“Nek,” protes Ryuhan. “Aku ini CEO muda. Masa harus nikah sama seorang dukun?”
Seroja adalah gadis muda yang berprofesi sebagai dukun beranak dan terapis saraf. Hidupnya berubah saat suami dari masa kecilnya, Ryuhan Kai Zander, CEO muda dari keluarga konglomerat datang menjemput.
Seroja harus menerima kenyataan, bahwa Ryu sudah memiliki pujaan hati. Clara.
Sebuah kecelakaan membuat Ryu lumpuh dan impoten. Kenyataan itu menghancurkan harga diri Ryu. Apalagi saat Clara memutus hubungan setelah kecelakaan itu.
Saat Ryu mulai menerima Seroja, muncul seorang pria yang diam-diam menyukai dan menghargai Seroja.
Akankah Seroja tetap bertahan di sisi suaminya… atau memilih pergi bersama pria yang benar-benar menginginkannya?
Dan apakah Ryu akan melepaskannya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nana 17 Oktober, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Seroja Ayuningrum
Mobil terus melaju di jalanan desa yang berlubang. Mungkin bisa dijadikan kolam ikan kecil karena cukup lebar.
Di dalam mobil, tak ada percakapan yang terdengar. Ryu diam, tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Seroja pun tidak bicara apapun. Entah karena canggung atau memang tak tahu bagaimana harus memulai percakapan.
Sesekali lengan mereka bersenggolan karena jalan yang tidak rata.
Tiba-tiba --
"Kuku--"
"Hus! Diam!"
"Petok! Petok! Petok! Petok!"
Ayam yang hampir berkokok itu terkejut karena dibentak Jordi.
"Diam!" hardik Jordi, seolah ayam itu mengerti perkataannya. "Aku sudah cari seribu satu alasan buat bawa kamu ke kota. Jangan berisik. Apa kamu mau jadi ayam goreng?"
"Kok... kok... kok... kok..."
Seroja memalingkan wajahnya menahan tawa.
Ryu kembali memijat pelipisnya. "Jordi, mending lepas aja ayam itu," ujarnya kesal. "Kamu tambah aneh tahu. Bicara sendiri sama ayam. Lama-lama kamu jadi kayak Imah."
"Bos." Jordi melirik kaca spion sekilas. "Bos boleh potong gajiku. Boleh tiadakan bonusku. Bahkan gak gajian bulan ini juga gak apa-apa. Asal ayam ini sampai ke tangan bapakku."
"Kamu sampai segitunya sama ayam itu?" tanya Ryu tak percaya.
Jordi tersenyum tipis. "Bos nggak tahu betapa bagusnya ayam ini."
Jordi menepuk kepala ayam itu pelan. "Lihat bulunya yang merah cerah mengilap, ekornya yang rapi dan panjang. Dadanya bidang, leher tegak, kelihatan banget percaya diri. Ayam ini juga responsif, suara kokoknya panjang, lantang, ritmenya juga enak didengar. Kalau ibarat orang, dia ini pria yang gagah dan tampan, Bos."
Ryu mendengus pelan. "Tambah ngaco. Ayam diibaratkan orang."
Seroja hanya mengulum senyum.
Jordi memutar setir, berbelok di persimpangan. "Bahkan ayam ini sama sekali nggak kelihatan stres dibawa dalam perjalanan seperti sekarang," lanjutnya. "Sudah pasti ayam yang bagus."
"Belum tentu," sahut Ryu enteng. "Siapa tahu sampai rumah nanti sekarat."
"Bos, please! Jangan doain yang jelek-jelek," pinta Jordi. "Kalau aku kasih ayam ini, bapakku bakal meluk aku saking senengnya."
Jordi tertawa pendek tanpa humor. "Beliau bakal senyum bangga saat pamer ayam ini ke teman-temannya. Lebih bangga daripada temennya tahu aku beliin motor baru buat adikku."
Ryu mengangkat satu alisnya. "Lalu kenapa kamu kasih ke bapakmu kalau dia bakal lebih banggain ayam itu daripada kamu?"
"Tentu saja aku merasa bahagia saat lihat bapak seneng, Bos." Bibir Jordi melengkung samar. "Beliau telah bekerja banting tulang hingga aku bisa seperti sekarang."
