" Dua puluh tahun terkurung. Sebuah pernikahan tanpa suara. Dan seorang pria yang lebih memilih diam dari pada berjuang.
Arumi mengira ia akan mekar setelah menikah. Ternyata , ia hanya berpindah ke sangkar yg lebih dingin. Ketika kehidupan hidup mulai mencekik dan suaminya tetap membatu, Arumi menyadari satu hal : Untuk bisa bernafas lagi, ia harus merelakan segalanya. Termasuk status yg selama ini di anggap suci."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon miss tiii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perangkap Berlapis Beludru
Pagi itu, ruko "Wangi Arumi" dikejutkan dengan kiriman karangan bunga raksasa yang tingginya hampir menyentuh plafon. Bukan dari Adnan, tapi dari Gavin. Isinya bukan bunga biasa, melainkan bunga anggrek langka yang harganya setara dengan satu unit motor matic.
"Mbak Arum, ini ada kartu ucapannya... tulisannya 'Untuk pengusaha wanita paling visioner abad ini'. Hih, geli aku bacanya!" seru Dania sambil bergidik ngeri, tangannya masih sibuk memegang cilok kuah pedas.
Rendra mendekat, memicingkan mata menilai estetika bunga itu. "Hmm, secara komposisi, ini overpowering banget. Dominasi warnanya seolah-olah mau bilang: 'Aku lebih kaya dari Adnan'. Gavin ini tipe-tipe villain yang kalau beli kopi, baristanya yang disuruh beli kafenya sekalian."
Arumi keluar dari dapur dengan kening berkerut. "Dania, tolong taruh bunganya di pojok belakang saja. Terlalu mencolok."
Tiba-tiba, sebuah mobil boks berpendingin berhenti di depan ruko. Dua petugas turun membawa sampel bahan baku rempah organik dari luar negeri—saffron asli Iran dan vanila Madagaskar.
"Titipan dari Tuan Gavin untuk percobaan menu baru Ibu Arumi," ucap petugas itu sopan.
"Wah, gila! Ini Saffron?! Se gramnya aja jutaan, Rum!" Maya yang baru datang langsung histeris. "Gavin ini mau ngajak bisnis atau mau ngajak nikah sih?"
Tepat saat suasana sedang heboh, Adnan masuk dengan langkah cepat. Wajahnya terlihat sangat lelah, tapi matanya langsung berkilat tajam saat melihat kotak-kotak bahan baku dari Gavin.
"Arumi, jangan sentuh bahan-bahan itu," suara Adnan berat dan penuh penekanan.
Arumi menatap Adnan dengan lembut. "Aku tahu, Adnan. Aku tidak akan memakainya. Aku tahu ini cara dia untuk masuk ke sistem produksiku."
"Baguslah," Adnan menghela napas, duduk di kursi kayu sambil memijat pelipisnya. "Dia baru saja mencoba membatalkan kontrak sewa gudangku di pelabuhan. Dia ingin memutus jalur distribusiku agar aku tidak bisa mendukung operasional rukomu."
Dania langsung berdiri, melempar tusuk ciloknya ke tempat sampah dengan gaya ninja. "Apa?! Kurang ajar si Om Abu-abu itu! Mbak Arum, biar aku panggil Kak Erick, kita kasih 'kejutan' di kantor kateringnya!"
"Dania, jangan pakai otot terus," sahut Rendra sambil menyesap kopinya. "Secara narasi, Gavin ini mainnya pakai otak dan uang. Kita harus balas pakai yang lebih elegan. Misalnya... bikin festival bumbu yang disponsori Adnan dan mengundang semua media, biar Gavin nggak punya celah buat klaim Mbak Arum."
Kinan yang sedang mewarnai di sudut ruko tiba-tiba mendekat ke arah Adnan. Ia memberikan sebuah gambar bunga matahari yang baru saja ia selesaikan.
"Om Adnan jangan sedih. Nanti kalau Om Abu-abu itu datang lagi, Kinan semprot pakai air cabe yang lebih pedas! Kinan sudah bikin ramuan baru, campur jahe biar panas!" seru Kinan polos tapi mematikan.
Adnan tertawa kecil, mengusap kepala Kinan. "Terima kasih, pahlawan kecil Om. Kamu memang yang paling bisa diandalkan."
Namun, di tengah kehangatan itu, ponsel Arumi berbunyi. Sebuah pesan WhatsApp dari nomor asing: "Ibu Maryam pingsan di depan lapas tempat Baskara ditahan. Tidak ada yang menolongnya. Apa Anda masih setega itu, Arumi?"
Pesan itu disertai foto Ibu Maryam yang terduduk lemas di trotoar panas. Arumi merasa jantungnya berhenti berdetak sejenak.
"Ada apa, Rum?" tanya Adnan menyadari perubahan wajah Arumi.
"Ibu Maryam..." bisik Arumi.
Dania mengintip layar ponsel Arumi. "Mbak, ini pasti jebakan! Masa pingsan sempat-sempatnya ada yang foto estetik begitu?! Ini pasti kerjaan orangnya Gavin atau Clarissa!"
Rendra menyipitkan mata melihat foto itu. "Secara teknis, sudut fotonya terlalu bagus buat orang yang nggak sengaja lewat. Ini staged, Arum. Jangan terjebak."
Arumi bimbang. Hatinya yang lembut bertarung dengan logikanya yang mulai kuat. Di satu sisi, ia tahu ini mungkin jebakan, tapi di sisi lain, Ibu Maryam tetaplah orang tua yang pernah memberinya makan.
# hayo siapa yg kepo kelanjutan nya nii komen yaa