Rania menjalani kehidupan yang monoton. Penghianatan keluarga, kekasih dan sahabatnya. Hingga suatu malam, ia bertemu seorang pria misterius yang menawarkan sesuatu yang menurutnya sangat tidak masuk akal. "Kesempatan untuk melihat masa depan."
Dalam perjalanan menembus waktu itu, Rania menjalani kehidupan yang selalu ia dambakan. Dirinya di masa depan adalah seorang wanita yang sukses, memiliki jabatan dan kekayaan, tapi hidupnya kesepian. Ia berhasil, tapi kehilangan semua yang pernah ia cintai. Di sana ia mulai memahami harga dari setiap pilihan yang dulu ia buat.
Namun ketika waktunya hampir habis, pria itu memberinya dua pilihan: tetap tinggal di masa depan dan melupakan semuanya, atau kembali ke masa lalu untuk memperbaiki apa yang telah ia hancurkan, meski itu berarti mengubah takdir orang-orang yang ia cintai.
Manakah yang akan di pilih oleh Rania?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SunFlower, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#31
Happy Reading...
.
.
.
Ponsel Rania berbunyi pelan, namun cukup untuk memecah keheningan. Ia yang sedari tadi duduk termenung di sofa apartemen segera meraih benda itu. Jemarinya bergerak otomatis, matanya menatap layar dengan harapan yang bahkan tidak ingin hatinya akui. Namun harapan itu pupus.
Nama Jordi tertera jelas di layar ponselnya.
Raut kecewa langsung tergambar di wajah Rania. Sudut bibirnya turun, matanya meredup. Ia menghela napas panjang, seolah mencoba menahan rasa sesak yang tiba-tiba memenuhi dadanya.
“Kenapa harus kamu...” gumamnya lirih.
Ia sempat berniat mengabaikan pesan itu. Bahkan jarinya sudah hampir menekan layar untuk mengunci kembali ponsel tersebut. Namun entah mengapa, tangannya berhenti. Ada perasaan mengganjal di hatinya, perasaan yang tidak mau pergi meski ia berulang kali menolaknya. Dengan napas berat, Rania akhirnya membuka pesan dari Jordi.
Pesan itu tidak panjang, namun cukup untuk membuat dadanya berdenyut.
Jordi memohon agar Rania mau menjenguk Alisa dan Melisa. Ia mengatakan bahwa kondisi Alisa semakin memburuk. Dan Melisa juga tidak dalam keadaan baik-baik saja dan sangat membutuhkan bantuan. Di bagian akhir pesan, Jordi menyertakan alamat rumah sakit tempat Alisa kini dirawat.
Rania membaca pesan itu lebih dari sekali. Matanya bergerak pelan, seolah berharap kata-kata di layar berubah menjadi sesuatu yang tidak menambah beban pikirannya. Namun tidak. Setiap kata justru terasa semakin berat.
“Aku tidak ada lagi urusan dengan mereka..” ucap Rania pelan, hampir tak terdengar. Ia berusaha untuk meyakinkan dirinya sendiri.
Ia meletakkan ponselnya di pangkuan, lalu menyandarkan tubuhnya ke sandaran sofa. Matanya terpejam, kepalanya terasa pening. Dalam benaknya, kenangan lama kembali bermunculan tanpa izin. Wajah Alisa kecil yang selalu memanggil namanya dengan ceria. Senyum polos yang dulu sering membuatnya lupa pada luka-luka yang ia simpan.
Namun bersamaan dengan itu, ingatan pahit juga ikut menyeruak. Pengkhianatan. Pengabaian. Luka yang ia rasakan sendirian tanpa ada satu pun dari mereka yang peduli. Rania meremas jemarinya sendiri.
Ia membuka mata dan menatap kosong ke arah jendela. Lampu-lampu kota tampak berkelip indah di kejauhan, namun tidak satu pun mampu menghangatkan hatinya. Kehidupan yang sekarang ia jalani adalah kehidupan yang susah payah ia bangun kembali. Kehidupan di mana ia mendapatkan kehormatan meskipun tidak ada kehangatan. Kehidupan tanpa berharap pada siapa pun.
Rania ingin bersikap egois. Ingin berpura-pura tidak peduli. Bukankah selama ini ia yang selalu ditinggalkan? Bukankah selama ini ia yang selalu berusaha untuk tetap kuat sendirian?
Namun di sisi lain, ada suara kecil di hatinya yang terus mendesak. Suara yang mengingatkannya bahwa Alisa tetaplah adiknya. Bahwa gadis kecil itu tidak pernah benar-benar bersalah atas semua yang terjadi kepada dirinya.
Rania mengusap wajahnya kasar. “Kenapa aku harus dihadapkan pada pilihan seperti ini..” ucapnya lirih.
Di dalam hatinya, perdebatan itu semakin sengit. Antara keinginan untuk pergi dan memastikan kondisi Alisa dengan mata kepalanya sendiri atau keinginan untuk tetap bertahan di tempatnya sekarang. Di kehidupannya yang baru. Di dunia yang perlahan membuatnya merasakan aman.
.
.
.
