Tragedi menimpa Kenanga, dia yang akan ikut suaminya ke kota setelah menikah, justru mengalami kejadian mengerikan.
Kenanga mengalami pelecehan yang di lakukan tujuh orang di sebuah air terjun kampung yang bernama kampung Dara.
Setelah di lecehkan, dia di buang begitu saja ke dalam air terjun dalam keadaan sekarat bersama suaminya yang juga di tusuk di tempat itu, hingga sosoknya terus muncul untuk menuntut balas kepada para pelaku di kampung itu.
Mampukah sosok Kenanga membalaskan dendamnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Mencari tahu
"Bagaimana kang, apa listriknya sudah bisa menyala?" tanya Sigit
Dia sedang memeriksa rumah Kenanga yang sudah di pasangi listrik bersama Herman, mereka ke sana setelah memeriksa ladang dan kebun yang mereka pegang. Tapi ada sedikit masalah saat listrik yang sudah terpasang itu di periksa Sigit, listriknya tidak menyala sama sekali.
"Ini sekringnya den belum di nyatakan" jawab Herman terkekeh
"Astagfirullah, padahal saya harusnya periksa meterannya juga ya, malah panik duluan" ucap Sigit merasa malu
"Maklum orang kalau panik memang sering lupa" ucap Herman
"iya kang, Alhamdulillah ya listriknya sudah menyala, kami tinggal pindah karena perabotan juga sudah ada" ungkap Sigit
"Kenapa tidak tinggal di rumah den Bintang saja? Saya juga punya rumah tapi tetap tinggal di sana karena sudah terbiasa di sana sekaligus kerja bantu Sumi" tanya Herman
"Kenanga mau menempati rumah ini kang, katanya dengan berada di rumah ini, dia merasa kalau Mbah Putri selalu bersamanya, sejak kecil Kenanga memang di rawat neneknya setelah kedua orang tuanya meninggal, jadi yang lebih menempel di ingatannya ya hanya Mbah Putri" jawab Sigit
"Sepertinya kamu tahu banyak tentang Kenanga, sampai semua keluarganya kamu tahu" ucap Herman
"Lebih dari tahu kang, Kenanga itu hidup saya setelah dulu saya tahu kalau ibu tidak bisa punya anak lagi, dan Kenanga saat itu hadir mengisi hari hari saya, saya merasa kalau hidup saya kembali berwarna. awalnya sebagai seorang adik, tapi lambat lain perasaan itu tumbuh semakin besar, dari perasaan ingin menjaga jadi perasaan ingin memiliki, Mbah Putri tahu dan dia mengatakan kalau hanya saya yang bisa menjaga Kenanga, dan sejak itu saya menjaganya bahkan mengantarkan dia di hari pernikahannya" jawab Sigit mengusap kalung taring harimau pemberian Putri
"Perasaan kamu begitu dalam, mungkin orang akan berpikir kalau apa yang kamu rasakan terlalu berlebihan, tapi saya menyebutnya dengan cinta tanpa syarat, kamu hebat" ungkap Herman
"Saya juga tidak tahu, saya tidak bisa marah ataupun membuang Kenanga, setiap Kenanga menangis, keinginan untuk menjaganya semakin kuat, dan setiap kali Kenanga tersenyum, rasanya seperti apa yang saya lakukan membuahkan hasil" ucap Sigit menatap taman yang di depannya adalah sebuah danau.
"Sebaiknya kita kembali ke ladang, ini sudah waktunya makan siang, Sumi pasti mencari saya" ajak Herman
"Ayo kang, nanti saya kunci dulu pintunya" jawab Sigit.
Mereka keluar dari pekarangan rumah itu dan menyapa beberapa orang yang di kenal Herman. Kebanyakan mereka menanyakan siapa Sigit dan Herman mengatakan kalau Sigit adalah pemilik rumah panggung yang anda di pinggir danau itu.
"Di sini ramai juga ya kang kalau siang" ucap Sigit
"Iya, kalau siang kan banyak orang yang piknik atau sekedar nongkrong, tapi malam hari begitu sepi dan mencekam" jawab Herman merinding.
"Saya bisa melihatnya, apa yang membuat malam menjadi sunyi" gumam Sigit menatap danau yang memperlihatkan banyak sosok di dalamnya sedang mengawasi Sigit.
