NovelToon NovelToon
CINTA DATANG BERSAMA SALJU PERTAMA

CINTA DATANG BERSAMA SALJU PERTAMA

Status: sedang berlangsung
Genre:Karir / One Night Stand / Duniahiburan / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Cintapertama
Popularitas:447
Nilai: 5
Nama Author: chrisytells

Di Shannonbridge, satu-satunya hal yang tidak bisa direncanakan adalah jatuh cinta.
​Elara O'Connell membangun hidupnya dengan ketelitian seorang perencana kota. Baginya, perasaan hanyalah sebuah variabel yang harus selalu berada di bawah kendali. Namun, Shannonbridge bukan sekadar desa yang indah; desa ini adalah ujian bagi tembok pertahanan yang ia bangun.
​Di balik uap kopi dan aroma kayu bakar, ada Fionn Gallagher. Pria itu adalah lawan dari semua logika Elara. Fionn menawarkan kehangatan yang tidak bisa dibeli dengan kesuksesan di London. Kini, di tengah putihnya salju Irlandia, Elara terperangkap di antara dua pilihan.
​Apakah ia akan mengejar masa depan gemilang yang sudah direncanakan, atau berani berhenti berlari demi pria yang mengajarkannya bahwa kekacauan terkadang adalah tempat ia menemukan rumah?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chrisytells, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 32 : Runtuhnya Menara Kesombongan

Di lantai teratas gedung pencakar langit Dublin, aroma cerutu mahal dan kopi pahit memenuhi ruangan kantor Tuan Doherty. Julian O’Neill berdiri di depan jendela besar, menatap jalanan kota yang tampak seperti semut di bawah sana. Namun, pikirannya tertinggal jauh di Shannonbridge, pada sebuah kedai kopi tua dan seorang arsitek wanita yang telah merusak semua kalkulasinya.

"Kau terlihat gelisah, Julian. Apakah udara desa itu akhirnya meracuni logikamu?" suara Doherty berat dan penuh intimidasi, ia duduk di kursi kulitnya sambil memutar-mutar sebuah pulpen emas.

Julian berbalik, raut wajahnya tegang. "Elara menghilang dari radar sejak kemarin sore bersama si Gallagher itu, Tuan. Tapi mata-mataku di pesisir barat melaporkan mereka terlihat di dekat Cliffs of Moher. Saya khawatir mereka sedang mencari sesuatu... atau seseorang."

Doherty tertawa kecil, suara yang lebih terdengar seperti geraman. "Biarkan mereka mencari. Tanpa tanda tangan dewan kota yang akan kita dapatkan beberapa hari lagi, Elara hanya akan membawa tumpukan kertas sampah. Cillian sudah memastikan birokrasi berpihak pada kita. Begitu izin sita keluar, kita akan meratakan dermaga itu sebelum matahari terbenam."

"Bagaimana dengan ancaman Elara soal audit limbah?" tanya Julian ragu.

"Elara adalah pemain emosional, Julian. Dia akan menukar data itu demi keselamatan kedai kopi kekasihnya. Kita akan menekan mereka sampai mereka merangkak memohon ampun." Doherty berdiri, menatap Julian dengan mata yang dingin. "Dua hari lagi, di balai desa Shannonbridge akan menjadi pemakaman bagi karier Elara O’Connell. Pastikan kau memakai setelan terbaikmu untuk merayakannya."

...****************...

Aula dewan desa Shannonbridge dipenuhi oleh gumaman warga yang cemas. Di barisan depan, Cillian duduk dengan dagu terangkat, sesekali melirik jam tangannya dengan tidak sabar. Di sampingnya, Julian O'Neill tampak tenang namun tetap merasa waspada.

Anggota dewan kota, termasuk pria paruh baya yang sebelumnya "dilayani" Sinead di gudang, sudah duduk di podium. Mereka siap mengetuk palu untuk memutuskan pengalihan lahan dermaga kepada pihak perusahaan.

"Sidang pleno untuk keputusan pembangunan infrastruktur Shannonbridge dimulai," ujar sang ketua dewan, suaranya bergema di ruangan yang pengap itu. "Berdasarkan laporan kerugian dan sengketa hukum yang ada, kami tidak melihat alasan untuk menunda—"

BRAK!!!

