawah tubuh mereka, telapak tangan Arthur yang besar dan kasar kembali merayap, mendarat di atas perut buncit Lilianne. Jemarinya yang dipenuhi kapalan mengelus permukaan kulit perut yang sensitif itu dengan ritme yang teramat pelan, hampir menyerupai sebuah ritme penundukan yang lembut.

Arthur menatap punggungnya sendiri yang terpantul samar di dinding kayu kereta yang dipelitur mengilat. Di sana, di bawah cahaya temaram, bertebaran rajutan luka. Bekas cambuk yang saling tumpang tindih, guratan horizontal yang memutih karena usia, hingga bekas luka tusukan baru yang masih kemerahan akibat pertempuran di perbatasan.

"Kau melihat luka-luka ini, Lili?" suara Arthur memecah kesunyian. Baritonnya terdengar parau, serak oleh sisa kepuasan, namun membawa gaung kekosongan yang dingin.

Lilianne tidak menoleh, namun sepasang matanya melirik pantulan punggung suaminya. "Sulit untuk melewatkannya, Yang Mulia. Punggung Anda tampak seperti peta medan perang yang hancur."

Arthur terkekeh rendah, sebuah tawa yang terdengar sangat kering dan tanpa rasa hambar. "Peta medan perang? Tidak. Sebagian besar dari ini bukan didapat dari pedang musuh di perbatasan, Lili. Ini adalah hadiah dari pria yang kau sebut sebagai Kaisar Agung. Ayahku."

Tangan Arthur yang berada di perut Lilianne berhenti sejenak, sedikit menekan sebelum kembali mengelus dengan perlahan.

"Ketika aku berusia sembilan tahun, Arthemus memecahkan sebuah vas pualam pemberian dari Kekaisaran Timur. Tetapi ayah tidak menghukumnya. Ayah menyeretku ke ruang bawah tanah, mencambukku hingga kulit punggungku robek, hanya untuk melihat apakah aku akan menangis seperti anak kecil yang lemah," Arthur bercerita dengan nada datar, seolah-olah ia sedang menceritakan kisah hidup orang lain. "Aku tidak menangis. Dan sejak hari itu, dia tahu aku adalah wadah yang sempurna untuk menampung seluruh kegelapannya."

Lilianne tetap diam, mendengarkan dengan tatapan yang sedingin es, namun otaknya bekerja dengan kecepatan penuh. Setiap kata yang keluar dari mulut Arthur adalah kepingan informasi psikologis yang sangat berharga.

"Dua tahun setelah itu," Arthur melanjutkan, napasnya yang hangat berembus di leher Lilianne, membuat gadis itu sedikit meremang. "Aku menemukan seekor anak anjing serigala yang tersesat di hutan belakang istana. Aku merawatnya secara sembunyi-sembunyi di dalam kandang kuda lama. Dia adalah satu-satunya hal yang menyambutku dengan ekor bergoyang saat seluruh istana menatapku seolah aku adalah sampah yang tidak seharusnya lahir."

Suara Arthur mendadak merendah, berubah menjadi bisikan yang begitu gelap hingga atmosfer di dalam kereta terasa membeku.

"Suatu malam, Kaisar mengetahuinya. Dia tidak membunuh hewan itu. Dia meletakkan sebilah belati di tanganku yang berusia sebelas tahun, mencengkeram pergelangan tanganku, dan memaksaku untuk menyembelihnya sendiri. Ayah berbisik di telingaku... 'Seorang penguasa Valerieth tidak boleh memiliki empati, Arthur. Empati adalah racun yang akan membuat belatimu tumpul.' Aku menghabiskan malam itu dengan tangan bersimbah darah hangat dari satu-satunya makhluk yang memercayai jiwaku."

Arthur mendongakkan kepalanya, menatap wajah Lilianne dari samping. Matanya yang biru gelap tampak buram oleh kerapuhan yang mengerikan. "Sejak malam itu, duniaku hanya dipenuhi oleh darah dan pengkhianatan. Siapa pun yang mendekatiku selalu menginginkan sesuatu dariku—kekuasaan, perlindungan, atau kematianku. Sampai aku menemukanmu, Lili."

Tangan Arthur bergerak ke atas, mencengkeram rahang Lilianne dengan lembut namun posesif, memaksanya untuk membalas tatapannya.

