NovelToon NovelToon
Chef Kirana Dan Jendral Berhati Dingin

Chef Kirana Dan Jendral Berhati Dingin

Status: tamat
Genre:Transmigrasi / Fantasi / Romansa Fantasi / Tamat
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: tanty rahayu bahari

Kirana, Executive Chef bintang lima di Jakarta, mati konyol karena ledakan gas. Sialnya, dia malah terbangun di tubuh Putri Tantri—tokoh antagonis dalam novel sejarah yang baru saja meracuni adik angkat suaminya!
​Di hadapannya, Jenderal Arga sang "Iblis Perang Utara" sudah menghunus pedang, siap memenggal kepalanya.
​Tak mau mati dua kali, Kirana mengajukan penawaran gila: "Jangan bunuh aku dulu! Izinkan aku masak makanan terakhir!"
​Bermodalkan bawang merah, kecap manis buatan sendiri, dan teknik masak modern, Kirana bertekad mengubah takdir kematiannya. Siapa sangka, masakan lezatnya tak hanya menyelamatkan lehernya, tapi juga menyembuhkan maag kronis sang Jenderal dan mengguncang lidah satu kerajaan?
​Tapi hati-hati, Kirana! Musuhmu bukan cuma panci gosong, tapi juga pelakor bermuka dua dan intrik politik yang mematikan. Sanggupkah Kirana bertahan hidup di zaman kuno tanpa rice cooker dan kulkas?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 11: Pindah Kamar, Tantangan Bakat, dan Martabak Manis Revolusioner

[Kamar Utama Gedung Tengah - Pagi Hari]

Pindah ke Gedung Tengah ternyata tidak seburuk yang kubayangkan. Kamarnya luas—tiga kali lipat kamar pengasinganku. Kasurnya empuk dengan seprai sutra. Dan yang paling penting: Ada kamar mandi dalam dengan bathtub kayu besar.

Satu-satunya masalah adalah... teman sekamarku.

Jenderal Arga sedang berdiri di depan cermin, memasang kancing jubah dinasnya. Dia baru saja mandi. Rambutnya masih basah, aroma sabun cendana menguar segar.

Kami tidur satu ranjang semalam.

Tenang, tidak terjadi apa-apa. Arga cukup sopan (atau cukup lelah) untuk hanya tidur di sisi kiri, membiarkanku menguasai sisi kanan dengan guling sebagai "Tembok Berlin".

"Kau melamun lagi," suara Arga membuyarkan lamunanku. Dia melihatku lewat pantulan cermin.

"Siapa yang melamun? Aku sedang memikirkan menu makan siang," elakku sambil merapikan selimut.

"Jangan masak yang terlalu pedas hari ini. Nanti sore ada latihan perang," pesan Arga.

Lihat? Percakapan kami sudah seperti suami istri normal yang sudah menikah 10 tahun. Tidak ada lagi ancaman bunuh-bunuhan. Kemajuan pesat.

Tiba-tiba, pintu diketuk. Kepala Pelayan masuk membawa nampan berisi gulungan surat emas.

"Lapor, Jenderal. Undangan resmi dari Istana Kerajaan."

Arga mengambil surat itu, membacanya sekilas, lalu menghela napas panjang. Wajahnya berubah masam, seolah baru saja disuruh makan pare mentah.

"Ada apa? Perang lagi?" tanyaku, turun dari kasur.

"Lebih buruk. Perjamuan Agung Ulang Tahun Raja lusa malam," Arga melempar surat itu ke meja. "Ajang pamer harta, basa-basi politik yang membosankan, dan... pertunjukan bakat para istri pejabat."

DEG.

Bakat? Istri pejabat?

"Maksudmu... aku harus tampil?" tanyaku ngeri.

"Tentu saja. Kau Istri Utama. Sudah tradisi setiap Nyonya Besar menyumbangkan penampilan untuk menghibur Raja. Istri Perdana Menteri biasanya main kecapi. Istri Menteri Pertahanan menari kipas."