Pintu aula terbanting terbuka. Seluruh kepala menoleh ke belakang. Elara O’Connell berdiri di sana dengan rambut yang sedikit acak-acakan diterjang angin pesisir, namun matanya memancarkan api yang sanggup membakar seluruh ruangan. Fionn berdiri di sampingnya, menjinjing sebuah kotak besi berkarat dengan wajah penuh determinasi.

"Tunda keputusan itu sekarang juga, atau kalian semua akan berakhir di balik jeruji besi malam ini!" suara Elara menggelegar, memotong kata-kata sang ketua dewan.

Julian berdiri, wajahnya memucat. "Elara, jangan membuat keributan di sini. Kau tidak punya otoritas apa pun!"

"Aku punya otoritas kebenaran, Julian!" Elara melangkah maju menembus kerumunan warga. "Dan aku punya bukti bahwa sidang ini hanyalah sandiwara untuk menutupi penipuan massal!"

Fionn melangkah maju dan kemudian, meletakkan kotak besi itu di atas meja di depan para anggota dewan dengan dentuman keras. Elara mengambil tumpukan dokumen dari dalamnya dan melemparkannya ke arah podium.

"Lihat ini, Tuan-tuan yang terhormat!" Elara menunjuk ke arah pria paruh baya di podium yang mulai berkeringat dingin. "Laporan audit internal tahun 2018. Dokumen yang menyatakan bahwa lahan di sisi selatan sengaja dirusak dengan limbah kimia oleh perusahaan keluarga Cillian agar harganya jatuh. Dan di sini... ada daftar aliran dana kepada tiga anggota dewan yang duduk di depan saya sekarang!"

Warga desa tersentak. Riuh rendah kemarahan mulai menjalar di dalam aula. Seamus berdiri dan berteriak, "Jadi itu alasan tanah ladangku dulu dibilang beracun?! Kalian mencurinya dari kami!"

Cillian mencoba membela diri, wajahnya merah padam karena malu dan marah. "Itu dokumen palsu! Elara hanya memalsukannya karena dia dendam padaku!"

"Palsu?" Fionn melangkah maju, tubuhnya yang tegap membuat Cillian menciut. "Kami baru saja kembali dari pesisir barat. Kami membawa Barney, mantan mandormu, yang saat ini sedang memberikan kesaksian di kantor polisi pusat. Dia menyimpan dokumen asli yang ditandatangani oleh ayahmu, Cillian!"

Julian melangkah mundur, mencoba menjauh dari Cillian. "Tuan-tuan dewan, perusahaan Doherty & Associates tidak ada hubungannya dengan skandal masa lalu ini—"

"Jangan berbohong, Julian O’Neill!" Elara memotong dengan tajam, ia mengeluarkan tabletnya dan menunjukkan sebuah rekaman audio terbaru. "Aku punya bukti percakapan antara kau dan Cillian malam, yang merencanakan penyitaan ilegal atas kedai Fionn sebagai jaminan proyek. Kau menggunakan kekuasaan perusahaan untuk menindas warga sipil demi keuntungan pribadi!"

Suasana menjadi liar. Warga desa yang sebelumnya termakan hasutan Sinead kini berbalik arah. Mereka mengepung area podium, menuntut penjelasan. Di tengah kekacauan itu, Sinead muncul dari kerumunan, menatap Julian dan Cillian dengan pandangan yang hancur.

Suasana aula yang tadinya riuh oleh sorak-sorai warga mendadak berubah mencekam. Saat petugas polisi mulai menyita dokumen di podium, Cillian, yang wajahnya sudah seputih kertas karena malu dan murka, merasa dunianya runtuh. Keangkuhan yang selama ini ia bangun sebagai "pemuda terkaya" Shannonbridge hancur berkeping-keping di depan orang-orang yang selama ini ia remehkan.

​"Ini... ini tidak bisa berakhir seperti ini!" teriak Cillian, suaranya pecah. Matanya yang merah menatap Fionn dengan kebencian murni. "Kau... kau hanyalah pembuat kopi sialan! Kau tidak berhak menghancurkan keluargaku, Gallagher!"

​Dalam ledakan amarah yang membabi buta, Cillian menerjang. Ia meraih sebuah kursi kayu berat dan mencoba menghantamkannya ke arah Fionn. Warga berteriak histeris, namun Fionn, yang bertahun-tahun terbiasa dengan kerja fisik di Kedai Kopinya maupun mengurus Penginapan, memiliki refleks yang jauh lebih tajam.

