NovelToon NovelToon
Menyembunyikan Anakku Dari Mantan Suamiku

Menyembunyikan Anakku Dari Mantan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Lari Saat Hamil / Single Mom / Cerai / Janda / Duda / Cintapertama
Popularitas:22.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ara Nandini

Alina harus menerima kenyataan kalau dirinya kini sudah bercerai dengan suaminya di usia yang masih sama-sama muda, Revan. Selama menikah pria itu tidak pernah bersikap hangat ataupun mencintai Alina, karena di hatinya hanya ada Devi, sang kekasih.

Revan sangat muak dengan perjodohan yang dijalaninya sampai akhirnya memutuskan untuk menceraikan Alina.

Ternyata tak lama setelah bercerai. Alina hamil, saat dia dan ibunya ingin memberitahu Revan, Alina melihat pemandangan yang menyakitkan yang akhirnya memutuskan dia untuk pergi sejauh-jauhnya dari hidup pria itu.

Dan mereka akan bertemu nanti di perusahaan tempat Alina bekerja yang ternyata adalah direktur barunya itu mantan suaminya.

Alina bertemu dengan mantan suaminya dengan mereka yang sudah menjalin hubungan dengan pasangan mereka.

Tapi apakah Alina akan kembali dengan Revan demi putra tercinta? atau mereka tetap akan berpisah sampai akhir cerita?

Ikuti Kisahnya!!!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ara Nandini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32. Diejek Aeris

“Mama sama Papa lama banget sih jemputnya,” gerutu gadis kecil itu sambil memonyongkan bibir, tampak menggemaskan.

Sudah lebih dari sepuluh menit sejak TK bubar, tapi belum satu pun yang datang menjemputnya.

Matanya kemudian menangkap sosok seorang anak yang berdiri sendirian di depan pagar.

“Hei… kamu juga lagi nunggu jemputan?” tanyanya saat sudah berada tepat di belakang bocah itu.

Aeris menoleh dan mendapati Rania berdiri di sana. Seketika ia teringat pesan dari Mama-nya agar menjauhi gadis itu.

Aeris langsung berbalik dan berlari kecil menjauh.

“Eh! Kamu mau ke mana?” Rania ikut mengejar.

“Pergi! Jangan dekat-dekat!” seru Aeris cepat.

“Kenapa sih? Katanya kamu nggak punya teman, kan? Rania mau kok jadi teman kamu,” ujarnya polos.

“Tapi aku nggak mau temenan sama anak cadel!” balas Aeris sambil terus berlari. Kini mereka sudah memasuki lorong TK.

“Aku nggak cadel! Kata Mama, nanti kalau aku udah besar aku bisa ngomong huruf L,” Rania berusaha menjelaskan sambil terengah.

Bugh!

“Huwaaa!!!”

Rania terjatuh dan langsung menangis kencang.

Aeris spontan berhenti dan menoleh ke belakang.

“Aduh… gimana ini…,” gumamnya panik.

Bu Aisya segera keluar dari kantor begitu melihat Rania jatuh, lalu berlari menghampiri.

“Kenapa, sayang?” tanyanya lembut sambil membantu Rania berdiri.

“Jatuh… Bu gulu…” jawab Rania tersendat di sela tangisnya.

“Kenapa tadi lari-larian? Harusnya Rania nunggu di kantor aja,” kata Bu Aisya.

“Tadi Mama kamu nelpon. Katanya yang jemput bukan Mama atau Papa, tapi abangmu.”

Rania mengangguk pelan. Pandangannya mengarah ke depan, namun sosok Aeris sudah tak terlihat lagi.

“Bu gulu… namanya siapa ya… mulid balu…,” ucapnya lirih, masih terisak.

“Katanya… dia nggak punya teman. Rania kasihan, Bu gulu… tapi dia juga ejek Rania… bilang cadel…,” lanjutnya dengan suara sedih.

Bu Aisya mengusap lembut kepala gadis kecil itu.

“Namanya—”

“Rania!!”

Mereka berdua menoleh bersamaan. Tampak Revan dan Devi berlari ke arah mereka.

Aeris yang sejak tadi mengintip dari balik pintu kelas ikut terkejut.

“Abang!!” seru Rania begitu melihat sosok yang dikenalnya.

“Kenapa, sayang? Kok nangis?” tanya Revan dengan nada khawatir.

“Nggak apa-apa, Pak. Rania cuma jatuh barusan,” ujar Bu Aisya menenangkan.

Revan langsung berjongkok, memeriksa tubuh kecil adiknya dengan teliti.

“Nggak ada yang sakit, kan?” tanyanya lembut.

“Nggak ada, Abang!” Rania langsung memeluk leher Revan erat.

“Terima kasih, Miss. Kami pamit dulu,” ucap Revan sopan.

“Sama-sama, Pak,” balas Bu Aisya.

