NovelToon NovelToon
Silent Crack

Silent Crack

Status: tamat
Genre:Selingkuh / Obsesi / Beda Usia / Romantis / Tamat
Popularitas:3.5k
Nilai: 5
Nama Author: Penulismalam4

Romance psychological, domestic tension, obsessive love, slow-burn gelap

Lauren Hermasyah hidup dalam pernikahan yang perlahan kehilangan hangatnya. Suaminya semakin jauh, hingga sebuah sore mengungkapkan kebenaran yang mematahkan hatinya: ia telah digantikan oleh wanita lain.

Di saat Lauren goyah, Asher—tetangganya yang jauh lebih muda—selalu muncul. Terlalu tepat. Terlalu sering. Terlalu memperhatikan. Apa yang awalnya tampak seperti kepedulian berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap, lebih intens, lebih sulit dihindari.

Ketika rumah tangga Lauren runtuh, Asher menolak pergi.
Dan Lauren harus memilih: bertahan dalam kebohongan, atau menghadapi perhatian seseorang yang melihat semua retakan… dan ingin mengisinya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Penulismalam4, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

31_Pertemuan dengan CEO

Pagi belum sepenuhnya ramai ketika Lauren membuka pintu rumahnya.

Udara masih dingin, sisa embun menempel di dedaunan kecil di halaman. Lauren melangkah keluar dengan langkah terukur, tubuhnya sudah rapi dan siap menghadapi hari. Celana kain panjang berwarna gelap membingkai kakinya dengan tegas, kemeja biru berpotongan v-neck membalut tubuhnya sederhana namun elegan, dan heels hitam menambah bunyi pelan setiap kali ia berjalan.

Ia menutup pintu rumahnya perlahan.

Dan di saat yang hampir bersamaan, pintu rumah seberang terbuka.

Asher keluar.

Pemuda itu tampak lebih pucat dari biasanya. Kulitnya kehilangan warna, rahangnya sedikit mengeras seolah ia sedang menahan sesuatu. Rambutnya masih sedikit lembap, jaket tipis menempel di tubuhnya, ransel kampus tersampir di satu bahu.

Langkah mereka berhenti hampir bersamaan.

Untuk sepersekian detik, dunia seperti menahan napas.

Asher menoleh lebih dulu.

Matanya langsung tertuju pada Lauren—bukan pada wajahnya saja, tapi keseluruhan dirinya. Cara Lauren berdiri. Cara pakaian itu melekat rapi di tubuhnya. Cara ia terlihat… berbeda.

Bukan Lauren yang biasa ia lihat.

Bukan wanita dengan sweater rumah dan sandal tipis.

Bukan Lauren yang berdiri di dapur atau di teras dengan rambut terikat seadanya.

Ini Lauren yang asing.

Lauren menangkap tatapan itu. Ia tahu. Ia bisa merasakannya. Namun wajahnya tetap tenang, seperti pagi-pagi sebelumnya, seperti tidak ada apa pun yang perlu dibahas.

“Pagi,” ucapnya lebih dulu, suaranya datar tapi sopan.

Asher sedikit tersentak, lalu mengangguk kecil. “Pagi.”

Suara Asher terdengar lebih serak dari biasanya.

Matanya masih belum sepenuhnya berpaling. Ada sesuatu di wajahnya—kaget, mungkin. Atau kebingungan.

“Kamu… mau kerja?” tanyanya akhirnya, seolah pertanyaan itu lolos begitu saja sebelum sempat ia saring.

Lauren mengangguk ringan. “Iya.”

Jawaban singkat. Tidak ditambahkan apa pun.

Asher menelan ludah. “Aku kira… kamu di rumah terus.”

Lauren tersenyum tipis. Senyum yang tidak mengundang pertanyaan lanjutan. “Aku baru mulai lagi.”

“Mulai… lagi?” Asher mengulang pelan.

Lauren menoleh sekilas ke arah mobilnya, lalu kembali menatap Asher. “Aku bekerja di GREYFADE.”

Nama itu terdengar asing di telinga Asher, namun cara Lauren mengucapkannya tidak. Tidak ada keraguan. Tidak ada jeda. Seolah tempat itu adalah bagian dari dirinya yang lama tertidur dan kini kembali bernapas.

“Oh,” hanya itu yang keluar dari mulut Asher.