​Fionn bergeser sedikit, membiarkan kursi itu menghantam lantai dengan keras. Sebelum Cillian sempat memulihkan keseimbangannya, Fionn merangsek maju. Dengan satu gerakan cepat yang terlatih, Fionn memutar lengan Cillian ke belakang punggungnya dan menekannya kuat-kuat ke atas meja kayu dewan.

​"Cukup, Cillian!" geram Fionn tepat di telinga pria itu. "Kau sudah kalah. Jangan buat dirimu terlihat lebih menyedihkan lagi."

​Cillian mengerang kesakitan, wajahnya terhimpit meja. Ia mencoba meronta, namun cengkeraman Fionn seperti kunci besi yang mustahil dilepaskan. Kekuatan fisik Fionn yang dominan membuat Cillian tak berkutik sedikit pun, hingga akhirnya ia hanya bisa terengah-engah dalam posisi terkunci sampai petugas polisi menghampiri dan memborgol tangannya.

"Kalian bilang aku akan menjadi bagian dari kemajuan ini!" teriak Sinead, air matanya merusak riasannya yang tebal. "Kalian menggunakanku untuk memata-matai mereka, tapi kalian sendiri adalah pencuri!"

Elara menatap Sinead sejenak dengan rasa iba yang tipis. Ia teringat betapa rendahnya Sinead saat melayani pria paruh baya di gudang itu demi uang. "Kau lihat sekarang, Sinead? Pria-pria yang kau puja ini tidak akan pernah menghargaimu. Bagi mereka, kau hanya pion yang bisa dibuang."

Elara kembali fokus pada Julian yang kini tampak seperti tikus yang terpojok. "Tuan O’Neill, kau selalu bilang padaku bahwa arsitektur adalah soal efisiensi. Tapi kau lupa satu hal," Elara mendekat, suaranya kini merendah namun sangat dalam. "Arsitektur adalah soal manusia. Jika kau membangun sesuatu di atas penderitaan dan kebohongan, bangunan itu akan runtuh, seberapa kuat pun beton yang kau gunakan. Hari ini, menaramu runtuh."

Julian tidak bisa menjawab. Ia hanya bisa menunduk saat dua orang petugas polisi masuk ke aula untuk mengamankan dokumen dan membawa anggota dewan yang terlibat untuk pemeriksaan.

Fionn meraih tangan Elara, menggenggamnya erat di depan semua orang. "Kita melakukannya, Elara. Kita berhasil."

Namun, kekacauan belum berakhir. Di sudut lain, Sinead yang merasa dikhianati oleh semua pihak—baik oleh sekutu korupnya maupun kenyataan bahwa Elara keluar sebagai pemenang—kehilangan akal sehatnya. Baginya, Elara adalah racun yang menghancurkan martabat dan impiannya untuk naik kasta.

"Dasar wanita kota munafik!" teriak Sinead histeris. Ia berlari kencang dan sebelum ada yang bisa mencegah, jemarinya yang gemetar karena amarah berhasil mencengkeram rambut Elara.

Elara memekik kesakitan saat kepalanya tersentak ke belakang. Sinead menariknya dengan penuh dendam, wajahnya memerah padam. "Kau pikir kau pahlawan?! Kau menghancurkan segalanya! Kau mencuri posisiku, kau mencuri perhatian desa ini, kau menghancurkan hidupku!"

"Lepaskan, Sinead! Kau menyakitiku!" Elara mencoba melepaskan cengkeraman itu, namun Sinead sudah dibutakan amarah.

Tepat saat Sinead hendak melayangkan tamparan, sebuah tangan kekar menangkap pergelangan tangannya dengan paksa namun terkendali. Fionn muncul dengan napas menderu, tubuhnya berdiri kokoh di antara kedua wanita itu. Dengan satu gerakan tegas, ia melepaskan tangan Sinead dari rambut Elara dan menarik Elara ke belakang punggungnya.

"Cukup, Sinead! Sadarlah!" suara Fionn menggelegar, membuat Sinead terhuyung mundur.

Fionn menatap Sinead dengan tatapan yang sangat kompleks—ada amarah, tapi juga ada sisa rasa iba yang mendalam. "Lihat dirimu. Kau bukan lagi gadis yang tumbuh bersamaku di desa indah ini. Berhentilah mengejar bayangan harta dan mulailah memperbaiki perilakumu sebelum kau benar-benar kehilangan jiwamu."