Revan menggendong Rania, sementara Devi mengusap lembut kepala gadis kecil itu.

“Kenapa bisa sampai jatuh?” tanya Revan lagi.

“Tadi kejal-kejalan sama mulid balu,” jawab Rania lirih.

“Murid baru?”

“Nggak tahu namanya,” sahutnya pelan.

“Udah, sekarang mau makan es krim nggak?” ajak Revan.

“Mau, Abang!” jawab Rania langsung ceria.

Senyum gadis kecil itu pun kembali mengembang.

“Abang kan janji, weekend nanti ajak Rania sama Kak Devi jalan-jalan.”

“Iya, nanti kita pergi bareng,” kata Revan.

Sementara itu, Aeris melangkah keluar dari kelas dengan langkah pelan.

“Jadi… Rania itu saudaraan sama Om Toilet…” gumamnya pelan.

“Enak ya, dia punya banyak keluarga dan disayang,” lanjutnya sambil mencebik.

“Aku cuma punya Mama, Nenek, sama Om Leon. Itu pun dua orang itu jarang ketemu.”

Aeris melirik ke arah gerbang.

“Kenapa Mama belum jemput juga sih?”

Tak lama, sebuah taksi berhenti tak jauh dari sana. Mata Aeris langsung berbinar. Ia berlari kecil karena tahu siapa yang datang.

“Mama!!” serunya.

Alina segera turun dan menghampiri putranya.

“Maaf ya, Mama telat,” ucapnya.

“Hampir aja Aeris marah. Kalau Mama telat kelamaan, Aeris bakal buang skincare Mama!” ancamnya dengan nada lucu.

“Ih, jangan dong,” balas Alina sambil tertawa kecil.

“Nih, Mama nggak telat lama kan? Ayo pulang.”

Alina menggandeng bocah itu masuk ke dalam taksi. Ia berniat mengantar Aeris pulang lebih dulu sebelum kembali ke kantor—masih ada banyak pekerjaan yang harus dibereskan.

“Mama…” ucap Aeris saat mereka sudah duduk di dalam taksi.

“Coba jujur sama Aeris.”

“Jujur soal apa?” tanya Alina pelan.

“Ceritain dong semuanya tentang keluarga Om Toilet itu,” desak Aeris.

“Terus hubungan mereka sama Nenek Kamelia dan Mama!”

Alina terdiam. Raut wajahnya langsung menegang.

“Mama…” suara Aeris terdengar lebih serius.

“Tolong jangan ngindar lagi. Kasih tahu Aeris sekarang.”

Alina menatap putranya yang menatapnya dengan mata memelas.

“Jangan bikin Aeris makin bingung,” lanjut bocah itu lirih.

“Dari tadi Mama nyuruh Aeris jauhin mereka, tapi Mama nggak pernah jelasin kenapa!” protesnya lagi.

“Na… nanti ya, sayang,” jawab Alina pelan.

“Ck! Aeris nggak mau tahu nanti!” katanya sambil menyilangkan tangan di dada.

“Pokoknya hari ini Mama harus cerita!”

Alina menghela napas berat.

“Kalau Mama cerita… kamu janji nggak akan nanya-nanya lagi, dan tetap menjauh dari mereka?” tanyanya akhirnya.

“Iya, Mama!” jawab Aeris cepat tanpa ragu.

•••••

Sementara itu, setelah makan es krim, Rania malah menolak diantar pulang. Ia bersikeras ingin ikut ke kantor Revan.

“Pulang aja dulu. Istirahat, ya,” bujuk Revan.

“Nda mau…” Rania cemberut.

“Mama sama Papa nda ada di lumah, kan? Rania nda mau sendilian.”

“Atau gini aja, Van,” sela Devi.

“Rania dititipin aja ke rumah aku. Biar nggak kesepian, ada Rio juga di sana.”

“Mau!” seru Rania antusias.

“Rania ke lumah Kak Devi aja, dalipada di lumah.”

“Yakin nggak ngerepotin?” Revan ragu.

“Takutnya malah bikin repot keluargamu.”

“Ck, nggak apa-apa. Mama pasti seneng ada Rania,” kata Devi santai.

Revan pun mengangguk dan membelokkan setir.

Tak lama kemudian, mereka tiba di rumah Devi.

“Udah lama Rania nda main ke sini,” gumam Rania sambil melihat sekeliling.

“Tapi… nda apa-apa kan, Bang?” lanjutnya ragu.

“Takutnya nanti Mama malah malah…”

Revan tersenyum kecil.

“Nggak apa-apa. Mama nggak akan marah.”

“Ayo masuk,” ajak Devi.

Devi membuka pintu. Rumah tampak agak berantakan—mainan berserakan di lantai.

“Eh… Devi udah pulang?” suara Widya terdengar dari arah kamar.

“Cuma mampir bentar, Mbak. Mama ke mana?” tanya Devi.

