Rocella gadis berusia 24 tahun, yang dijual oleh ayahnya sendiri pada seorang mafia berpengaruh di dataran Amerika dan Eropa. Kehadiran orang ketiga dalam keharmonisan keluarga menghancurkan semuanya, hidupnya hancur seketika kala ayahnya berselingkuh. Ibunya meninggal dunia karena syok dan kakak laki-laki yang tiba-tiba menghilang dihari kematian ibunya, dan demi membalaskan rasa sakit itu Roce mulai bersekutu dengan mafia yang telah membelinya. Bertekad untuk membalaskan semua dendamnya kepada ayah dan wanita selingkuhannya.
"Aku punya segalanya maka manfaatkan aku yang hanya bisa kamu miliki." ~Killian Leonardo Dextor (Killian Victorious Leonardo De Dextor)
⋆ ˚。⋆୨୧˚ ˚୨୧⋆。˚ ⋆
Latar cerita Eropa dan Amerika kalau emang nggak suka budaya mereka skip aja ya guys ya, love you all♡
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon GraceAnastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sayang Semua
Di ruang bawah tanah lebih tepatnya dikenal dengan ruangan siksa Killian tengah menata berbagai racun racikannya di dalam koper sedang yang diletakkan di atas meja. Dihadapannya sudah ada tuan Gerry yang terikat di kursi dengan keadaan masih pingsan, dibelakangnya sudah ada 7 orang wanita yang menjadi penghangat ranjang tuan Gerry terikat di dinding dengan keadaan serupa. Sedangkan anak-anaknya Killian letakan di penjara bawah yang terkenal sangat dingin, ternyata tuan Gerry sendiri sudah memiliki lebih dari 20 anak dari 7 wanita itu.
Seperti yang kita tahu bahwa Killian akan menghabisi garis keturunan mereka yang mengusiknya itu tidaklah main-main. Saat sedang fokus menata koleksinya keempat Dominic sudah memasuki ruangan dengan membawa bermacam-macam senjata.
"Ini tuan." Ujar Gerald menyerahkan beberapa pisau, pistol, bahkan katana.
"Hm, mana suntikanku?" Felix dengan cepat menyerahkan tas sedang berisi suntikan dan alat bedah lainnya.
"Bangunkan mereka!" Tanpa disuruh dua kali keempatnya langsung menghampiri mangsa mereka dan membangunkannya.
Tak ada cara halus sedikitpun untuk membangunkan mereka bahkan dengan kencang Pablo menampar salah satu wanita tuan Gerry beberapa kali hingga bangun.
"Akhhh sialan apa yang terjadi lepaskan aku!" Ujarnya sambil mencoba melepaskan diri namun usahanya sia-sia.
Matanya memerah melihat wanita yang lain memiliki nasib serupa dengannya, apalagi melihat tuan Gerry yang terikat di depan sana dalam kondisi pingsan.
"LEPAS! LEPASKAN AKU!!" Teriak wanita yang lain yang juga mulai terbangun, "SIAPA KALIAN, LEPASKAN KAMI SEKARANG JUGA SEBELUM MENYESAL! LEPAS!"
Suara itu terdengar begitu melengking di seluruh ruangan membuat keempatnya Dominic dan Killian menoleh, mereka berdesis kesal merasakan telinga mereka seakan ingin pecah karena mendengar teriakan itu.
"Shit! Bungkam mulutnya!" Decak Killian menahan amarahnya, fokusnya dalam memilah-milah racun jadi terganggu.
Mendengar perintah pemimpinnya mereka bergerak cepat membungkam mulut-mulut itu dengan lakban, mendengar keributan membuat tuan Gerry perlahan membuka matanya. Matanya langsung membelalak saat mengetahui siapa yang dihadapannya, Killian memandang tajam tanpa ekspresi masih sibuk memasukkan cairan kesuntikan.
"Tu—tuan Dextor?" Ucap tuan Gerry terbata-bata, niat hati ingin mendapatkan tanah kembali malah berakhir diruang bawah tanah.
Killian meletakan suntikan itu dari tanganya, berjalan ke arah tuan Gerry. Langkahnya berhenti tepat di depannya berjarak tiga langkah, memandangnya tanpa ekspresi lalu menatap keempat Dominic mengisyaratkan untuk keluar dari sana. Mengerti isyarat tuannya mereka segera keluar dan segera mengunci pintu dari luar, sebelum mereka naik tangga beberapa kali mereka memastikan kunci sudah sempurna karena mereka tahu jika Killian sedang mengundang Victor untuk menikmati kegilaan bersama.