~~
Sementara itu di kampung duku, Endang sudah bersiap untuk ke rumah Wisnu, mereka tidak mendapatkan foto Sigit tapi mereka bisa meminta foto Sigit dari Wisnu nanti saat di rumahnya.
"Ayo Murni kita harus buru buru takutnya hujan" panggil Endang
"Iya mas" jawab Murni
"Kamu sudah telepon Dasih dan kak Yeyen kan?" tanya Endang
"Sudah mas" jawabnya
Mereka segera menaiki motor Endang, pakaian mereka sudah rapi karena mereka mau sekalian membayar hutang Endang yang dulu sempat meminjam untuk modal jualan tapi ternyata bangkrut sampai berakhir di ladang Bintang.
Setengah jam mereka sudah sampai di Kampung Dara, mereka sudah bertemu dengan Yeyen kakak dari Murni dan setelah itu mereka langsung ke rumah Wisnu yang baru, kedatangan mereka di sambut dengan baik oleh Dasih, tapi mereka sama sekali tidak melihat satupun foto Sigit di rumah baru yang di tempati Wisnu dan Dasih.
"Sudah lama sekali kalian tidak ke sini" ucap Dasih
"Iya Dasih, kami sibuk bekerja dari sejak kami bangkrut" jawab Murni
"Bagaimana kabar kalian di tempat baru?" tanya Dasih
"Syukurnya kami betah, di sana bos kami baik dan juga tidak perhitungan" jawab Endang
"Dasih... Kedatangan kami sebenarnya ingin memastikan sesuatu" ungkap Endang
"Memastikan apa" tanya Dasih penasaran
"Tentang anak kamu yang katanya meninggal itu... Aku..."
"Kenanga kamu mau kemana, Sigit cepat kejar Kenanga dia kabur lagi!"
Belum sempat Endang menyelesaikan kata katanya, Wisnu berlari ke arah luar sambil menunjuk halaman kosong yang sama sekali tidak ada orang di sana.
"Begitulah suamiku sekarang, aku tidak bisa melakukan apapun, dokter bilang selama mas Wisnu tidak melakukan hal yang berbahaya, sebaiknya di biarkan saja" ungkap Dasih
"Kenanga itu?" tanya Endang
"Dia istri kedua mas Wisnu, memang belum sampai menikah, tapi kami sudah merencanakan itu setelah pernikahan Sigit, tapi..... Sama dengan pernikahan Sigit, Kenanga juga meninggal dalam kebakaran itu" jawab Dasih menitikkan air matanya
"Sebenarnya Sigit... Aku melihat..."
"Dasih, lihat anak kita berhasil mendapatkan Kenanga lagi, dia tidak akan kabur lagi dari ku, Sigitku memang anak yang berbakti, nanti akan aku berikan adik untuknya" ucap Wisnu yang masuk kembali dan duduk di samping Dasih seperti anak kecil yang memeluk ibunya.
"Kamu benar mas, Sigit memang selalu bisa menjaga Kenanga" jawab Dasih mengusap kalung Sigit yang di pakai Wisnu, dan tongkat yang di pegang Wisnu.
"Suamiku bilang dia melihat orang yang mirip Sigit di kampung tempat kami tinggal, kami ke sini untuk memastikan itu, ingin melihat wajahnya" ucap Murni membuat Dasih terkejut
"Maksud kamu apa?" tanya Dasih
"Mungkin kamu punya foto Sigit, aku ingin melihatnya untuk memastikan apakah yang ada di tempatku tinggal adalah Sigit atau bukan" jawab Endang
"Mungkin saja itu hanya kebetulan, aku melihat sendiri Jasad Sigit dan Kenanga ada di dalam rumah
"Kami juga sudah memakamkan mereka dengan layak" Jawab Dasih
"Tapi apa kamu punya fotonya?" tanya Endang
"Ada, biar aku ambil dulu" jawab Dasih pergi ke kamarnya.
"Wisnu, kamu Kenapa bisa jadi begini, aku merasa kalau kamu sekarang ini adalah orang asing' ucap Endang
"Aku ingat kamu, kamu adalah teman mandi di sungaiku kan?" tanya Wisnu
"Iya, aku teman bermain kamu sejak SD" jawabnya
"Sekarang sungainya sudah tercemar aku tidak mau mandi di sana" ucap Wisnu
aq suka suasana di kampung Dimas, selalu kompak mereka, apalagi klo ada Sahara mesti ketawa aq, lucu bin somplak sih🤣