Tania Kartika harus menelan pil pahit saat alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah yang cukup jelas. Ia hanya bisa memejamkan mata, mengingat malam panas sebulan yang lalu bersama Lingga Perdana, sang mantan terjadi tanpa pengaman. Sungguh Tania tak menyangka hanya sekali melanggar, langsung jadi.
Bagaimana nasib Tania sekarang? haruskah ia menghilangkan janin ini, apalagi Lingga sudah menjadi suami dari seorang model? Beginilah nasib percintaan yang kalah akan strata sosial.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lel, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BERTEMU
Lingga benar-benar tak menggubris Tania lagi, otaknya dipaksa buat tak memikirkan perempuan itu, terlebih Calista juga semakin sering meninggalkannya ke luar negeri dengan urusan pemotretan. Lingga tak peduli dengan dua perempuan dalam hidupnya itu.
Fokusnya bekerja, dan bekerja, bahkan sang papa memberikan pujian atas beberapa proyek yang berhasil dimenangkan oleh Lingga. Rasanya ia mau membuktikan pada semua orang, terutama Tania, tanpa dirinya Lingga akan meraih kesuksesan.
"Maaf, Pak saya gak bisa ikut, karena putri saya baru keluar dari rumah sakit," ujar Yuke, sekertaris Lingga saat membahas rencana ke luar kota selama 3 hari ke depan. Lingga mengangguk saja, paham akan kondisi Yuke. Untuk berkas akan disiapkan sebelum keberangkatan, namun Lingga tetap meminta ada pengganti Yuke saat Lingga presentasi nanti.
"Anak magang aja gimana, Ke. Dia pasti lebih longgar dan bisa menemani saya tanpa meninggalkan tugas kantor lain, coba pilih salah satu di antara mereka!" pinta Lingga, dan Yuke mengiyakan setelah menata berkas untuk berangkat besok.
"Ghina, Pak!" Yuke spontan menyebut salah satu anak magang bagian sekertaris di bawah pantauannya. Ada 2 anak magang dalam pantauan Yuke, dan menurutnya Ghina yang lebih oke menemani Lingga. Cekatan dan cerdas sekali tuh cewek, ya 11 12 lah sama Yuke saat kuliah dulu.
Lingga mengangguk dan setuju saja, karena Yuke pasti sudah tahu kriteria sekertaris yang disukai oleh Lingga. Sebelum jam kantor, Yuke memanggil Ghina dan menjelaskan tugas dadakannya, bukan permintaan tapi perintah. Ghina sedikit nervous saat bertemu Lingga, aura bossy terpancar sekali, dan tatapan tajam seolah menguliti Ghina.
"Bu Yuke, kok saya takut ya menghadap Pak Lingga, apalagi kalau ke luar kota?" mendadak Ghina ragu. Wajar sih, anak magang langsung dihadapkan langsung dengan bos, pasti keder juga.
Yuke tersenyum dan menepuk pundak Ghina pelan, "Santai saja, beliau memang sangat profesional kok, wajar terlihat kaku!" ujar Yuke. Ghina ingin menolak tapi takut, khawatir berpengaruh pada nilai magangnya nanti.
Ghina dan Lingga berangkat pagi sekali ke luar kota, selama di perjalanan Ghina lebih banyak mengobrol dengan sopir kantor, dan Lingga lebih banyak melamun, dan mengulik ponsel.
Otak dan hatinya dipaksa berhenti memikirkan Tania, tapi tak semudah itu, ia masih terus menghubungi Yovi untuk sesekali tanya keadaan si wanitanya. Si bumil itu gimana, Bang? Begitu chat yang sering dikirim Lingga pada sang abang. Namun Yovi kadang membalas, kadang enggak, karena menurut Yovi, kelakuan Lingga itu labil sekali. Kalau mau putus ya putus saja, apalagi bukan tugas Lingga untuk bertanggung jawab pada Tania.
"Meeting nanti tolong pastikan reservasi meja restorannya sudah fix, beserta hidangannya, saya tidak mau ada yang terlambat atau kurang saat klien sudah datang," jelas Lingga pada Ghina saat keduanya hendak menuju kamar masing-masing. Ghina agak kuwalahan mengikuti jejak Lingga, saking cepat dan langkah jenjangnya.
"Siap, Pak!" jawab Ghina sembari mengumpat kelakuan bos rese'nya ini. Baru juga sampai langsung dikasih kerjaan, setidaknya nafas dulu, istirahat ke kamar kek, Ghina yang belum terbiasa kerja di luar harus cepat beradaptasi. Apalagi terjadi saat weekend yang biasa ia lalui dengan santai serta jalan-jalan, hufh dunia kerja ternyata sekaku ini ya.
Sedangkan Tania, weekend ini sibuk dengan orderan skincarenya. Otak bisnis mulai jalan, yang dipikirkan sekarang bagaimana omzetnya mulai naik. Ternyata ibu muda sangat concern pada skincare bayi ya, sampai saat ini penjualan terbanyak adalah skincare bayi. Bahkan Tania sampai repeat order beberapa kali, di minggu ketiga jualannya. o kenaikan berat badan, untuk si dedek berat badannya sesuai usianya. Tania akan bekerja keras mengumpulkan pundi-pundi uangnya, sebelum perutnya buncit, karena saat perutnya mulai tampak dia akan resign, dia tak mau kena hujat teman kantornya. Beruntung, dia tak punya keluhan layaknya seperti ibu hamil.