Jordi menggenggam stir lebih kuat dari seharusnya. "Aku gak bisa membalas setiap tetes peluhnya yang jatuh karena aku. Bisa membuatnya tertawa adalah kebahagiaan terbesarku."
Ryu terdiam. Garis wajahnya menegang samar. Ia bahkan belum sempat membahagiakan kedua orang tuanya. Karena mereka lebih dulu dipanggil-Nya.
"Aduh, kayaknya salah ngomong," batin Jordi saat menyadari perubahan suasana dan ekspresi majikannya. Ia tahu segala hal tentang Ryu. Otaknya diputar cepat. Lalu--
"Yang punya ayam ini benar-benar menganggap Nyonya penting. Kalau gak, dia gak bakal ngasih ayam sebagus ini."
Jordi melirik Seroja. "Nyonya, siapa yang ngasih ayam ini?"
"Ayam itu milik Pak Karto," jawab Seroja. "Sudah ditawar sampai sejuta gak dikasih. Karena ayam itu adalah kesayangannya."
Seroja menatap ayam itu. Bibirnya bergerak samar mengingat hal yang berhubungan dengan pemiliknya.
"Istrinya kena diabetes dan darah tinggi saat hamil," lanjut Seroja. "Bayinya sungsang. Kalau melahirkan normal susah. Kalau operasi risikonya juga tinggi."
Ryu diam-diam memerhatikan ekspresi wajahnya.
"Aku berhasil membantu istrinya melahirkan dengan selamat tanpa operasi. Mungkin karena itu beliau memberikan ayam ini." Bibir Seroja melengkung tipis. "Padahal saat buntu pun gak mau menjualnya."
"Wah, hebat," puji Jordi. "Nyonya bisa bantu persalinan sesulit itu."
"Tidak juga," sahut Seroja. "Kalau pasiennya mengalami pendarahan, aku gak bisa bantu melahirkan."
Seroja tersenyum pahit, mengingat seorang ibu hamil yang terpaksa ia kirim ke rumah sakit. Karena ibu itu mengalami pendarahan hebat. Ia terjatuh saat hendak dibawa ke rumahnya menggunakan sepeda motor.
Ryu melihatnya. Alis gadis itu sedikit turun dan sorot matanya menjadi redup.
"Dia sedih karena tidak bisa menolong orang lain?" batin Ryu.
Kabin mobil kembali hening.
Jordi pun ikut diam setelah melihat ekspresi Seroja dari kaca spion.
Sedangkan Ryu?
"Sekarang aku mengerti, kenapa seluruh desa begitu menyayanginya," batinnya.
Dari ceritanya, Seroja tidak hanya pandai mengobati, tapi juga ikut merasa sakit saat gagal menyelamatkan orang lain.
"Aneh," pikir Ryu. "Kenapa dadaku terasa sesak karena melihat dia seperti ini?"
Jordi merasa risih dengan suasana hening yang muram seperti ini. Ia memutar otak cepat mencari bahan obrolan karena majikannya tidak bisa diandalkan.
"Nyonya," panggilnya memecah keheningan. "Si Imah itu kanapa bisa stress?"
Berhasil!
Jordi melihat senyum samar di bibir Seroja. Gadis itu teringat bagaimana kepanikan Jordi dan Ryu karena dikejar Imah tadi.
"Dulu Mbak Imah itu pekerja keras," kata Seroja. "Dia punya pacar dari desa sebelah. Lumayan tampan dan Mbak Imah sangat mencintainya."
Seroja menatap ke depan. Mobil mulai keluar dari jalanan desa menuju jalan raya.
"Mbak Imah rela kerja banting tulang untuk membantu biaya kuliahnya. Hingga suatu hari ia mendengar pacarnya pulang kampung setelah lulus kuliah."
Ryu diam mendengarkan. Wajahnya datar, menyembunyikan rasa penasarannya tentang Imah.
"Tapi sayang..." lanjut Seroja. "dia malah memergoki pacarnya..." Seroja tampak ragu dan canggung.
"Pacarnya kenapa, Nyonya?" tanya Jordi tak sabar.
"Itu..." Seroja melirik Ryu sekilas. Pipinya sedikit merona. "Anu-anu di semak-semak sama gadis lain," ujar Seroja cepat sambil memalingkan wajahnya.
Ryu ikut memalingkan wajahnya. Jordi menahan senyum.
"Pantesan," gumam Jordi.
