Dikhianati oleh sahabatnya sendiri dalam misi rahasia, Xiao Su tewas dengan satu pertanyaan yang tak pernah terjawab.
“Kenapa…?”
“Karena kau menghalangi jalanku.”
Ia mengira kematian adalah akhir.
Namun saat membuka mata, ia justru terbangun di tubuh seorang gadis bangsawan yang dihina semua orang — Xiao Mei.
Wajah buruk rupa. Tubuh lemah. Keluarga penuh kepalsuan.
Saudari tiri yang menginginkan kematiannya. Tunangan yang memandangnya dengan jijik. Dunia kuno yang kejam dan penuh intrik.
Tapi mereka tidak tahu…
Jiwa di dalam tubuh itu bukan lagi Xiao Mei yang lemah.
Ia adalah Xiao Su. Seorang wanita modern yang tak akan membiarkan dirinya diinjak dua kali.
Kali ini, ia tidak hanya akan bertahan hidup — Ia akan mengubah takdir. Menghancurkan mereka yang meremehkannya.
Dan membuktikan bahwa bahkan wanita yang disebut “buruk rupa” pun bisa menjadi mimpi buruk bagi musuh-musuhnya.
Karena untuk kedua kalinya… Ia tidak akan mati.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon cute women, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Malam yang meledak
Lampion menyala,
musik mengalun,
dan senyum terpasang di setiap wajah.
Tak ada yang salah.
Atau setidaknya,
begitulah yang ingin mereka percayai.
Karena di balik pesta pendirian Kekaisaran Wang,
ada nama yang seharusnya tak diundang,
dan langkah yang datang tanpa izin.
Malam itu,
pesta bukan lagi tentang perayaan—
melainkan tentang siapa yang pertama kali bergerak.
"Siapa tamu yang seharusnya tidak diundang?"
" Di aula yang penuh cahaya, kehancuran sering kali datang tanpa suara"
Happy reading>.<........
Lampion bergerak pelan tertiup angin malam.
Aula utama Kekaisaran Wang dipenuhi tawa dan denting gelas. Kaisar berdiri di atas podium, wajahnya diterangi cahaya keemasan.
“Untuk berdirinya Kekaisaran Wang yang baru,” suaranya menggema, “dan untuk masa depan yang tak tergoyahkan.”
Semua tamu mengangkat gelas.
Termasuk Xiao Mei.
Namun sebelum Kaisar menyesap anggurnya—
Pintu aula terbuka.
Tidak keras.
Tidak dramatis.
Hanya satu bunyi engsel pelan.
Namun cukup untuk membuat beberapa kepala menoleh.
Seorang pria melangkah masuk.
Pakaiannya bukan busana tamu.
Melainkan seragam istana lama—hitam dengan bordir naga perak.
Aula mendadak sunyi.
Beberapa pejabat senior memucat.
Mereka mengenali simbol itu.
Simbol yang telah dilarang tiga tahun lalu.
Pria itu berhenti tepat di tengah aula.
Lalu berlutut.
Bukan kepada Kaisar.
Melainkan menghadap lurus ke arah Xiao Mei.
Tatapannya tenang. Terlalu tenang.
“Yang Mulia…” suaranya rendah namun jelas terdengar di seluruh aula,
“aku kembali untuk menepati janji.”
Xiao Mei membeku di tempat duduknya.
Ia tidak mengenali pria itu.
Tidak mengenali suaranya.
Namun entah mengapa, jantungnya berdetak
tidak wajar—
seolah tubuh ini menyimpan sesuatu yang tak mampu ia ingat.
Beberapa gelas anggur di tangan pejabat tua bergetar.
Karena nama pria itu…
seharusnya telah mati.
Sementara itu—
Duke Wang mencengkeram erat gelas di tangannya.
Tatapannya berubah dingin.
Karena tidak seperti yang lain…
dia tahu persis siapa pria itu.
Dan lebih dari itu—
dia tahu mengapa pria itu seharusnya tidak pernah kembali.
Aula hening...
Begitu sunyi hingga suara kain sutra yang bergesekan terdengar jelas.
Tak seorang pun berani bergerak.
Para musisi yang tadi memainkan lagu perayaan menurunkan alat mereka perlahan.
Kaisar belum berkata apa pun.
Tatapannya turun dari podium, menilai pria yang berlutut di tengah aula itu dengan dingin.
“Berani sekali kau,” suara Kaisar akhirnya terdengar, berat namun terkontrol.
“Masuk tanpa undangan di malam seperti ini.”
Pria itu tidak menunduk lebih dalam.
Ia juga tidak gemetar.
“Aku tidak datang sebagai tamu,” jawabnya tenang.
“Aku datang untuk menagih janji.”
