Aruna (25tahun) adalah wanita karir sukses, cantik, dan mandiri yang hidupnya terusik oleh teror "kapan nikah" dari orang tuanya. Lelah dengan tekanan tersebut, Aruna memutuskan melepas penat di sebuah kelab malam bersama sepupu-sepupunya. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol, ia terlibat cinta satu malam (one night stand) dengan seorang pria tampan nan karismatik. Betapa terkejutnya Aruna saat terbangun di apartemen dan mendapati pria tersebut adalah teman akrab sepupunya sendiri. Syoknya bertambah berkali-kali lipat saat mengetahui fakta baru: pria itu ternyata seorang berondong yang usianya jauh di bawah Aruna. Hubungan tak terduga ini mendadak rumit ketika si pria enggan menjauh dan justru menawarkan solusi gila untuk menghadapi orang tua Aruna.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NoorBee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
31. Gw Sterling Narendra
Tawa kemenangan Gavin yang menggelegar mendadak terputus di tengah jalan. Begitu Evan menyemburkan sisa potongan mangga yang super kecut itu kembali ke piring, aroma gabungan dari bumbu kacang yang pedas menyengat dan uap asam murni mangga mentah itu mendadak menguar hebat di udara kabin ruang tengah hotel.
Wajah segar Gavin sehabis makan rujak tadi instan berubah menjadi putih pucat kembali. Gavin membeku di atas sofa, tangan kanannya yang sehat bergerak refleks membekap mulutnya sendiri dengan sangat rapat. Lambungnya yang sensitif akibat sindrom ngidam simpatik mendadak bergejolak hebat, merespons rasa mual yang naik lagi ke tenggorokan setelah melihat kerusuhan Evan.
"Gavin?" Aruna yang berada paling dekat langsung menyadari perubahan ekspresi suaminya. Senyum gelinya lenyap seketika, digantikan oleh kepanikan yang kembali aktif.
"Gavin, kamu mau muntah lagi?!"Gavin tidak bisa menjawab. Ia hanya mengangguk panik dengan mata melotot, lalu melompat dari sofa dengan kecepatan yang tidak kalah kilat dari saat ia menyergap musuh di pelabuhan.
Tubuh tingginya melesat melewati Ethan dan Evan, berlari kencang menuju kamar mandi utama.
Gubrak!
Pintu kamar mandi ditutup, disusul suara Gavin yang langsung memeluk wastafel dan memuntahkan seluruh isi perutnya dengan sangat hebat.
“Hueee-kkk!”
"Astaga, Gavin!" Aruna langsung bangkit berdiri, mengabaikan piyama sutranya dan ikut berlari kencang menyusul suaminya ke kamar mandi. Ia mendorong pintu, langsung berlutut di samping Gavin yang tubuh atletisnya sudah bergetar hebat menahan mual ekstrem malam kedua.
"Tuh kan! Apa saya bilang! Jangan kebanyakan ketawa dulu tadi!"
Aruna dengan telaten memijat tengkuk leher Gavin yang dipenuhi keringat dingin, tangan kirinya meraih tisu untuk menyeka bibir suaminya yang pucat pasi.
" Napas dulu pelan-pelan."Melihat pimpinan muda bawah tanah mereka yang biasanya garang kini kembali tak berkutik memeluk wastafel hotel, rombongan pengganggu di ruang tengah seketika bungkam.
Tawa Evan yang masih tersedak es batu langsung terhenti. Ethan segera menepuk bahu Evan dan Ray, memberikan kode tegas
."Yuk, yuk, kita pamit pulang sekarang. Jangan bikin rusuh lagi di sini," bisik Ethan dengan suara rendah namun penuh wibawa
"Hormon ngidam simpatik adik lo beneran lagi sensitif banget, Bi. Biarin Aruna ngerawat Gavin dulu sampai tenang." Evan yang masih megap-megap akibat kepedasan hanya bisa mengangguk pasrah sembari mengacungkan jempol setuju.
Rombongan itu pun segera melangkah mundur, berbisik pamit kepada Aruna dari ambang pintu kamar mandi, lalu melesat keluar meninggalkan suite hotel dengan langkah tergesa-gesa agar tidak mengganggu lebih jauh.
Begitu mereka sampai di lobi utama hotel yang sejuk dan mewah, Nareswari menghentikan langkah kakinya tepat di dekat air mancur marmer. Ia menoleh ke arah Ethan, lalu beralih menatap kakaknya, Narendra, yang wajahnya masih kaku, serta Bianca yang sejak tadi terus berjalan anggun di sebelah kakaknya.
"Aduh, tontonan gratis tadi bikin perut gue mendadak lapar banget," celetuk Nareswari sembari memegangi perutnya yang ramping, lalu melempar senyum penuh arti ke arah Ethan.
"Ethan, mumpung jam makan siang, gimana kalau kita berempat makan siang bareng di restoran Jepang seberang jalan? Kak Evan sama Ray katanya tadi mau langsung balik ke arena Balap."
