George Zionathan. Pria muda yang berusia 27 tahun itu, di kenal sebagai pemuda lemah, cacat dan tidak berguna.
Namun siapa sangka jika orang yang mereka anggap tidak berguna itu adalah ketua salah satu organisasi terbesar di New York. Black wolf adalah nama klan George, dia menjalani dua peran sekaligus, menjadi ketua klan dan CEO di perusahaan Ayahnya.
George menutup diri dan tidak ingin melakukan kencan buta yang sering kali Arsen siapkan. Alasannya George sudah memiliki gadis yang di cintai.
Hidup dalam penyesalan memanglah tidak mudah, George pernah membuat seseorang gadis masuk ke Rumah Sakit Jiwa hanya untuk memenuhi permintaan Nayara, gadis yang dia cintai.
Nafla Alexandria, 20 tahun. Putri Sah dari keluarga Alexandria. Setelah keluar dari Rumah Sakit Jiwa di paksa menjadi pengganti kakaknya menikah dengan putra sulung Arsen Zionathan.
George tetap menikahi Nafla meskipun tahu wanita itu gila, dia hanya ingin menebus kesalahannya di masalalu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Incy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 IGTG
Nafla bergerak dengan gesit menghindari serangan demi serangan bertubi-tubi dari Queen. Pakaian dan heels yang Nafla kenakan sama sekali tidak mengganggu kegiatannya.
Nafla mundur dua langkah, ketika Queen hendak menghantamnya kepalanya dengan botol minuman. Begitu mudah dia menghindar.
Tubuhnya mencondong ke belakang dan langsung bergerak kearah samping, kala Queen melakukan gerakan memutar dengan kaki panjangnya.
Namun detik berikutnya, Nafla menahan pukulan itu dan saling mengunci, sehingga tatapannya bertemu pandang.
Nafla menyeringai kecil, berani menyentuh prianya maka bersiaplah untuk tidak memiliki tangan.
Mata Queen melebar disaat bersamaan dengan itu. Nafla membalik tubuhnya dan menghantam kedua kaki Queen, sehingga membuat wanita itu terjatuh dengan posisi berlutut dan kedua tangan yang di tarik kebelakang.
Krekk
“Awwwkkkhhh!!!"
Queen berteriak dengan kepala mendongak keatas. Nafla semakin kuat menarik kedua tangan wanita itu, sampai beberapa menit kemudian dia melepaskannya.
Tidak sampai di sana, merasa belum cukup puas Nafla menyambar botol minuman dan langsung menghantamkan nya pada kepala Queen hingga cairan merah bercucuran.
“Astaga!.. Nafla.. Hentikan.. " George benar-benar tercekoh oleh lembutan istrinya, sekarang dia menarik kembali kata-kata lembut itu, dan benar Nafla adalah wanita gila yang tidak pernah main-main dengan ucapanya.
Nafla menarik sudut bibirnya, membalik tubuhnya dan memberikan seringaian kecil pada sang suami.
“Kau tidak mengizinkanku membunuhnya, jadi aku terpaksa membuatnya hidup tanpa kedua tangan, aku tidak suka milikku disentuh oleh wanita lain."
Senang sekali George mendengar jawaban istrinya sampai membuatnya menahan senyum, ternyata seperti ini rasanya di cintai dan di posesifi oleh wanitanya sendiri.
“Xavier, bawa.. "
“Jika kau masih ingin memiliki kedua tanganmu, diam di tempatmu, Xavier." Nafla memberikan lirikan tajam.
Astaga, Xavier tidak jadi bergerak, bukan karena takut tetapi saat ini dia adalah bawahan Nafla, apapun yang wanita itu katakan harus patuh.
“Kau berkhianat, Xavier."
Xavier menggelengkan kepalanya. “Aku tidak berkhianat, Max, Tuan sendiri yang memintaku untuk patuh dengan perintah Nona Nafla." Jawabannya santai. Max berdecak pelan, jika seperti ini, dia yang akan mengurus Queen.
Lagi pula kenapa wanita itu tidak mau mendengarkan perintah George, sudah diberikan keamanan malah menghampiri petaka.
Sementara Queen sudah tidak sadarkan diri, George menatap datar, wanita itu salah satu orang kepercayaannya, yang biasanya dia andalkan untuk melakukan misi berbahaya.
Dan dia pikir Queen tidak memiliki ketertarikan padanya, ternyata tebakan istrinya benar-benar kenyataan.
“Terlambat untuk menyesal, kedua tangannya tidak bisa terselamatkan, meskipun sembuh, dia tidak memiliki kemampuan lagi." Nafla menendang lengan Queen yang menghalangi langkahnya.
Wanita cantik itu menyapu rambutnya kebelakang, keringat di leher jenjangnya membuatnya terlihat begitu seksi.
George menarik kursi untuk istrinya, lalu dia memberikan satu gelas air putih, sebelum menerimanya, Nafla sedikit mengangkat pandangannya, menatap sang suami sembari menarik sudut bibirnya.
“Kau tidak marah?"