Bisik-bisik mulai terdengar.
“Dia benar-benar hidup?”
“Bukankah dia dieksekusi?”
“Siapa yang membiarkannya masuk?”
Xiao Mei menelan ludah.
Janji?
Janji apa?
Ia tidak pernah membuat janji pada siapa pun di dunia ini.
Ia baru berada di sini satu tahun.
Namun tatapan pria itu tidak goyah sedikit pun.
Seolah-olah ia benar-benar mengenalnya.
Seolah-olah… ia menunggunya.
Duke Wang bangkit perlahan dari kursinya.
Gerakannya tenang, namun aura yang menyelimutinya berubah.
“Yang Mulia,” katanya kepada Kaisar, suaranya terdengar stabil.
“Pria ini telah melakukan pengkhianatan tiga tahun lalu. Namanya telah dicoret dari silsilah dan catatan istana.”
Pria itu tersenyum tipis.
“Dicoret?” ia mengulang pelan.
“Atau dihapus karena terlalu banyak yang tahu kebenaran?”
Beberapa bangsawan tersentak.
Suasana berubah semakin tegang.
Tatapan Kaisar kini bergeser—
bukan hanya pada pria itu,
tetapi juga pada Duke Wang.
Dan untuk pertama kalinya malam itu—
Xiao Mei menyadari sesuatu.
Ini bukan sekadar tamu tak diundang.
Ini adalah luka lama yang kembali dibuka.
Dan ia—
entah bagaimana—
berada tepat di tengahnya.
Pria itu akhirnya berdiri.
Perlahan.
Matanya tak pernah lepas dari Xiao Mei.
“Jika Yang Mulia tidak mengingat,” ucapnya pelan,
“izinkan aku mengingatkan.”
Senyumnya menghilang.
“Tiga tahun lalu… di malam bersalju itu… kaulah yang memintaku untuk hidup.”
Jantung Xiao Mei terasa berhenti.
Karena ia tahu satu hal dengan pasti—
ia tidak pernah mengatakan itu.
Dan jika benar tubuh ini pernah mengucapkannya…
maka ada bagian dari masa lalu Xiao Mei
yang jauh lebih berbahaya daripada yang ia bayangkan.
Lampion di atas aula tiba-tiba bergoyang lebih keras tertiup angin malam.
Seolah-olah bahkan langit pun menyadari—
malam ini tidak akan berakhir sebagai perayaan.
Melainkan awal dari kehancuran.
Duke Wang mengepalkan tangannya, lalu berkata dengan suara dingin dan tajam,
“Yang Mulia, izinkan hamba mengingatkan… seseorang yang telah dinyatakan mati tidak memiliki hak untuk berbicara di aula ini.”
Tatapannya lurus pada pria itu.
“Apalagi menagih janji yang tak pernah tercatat.”
Suasana menegang.
Pria itu tertawa pelan.
“Tidak tercatat?” ia mengulang tenang.
“Tentu saja tidak.”
Ia mengangkat wajahnya sedikit, tatapannya bergeser pada Xiao Mei.
“Karena Yang Mulia tidak pernah diberi kesempatan untuk mengakuinya.”
Gelas di tangan Duke Wang bergetar tipis.
Untuk pertama kalinya—
retakan kecil muncul dalam ketenangannya.
“Cukup,” ucapnya dingin.
Namun yang ia takutkan bukanlah janji itu.
Melainkan kemungkinan bahwa—
Xiao Mei benar-benar akan mengingat.
Bersambung...........
Salju turun tanpa suara.
Putih.
Dingin.
Dan tak berbelas kasihan.
Di halaman istana yang gelap,
seorang pria berlutut dengan darah yang menodai hamparan salju.
Di hadapannya berdiri seorang gadis.
Wajahnya pucat.
Namun tatapannya lebih tegas daripada badai.
“Jika kau mati malam ini…” suaranya bergetar,
“maka semuanya akan sia-sia.”
Pria itu tersenyum, meski napasnya melemah.
“Kalau begitu…” bisiknya pelan,
“izinkan aku hidup. Untukmu.”
Sebuah tangan terulur.
Sebuah keputusan dibuat.
Dan sejak malam itu—
takdir mulai ditulis ulang dengan tinta pengkhianatan.
—
Di aula yang penuh cahaya tiga tahun kemudian,
Xiao Mei terdiam.
Karena untuk sepersekian detik—
ia melihat salju.
Merah.
Dingin.
Dan tangan yang pernah ia genggam.
Padahal…
ia tak pernah berada di sana.
Apakah itu???
________________________
Terima kasih sudah menunggu. Maaf kalau update kali ini sedikit terlambat, author sedang kurang sehat dan cukup sibuk di dunia nyata 🤧🌸