"Apakah kali ini akan aman?" Tanya Pablo, ingatannya terlempar pada kejadian beberapa bulan lalu dimana mereka sudah mengunci ruang bawah tanah tapi Killian yang saat itu sedang mode Dextor dengan mudah menghancurkannya untung saja mereka sigap sehingga bisa menangani.
"Tenang sekarang sudah ada nona, apa lagi yang perlu di khawatirkan." Ujar Aaron santai, karena tuannya sudah menemukan pawang dirinya jadi tidak takut padanya jika tuannya marah tinggal berlindung saja di balik sang nona pasti aman.
"Oh iya." Ujar Pablo, Gerald, dan Felix bersamaan.
Mata mereka tiba-tiba terbelalak mengingat sesuatu, "Nona!" Pekik mereka.
Mereka teringat sang nona masih dikandang binatang buas walaupun nonanya bilang kucing tuannya jinak tapi mereka tetap saja khawatir, dengan cepat mereka melesat pergi dari sana.
Diruang bawah tanah Killian masih diam memandangi dengan raut wajah yang tidak menunjukkan ekspresi apapun, hal tersebut membuat tuan Gerry takut setengah mati melihat tatapan Killian yang begitu tajam padanya.
"Meremehkanku?" Ujar Killian dengan suara begitu serak namun nadanya tersirat begitu mencemooh.
Dengan begitu gemetar tuan Gerry mencoba membuka mulutnya, namun rasanya sungguh sulit untuk memohon bahkan untuk mengucapkan satu katapun. Killian yang memainkan lidahnya dalam mulutnya melihat reaksi tuan Gerry yang sudah begitu ketakutan bahkan sudah terkencing di celananya.
Killian mengambil salah satu suntikan yang berisi cairan pelumpuh alat vital, memainkannya dengan begitu lihai. Tuan Gerry yang melihat hal tersebut mencoba menggerakkan tubuhnya seakan menjauhkan diri dari Killian yang mulai mendekatinya, pita suaranya seakan hilang tak ada kata yang bisa keluar dari mulutnya selain wajah yang berbicara seakan menolaknya. Tanpa perasaan Killian menancapkan suntikan itu di paha tuan Gerry yang berbalut celana, tanpa bius, tanpa perasaan, penuh penekanan.
Tuan Gerry melebarkan matanya menahan rasa sakit itu, membuka mulutnya mencoba berteriak. Di belakang sana ketujuh wanita yang melihat adegan tersebut memberontak mencoba berteriak walaupun tidak bisa karena mulut mereka terlakban.
"Nikmat?" Tanya Killian dengan nada begitu puas, tak selang lama tuan Gerry merasakan sakit pada alat kelaminnya yang tiba-tiba membengkak seakan ingin meledak.
Dengan wajah yang begitu ketara antara ketakutan, kesakitan, serta kekalahan tuan Gerry menggelengkan kepalanya.
"Hah hah hahhhh," Tak ada kata yang terucap hanya suara yang mengandung isyarat.
"HAHAHAHA"
Killian tiba-tiba tertawa melihat ekpresi puas korbannya, mengambil suntikan lain lalu menusuknya di lengan kiri. Semua berjalan cepat mulut tuan Gerry tiba-tiba mengeluarkan darah begitu banyak, seakan belum juga puas Killian kembali menyuntikkan cairan membuatnya kejang-kejang.
Killian beralih pada pisau bedah dengan keahlian bak seorang dokter bedah dia mulai dari lengan, Killian membuatnya seolah-olah sebuah semangka yang diukir oleh chef profesional. Karya yang pertama dia buat adalah motif harimau, Killian beralih ke sisi lengannya yang lain untuk membuat motif singa. Tuan Gerry sudah lemas di buatnya, sudah seperti mayat tapi masih bernafas, ketujuh wanita di belakang sana sudah meteskan air mata meratapi nasib mereka.
Killian tersenyum kecil senyum puas karena mendapatkan mangsa untuk hari ini, melihat bagaimana nasib orang yang sudah meremehkannya serta menentangnya begitu menyedihkan membuatnya begitu senang.
"Victor!" Gumamnya memanggil sesuatu dalam dirinya untuk segera bangkit dan bergabung bersamanya menikmati kesenangan dunia ini.
Tatapan matanya semakin tajam, kini dirinya sudah tidak bisa mengenali orang lain dia hanya bisa melihat orang lain sebagai mangsanya.
Dextor, tanpa sungkan langsung mengambil pisau memutilasi tubuh tuan Gerry mencincangnya seperti daging hewan. Melihat hal tersebut membuat wanita disana begitu ketakutan bahkan sampai bergetar, apalagi mendengar tawa Dextor yang begitu menggelegar keseluruh penjuru ruangan. Bahkan penjaga yang berjaga di pintu atas ruangan bawah tanah begitu merasakan tawa iblis itu, seperti iblis yang berasal dari neraka.