Sinead tertawa sumbang, air mata merusak riasannya yang tebal. Ia menunjuk Elara dan Fionn bergantian dengan jari gemetar. "Wah! Fionn Gallagher kini menasihatiku? Kau berani menasihatiku setelah kau membuangku demi orang asing ini? Kalian berdua yang merencanakan ini semua! Kalian yang membuatku terlihat seperti sampah di depan warga! Ini salah kalian!"

"Aku tidak membuangmu, Sinead. Kau lah yang dulu memilih meninggalkan Shannonbridge untuk mengejar ambisimu! Tidak ada yang membuatmu terlihat buruk selain pilihanmu sendiri, Sinead," potong Fionn, suaranya kini merendah, dingin dan sangat datar.

Fionn menatap wajah Sinead dalam-dalam, mencari sosok gadis manis yang dulu pernah ia sayangi, namun ia tidak menemukannya. Yang ada di depannya hanyalah sosok asing yang penuh kebencian.

"Aku melihatmu hari ini, dan aku tidak lagi mengenalmu," lanjut Fionn dengan nada pedih yang menusuk. "Demi Tuhan, Sinead... aku benar-benar menyesal pernah mengenalmu. Dan melihat apa yang kau lakukan hari ini, aku jauh lebih menyesal karena pernah memberikan hatiku pada orang sepertimu."

Kata-kata itu seperti hantaman yang lebih keras dari tamparan mana pun. Sinead terdiam membeku, mulutnya ternganga namun tak ada kata yang keluar. Pernyataan penyesalan Fionn adalah kehancuran harga dirinya yang paling telak.

Sinead jatuh terduduk di lantai aula, menangis meraung-raung saat warga desa menatapnya dengan pandangan jijik. Julian O’Neill, pria yang sempat ia puja, bahkan tidak sudi meliriknya saat ia digiring keluar oleh petugas keamanan bersama para anggota dewan yang korup.

Tak lama, setelah keributan mereda, keheningan menyelimuti aula sejenak sebelum akhirnya pecah oleh tepuk tangan warga. Elara menghela napas panjang, tangannya masih menyentuh kepalanya yang terasa agak perih, namun hatinya terasa jauh lebih ringan.

Fionn berbalik, menatap Elara dengan mata yang kini kembali melembut. Ia menyentuh bahu Elara dengan sangat hati-hati. "Kau benar-benar baik saja? Maafkan aku... aku terlambat mencegahnya."

Elara tersenyum, meski matanya sedikit berkaca-kaca. "Aku baik-baik saja, Fionn. Kata-katamu tadi... itu pasti sulit untuk diucapkan."

Fionn menggeleng perlahan, menatap ke arah pintu tempat masa lalunya baru saja dibawa pergi. "Sulit, tapi benar. Beban itu sudah terangkat sekarang."

Petugas polisi mulai menggiring Julian O’Neill keluar melewati pintu aula yang besar, namun langkah pria itu terhenti tepat di hadapan Elara. Suasana di sekitar mereka mendadak hening, warga memberikan ruang sempit yang terasa menyesakkan bagi Julian, sang arsitek yang kini kehilangan kemegahannya.

​Julian menatap Elara dengan pandangan yang sulit diartikan—ada sisa keangkuhan, namun lebih banyak kehampaan di sana.

​"Kau menang, Elara," suara Julian terdengar serak, jauh dari nada intimidasi yang biasa ia gunakan di kantor pusat Dublin. "Kau meruntuhkan proyek jutaan Euro demi sebuah dermaga tua yang berkarat. Apakah ini yang kau sebut kesuksesan? Menghancurkan kariermu sendiri demi sentimen desa?"

​Elara melangkah satu tindak lebih maju, berdiri tegak tanpa rasa takut sedikit pun. "Aku tidak menghancurkan karierku, Julian. Aku baru saja menyelamatkannya. Aku menyelamatkan integritas yang selama ini kau ajarkan padaku, namun kau sendiri yang meludahinya."

​Julian tertawa hambar, matanya melirik sinis ke arah Fionn yang berdiri waspada di samping Elara. "Kau pikir mereka akan menganggapmu pahlawan selamanya? Begitu masalah ini selesai, kau hanya akan menjadi orang asing lagi bagi mereka. Kau membuang posisi di Doherty & Associates hanya untuk seorang Barista di desa kecil? Benar-benar sebuah degradasi logika."

