Nathan Han yang mengejar ambisinya sehingga mengabaikan tunangannya. Pada hari ia terpilih sebagai pemimpin organisasi terbesar di kota itu, tunangannya, Calista Li, ditemukan terjun ke laut dan dinyatakan meninggal. Tanpa pesan. Tanpa alasan.
Lima tahun kemudian, Nathan Han menjadi pemimpin yang ditakuti. Dingin dan tanpa belas kasihan. Suatu malam, saat ia diburu musuh, ia bertemu dengan seorang gadis. Wajah gadis itu sangat mirip dengan Calista yang telah mati.
Siapakah gadis itu sebenarnya? Dan apakah Nathan akan mencintai gadis yang begitu mirip dengan tunangannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon linda huang, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13
James terkapar, darah mengalir dari kepalanya. Dengan susah payah ia memegang luka itu, lalu menatap tajam ke arah Nathan.
“Nathan Han… kau seperti anakku sendiri…” ucapnya dengan napas berat. “Dan kini kau melukaiku… demi seorang wanita biasa? Sebelumnya aku mengenalkanmu pada wanita berkelas, tapi kau menolak. Ternyata kau hanya berpura-pura suci.”
Nathan menatapnya dingin.
“Aku tidak berpura-pura,” jawabnya singkat. “Aku akan setia pada orang yang baik padaku. Tapi menyentuh wanitaku… adalah jalan mati untukmu.”
Ia melangkah lebih dekat.
“Calista adalah wanita yang akan kunikahi setelah aku naik jabatan. Tapi niatku belum sempat terwujud…” suaranya merendah, penuh tekanan, “karena kau menghancurkannya.”
James tertawa pelan meski kesakitan.
“Kalau dia tidak mati… apakah kau masih akan menikahi wanita bekasku?” ejeknya. “Seorang ketua organisasi… menikahi wanita yang sudah ternoda? Bagus juga kalau dia mati. Kalau dia penting bagimu… berarti aku berhasil melukaimu.”
Dengan sisa tenaga, James bangkit dan berdiri.
Nathan tidak bergerak.
Tatapannya semakin dingin.
“Sayangnya… niatmu belum sepenuhnya berhasil,” ucap Nathan pelan. “Calista tidak mati.”
James mengernyit.
“Jasadnya sudah ditemukan. Kau masih menolak kenyataan?” balasnya.
Nathan menggeleng tipis.
“Jasad yang mereka temukan… bukan Calista,” katanya tegas. “Memang tinggi badan, tato, dan rambutnya mirip. Tapi DNA-nya berbeda.”
Untuk pertama kalinya, ekspresi James berubah.
“Artinya…” lanjut Nathan, “aku masih punya kesempatan untuk menemukannya.”
Ia mengangkat pistolnya kembali, mengarahkannya ke James.
“James Fung… satu tahun dari sekarang, di hari yang sama…”
Nada suaranya datar, namun menusuk.
“Aku akan mengadakan acara peringatan kematianmu… bersama putra kesayanganmu.”
Sudut bibirnya terangkat tipis.
“Sebagai ucapan terima kasih… atas posisi yang kau berikan padaku.”
“Apakah kau mengira kau bisa lolos dari anak buahku? Mereka akan membunuhmu,” ujar James dengan napas tersengal.
Nathan tersenyum tipis.
“Kalau aku bisa membuatmu dan anakmu saling membunuh,” ucapnya tenang, “maka aku juga bisa membuat mereka percaya… bahwa kau bunuh diri karena rasa bersalah.”
Ia sedikit menunduk, menatap James tanpa berkedip.
“Setelah itu… aku akan mengungkap kejahatanmu sedikit demi sedikit,” lanjutnya. “Biarkan semua orang mengenalmu… sebagai pecundang.”
James mengepalkan tangannya, wajahnya dipenuhi amarah dan penyesalan.
“Nathan Han… aku terlalu meremehkanmu,” katanya pelan.
Nathan tidak menjawab.
Ia hanya menatap dingin.
“Sudah waktunya kau pergi,” ucapnya akhirnya.
Nathan lalu meletakan pistol tersebut ke telapak tangan James dan menggenggam tangannya, ia memaksakan senjata itu ke arah kepala pria tua itu.
James mencoba melawan, namun tubuhnya sudah terlalu lemah.
“Nathan—”
“Dor!”
Suara tembakan menggema.
Tubuh James langsung terkulai.
Sunyi.
Nathan perlahan melepaskan tangannya, membiarkan tubuh itu jatuh tak bernyawa.
Ia berdiri tegak.
Wajahnya kembali tenang.
Seolah semua yang terjadi… hanyalah bagian dari rencana yang telah lama ia tunggu untuk diselesaikan.