Ethan langsung menangkap sinyal konspirasi makcomblang dari kekasihnya itu. Ia merangkul bahu Narendra dengan akrab.
"Setuju banget, sayang!."Narendra mengernyitkan dahi perfeksionisnya, bersiap menolak.
"Maaf, res, than. Gw harus kembali ke...."
" Nggak ada penolakan yah, Narendra," potong Bianca cepat dengan gaya mafianya, melangkah maju hingga berdiri tepat di depan pria itu sembari melipat tangan di dada. Matanya berkilat penuh tekad pendekatan yang kuat.
"Gue udah ikutin aturan lo buat nggak pakai barikade pengawal di apartemen lo tadi pagi. Sekarang, lo ikuti aturan gue buat nemenin gue makan siang. Anggap ini kesepakatan bisnis awal kita."
Narendra mengembuskan napas panjang yang pasrah, menyadari bahwa kabur dari singa betina Sterling di siang bolong seperti ini adalah hal yang mustahil.
"Baiklah. Hanya makan siang."
Sesampainya di restoran Jepang eksklusif dengan konsep bilik privat, Nareswari dan Ethan dengan sengaja mengambil posisi duduk berdampingan di satu sisi meja, memaksa Narendra dan Bianca untuk duduk berhadapan secara langsung.
Suasana bilik yang tenang dengan pendar lampu bambu hangat menciptakan atmosfer yang sangat intim. Begitu pelayan selesai menyajikan sushi matanh dan tidak berbahan ikan lalu sashimi segar, Bianca langsung memulai aksi pendekatan agresif berkelasnya.Ia tidak menggunakan taktik kode-kodean manja khas wanita biasa. Bianca menopang dagunya dengan tangan kanan, menatap lurus ke dalam sepasang mata elang Narendra dengan pandangan yang sangat intens dan mengunci.
" Ren, lo tahu nggak kenapa gue maksa lo ikut hari ini?" tanya Bianca, suaranya bariton rendah namun terdengar sangat berani dan menggoda.
Narendra yang baru saja hendak mencelupkan sushi-nya ke mangkuk shoyu, menghentikan gerakannya sesaat. Ia mendongak, memasang wajah datarnya yang kaku.
"Saya rasa karena Anda senang memaksa orang lain, Nona Bianca."
Mendengar jawaban ketus Narendra, Nareswari dan Ethan di sebelah mereka kompak menahan tawa, pura-pura sibuk mengunyah wasabi.Bianca justru terkekeh renyah, sama sekali tidak tersinggung.
"Salah. Gue maksa lo karena gue tipe wanita yang kalau udah nemu investasi jangka panjang yang bagus, bakal gue kejar sampai dapet. Dan lo, Narendra Mahesa... ketenangan dan keteraturan hidup lo itu sukses bikin gue penasaran setengah mati."
Bianca mengambil sepotong salmon sashimi dengan sumpitnya, lalu dengan gerakan yang sangat anggun meletakkannya langsung di atas piring kecil Narendra.
"Nares , cerita banyak ke gue soal kriteria wanita idaman lo." membuat naren menatap tajam kembarannya, nares langsung menunduk dan membuang mukanya
" Katanya, lo risih sama cewek manja, dan lo lebih tertarik sama wanita yang tegas dan berani menantang lo. Well... lo bisa liat sendiri kan sekarang? Gue punya semua kriteria berbahaya yang lo cari itu."
Narendra menatap potongan sashimi pemberian Bianca, lalu perlahan menatap kembali wajah cantik nan angkuh putri mafia di hadapannya.
Untuk pertama kalinya, benteng pertahanan es di mata elang Narendra tampak sedikit goyah akibat gertakan pendekatan yang langsung dan tanpa ragu dari Bianca
"Anda terlalu percaya diri, Nona Bianca," sahut Narendra pelan, suaranya terdengar lebih dalam, mencoba menyembunyikan debaran jantungnya yang kian berpacu liar akibat pesona dominan Bianca sore itu.
"Gue Sterling, Narendra. Melihat hubungan Keluarga Mahesa, Erros dan Sterling, lo pasti tau sisi lain dari Caspian sterling. Wujud asli kami."
Naren tetap tenang karena memang dia mengetahui sisi gelap Dominic dan keluarganya seperti Ethan dan Evan. Mahesa grup sendiri perusaahan raksasa yang erat hubungannya dengan finansial serta memiliki beberapa sektor pelabuhan, rekreasi, perhotelan, dan lainnya. Mahesa Grup sendiri sudah beberapa kali bekerja sama dengan Dominic lewat CPG bahkan klan Sterling.
"Percaya diri dan memegang kendali adalah bagian dari nama belakang gue," bisik Bianca manis dengan senyum miring kemenangan andalannya, menyadari bahwa es di hati sang pria perfeksionis kini perlahan tapi pasti mulai memercikkan retakan pertamanya hari ini.
***
gw gak nyangka nares secantik itu 😍
Btw, Diandra siapa yah kira kira 🤭
Semngat thor, menarik banget alurnya😍