Arga menatapku skeptis.

"Masalahnya, Tantri... seingatku bakatmu hanyalah menghabiskan uang belanja dan memecahkan piring. Apa yang mau kau tampilkan? Menari Piring Pecah?"

Sialan. Mulutnya pedas juga.

"Jangan remehkan aku, Jenderal," kataku gengsi. "Aku... aku bisa sesuatu kok."

"Apa? Menyanyi?"

Aku menggeleng. Suaraku fals. Kalau aku nyanyi, Raja bisa kena serangan jantung.

Menari? Badanku kaku kayak robot gedek.

Melukis? Gambarku level anak TK.

Tiba-tiba, Laras muncul di ambang pintu (dia punya radar untuk momen-momen menyudutkanku). Dia sudah dandan cantik, membawa kipas bulu.

"Jangan khawatir, Jenderal," Laras masuk dengan senyum manis yang menyebalkan. "Laras siap menggantikan Kak Tantri. Laras sudah berlatih Tarian Seribu Bunga selama sebulan. Laras tidak akan membiarkan wajah Jenderal tercoreng karena punya istri yang... minim talenta."

Laras melirikku dengan tatapan merendahkan.

"Kak Tantri lebih baik duduk manis saja di pojokan menikmati makanan. Biar Laras yang bersinar di panggung."

Darahku naik ke ubun-ubun.

Enak saja! Kalau Laras tampil dan dipuji Raja, posisi dia bakal naik lagi. Arga mungkin bakal luluh lagi liat dia nari lenggak-lenggok.

No way.

"Siapa bilang aku nggak tampil?" potongku cepat. "Aku akan tampil."

"Oh ya?" Laras tertawa kecil. "Tampil apa Kak? Baca puisi? Membosankan."

Aku tersenyum miring. Otak Chef Kirana berputar cepat.

Apa pertunjukan yang menghibur, unik, belum pernah ada di zaman ini, dan berhubungan dengan keahlianku?

Live Cooking.

Atraksi memasak. Seperti Chef Teppanyaki yang melempar telur, atau Chef Martabak yang memutar adonan.

Itu seni! Itu pertunjukan! Dan hasilnya bisa dimakan!

"Aku akan menampilkan... Tarian Api dan Adonan," jawabku dramatis.

Arga dan Laras mengernyit. "Tarian apa itu?"

"Lihat saja nanti. Yang jelas, ini akan membuat Tarian Seribu Bunga-mu terlihat seperti senam pagi lansia," ejekku pada Laras.

Laras menghentakkan kaki kesal. "Hmph! Kita lihat saja nanti! Awas kalau Kakak malah membakar istana Raja!"

Dia pergi dengan kesal.

Arga menatapku tajam. "Tantri, kau serius? Kalau kau mempermalukanku di depan Raja..."

"Tenang, Suamiku," aku menepuk dadanya pelan (modus). "Kau suka masakanku kan? Raja pasti juga suka. Percayalah pada Chef Istrimu ini."

[Dapur Utama - Siang Hari]

"Mbok Darmi! Sari! Kita butuh perabotan khusus!"

Aku sibuk menggambar sketsa di atas kertas buram dengan arang.

Untuk Live Cooking di istana, aku tidak mungkin bawa tungku tanah liat yang berat dan kotor. Aku butuh sesuatu yang portable dan elegan.

Aku mendesain Wajan Datar Besi Tebal (seperti loyang martabak/teppanyaki) yang bisa ditaruh di atas anglo perak.

"Bawa sketsa ini ke tukang besi langganan Jenderal. Bilang aku butuh ini jadi besok pagi. Bayar dua kali lipat!" perintahku pada Sari.

"Baik, Nyonya!"

Selanjutnya: Menu.

Harus sesuatu yang atraktif pembuatannya.

Harus wangi semerbak biar Raja ngiler dari jauh.

Harus manis sebagai penutup perjamuan.

Pilihan jatuh pada: MARTABAK MANIS (TERANG BULAN).