Ia tidak tahu harus bereaksi bagaimana. Ada bagian dalam dirinya yang merasa terlambat mengetahui hal itu—terlambat mengetahui banyak hal tentang wanita di depannya.

Lauren memperhatikan wajah Asher sekilas. Pucatnya belum hilang.

“Kamu masih belum sembuh,” ucapnya pelan, lebih sebagai pernyataan daripada pertanyaan.

Asher mengangkat bahu. “Aku baik-baik saja.”

Lauren tahu itu bohong. Tapi seperti pagi ini, seperti banyak hal lainnya, ia memilih tidak membongkarnya.

“Kuliah?” tanyanya singkat.

“Iya.”

“Hati-hati.”

Kalimat itu meluncur begitu saja dari bibir Lauren, refleks, tanpa beban. Namun Asher menangkapnya lebih dalam dari yang seharusnya.

“Kamu juga,” balasnya.

Lauren melangkah menuju mobilnya. Heels-nya kembali berbunyi pelan di jalanan yang masih sepi. Ia membuka pintu mobil, berhenti sejenak, lalu menoleh.

Asher masih berdiri di tempat yang sama.

Tidak menahan.

Tidak memanggil.

Tidak menanyakan apa pun tentang tadi pagi, tentang kemarin, tentang batas yang telah mereka lewati.

Lauren menutup pintu mobilnya.

Mesin menyala.

Saat mobil itu melaju meninggalkan halaman, Asher baru menyadari sesuatu—untuk pertama kalinya, ia melihat Lauren bukan sebagai tetangga, bukan sebagai wanita yang membutuhkan bantuannya.

Melainkan sebagai seseorang dengan dunia yang sama sekali tidak ia kenal.

Dan ciuman pagi ini entah kenapa, hal itu membuat dadanya terasa lebih sesak daripada demam semalam.

Pagi ini berbeda.

Bukan karena langit yang lebih cerah, atau udara yang terasa lebih ringan. Melainkan karena Lauren tahu, hari ini ia akan duduk berhadapan dengan seseorang yang selama ini hanya menjadi nama—bukan wajah.

Rapat dengan CEO.

Mobil Lauren memasuki area parkir gedung kantor dengan mulus. Gedung GREYLINE berdiri anggun seperti biasa—kaca tinggi, dinding abu-abu bersih, dan aura profesional yang dulu sangat ia kenal. Namun hari ini, langkah Lauren terasa lebih mantap daripada saat pertama kali ia kembali menjejakkan kaki di sini.

Ia bukan datang untuk membuktikan apa pun.

Ia datang karena memang seharusnya ia berada di sini.

Lauren turun dari mobil, heels hitamnya menyentuh lantai parkir dengan bunyi tegas. Ia melangkah masuk ke lobi, menyapa resepsionis dengan anggukan singkat. Beberapa kepala menoleh. Beberapa bisik-bisik tertahan. Nama Lauren Hermansyah masih punya gema di gedung ini—dan hari ini, gema itu terasa lebih jelas.

Lift membawanya naik ke lantai eksekutif.

Lantai ini lebih sunyi. Karpet tebal meredam langkah, dindingnya lebih bersih, dan udara di sini terasa… dingin. Profesional. Tanpa basa-basi.

Seorang asisten pria berdiri menunggunya di depan ruang rapat utama.

“Bu Lauren,” sapanya sopan. “Pak Arkan sudah menunggu.”

Lauren mengangguk. “Silakan.”

Pintu dibuka.

Ruang rapat itu luas, dengan meja panjang berwarna gelap dan jendela besar yang menghadap langsung ke kota. Cahaya pagi masuk tanpa ampun, menerangi setiap sudut ruangan.

Dan di ujung meja, berdiri seorang pria.

Arkan.

Lauren langsung mengerti mengapa namanya sering disebut. Arkan bukan hanya muda—ia punya aura yang membuat ruangan seolah mengikuti ritmenya. Jasnya sederhana, potongannya rapi. Rambutnya tersisir tanpa berlebihan. Tatapannya tajam, namun tidak sombong.

Ia tersenyum ketika melihat Lauren.

“Bu Lauren Hermansyah,” ucapnya sambil mengulurkan tangan. “Akhirnya kita bertemu.”

Lauren menjabat tangan itu dengan mantap. Tidak gugup. Tidak berlebihan. “Pak Arkan.”

“Silakan duduk.”