Ia semakin yakin bahwasannya pahala perempuan hamil di luar nikah itu tidak ada, Tania pernah melihat beberapa teman kantor yang hamil, rasanya sempoyongan dan banyak sekali keluhan seperti morning sickness, nah Tania sama sekali tak merasakan hal itu. "Maaf ya, Dek. Semua ini murni kesalahan mama, kamu sama sekali tak salah," Tania juga merasa sedih pastinya, karena ia sering kali searching perihal hamil di luar nikah. Wajar semakin overthinking.
Asyik membungkus paketan, ada pesan masuk dari Siska, Bertemu Pak Lingga di restoran hotel, sama asistennya kali, masih muda dan cantik banget. Aku sapa gak ya, Tan?
Sapa aja. Balas Tania cuek, ia melihat foto Lingga dan perempuan yang dibahas Siska, ternyata meja Siska cukup dekat, foto yang ia ambil cukup jelas.
Nanti deh. Kayaknya doi fokus banget. Makin cakep euy. Puji Siska yang membuat Tania berdecak sebal.
Kamu keluar sama cowok kamu, tapi masih puji suami orang. Waras Mbak? Balas Tania, dan dijawab emoticon tawa oleh Siska.
Setelah itu, Tania memperhatikan foto Lingga. Ia tersenyum kecil, "Kalau anak kita nanti laki-laki pasti seganteng kamu, Ngga! Kira-kira dedek nanti mirip siapa ya?" Tania membesarkan diri, bahwa dia mulai tidak menyesal mengandung anak Lingga.
Puas reuni dengan foto Lingga, Tania pun melanjutkan packing orderan. Dia pun bersiap untuk COD ke customer, apapun cara dapat uang yang halal akan ia lakukan, untuk persiapan resignnya.
Kadang Tania juga melayani COD selepas kantor, atau bahkan mengajak COD di area kantor. Sempat Yovi bertanya, Sejak kapan kamu jualan skincare?
Tania hanya menjawab dengan senyuman, dan berharap Yovi tak menceritakan keadaannya pada Lingga. Toh, Tania juga sengaja tidak jualan di WA nomor pribadinya, jadi hanya Siska yang tahu side job Tania ini.
"Menjanjikan ya, Tania?" tanya Siska saat Tania menarik penjualan di marketplace saat keduanya longgar dari pekerjaan kantor. Tania tersenyum, dan mengangguk tegas. "Heran deh, gaji kita 10 lebih kali, tapi kamu sengotot ini cari side job, jujur deh kamu kenapa?" tanya Siska dengan menatap Tania tajam.
"Ya pengen kaya aja, Sis. Gimana sih, lagian jualan begini, gak terlalu capek kok!" Tania tak berani menatap Siska, takut dicecar pertanyaan.
"Anggap saja aku percaya kalau kamu memang pengen kaya, jangan aneh-aneh, kerja kantoran diforsir otak, jangan sampai kamu kelelahan!" nasehat Siska dan diangguki oleh Tania.
Perempuan itu kembali berkutat dengan tugas kantor, hidupnya sekarang hanya untuk kerja dan uang. Dia harus mempersiapkan uang untuk masa depan sang anak nantinya. Percayalah, semua ibu di dunia ini tak akan mau anaknya sengsara. Oleh sebab itu, Tania harus mempersiapkan dana agar sang putra tidak kekurangan. Bahkan Tania sengaja buka open reseller, agar jangkauan penjualannya semakin luas. Tidak ada persyaratan, yang penting tidak ada hutang.
Hingga suatu weekend, Tania terpaksa bertemu dengan Lingga, saat janjian dengan Ghina, ya Ghina daftar menjadi reseller Tania, keduanya janjian bertemu di cafe, dan Ghina ada meeting bersama Lingga.
Setelah meeting di luar kota tempo hari, Lingga meminta Ghina menjadi asistennya saat weekend, karena memberikan waktu Yuke untuk keluarganya. Terbukti, Ghina bisa menarik pandangan Lingga dalam memilih asisten.
"Mbak Tania terimakasih atas waktunya, nanti saya chat lagi kalau stock ini habis ya, makasih!" pamit Ghina terlihat gupuh, diminta Lingga untuk cek meja untuk meeting.
Sedangkan Lingga hanya menatap Tania, dan sempat melihat perut perempuan itu. Masih belum terlihat, apa mungkin karena masih kurang lebih 3 bulan, sehingga tubuh Tania belum terlihat seperti ibu hamil, malah menurut Lingga semakin kurus.
Tania pergi tanpa pamit, dan Lingga hanya menatap punggung wanita yang masih memenuhi hatinya itu. "Menyesal kan putus sama aku?" gumam Lingga dengan senyum sinis.
GO go Tania semangat