“Tadi baru ke supermarket sama Rio. Kenapa?”

Pandangan Widya kemudian beralih ke Revan dan Rania yang masih berdiri di teras.

Ia memang sudah lama tahu hubungan keponakan suaminya itu dengan Revan.

“Mau nitip adiknya Revan?” tanyanya.

“Iya, Mbak. Nggak apa-apa kan?” jawab Devi.

“Di kantor dia juga nggak ada teman. Di sini kan bisa main sama Rio.”

Widya mengangguk pelan.

“Nggak masalah. Pasti Rio seneng.”

“Rania, sini,” panggil Devi.

Gadis kecil itu segera masuk, disusul Revan.

Revan menangkupkan tangan memberi salam, yang langsung dibalas Widya dengan sopan.

“Rania… nggak apa-apa ya tinggal sama Bibi Widya dulu?” ujar Devi lembut.

“Rio sama Nenek lagi ke supermarket. Nanti juga pulang.”

Rania mengangguk.

“Saya titip Rania, Mbak,” kata Revan.

“Iya,” jawab Widya singkat.

Setelah berpamitan, Widya memandangi Rania yang kini duduk manis di sofa sambil memakan cokelat.

“Enak banget hidupnya,” batinnya sambil menatap gadis kecil itu dari ujung kepala sampai kaki.

“Ditemuin di tempat sampah sama orang kaya… dirawat, dibesarin, sampai hidupnya begini.”

1
Lili Inggrid
lanjut
Bunda Dzi'3
blm Up Thor...smngts thor
olyv
hancurkan revan
buat alina n leon bahagia thor
Syamsudin Oke
up thor
Sunaryati
Memangnya Alina menyerahkan anaknya ke Revan? PD sekali Devi. Bu Sitha orang tua itu biasanya mau berkorban apa saja demi kebahagiaan anaknya, tapi yang ibu lakukan egois, hanya demi kebahagiaan anda sendiri.
Sunaryati
Kenapa Revan, seperti tak punya hati.
Bunda Dzi'3
up thor
Bunda Dzi'3
heammmm ketemu dahh
Bunda Dzi'3
hadehhh berat bngt alana...mertuanya nenek lampur
Bunda Dzi'3
thor jgn biarin itu mantan balik lagi aja
Bunda Dzi'3
alina jgn mau balik lgi sma pria plinplan
Alma Hyra
gak gregetan karena baper dengan peran karakter tokoh²nya, tapi lebih greget sama Thor yang bikin cerita alurnya.../Speechless/
Rieya Yanie
kpn revan nyesel thor
sdah tua jg msh ky abg
Rieya Yanie
kasian alina..
Sunaryati
Jika kalian berbuat jahat sama anak Alina, dipastikan pernikahan Revan dan Devi gagal. Ternyata keluarga Devi tabiatnya buruk, mungkin mengincar harta dan nebeng nama. Jika orang baik akan menerima anak sambung. Benar firasat mama Revan jika Devi jadi menantunya mungkin mereka ikut menikmati kekayaan Revan bukan sewajarnya.
rin ini siapa thor🤔
Amazing Grace
rasanya terlalu berlebihan kalo Alina masih cemburu dan nyimpen rasa padahal sudah 7 tahun, kesannya seolah olah dia murahan karena masih ngarep padahal tuh cowok udah rendahin dan punya pacar juga
atau memang sedari awal karakter nya udah diciptain plin plan yaa🙏
Adelio
Udah bab 33 kok masih gini2 aja ya, kayak kurang greget..
Alma Hyra
terus kenapa juga aeris karakternya jadi anak bandel, yang baca mau kasian ke aeris malah mamang enggak jadi, harusnya aeris itu jadi anak yang tertindas, bukan dijauhin teman karna karakternya tapi karna keadaanya enggak punya ayah ... gitu lebih wow
Alma Hyra
huhhj... alurnya malah gimana gitu, pindah ke novel sebelah dulu aja, nanti balik lagi kalau si revan udah menyesal menyia²kan Alina aja ... soalnya ceritanya kurang ngena banget di hati, masa si Revan masih makin cinta ke Devi, tapi semuanya udah mau ke bongkar engak dag dig dug derrr aja rasanya, kecuali revannya udah mulai punya rasa bersalah, rasa menyesal, atau mulai ada rasa ke Alina gitu baru semuanya terbongkar kan jadi wow gitu yang baca terharu... ini kenapa yang sakit hati Alina cintanya tidak terbalas, yang di sia²kan Alina, masih aja yang dibuat sewot ngelihat Revan sama Devi juga Alina, enggak adil sama sekali, trs kpn munculnya rasa Revan ke Alina, masa sama Leon aja juga enggak ngaruh perasaannya Revan ke Alina...
astr.id_est 🌻: gak jelas alur cerita nya
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!