Setelah mangsa utamanya mati Dextor beralih pada ketujuh wanita itu dengan sekali ayunan pedang dia menebas semua kepala mereka, kemudian beralih memotong tubuh mereka. Matanya berkilat penuh nafsu saat merasakan cairan merah muncrat di wajahnya, merasa belum puas Dextor berjalan keluar namun sayang pintu ruangan itu tertutup. Dextor mengeram marah, mengambil kapak merusak engsel pintu baja itu.
Ruangan bawah tanah terdapat banyak ruangan penjara dan penyiksaan yang mana setiap ruangan di beri pintu yang begitu kuat, tepat yang kini disinggahi adalah ruang penyiksaan utama yang mana berada di bagian paling depan didepannya terdapat tangga menuju ruang atas. Penjaga yang mendengar pintu jatuh segera menghubungi tangan kanan tuannya, jantung mereka sudah sangat kencang mendengar suara jeritan dari dalam sel tahanan. Tuannya sudah sangat gila dan tak terkendali, tuannya benar-benar iblis yang keluar dari neraka untuk berjelajah kebumi.
Dor
Dor
Suara tembakan begitu nyaring berasal dari bawah, tak lama setelahnya keempat Dominic dan nonanya datang.
"Aku akan masuk, kalian tunggulah disini!" Ujar Roce membuka kunci pintu memasuki ruang bawah tanah.
Dapat Roce rasakan begitu sesak dengan cahaya remang, ruangan terasa begitu dingin saat menuruni anak tangga bahkan bau darah begitu terasa. Matanya memandang ruangan yang terbuka dengan pintu rusak, didalamnya banyak mayat yang begitu mengenaskan.
Roce beralih berjalan kearah lain mengikuti jejak sepatu berlumur darah, sepanjang perjalanan banyak mayat yang tergeletak baik di luar penjara ataupun di dalam. Di ujung sana terlihat punggung kekar seorang pria yang terlihat begitu menawan tapi terkesan begitu menakutkan, dengan aura yang mencekam.
"Dextor." Panggilnya lirih, telinganya yang tajam membuatnya langsung menoleh.
Wajah tampan berlumur darah dengan mata yang begitu bernafsu dengan mangsanya seketika sirna di gantikan tatapan memelas seperti anak kecil yang akan di marahi ibunya.
"Roce!" Lirihnya dengan terkejut, Roce menghela nafas Dextor dihadapnya adalah Thania versi laki-laki.
"Masih ingin bermain-main?" Tanya Roce dengan santai, namun Dextor salah mengartikan membuatnya langsung panik.
Dengan cepat Dextor menggeleng namun kakinya masih saja menginjak mangsa terakhirnya, "Kalau begitu ayo pulang!" Ujar Roce, dengan patuh Dextor mengikuti Roce dari belakang dengan raut yang begitu imut seperti anak kecil yang dimarahi ibunya. Saat menaiki tangga Roce memberi sinyal melalui ketukan sepatu memerintah mereka yang disana untuk bersembunyi dari pandangan Dextor.
"Mandilah!" Ujar Roce saat mereka sudah berada di kamar Killian, Dextor masih memasang wajah kasihannya.
"Roce jangan marah." Lirih Dextor memandang Roce dengan mata berkaca-kaca.
Roce menghela nafas mendapati bayi besarnya mulai menangis, "Maka mandilah dulu!"
Tak ingin membuat Roce marah Dextor segera membersihkan dirinya, tak selang lama dia keluar hanya menggunakan boxer. Di ranjang Roce tengah memainkan handphonenya dengan begitu serius, Dextor segera menghampirinya. Dengan rambutnya yang masih basah memeluk perut Roce erat menyembunyikan wajahnya dan bermanja-manja.
"Kenapa?" Tanya Roce sambil meletakkan handphonenya, jarinya menyisir rambut basah Dextor dengan lembut.
"Sayang Roce." Ujar Dextor, Roce mengangguk "Yes, I know."
Dextor berdecak dengan wajah cemberut, "Ish kok gitu sih!"
Roce menghela nafas, "Ya aku harus gimana?" Tanyanya polos.
"Balas dong!" Kesal Dextor, "Iya aku juga sayang Killian, sayang Victor, dan sayang Dextor sayang semua pokoknya."
Guys latar cerita ini budaya barat ya, kalau emang kalian merasa ini melenceng dari budaya kita it's okey emang ini faktanya. Jadi kalau emang nggak suka bisa langsung skip ya say, see you guys.