Lalu suara itu kembali terngiang di kepala Jordi.
"Mamas ganteng, bikin anak di semak-semak yuk. Pasti enak."
"Mamas ganteng, peluk Imah..."
"Ayo kita bikin anak di semak belukar. Pasti seru deh."
Jordi bergidik. "Lalu kenapa dia begitu peduli dengan kucingnya?" tanyanya masih penasaran.
Seroja tertawa kecil. "Dia gak suka kalau kucingnya beranak, karena kasihan pas lihatnya lahiran."
Jordi geleng-geleng kepala. "Ada-ada saja."
"Jangan panggil aku nyonya," ujar Seroja. "Panggil nama aja."
"Mana bisa begitu," sahut Jordi. "Itu gak sopan."
"Tahu diri juga," gumam Ryu.
"Bos, jangan buka mulut kalau kata-katamu pedas macam cabai setan," sungut Jordi.
Ia sudah berusaha menghidupkan suasana di mobil, tapi malah mendapatkan perkataan yang tak mengenakkan.
Seroja menahan senyum.
"Ngomong-ngomong... nama panjang Nyonya apa ya?" tanya Jordi. "Bos pasti gak tahu 'kan?" cibir Jordi. Kali ini ia balas dendam.
Ryu hanya memasang wajah datar.
"Namaku Seroja Ayuningrum," jawab Seroja.
"Nama yang bagus," kata Jordi. "Ngomong-ngomong, apa kalian akan mengulang akad?"
Pertanyaan sederhana itu membuat suasana di dalam mobil tiba-tiba sunyi.
Ryu dan Seroja sama-sama terdiam.
Jordi melirik mereka dari kaca spion dengan rasa penasaran yang terang-terangan.
Ryu menoleh pelan ke arah Seroja. Tatapan mereka bertemu sepersekian detik.
Namun itu sudah cukup membuat jantung Seroja berdetak lebih cepat.
...🔸🔸🔸...
...“Kadang seseorang dicintai bukan karena sempurna, tapi karena hatinya ikut terluka saat melihat orang lain menderita.”...
...“Yang paling tulus sering kali bukan orang yang selalu berhasil menolong, tapi orang yang tetap merasa sedih saat gagal menyelamatkan.”...
...“Perjalanan paling jauh bukan dari desa ke kota, tapi dari asing menjadi saling peduli.”...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
Hampir mirip kisahnya, istri yang disembunyikan tapi bikin penasaran suami dengan segala tindakannya
Apakah Seroja masih ponakan Vexia ya 🤭😃
Seroja mau lanjut kuliah, Nenek senang mendengarnya - antusias mendukung Seroja kuliah lagi.
Ryu menawari Seroja pakai mobilnya, disuruh pilih yang Seroja suka. Setelah bertanya Seroja apa bisa bawa mobil.
Seroja malah pilih naik motor. Padahal motor Ryu motor sport wkwkwk.
Ryu mendengar Seroja mau pakai motor sport miliknya sampai hampir tersedak buburnya.
Yang ngajarin Seroja naik motor sport Tony. Nah lho - Ryu cemburu tuh 😄
lanjut kak nana... 💪🙏
Lucu juga nih Seroja. Meraba tubuh Ryu dari atas ke bawah - yang dikira gulingnya dan mengendus aromanya pula 😄.
Kebayang bagaimana Ryu menegang ketika diraba tubuhnya dan diendus Seroja wkwkwk.
Ryu turun ranjang menuju kamar mandi, repot menjinakkan ularnya yang menegang tuh.
Kebiasaan Ryu tidur bertelanjang dada. Seroja tertegun sejenak melihatnya. Jantungnya mulai tak karuan.
Dalam hati dua insan yang sudah sah sebagai pasabgan suami istri berbeda.
Dalam hati Seroja - apa Ryu bakal minta haknya sebagai suami.
Dalam hati Ryu yang ditanya kenapa tidak pakai baju - apa tubuhku gak bagus. Kenapa dia tidak terpesona sama sekali.
Perbincangan mengalir - mereka mulai tidur.
Semangat Kak Nana.. Up Bab Baru-nya ya Kak 🙏🙏🙏
Bagus Seroja... Lanjutkan lah lagi kuliahmu itu! Sayang loh, kslau nggk di lanjutkan!:😂😂😂