“Kau memang meremehkanku,” ucap Nathan dingin. “Aku patuh padamu selama ini… tapi bukan berarti aku harus diam saat kau menyentuh wanita milikku.”
Tak lama kemudian, beberapa anak buah James berlari masuk ke dalam ruangan.
Mereka terhenti mendadak.
Mata mereka membesar melihat tubuh James yang sudah tak bernyawa tergeletak di lantai.
“Tu—Tuan Fung…!” seru mereka dengan suara gemetar.
Nathan berdiri tenang di tengah ruangan, seolah sudah menguasai segalanya.
“Siapkan pemakaman,” perintahnya tegas. “Sebarkan kabar kematian Tuan Fung. Katakan… beliau bunuh diri karena rasa bersalah setelah membunuh putranya sendiri.”
Para anak buah itu saling pandang, namun tidak berani membantah.
“Semua asetnya,” lanjut Nathan, “akan dibagikan ke panti asuhan dan keluarga korban yang pernah dirugikan olehnya. Anggap itu sebagai permintaan maaf terakhirnya.”
“Baik… Tuan,” jawab mereka dengan kepala tertunduk.
“Tuan Fung…” gumam beberapa dari mereka, masih tak percaya dengan apa yang terjadi.
Nathan memalingkan wajahnya sedikit. “James Fung… mati begitu saja terlalu mudah untukmu,” batinnya. “Aku akan membuat namamu membusuk di dunia ini… bersama semua kejahatanmu… dan putramu.”
Malam hari.
Ombak laut menghantam bebatuan dengan keras. Angin berhembus kencang, membawa hawa dingin yang menusuk.
Nathan berdiri di atas bebatuan, menghadap laut lepas.
Beberapa anak buahnya berdiri jauh di belakang, menjaga jarak.
Tatapannya kosong… namun dalam.
“Calista… di mana pun kau berada, aku akan menemukanmu,” batin Nathan. “Urusan kita belum selesai. Aku tahu kau masih hidup… masih banyak hal yang belum sempat aku katakan padamu.”
Angin meniup jasnya.
“Pelakunya sudah mati,” lanjutnya dalam hati. “Aku tahu kau memilih jalan ini demi melindungi posisiku. Walau dia mantan ketua… aku tetap akan membalasnya dengan caraku sendiri.”
Nathan menutup matanya sejenak.
Di tengah gelapnya malam—
Hanya satu hal yang tersisa dalam dirinya.
Keyakinan.
Bahwa Calista… masih hidup.
***
Di sisi lain, sebuah rumah sakit.
Seorang dokter muda berdiri di samping ranjang pasien, memeriksa kondisi seorang gadis yang terbaring lemah dengan selang infus terpasang.
“Dokter Chu, pasien ini sudah koma cukup lama. Sampai sekarang belum ada laporan orang hilang yang cocok?” tanya suster dengan nada khawatir.
Dokter Chu menggeleng pelan.
“Mungkin dia tidak punya keluarga… atau belum ada yang mencarinya,” jawabnya. “Kepalanya terbentur cukup keras hingga menyebabkan cedera otak. Bisa selamat saja sudah merupakan keberuntungan.”
Ia menatap wajah pucat gadis itu. “Aku yakin… dia akan sadar.”
Suster menghela napas pelan.
“Tanpa identitas, akan sulit menemukan keluarganya. Sepertinya dia mengalami sesuatu yang sangat menyedihkan,” ucapnya lirih.
Dokter Chu menatap pasien itu dengan serius.
“Siapa pun dia… kita harus menyelamatkannya,” katanya tegas. “Itu tanggung jawab kita.”
Beberapa saat kemudian, mereka pun keluar dari ruangan.
Menyisakan keheningan.
Gadis itu terbaring tanpa bergerak.
Wajahnya pucat, namun masih menyimpan sisa keindahan.
Dia adalah Calista Li.
Wanita yang dicari oleh Nathan Han.
***
Di tempat lain—
Nathan masih terus mencari keberadaannya.
Di saat yang sama, pemakaman besar sedang dipersiapkan.
Dua peti mati berjajar.
James Fung dan Jims Fung.
Kematian mereka mengguncang banyak pihak.
Namun tidak ada yang tahu—
Semua itu adalah bagian dari rencana Nathan.
Dan di balik semua yang telah terjadi…
Takdir mereka belum benar-benar berakhir
dan semoga tidak menjadi korban lagi sebab musuh Nathan banyak
trus yang nolong Calista kerumah sakit itu siapa??
ckckck
apakah Calista korban juga dari james
btw apakah jims pelaku utama kekerasan terhadap Calista???
wah Nathan main halus ini
yang pertama ditemukan nelayan masih hidup
terus yang ditemukan polisi Calista Li
Apa identitas tertukar???