Mereka duduk saling berhadapan. Tidak ada orang lain di ruangan itu. Tidak ada direksi. Tidak ada sekretaris. Hanya mereka berdua.

Arkan menyilangkan jarinya di atas meja. “Saya akan langsung ke inti. Pertemuan ini murni soal pekerjaan.”

Lauren mengangguk. “Itu yang disampaikan ke saya.”

“Saya sudah membaca laporan Anda sejak kembali,” lanjut Arkan. “Termasuk keputusan-keputusan yang… cukup membuat lantai pemasaran panas.”

Sudut bibir Lauren terangkat tipis. “Saya hanya memperbaiki apa yang perlu diperbaiki.”

“Dengan cara yang tidak semua orang berani lakukan.”

“Berani atau tidak,” Lauren menatapnya lurus, “hasil tetap yang utama.”

Hening sejenak.

Arkan tersenyum, kali ini lebih lebar. “Itu alasan kenapa saya ingin bertemu langsung.”

Ia berdiri, berjalan mendekati jendela, lalu berbicara sambil membelakangi Lauren. “GREYFADE sedang berada di fase penting. Kami berkembang cepat, tapi perkembangan tanpa kendali hanya akan jadi kekacauan.”

Ia menoleh kembali. “Dan jujur saja, Bu Lauren—kami butuh seseorang yang tidak takut membuat orang tidak nyaman.”

Lauren menyandarkan punggungnya sedikit. “Jika ini tentang konflik kemarin, saya siap mempertanggungjawabkan keputusan saya secara profesional.”

“Bukan,” Arkan menggeleng. “Justru sebaliknya. Saya ingin memastikan satu hal.”

Ia mendekat lagi, kini berdiri tepat di depan meja. “Anda tidak akan melunak hanya karena tekanan, relasi keluarga, atau politik internal. Benar?”

Lauren tidak menjawab langsung.

Ia teringat Nadira.

Terbayang Arga.

Terngiang semua tatapan yang mengira ia akan mundur.

“Saya tidak pernah melunak sejak awal,” ucapnya akhirnya. “Dan saya tidak berencana memulainya sekarang.”

Hening kembali mengisi ruangan.

Arkan tertawa kecil. “Jawaban yang saya harapkan.”

Ia kembali duduk. “Posisi Anda sebagai Ketua Pemasaran bukan simbol. Itu mandat. Saya ingin Anda memegang kendali penuh. Dan jika ada yang keberatan—mereka bisa datang langsung ke saya.”

Lauren mengangguk perlahan. “Saya hanya ingin satu hal, Pak.”

“Apa itu?”

“Selama ini pekerjaan saya tidak pernah bercampur urusan pribadi. Saya ingin itu tetap begitu.”

Tatapan Arkan menjadi lebih serius. “Saya menghargai itu. Dan saya jamin—di ruang ini, yang dinilai hanya kinerja.”

Lauren menghela napas pelan. Entah kenapa, baru sekarang ia benar-benar merasa… aman.

Pertemuan itu ditutup tanpa basa-basi berlebihan. Tidak ada janji manis. Tidak ada pujian kosong. Hanya kesepakatan profesional antara dua orang yang sama-sama tahu apa yang mereka inginkan.

Saat Lauren melangkah keluar dari ruang rapat, langkahnya terasa lebih ringan.

Namun di balik ketegasan itu, ada satu hal yang tidak ikut ia bawa keluar dari ruangan—

Bayangan mata seorang pemuda pucat di pagi hari.

Dan pertanyaan yang sengaja ia abaikan.

Untuk sekarang, Lauren memilih fokus pada satu dunia saja.

Dunia yang tidak mengizinkannya rapuh.

__

Arkan mengenal nama Lauren Hermansyah jauh sebelum mengenal wajahnya.

Setahun setelah ia resmi menjabat sebagai CEO GREYFADE, nama itu masih muncul—berulang, konsisten, dan selalu dengan nada yang sama: kagum, hormat, sekaligus hati-hati.

“Kalau Lauren masih di sini, masalah ini tidak akan berlarut.”

“Pendekatan ini dulu idenya Lauren.”

“Standar kerja dulu setinggi ini karena Lauren.”

Setiap rapat strategis, setiap evaluasi besar, nama itu selalu disebut. Tidak pernah dengan embel-embel berlebihan, tidak juga dengan nostalgia kosong. Nama itu disebut sebagai tolok ukur.

Bahkan oleh kakeknya sendiri.