Kenapa?

 * Teknik memutar adonan di loyang itu terlihat keren kalau dilakukan dengan luwes.

 * Saat adonan bersarang dan dikasih gula, uapnya wangi vanila dan ragi.

 * Topping-nya bisa dibuat mewah: Kacang sangrai, wijen, keju (kalau ada), dan cokelat.

Tunggu. Cokelat dan Keju belum ada di zaman ini.

Aku harus putar otak.

Pengganti Cokelat: Gula Aren Cair yang kental.

Pengganti Keju: Kelapa Muda Serut yang dipanggang.

Tambahan: Kacang Tanah Sangrai dan Wijen.

Dan bahan rahasia: Nangka. Aroma nangka sangat kuat dan menggoda.

"Mbok, cari ragi tape di pasar. Cari tepung terigu kualitas terbaik. Cari telur bebek!"

Seharian itu, dapur berubah jadi laboratorium eksperimen.

Aku mencoba membuat adonan martabak. Tepung, gula, telur, air, soda kue (aku pakai air abu merang sebagai pengembang alami), dan ragi tape.

Didiamkan 2 jam sampai berbuih.

Percobaan pertama: Gosong. Apinya kebesaran.

Percobaan kedua: Bantat. Kurang istirahat adonannya.

Percobaan ketiga:

Aku menuang adonan ke wajan panas. Cesss...

Aku memutar wajan dengan gerakan tangan luwes untuk membentuk pinggiran krispi.

Gelembung-gelembung udara mulai muncul di permukaan (bersarang).

Baunya... wangi manis ragi dan gula terbakar.

Aku menaburkan gula pasir. Menutupnya sebentar.

Matang.

Aku mengolesnya dengan mentega (lemak susu sapi yang dikocok). Menaburkan kacang, wijen, dan nangka. Melipatnya. Memotongnya.

Kulit luarnya cokelat eksotis, dalamnya bersarang lembut, pinggirannya krispi.

Gigitan pertama.

Surga.

Manis, gurih, wangi.

"Nyonya..." Sari yang mencicipi sampai merem-melek. "Kue apa ini? Kenapa ada rongga-rongganya? Rasanya kenyal tapi lembut!"

"Namanya Terang Bulan, Sari. Karena bentuknya bulat seperti bulan purnama dan rasanya menerangi jiwa yang gelap."

Sip. Persiapan beres.

[Hari H - Gerbang Istana Kerajaan Cempaka]

[Waktu: 19.00 Malam]

Kereta kuda Jenderal Arga berhenti di pelataran istana yang megah. Ribuan lampion menyala.

Arga turun duluan. Dia memakai setelan beskap hitam dengan sulaman emas. Sangat tampan.

Dia mengulurkan tangan untuk membantuku turun.

Aku... tampil beda malam ini.

Aku tidak memakai kebaya ketat yang menyiksa. Aku memakai atasan sutra merah marun dengan lengan yang agak longgar (biar gampang gerak pas masak), dipadu kain batik motif Parang emas. Rambutku disanggul tinggi, ditusuk dengan hiasan emas berbentuk sendok dan garpu (pesan khusus ke tukang emas, biar tematik).

"Kau terlihat... unik," komentar Arga. "Apa itu tusuk konde bentuk sendok?"

"Ini statement fashion, Jenderal. Identitas profesi," jawabku pede.

Di belakang kami, Laras turun dari kereta kedua. Dia memakai gaun putih megah berlapis-lapis, penuh payet, dengan selendang panjang. Wajahnya cantik tapi sinis.

"Semoga sukses dengan 'Tarian Adonan'-mu, Kak," bisik Laras saat melewati kami. "Semoga tidak ada tepung yang meledak ke wajah Raja."

Kami memasuki Balairung Istana.

Suasananya mewah. Raja duduk di singgasana emas. Di sampingnya ada Pangeran Panji yang sedang sibuk makan anggur.

Acara dimulai. Satu per satu istri pejabat tampil.

Ada yang menari kaku.