Setelah melewati pergulatan batin yang panjang dan melelahkan, Rania akhirnya mengambil keputusan. Ia memilih untuk pergi ke rumah sakit dan melihat kondisi Alisa dengan mata kepalanya sendiri. Tanpa memberitahu siapa pun. Bahkan Arkana.
Rania meraih jaketnya yang tergantung rapi di balik pintu. Ia mengenakan masker, lalu mengambil kunci mobil yang sebelumnya Sonya katakan adalah mobil miliknya. Sebuah mobil hitam elegan yang dulu tidak pernah berani ia bayangkan untuk dimiliki. Perlahan, Rania mengendarai mobil itu keluar dari area apartemen. Sepanjang perjalanan, jantungnya berdegup kencang. Setiap lampu merah terasa begitu lama, setiap melewati persimpangan membuat pikirannya semakin kalut.
Setelah tiba di rumah sakit yang alamatnya tertera dalam pesan Jordi, Rania langsung memarkirkan mobilnya. Namun, ia tidak segera turun. Ia memilih diam di dalam mobil, menundukkan kepala, mengatur napasnya. Tangannya mencengkeram kemudi erat-erat, mencoba menenangkan detak jantungnya yang tidak mau diajak bekerja sama.
Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya Rania membuka pintu mobil dan melangkah keluar. Langkahnya terhenti mendadak saat ia tak sengaja melihat sosok yang sangat ia kenali. Jordi. Lelaki itu tampak berjalan keluar dari gedung rumah sakit. Rania refleks mundur dan bersembunyi di balik deretan mobil yang terparkir, memastikan Jordi tidak melihat keberadaannya. Ia menunggu hingga sosok itu benar-benar menghilang dari pandangannya.
Setelah yakin keadaan aman, Rania melangkah cepat menuju ruang rawat tempat Alisa dirawat. Ia berhenti di depan kaca pembatas ruangan. Dari sana, Rania menatap ke dalam dengan perasaan yang sulit ia jelaskan. Tubuh Alisa terlihat sangat kurus. Wajah yang dulu selalu dihiasi senyum ceria kini tampak pucat dan sendu. Selang infus terpasang di tangannya, seolah menjadi pengingat betapa rapuhnya kondisi adiknya itu saat ini.
Di sisi ranjang, Melisa duduk dengan wajah lelah. Satu tangannya menggenggam erat tangan Alisa, sementara tangan lainnya mengusap lembut kening adiknya, penuh kasih dan kekhawatiran. Pemandangan itu membuat dada Rania terasa sesak. Ia meremas ujung jaketnya, menahan perasaan yang mendadak menyerbu tanpa izin.
Di dalam ruangan tersebut, terdapat lebih dari empat pasien lain. Tempat tidur tersusun rapat, hanya dipisahkan tirai tipis. Rania menelan ludahnya. Ia membatin, sesulit apa hidup mereka hingga harus menjalani perawatan di ruangan yang penuh sesak seperti itu. Hatinya kembali teriris, meski ia berusaha menyangkalnya.
Tak lama kemudian, seorang perawat keluar dari ruangan. Tanpa berpikir panjang, Rania mengikuti langkah perawat itu hingga mereka berada cukup jauh dari ruang rawat Alisa. Dengan ragu, Rania memanggilnya.
“Permisi, Suster,” ucap Rania pelan.
Perawat itu menoleh dan tersenyum sopan. “Iya, ada yang bisa saya bantu?”
Rania menarik napas dalam-dalam. “Saya ingin menanyakan kondisi pasien bernama Alisa.”
Perawat itu mengangguk, lalu menatap Rania dengan sorot penuh kehati-hatian. “Boleh tahu hubungan Anda dengan pasien?”
Rania terdiam sesaat sebelum akhirnya menjawab. “Saya kakaknya.”
Mendengar itu, ekspresi perawat sedikit melunak. Ia pun mulai menjelaskan dengan suara yang tenang namun serius. “Pasien mengalami kelumpuhan pada salah satu kakinya dan kerusakan pada salah satu ginjal akibat kecelakaan beberapa bulan yang lalu. Kondisinya cukup serius.”
Tubuh Rania menegang. Tangannya perlahan mengepal.
“Untuk saat ini, pasien membutuhkan tindakan operasi secepatnya.” lanjut perawat itu. “Jika tidak segera dilakukan, kondisinya bisa semakin memburuk dan berisiko menyebabkan cacat permanen.”
Kata-kata itu menghantam Rania tanpa ampun. Dunia seakan berhenti berputar. Ia merasa napasnya tercekat di tenggorokan, sementara kepalanya dipenuhi berbagai pikiran yang saling bertabrakan. Rania hanya mampu berdiri kaku, menatap lantai rumah sakit yang dingin, mencoba mencerna kenyataan pahit yang baru saja ia dengar..
.
.
.
JANGAN LUPA TINGGALKAN JEJAK...
raka itu siapa
gaaaas pol
beneran baru nemu yg alur'a spt ini
lanjutkaaan
susah nyari yg begini
💪💪💪rania
ish... kasian, hidup segan mati tk mau💪