Arkan masih ingat jelas satu rapat tertutup bersama pimpinan lama perusahaan—kakeknya duduk di kursi utama, tongkat kayu bersandar di samping meja.

“Perusahaan ini pernah punya satu orang yang tidak bisa kau beli, tidak bisa kau tekan, dan tidak bisa kau tundukkan dengan jabatan,” ucap sang kakek kala itu. “Namanya Lauren Hermansyah.”

Arkan, yang saat itu masih menjadi direktur operasional, hanya mengangguk sopan. Dalam hatinya, ia mengira itu hanya cerita masa lalu yang dibesarkan oleh waktu.

Legenda kantor.

Semua perusahaan punya satu.

Namun rasa penasaran itu tumbuh diam-diam.

Arkan mulai membaca arsip lama. Laporan lima tahun terakhir sebelum Lauren mengundurkan diri. Grafik yang menanjak stabil. Kampanye yang tidak sekadar cantik, tapi tepat sasaran. Keputusan-keputusan yang keras, bahkan berani menabrak ego atasan.

Ia membaca catatan evaluasi internal.

Lauren Hermansyah—tegas, tidak kompromi pada kualitas. Sulit ditekan. Tidak bermain politik. Loyal pada pekerjaan, bukan pada individu.

Arkan mendengar cerita dari orang-orang lama.

Tentang bagaimana Lauren pernah memotong anggaran proyek yang disetujui direksi karena dianggap tidak relevan.

Tentang bagaimana ia menolak tanda tangan atasan yang hanya ingin nama tanpa kerja.

Tentang bagaimana ia, yang saat itu hanya Ketua Tim Perancang, berani berdiri di ruang rapat dan berkata, “Jika Bapak ingin hasil biasa, silakan cari orang lain.”

Dan anehnya—perusahaan justru berkembang pesat setelah itu.

Tetap saja, Arkan mengira semuanya dilebih-lebihkan.

Sampai Lauren kembali.

Hari itu, laporan masuk ke mejanya sebelum kabar itu menyebar ke seluruh lantai.

Ketua Pemasaran baru telah menolak rancangan tim perancang. Terjadi konfrontasi dengan Manajer Umum.

Arkan membaca detailnya perlahan.

Tidak ada makian.

Tidak ada drama emosional.

Hanya keputusan profesional—dan penolakan untuk tunduk pada relasi keluarga.

Ia menghela napas kecil, nyaris tersenyum.

Jadi ini dia, pikirnya.

Bukan sosok yang berisik.

Bukan pencari panggung.

Melainkan seseorang yang berdiri tenang… dan membuat orang lain goyah.

Arkan akhirnya mengerti kenapa nama Lauren terus disebut. Kenapa kakeknya selalu mengangkatnya sebagai standar. Dan kenapa, bahkan setelah lima tahun pergi, bayangannya masih ada di setiap sudut GREYFADE.

Ketertarikannya bukan soal ketertarikan personal.

Belum.

Ini adalah rasa ingin tahu seorang pemimpin—terhadap seseorang yang tidak bisa dikendalikan, namun justru membuat segalanya berjalan.

Dan ketika Arkan akhirnya duduk berhadapan langsung dengan Lauren di ruang rapat pagi itu, satu hal menjadi jelas baginya:

Tidak ada yang melebih-lebihkan.

Jika ada, mungkin justru sebaliknya.

Lauren Hermansyah jauh lebih berbahaya—dan jauh lebih menarik—daripada cerita yang pernah ia dengar.

1
july
kata- katanya indah banget👍
kalea rizuky
lanjut donk. g sabar liat Arga nangis darah
kalea rizuky
karma buat jalang dan Arga mana nih
kalea rizuky
nah gini donk tegas
Lili Inggrid
lanjut
Rynda Atmeilya
bahasamu Thor 😍😍
Agus Tina
Thor kenapa itu ada tulisan end? belum kan?
Agus Tina
Good job Lauren
Agus Tina
Kenapa Aega belum disinggung thor, menyesalkah ia?
Agus Tina
Baguus ....
Agus Tina
Bagus ... suka karakter kuat seperti Lauren
Mao Sama
Apa aku yang nggak terbiasa baca deskripsi panjang ya?🤭. Bagus ini. Cuman—pembaca novel aksi macam aku nggak bisa terlalu menghayati keindahan diksimu.

Anyway, semangat Kak.👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!