Ada yang baca puisi bikin ngantuk.

Ada yang main kecapi sumbang.

Raja terlihat bosan. Dia menguap beberapa kali. Pangeran Panji malah hampir tertidur.

"Selanjutnya... Penampilan dari Kediaman Jenderal Arga!" seru Protokoler.

Laras maju lebih dulu.

Dia menari Tarian Seribu Bunga. Gerakannya luwes, indah, lemah gemulai. Musik gamelan mengalun syahdu.

Raja mengangguk-angguk. "Bagus. Cantik."

Arga tepuk tangan sopan.

Laras tersenyum puas, melirikku. Kalahkan itu kalau bisa.

"Dan sekarang... Istri Utama Jenderal Arga, Putri Tantri!"

Aku maju.

Tanpa musik. Tanpa penari latar.

Dua pelayan (Sari dan Mbok Darmi yang kudandani rapi) membawa masuk meja beroda, anglo api, dan peralatan masakku.

Bisik-bisik terdengar di seluruh ruangan.

"Dia mau ngapain? Bawa kompor?"

"Apa dia mau sulap?"

"Itu wajan atau tameng perang?"

Raja menegakkan duduknya, bingung. "Tantri, menantu dari Selatan... apa yang akan kau tampilkan?"

Aku membungkuk hormat.

"Yang Mulia Raja. Hamba bukan penari, bukan penyanyi. Hamba hanyalah seorang istri yang ingin memastikan Yang Mulia bahagia. Dan kebahagiaan sejati... bermula dari perut."

"Hamba mempersembahkan: Atraksi Terang Bulan."

Aku menyalakan api.

Aku mengambil teko berisi adonan.

Dan pertunjukan dimulai.

Aku menuang adonan tinggi-tinggi dari udara (teknik Teh Tarik tapi pake adonan). Adonan jatuh mulus ke loyang panas. Cesss!

Asap wangi manis langsung menyebar ke arah singgasana.

Lalu bagian terbaik: Memutar loyang.

Dengan satu tangan, aku memutar loyang besi berat itu untuk membentuk pinggiran. Gerakanku cepat, bertenaga, tapi anggun. Kain sutra merahku berkibar.

Pangeran Panji langsung bangun dari tidurnya. Hidungnya mengendus. "Bau wangi ini... Ragi? Gula?"

Aku menaburkan gula pasir dengan gerakan memutar seperti menabur benih.

Menutup loyang.

Menunggu 3 menit (momen hening yang menegangkan).

Aku membukanya.

Wuusshh. Uap wangi meledak. Kue itu mengembang sempurna, berpori-pori cantik.

Aku mengangkat kue itu, mengoles mentega dengan cepat, menabur kacang, wijen, dan nangka. Melipatnya. Memotongnya. Krak krak. Bunyi kulit krispinya terdengar jelas di ruangan yang sunyi senyap.

Sari dengan sigap menaruh potongan martabak itu di piring emas, membawanya ke hadapan Raja.

Raja menatap kue aneh itu. Tebal, berminyak, tapi wanginya... oh Tuhan.

Raja mengambil satu potong. Masih panas.

Gigit.

Kenyal. Manis. Gurih. Krispi.

Mata Raja melebar.

"Mmmph!" Raja menutup mulutnya, menikmati sensasi rasa yang belum pernah ada di kerajaannya.

"Ini... ini apa?!" seru Raja. "Rasanya seperti memakan awan yang manis!"

"Terang Bulan, Yang Mulia," jawabku.

Pangeran Panji langsung lari turun dari panggung kehormatan, menyambar satu potong dari piring Raja (kurang ajar emang).

"Kakanda Raja, bagi dikit!"

Panji memakannya. Dia menatapku dengan mata berbinar-binar. Dia tersenyum licik.

"Luar biasa!" teriak Raja. "Tantri! Kau jenius! Ini hiburan terbaik malam ini! Aku bosan lihat orang menari, perutku lapar! Kau paham isi hatiku!"

