WARNING! Sebelum mulai membaca, tolong baca tagar dahulu. Karena di sini area bebas JULID, dilarang mengomel hanya karena keinginan Anda tak sejalan dengan pemikiran Author.
•
Cinta itu menuntun dirinya untuk membuat keputusan paling kejam, memilih satu diantara dua wanita. Di antara tangis dan perih dua wanita yang lain, ia tetap mempertahankan wanita yang ia cinta.
Setelah keinginan diraih, takdir kembali lancang menuliskan jalannya tanpa permisi. Sekali lagi ia kehilangan, tapi kali ini untuk selamanya.
Terombang ambing dalam amarah, serta sempat menjauh dari-Nya. Tapi sepasang tangan kecil tetap meraih dirinya penuh cinta, tulus tanpa berharap imbalan jasa.
Apakah tangan kecil itu mampu menuntun Firza kembali ke jalan-Nya?
Lantas bagaimana dengan dua wanita yang pernah disakiti olehnya?
Mampukah Firza memantapkan hatinya pada cinta yang selama ini terabai oleh keegoisannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon moon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#16
#16
“Sangat lama—”
Semua diam, seolah bisu, menanti ucapan Ersha berikutnya. Untung saja disaat seperti ini, Abizar sedang terlelap dalam mimpinya, jika anak itu bangun, maka tak mungkin mereka bisa berbincang dengan perasaan tenang.
“Bahkan di rentang waktu itu juga, Bang Firza tak lagi bisa memberikan nafkah batinnya padaku. Jadi secara hukum islam, sudah jatuh talaq satu atas diriku, Mak.”
Mamak Karmila makin terbelalak, “T-ta-tapi kenapa, Nak?”
“Coba saja Mamak tanyakan pada Bang Firza, karena aku pun tak pernah diberitahu olehnya. Bahkan aku sudah menawarkan padanya agar kami mencari solusi bersama-sama, tapi— Bang Firza terus berkelit, dan terakhir ia memutuskan ingin menikah kembali dengan alasan bahwa wanita itu membutuhkannya sebagai imam.”
•
Ucapan Ersha itu terus berulang di kepala Mamak Karmila, meski bukan suaminya yang berbuat demikian, tapi perasaannya ikut terluka dan berdarah bak disayat sembilu tajam.
Hingga di perjalanan pulang ini, mereka tak ada berani berucap satu katapun.
Firza bungkam.
Ayah Ismail dan Mamak Karmila pun tak mampu membengkokkan tekad Firza.
“Bang, tolong ambil barang-barang kita, termasuk makanan yang tadi Mamak simpan di lemari es,” ucap Mamak Karmila datar, tak ada emosi, tak ada ekspresi.
“Mamak dan Ayah mau kemana? Menginap saja disini.” Firza mencegah kepergian kedua orang tuanya. “Apalagi rumahku sekarang kosong.”
“Itu yang kau inginkan, maka sekarang, nikmatilah!” sindir Mamak Karmila, suaranya pelan tapi cukup tajam.
Selain Mamak Karmila, Ayah Ismail tak banyak bicara, karena sudah sangat terwakilkan. Pria itu pun masuk ke dalam rumah, dan mengangkat kembali tas berisi barang-barang mereka yang tak seberapa. Kemudian mengeluarkan lagi, beberapa bungkus makanan yang tadi di simpan di dalam sana.
Setelah semua beres, Ayah Ismail pun keluar, kali ini mereka akan naik mobil mereka sendiri.
Firza hanya mondar-mandir di samping mobil, tak berani bicara, karena ucapan apapun yang keluar dari mulutnya selalu dibalas celetukkan dingin dari lisan mamaknya.
Mamak Karmila keluar dari mobil, ketika melihat sang suami keluar dari dalam rumah. “Apa makanan ini kita bawa juga?”
“Iya, makanan-makanan itu, aku masak untuk anakku, dengan penuh cinta dan segenap doa agar barokah yang memakannya pun sehat. Tapi dia, sudah memilih wanita itu ketimbang wanita pilihan mamaknya.”
Ucapan Mamak Karmila laksana pukulan telak untuk Firza, pria itu tak bisa berbuat apa-apa selain melihat kepergian orang tuanya dengan perasaan yang rumit.
Sunyi, benar-benar kosong, itulah yang dirasakan Firza saat ini. Dulu sekali, ia pernah menyiapkan mental untuk saat-saat seperti ini, namun, di situasi berbeda. Tanpa Ersha, apalagi Abizar.
Kini tawa Abizar akan jarang ia dengar, manjanya, rewelnya, juga hembusan nafasnya saat tidur, semua akan ia rindukan, begitu pula sambutan Ersha yang hanya tertinggal dalam kenangan.
Semoga kedepannya nanti, Ersha mau berbaik hati mengizinkannya bertemu Abizar. Meski hubungan mereka tak lagi sama.
Ponsel di saku celananya berdering, nama di layar telah tersemat dengan benar, hatinya pun sedikit menghangat.
“Hmm— kenapa belum tidur? Malah meneleponku.”
•
Di seberang sana Resha sudah duduk manis, dan siap melancarkan aksi agar malam ini Firza mau datang menemuinya.
“Kan, hari ini kita belum bertemu, jadi aku ingin melihatmu sekarang juga,” katanya lembut, terarah, demi menutupi maksud yang sebenarnya.
“Tapi, maaf, aku tak bisa sekarang. Kepalaku rasanya mau pecah, karena banyak sekali yang terjadi hari ini.”
Raut wajah Resha pun berubah, “Apa yang terjadi? Kamu baik-baik saja?” tanyanya khawatir.