George menggelengkan kepalanya. “Kau bisa menghabisi siapapun yang tidak kau sukai." Jawabnya.
Nafla mangut-mangut pelan, lalu pandangannya kembali pada Queen. “Sayang sekali dia tidak patuh, padahal kau sudah menyembunyikannya dariku." Kekehnya.
Nafla meraih gelas berisi air putih itu dan meminumnya sampai tandas.
Prang!!
Gelas kosong itu dia lemparkan kearah Queen. keadaan kamar hotel ini benar-benar kacau dan berantakan.
“Max, panggil mereka untuk membersihkan kamar ini." Titahnya.
“Baik, Tuan." Jawab Max, segera menghubungi beberapa anak buahnya untuk membawa Queen pergi dan OB untuk membersihkan kekacauan.
Nafla berdiri dan hendak pergi, tapi tiba-tiba saja George melingkarkan tangannya pada pinggang ramping istrinya dan menekan punggung wanita itu ke dadanya.
“Kau benar-benar istriku, wanita pemberani yang mengalahkan siapapun yang menghalangi langkahmu, menggoda suamimu." Bisik George
Nafla menoleh ke samping, wajah George bersandar di bahunya. “Menyingkirlah George."
Alih-alih menuruti ucapan istrinya, George malah membenamkan wajahnya di lekukan leher jenjang istrinya.
Tidak perduli jika sekarang mereka sedang di lihat oleh Max dan Xavier. Keduanya yang sudah terbiasa segera berbalik badan kearah tembok.
Hari-hari terus berlalu, baik George maupun Nafla keduanya bekerjasama dengan baik di atas ranjang, namun tidak untuk bisnis.
Namun sampai detik ini tanda-tanda akan kehadiran George junior belum juga ada.
“Sepertinya, kita harus bekerja keras untuk segera mendapatkannya." George mengeratkan pelukannya.
Nafla tidak langsung menjawab, tetapan lurus kedepan menatap keindahan lautan Brazil.
“George, apa kau begitu menginginkan bayi? apa alasannya selain kau gunakan untuk mengikat ku menggunakan anak?"
“Aku mencintaimu, semua sudah aku miliki, kekuasaan, harta dan istri yang cantik, untuk memperlengkap kebahagiaan kita, maka aku sangat menginginkan kehadiran seorang anak." Jawabnya sesekali mengecup pipi Nafla.
“Bagaimana kalau aku tidak menginginkannya?" Tanya Nafla.
George terdiam untuk sesaat, melepaskan pelukannya dan membalik tubuh Nafla agar menghadap padanya, kedua tangannya memegang bahu Nafla.
Tatapan George sangat dalam. “Aku tidak akan memaksamu, tetapi kau tidak boleh meninggalkanku. ada dan tidak adanya anak, kita harus tetap bersama."
“Kau bisa memilikinya dari wanita lain."
George menggelengkan kepalanya. “Aku tidak menginginkannya selain dari rahimmu."
“Tetapi kau pernah membunuh bayi yang berasal dari rahim ku."
George menundukkan pandangannya lalu kembali membawa istrinya masuk kedalam pelukan.
“Maafkan aku Nafla, maaf untuk semua kesalahanku." Lirihnya.
George tidak akan mengulangi kesalahan untuk kedua kalinya, dia ingin menebus semua kesalahannya di masalalu. Nafla membalas pelukan suaminya, menyandarkan kepalanya di dada bidang George.
**
Di New York
Meskipun Dua bulan berada di Brazil, tidak membuat pekerjaan pasangan suami istri itu menumpuk.
Di dalam ruangan dengan warna khas kesukaan George, hitam berkolaborasi dengan warna merah, cahaya yang tidak begitu terang.
Nafla menyandarkan Kepala di pundak sang suami yang tengah memberikan arahan kepada kedua Asistennya.
“George, aku ingin makan cake rasa caramel." Ucap Nafla memeluk lengan suaminya. sedikit mengangkat pandangannya.
George mengusap lembut kepala istrinya, tersenyum tipis. “Max, Xavier, aku percayakan transaksi malam ini pada kalian berdua."
“Baik, Tuan." Guna memenuhi keinginan istrinya, George membatalkan transaksi yang seharusnya di hadiri oleh dirinya.
Setelah kedua Asistennya pergi, George meraih pinggang istrinya. “Kita pulang."
Nafla mengangguk, lalu keduanya berdiri dan keluar dari ruangan itu. Sepanjang lorong George tidak melepaskan genggaman tangannya.
Prang!!!
Nafla menghentikan langkahnya tepat di depan pintu yang sangat amat di larang oleh George, siapapun tidak di izinkan masuk, termasuk Nafla.
Wanita cantik itu menatap suaminya dan dia teringat akan ucapan Xavier, jika didalam sana ada sesuatu yang di siapkan George untuk dirinya.
“George.. aku.. "
“Ayo pulang, patutlah Nafla." George kembali menarik tangan istrinya, sementara Nafla benar-benar ingin tau apa yang di dalam sana.
kau bkn aq kesel ngakak