"Kau adalah satu-satunya hal yang bersih yang tersisa di dalam hidupku yang kotor ini. Kau membenciku, kau mengutukku, tetapi di bawah demam racun semalam, kau tidak membiarkanku mati. Kau memelukku. Kau membiarkan tubuhmu menjadi tempatku pulang saat jiwaku terbakar. Kau tidak boleh melepaskan tangan ini, Lili. Jika kau mengkhianatiku seperti yang dilakukan ayahku... aku bersumpah aku akan menyeret seluruh benua ini ke dalam liang lahat bersama kita."

Lilianne menatap langsung ke dalam manik mata Arthur yang dipenuhi kegilaan emosional. Gadis berusia enam belas tahun itu merasakan detak jantungnya sendiri yang berpacu, bukan lagi karena gairah fisik, melainkan karena ia menyadari seberapa besar kendali yang kini ia miliki. Arthur tidak lagi sekadar menginginkan tubuhnya; pria ini telah mengaitkan kewarasan dan eksistensi jiwanya yang cacat pada sosok Lilianne.

Bukannya menjauh atau menunjukkan rasa jijik, Lilianne justru menaikkan tangan kanannya yang halus, meletakkannya di atas tangan besar Arthur yang sedang mencengkeram rahangnya. Ia mengusap pergelangan tangan suaminya dengan gerakan yang tenang, meniru ketenangan badai Utara sebelum menghantam.

"Anda salah mengartikan arti kesetiaan, Yang Mulia," ucap Lilianne, suaranya mengalun runtut, dingin, namun sarat akan manipulasi psikologis yang mematikan. "Di Utara, kami memiliki tradisi kuno tentang kesetiaan darah. Kami tidak memberikan kesetiaan kepada mereka yang memegang cambuk, dan kami tidak memberikan cinta kepada mereka yang merantai kami."

Alis Arthur bertaut. "Apa maksudmu?"

"Kaisar Valerius memotong empati Anda agar Anda menjadi anjing pembantai yang patuh. Dan sekarang, Anda mencoba melakukan hal yang sama kepada saya dengan mengurung saya di Sayap Timur," Lilianne menatap Arthur tanpa gentar, matanya memancarkan ketegasan yang murni. "Jika Anda terus memperlakukan saya sebagai tawanan yang bisa Anda hancurkan setiap kali paranoia Anda kambuh, maka yang Anda dapatkan dariku hanyalah kebohongan dan belati yang siap menusuk punggung Anda saat Anda lengah."

Lilianne mencondongkan tubuhnya ke depan, hingga dahi mereka nyaris bersentuhan. Aroma keringat dan sisa keintiman di antara mereka mempertegas ketegangan dialog ini.

"Tetapi jika Anda menginginkan saya menjadi tempat Anda pulang... jika Anda ingin anak di dalam rahim ini tumbuh menjadi elang yang akan meneruskan darah daging Anda, maka berhentilah bertingkah seperti anjing yang ketakutan pada ayahnya," desis Lilianne, suaranya berubah menjadi racun manis yang paling mematikan. "Satu-satunya cara untuk membalas rasa sakit masa lalu Anda, satu-satunya cara agar Anda tidak pernah dibuang lagi oleh Kaisar... adalah dengan merebut takhta kekaisaran itu bersama saya. Kita tidak perlu saling menghancurkan di dalam kereta ini, Arthur. Kita harus bersatu untuk menghancurkan mereka yang berada di Istana Fajar."

Arthur tertegun. Kata-kata Lilianne meruntuhkan logika militernya, menggantikannya dengan sebuah visi baru yang jauh lebih megah sekaligus mengerikan.

"Kau... ingin aku menggulingkan ayahku?" bisik Arthur, suaranya parau oleh ketakjuban yang gelap.

"Saya ingin anak saya lahir di atas takhta yang aman, bukan di dalam penjara bawah tanah tempat Anda disiksa," ralat Lilianne dingin. "Jadilah tameng yang menerima semua anak panah dari Kaisar Valerius untuk kami. Hadapi faksi-faksi bangsawan itu dengan pedang Anda. Dan sebagai gantinya... saya akan menjadi otak yang mengatur setiap bidak catur Anda dari balik tirai. Kita akan mengunci takdir ini bersama, Yang Mulia. Sebagai sepasang sekutu yang diikat oleh darah, bukan hanya oleh rantai sutra Anda."

