My bad story
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NonaLebah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 2
"Eh, Mbak Karmel. Kenapa, Mbak?" ujar Fano terbata, kaget melihat Karmel yang biasanya sudah pulang pada jam segini.
"Eh! Kenapa, Mbak?!" protesnya panik, suaranya bergetar.
"Mana bos lo?" tanya Karmel, suaranya datar dan menusuk seperti belati es.
"Udah balik, Mbak. Nih, saya mau anter tas dia yang ketinggalan," jawab Fano gugup, mencoba menjelaskan.
"MANA BOSS LO?!" bentak Karmel, suaranya memecah kesunyian ruangan mewah itu, membuat Fano terdiam membeku.
"Ini tunangan lo, kan?" tatapnya tajam.
Fano membeku, darahnya seolah berhenti mengalir. Matanya membelalak.
"Mau gue aduin kelakuan lo yang udah tidur sama banyak cewek di sini ke dia?" ancam Karmel, suaranya berbisik tapi mematikan. "Itung-itung gue nyelamatin dia dari cowok bejad kayak lo!"
"Jangan, Mbak!" sentak Fano, panik. Segala kesombongannya sebagai 'tangan kanan' Renzi pun luruh. Wajahnya pucat pasi.
Karmel tak menjawab. Dia hanya menatapnya dalam-dalam, memastikan ancamannya meresap sampai ke tulang sumsum Fano. Kemudian, dengan langkah tenang, dia meninggalkan ruangan itu, meninggalkan Fano yang gemetar dengan rahasia dan ketakutan.
---I
"Kamu tahu, Mira," ucap Renzi, suaranya sengaja dibuat rendah dan mendayu, "dari semua wanita yang aku kenal, hanya kamu yang bisa bikin aku merasa... Bahagia." Matanya, yang dingin dan penuh perhitungan, berhasil menyembunyikan kebohongannya di balik senyum memikat. Tangannya yang terpelihara dengan baik meraih tangan Mira, mengusap-usapnya dengan lembut.
"Serius, Mas? Aku aja merasa nggak cukup buat Mas Renzi yang sempurna begini."
"Jangan bilang begitu," bisik Renzi, mendekatkan wajahnya. "kamu sempurna buat aku."
"Mas, ini bagus banget!" seru Mira, napasnya tertahan.
"Mau aku pakaikan?" ujar Renzi, suaranya lembut seperti sutra, namun ada kilat kemenangan di matanya. Ini adalah ritualnya, cara cepat untuk memastikan Mira akan tetap berada di tempat tidurnya malam ini.
"Iya..." jawab Mira, hampir berbisis, matanya berkaca-kaca.
Tepat saat Renzi akan mengambil cincin itu, sebuah suara, dingin dan jernih, memotong suasana intim mereka.
"Selamat malam, Pak Renzi."
"Karmel..." Renzi terbata, namanya keluar seperti desahan.
Karmel tersenyum, sebuah senyum yang sampai ke mata tapi tidak menghangatkan suasana. "Maaf, Pak Renzi, mengganggu makan malamnya. Saya hanya mau menyerahkan surat pengunduran diri saya." Dia mengulurkan sebuah map coklat. "Sebelumnya saya sudah mengajukan resign di HRD sebulan lalu. Jadi, hari ini adalah hari terakhir saya bekerja dengan Anda."
"Ini siapa, Mas?" tanya Mira, suaranya cemburu dan bingung.
"Jangan bercanda, Mel!" serunya, suaranya sedikit lebih keras dari yang dia rencanakan, menarik perhatian tamu di meja sebelah.
"Nggak... Saya serius, Pak," balas Karmel tetap tenang, map itu masih terulur. "Terima kasih atas kesempatan yang Bapak berikan pada saya karena telah bersedia memberikan kesempatan untuk bergabung di perusahaan Bapak." Kalimatnya formal, sopan, namun setiap katanya terasa seperti sabetan cambuk. "Sampai bertemu lagi, Pak Renzi."
"Maksud saya," ucapnya dengan jelas, penuh penekanan, "Jangan sampai kita berjumpa lagi. Jangan!"
Kemudian, dia benar-benar pergi. Langkahnya tegas, meninggalkan Renzi yang terpaku, dikelilingi oleh kemewahan yang tiba-tiba terasa hampa. Mira yang cemburu, cincin yang tak berarti, dan map coklat yang berisi pengunduran diri Karmel adalah bukti kekalahannya yang paling telak. Di balik rasa puas yang membara, Karmel merasakan sebuah luka lama yang masih perih di hatinya, tapi dia tidak menoleh lagi.
lanjut Thor plissssss🙏🙏🙏