“Hari ini semua orang tahu—” desah Firza lelah.
Diam-diam, Resha memekik bahagia tanpa suara, tapi gerakan tubuhnya amat sangat terbaca andai Firza berada di sana. “Mmmm, maaf— semua gara-gara aku— hiks.”
Sedikit suara tangis, sepertinya cukup ampuh. Pikir Resha.
“Tidak, tidak, ini bukan salahmu. Pelan tapi pasti semua orang akan tahu, dan kita harus siap di hakimi—”
“Hiks, hiks, maafkan aku,” sela Resha, “hanya— hanya karena aku k-ka-mu dan keluargamu jadi bertengkar. Hiks.” Meski hanya berpura-pura, Resha tak mau setengah-setengah. “Lalu, apa kata istrimu? Aku merasa sangat bersalah, karena telah hadir sebagai orang ketiga,” imbuhnya, suaranya sedikit bergetar.
Kali ini hela nafas Firza terdengar semakin berat. “Ersha dan aku sudah memutuskan berpisah.”
Girang, bahagia bukan kepalang hati Resha, ini adalah berita yang paling ia tunggu abad ini, yakni berita perpisahan Firza dan istrinya. Penantiannya tak sia-sia ia menanti dan menunggu sabar, sampai tiba saatnya bertindak. “Astaga— maaf— hiks. Apa yang bisa ku lakukan, haruskah aku menemuinya dan membujuknya?”
“Tak perlu, tekad Ersha sudah bulat. Tak ada yang bisa menggoyahkannya.”
“Baiklah, aku mengerti. Tapi, jika butuh bantuan untuk bicara dengan Ersha, aku siap melakukannya. Sungguh, apapun akan kulakukan agar kalian tak sampai berpisah.”
Kalimat-kalimat Resha terdengar sangat meyakinkan, hingga siapapun tak akan percaya, jika wanita itu tidak sedang berpura-pura.
Beberapa saat kemudian, Resha masih terus bicara dengan nada sendu, dan ikut berempati. Padahal dialah penyebab dari semua yang terjadi.
Setelah panggilan berakhir, Resha tertawa lepas, akhirnya apa yang ia nantikan pun tiba.
“Ternyata menyingkirkan wanita itu dan anaknya tidak sesulit yang kubayangkan. Sekarang, saatnya beranjak ke rencana berikutnya,” desis Resha.
•••
Mobil mewah itu berhenti agak jauh dari toko sembako milik Abah Husain. Pria pengemudinya hanya duduk diam menatap penuh makna pada pria yang sibuk berbicara dengan seseorang.
Kesibukan di toko itu sangat terasa, karena tengkulak baru saja memasok beras ke toko tersebut.
Dulu, toko itu dan pemiliknya adalah saksi masa kecilnya yang penuh perjuangan. Berusaha bangkit agar bisa hidup seperti orang-orang pada umumnya. Usaha kedua orang tuanya bangkrut, hingga mereka jatuh miskin sampai tinggal di sebuah rumah petak.
Abah Husain, menerima kehadirannya dengan ikhlas, mengizinkannya bekerja sebagai penimbang tepung dan gula. Atau sesekali melayani pelanggan yang datang berbelanja.
Saat itu, Abah Husain bagai malaikat penolong baginya, di saat orang lain hanya memandangnya dengan sebelah mata.
Tapi, Abah Husain memintanya melupakan semua, memberinya motivasi jika kelak ia sudah menjadi pria sukses, jangan seperti orang-orang itu. Tetaplah jadi pria yang rendah hati, sederhana, dan bersahaja. Dan ucapan itu, ia pegang baik-baik hingga saat ini.
Pria itu pun turun dari mobilnya, pakaiannya sederhana, hanya kaos oblong yang pudar warnanya, serta celana bahan biasa. Sama sekali tak sebanding dengan mobil yang ia kendarai saat ini.
“Assalamualaikum, Abah.”
Abah Husain menoleh karena mendengar sapaan pria itu, “Wa— alaikum— salam—” jawab Abah Husain, mencoba melihat lebih cermat, pria yang ada di hadapannya.
“Abah, masih mengingatku?”
“Ya, Allah, Nak. Kamu rupanya, apa kabar?” sapa Abah Husain, akhirnya ia ingat, anak kecil yang dulu bekerja di tokonya, kini kembali datang dengan wujud berbeda. Sudah dewasa, dan matang, bukan lagi anak kecil yang berwajah kusam karena terlunta-lunta di jalanan untuk mencari pekerjaan serabutan.
Abah Husain memeluk pria itu, erat, sangat erat, “Abah nggak sangka, kamu masih ingat toko kecil Abah, Nak.”
“Tentu saja, Bah. ini tempat bersejarah bagiku, dan sampai kapanpun aku tak akan pernah melupakan tempat ini.”
Tawa lepas Abah Husain terdengar merdu di telinga pria itu, lama sekali ia tak mendengarnya, “Aku rindu toko ini, Bah. Rindu bau gula dan tepung yang dulu selalu aku timbang.”
“Hahaha, kalau begitu silahkan bernostalgia, tuh, kebetulan tepung dan gula baru saja datang.”
Keduanya kembali tertawa lepas. Hingga—
“Assalamualaikum, Bah.”
Abah Husain dan pria itu menoleh, rupanya Ersha yang datang untuk mengantar makan siang. “Waalaikumsalam.”
“Ini, makan siangnya, Bah.”
“Apa kabar, Ersha,” sapa pria itu.
Kedua mata Ersha terbelalak, “Bang Ahtar!”
toh sama" single