Arthur menatap Lilianne dalam-dalam selama beberapa menit yang terasa seperti selamanya. Keheningan di dalam kereta itu begitu intens hingga suara napas mereka yang memburu kembali terdengar jelas. Perlahan, kilatan kegilaan yang posesif di mata Arthur meleleh, berganti dengan binar rasa hormat dan gairah dominasi yang baru—sebuah pengakuan bahwa mawar yang ia tangkap di Utara ini ternyata memiliki duri yang cukup tajam untuk membunuh seorang Kaisar.

Arthur menarik tubuh Lilianne kembali ke dalam pelukannya, membenamkan wajahnya di rambut perak istrinya yang beraroma mawar dan musim dingin. Cengkeramannya kini terasa berbeda; tidak lagi kasar seperti klaim kekuasaan, melainkan sebuah dekap ketat dari seorang pria yang telah menemukan pelindung jiwanya sendiri.

"Sepasang sekutu berdarah..." gumam Arthur rendah, tawanya kini terdengar lebih penuh dan berbahaya. "Kau benar-benar wanita yang mengerikan, Lili. Di usia enam belas tahun, kau sudah merancang kematian seorang Kaisar Agung."

"Saya hanya melakukan apa yang harus dilakukan oleh seorang ibu untuk melindungi anaknya, Yang Mulia," sahut Lilianne pelan, membiarkan tubuhnya bersandar pada dada Arthur yang kini terasa hangat, mengabaikan rasa tidak nyaman di perutnya demi kemenangan taktis yang baru saja ia raih.

"Maka terjadilah," bisik Arthur, mengecup kening Lilianne dengan kelembutan yang pekat dan posesif. "Aku akan membakar seluruh Valerieth jika itu yang diperlukan untuk membangun tembok pelindungmu. Aku akan menjadi pedang dan tamengmu, Lili... sampai takhta itu berada di bawah kakimu."

Di luar kereta, matahari musim dingin mulai tenggelam, memancarkan warna jingga kemerahan di atas hamparan salju yang beku, seolah-olah seluruh dunia sedang bersiap menyambut banjir darah yang akan segera dibawa oleh sepasang konspirator baru kekaisaran ini.

Bersambung...

1
Runi Mayantri
akhirny trketuk jga hatimu yg dingin arthur 😄
Runi Mayantri
mkin seru !!!!💪💪💪💪
Runi Mayantri
knpa kaisarny kejem bget,arthur jga kan anakny
Runi Mayantri
kereeeeen
Runi Mayantri
semangat ya thor
Runi Mayantri
mantul bgt critanya
Runi Mayantri
waaaw,baru pembukaan udah seru
Runi Mayantri
aduh,sakitnya
meymonic
syukur dh mulai warasssss🤭
meymonic
aaaa hal hal yang seru akan segera di mulaiiiiiiii🤭😍
Heresnanaa_: hai Kaka, stay tune ya 🫶😚
total 1 replies
meymonic
alur nya bagus
Heresnanaa_: maaciw kak🫶🥰
total 1 replies
meymonic
ga sabarrr thorrrr, lanjuttt dongggg😍🤭
Heresnanaa_: stay tune beb 🫶🥰
total 1 replies
meymonic
bagussssssssssss👍👍👍👍👍😍😍
meymonic
thorrr bagusss bngtttttt😍😍😍😍
Heresnanaa_: hai Kaka, makasih yaaa🫶
happy reading 🥰🫶
total 1 replies
Murni Dewita
👣
Heresnanaa_: hai Kaka, happy reading yaa 😚
total 1 replies
Mei TResna Rahmatika
kasian banget arthur😭
Heresnanaa_: stay tune up 😚
total 1 replies
MARWAH HASAN
bagus loh ceritanya
entah kenapa
komen ini hilang
Heresnanaa_: hai Kaka, happy reading yaa 🥰
total 1 replies
MARWAH HASAN
aku tinggalkan komen🤣
Heresnanaa_: hai Kaka, happy reading yaa 🫶
total 1 replies
Intan Aprilia Rahmawati
up dong kk
Reni Anggraeni
up tor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!