​"Itulah perbedaan kita, Julian," balas Elara dengan suara tenang namun tajam. "Kau membangun gedung untuk meninggikan egomu sendiri, sehingga kau tidak bisa melihat manusia yang ada di bawahnya. Bagiku, membangun satu rumah kecil yang jujur jauh lebih berharga daripada membangun seribu pencakar langit di atas pondasi kebohongan."

​Elara terdiam sejenak, menatap setelan jas mahal Julian yang kini tampak kusut. "Kau selalu bilang kepadaku bahwa arsitektur adalah soal masa depan. Tapi bagaimana kau bisa punya masa depan, jika kau terus-menerus mengubur masa lalu orang lain demi kepentinganmu?"

​Julian tidak menjawab. Rahangnya mengeras. Saat petugas polisi menyentuh lengannya untuk mengajaknya bergerak, ia berbisik pelan, hampir tidak terdengar. "Doherty tidak akan diam saja, Elara. Kau telah menyulut api di sarang singa."

​"Biarkan saja dia datang," sela Fionn dengan nada dingin, tangannya menggenggam jemari Elara dengan erat di depan mata Julian. "Shannonbridge bukan lagi sekadar titik di peta kalian. Tempat ini memiliki jiwa, dan jiwa tidak bisa kau beli atau kau gusur."

​Julian menatap genggaman tangan mereka sejenak, lalu ia membuang muka, tak sanggup lagi menatap mata Elara yang begitu jernih dan penuh kemenangan. Ia berjalan pergi dengan kepala tertunduk, diiringi bisikan sinis warga yang dulu ia remehkan.

...****************...

Malam harinya, Shannonbridge tidak pernah terasa sehangat ini. Warga berkumpul di depan The Crooked Spoon. Tidak ada lagi tatapan curiga, yang ada hanyalah pelukan dan ucapan terima kasih untuk wanita kota yang mereka panggil 'pahlawan'.

Moira dan Bibi O’Malley membagikan cokelat panas gratis kepada semua orang. Bibi O’Malley bahkan masih membawa sapu lidinya, berjaga-jaga jika ada pengacara lain yang berani muncul.

Elara dan Fionn berdiri di dermaga tua, menatap pantulan lampu-lampu desa di air sungai yang tenang. Keputusan dewan telah dibatalkan, proyek terminal beton Doherty resmi dihentikan untuk investigasi menyeluruh, dan yang paling penting: dermaga itu kini dilindungi sebagai situs sejarah resmi.

"Kau tahu," Fionn memulai, merangkul bahu Elara. "Aku belum pernah melihat Julian O’Neill diam seribu bahasa seperti tadi sore. Itu adalah pemandangan paling indah setelah Cliffs of Moher."

Elara tertawa, menyandarkan kepalanya di bahu Fionn. "Dia hanya seorang pria yang terlalu lama hidup di dalam angka. Dia tidak tahu bahwa kekuatan sebuah komunitas jauh lebih besar daripada saldo bank mana pun."

"Jadi," Fionn membalikkan tubuh Elara, menatapnya dengan binar cinta yang meluap. "Doherty itu pasti akan memecatmu besok pagi. Kau akan kehilangan kariermu... apa rencanamu sekarang, Nona Perencana?"

Elara tersenyum manis, mengalungkan tangannya di leher Fionn. "Rencanaku? Aku sedang berpikir untuk membuka sebuah firma arsitektur kecil di sini. Namanya Shannon Heritage & Soul. Dan aku dengar, pemilik kedai kopi di sebelah kantorku nanti adalah pria yang sangat tampan dan ahli dalam membuat scone yang... yah, sedikit lebih baik."

Fionn tertawa lepas, ia mengangkat tubuh Elara dan memutarnya di udara. "Aku akan memastikan kopi dan hidupmu selalu hangat bersamaku."

Di bawah langit Shannonbridge yang kini bersih dari bayang-bayang keserakahan, mereka berdua berbagi ciuman kemenangan. Perang di dewan kota telah berakhir, namun pembangunan hidup baru mereka baru saja dimulai. Kejujuran telah menang, dan cinta telah menemukan rumahnya di antara batu kapur tua dan arus sungai yang abadi.

1
Alnayra
👍🏻👍🏻👍🏻 top
d_midah (Hiatus)
ceilah bergantung gak tuh🤭🤭☺️
d_midah (Hiatus): kaya yang lebih ke 'sedikit demi sedikit saling mengenal, tanpa terasa gitu' 🤭🤭
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!