Tepuk tangan gemuruh membahana di seluruh balairung. Arga, yang tadinya tegang, kini tersenyum bangga—senyum yang sangat lebar hingga membuat para menteri kaget (Jenderal Iblis bisa senyum?!).

Laras?

Dia berdiri di pojokan, meremas kipas bulunya sampai patah.

Dia kalah lagi. Dikalahkan oleh adonan tepung dan gula.

Malam itu, Martabak Manis menjadi legenda. Dan aku, Kirana, resmi menjadi Idola Baru Istana.

Tapi aku tidak sadar, di balik tirai, sepasang mata lain sedang mengawasiku dengan tatapan tajam dan penuh rencana jahat.

Bukan Laras.

Tapi Perdana Menteri Sengkuni, musuh politik Arga.

"Istri Jenderal itu... bisa jadi alat yang berguna," gumamnya.

...****************...

...Bersambung.......

...Terima kasih telah membaca📖...

...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...

...****************...

1
Nunung Elasari
recommended, ceritanya bagus.......
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Ada kelegaan yang menyumbat rongga dada,
Kasih di mana tak dapat bersatu di masa itu ,kembali bereinkarnasi menemui cinta abadi nya.
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
cinta Arga membawa nya ke masa depan
tak berjodoh di masa lalu
berjodoh di masa depan
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
tdk bisa kah takdir di rubah kembali
Tantri akan bahagia bersma jenderal dan putra nya
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
seluruh istana pasti berduka atas hilangnya Tantri yang istimewa
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
waduhh , kisah masa lalu bisa kacau kembali ini
kalau Tantri kembali ke masa depan
apa tantrii sebenarnya yg telah meninggal
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
huhuhu.. /Sob/ bagaimana kelanjutannya ini thor? semoga happy ending..
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
taktik gerilyaa apalagi tantri
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
pengorbanan seorang ibu tidak akan pernah sia2, ....
siapa tahu "SUARA" itu akan tersentuh oleh ketulusan cinta kalian.
Hingga nanti semua akan berakhir bahagia
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
udah ngaku aja daripada disuruh makan ceker mercon yg isinya potongan jari2 sendiri 🙈🙀
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
tambahin irisan kol dan daun bawang 😆😆
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
gak main main, 5 liter minyak jelantah 🤣🤣
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
kAlau kirana bangun ,tantri kembali kesetelan awal donk🤣,kecuali tersisa memori dan sedikit keahlian kirana agar tantri hidupnya tak sengsara dengan kehilangan keahliannya.
Ahh ...kirana jangan kau kacaukan dulu perjalanan mereka, biar berdiri dulu sekolah tata boga tantri dan sukses mencetak lulusan terbaik baru kau kembali ke asalmu😄
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
refresh tenaga dlu ya tantrii
musuh baru akan segera datang
🤣
🍒⃞⃟🦅 𝐀⃝🥀 B3NassIR🪡
Bebek timbung = bebek betutu, hhmmm yummy....
besok masakin bebek bengil yaa kirana, dengan lawar sayuran pedas🤤
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
yoo jadikan si cakar ayam bulan2an, yg kepleset minyak, kesiram air, kena tepung, kejepit pintu 🥳🥳🥳
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ: panjangin listnya /Determined//Determined//Scream//Scream//Scream/
total 2 replies
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
eeh kirain namanya Pembunuh Bayaran Cakar Ayam 🤣🤣
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
cinta lama sulit terganti kan ya Diah
sampai segala cara di pake buat merebut arga
☠ SULLY༄⃞⃟⚡🍒⃞⃟🦅
mantan jenderal kembali
seperti apa kisah cinta mu jenderal
⍣⃝𝖕𝖎ᵖᵘandiniandana☆⃝𝗧ꋬꋊ
🤣🤣🤣 tidur dulu biar bangun udah fresh, siap atur strategi hadapi ibu suri 🥳
Ai Emy Ningrum: turing#turumiring😴😴😴😴😴💤💤💤💤💤
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!