Rani yang masih berusia 18 tahun, dengan rela dinikahi Malik yang berusia 50 tahun, pria yang baik dan pernah menyelamatkan hidupnya. dimana Malik, pria tua itu selama lima tahun menderita disfungsi yang tak bisa disembuhkan. Dan Rani lah orang yang dapat menyembuhkan penyakit itu
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Danira16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rencana Licik Rico
Dan pada pagi harinya, Rani turun dari peraduan dengan jalan agak tertatih, miliknya benar-benar semalam dirasuki kembali oleh Malik. Bahkan Malik saat mengecek daerah intimnya terlihat bengkak dan memerah.
Rani berjalan pelan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya dari pergulatan serunya bersama suaminya. Rani meredamkan rasa sakit pada intinya dengan berendam di kolam air hangat.
Rasanya badannya remuk semalaman Malik membalik balikan dirinya dengan berbagai posisi, Rani pun memutuskan menyudahi ritual mandinya dan berjalan ke walk in closet.
Rani membuka lemari dan meraih salep untuk meredakan rasa nyeri pada area yang semalam ditumbuk Malik. Untungnya ia selalu sedia salep yang ia beli dari apotek, sungguh gila rasanya hampir tiap hari suaminya selalu meminta nafkah batin darinya.
Bahkan bukan sekali saja dalam sehari, Malik bisa sampai menaburkan benihnya sebanyak tiga sampai lima kali, itu saat keduanya 2 hari berturut-turut di Bali pas baru pertama sampai di villa.
Rani keluar dari walk in closet setelah ia tampil sederhana namun terlihat cantik dengan memakai gaun Bali yang ia beli dari toko pakaian di dekat pantai.
Pakaian yang terbilang murah dan sederhana tak terlihat murahan ketika Rani yang menggunakannya. Rani berjalan keluar dari kamar meninggalkan suaminya yang masih terlelap tidur.
Rani menuju dapur dan melihat ART sedang menyiapkan sarapan, ia pun berniat akan membantu pelayan tua yang sedang memotong-motong sayuran.
"Masak apa bi Ijah?" Tanya Rani menatap sayuran yang telah siap akan di masak.
"Eh nyonya Rani, saya baru saja mau masak sup ayam. Ini makanan kesukaan non Mesya." Jawab bi Ijah.
Rani mengangguk, lalu ia mengambil beberapa peralatan masak, bi Ijah pun melarangnya.
"Nyonya mau apa? Jangan bilang nyonya Rani mau masak?" Ucap bi Ijah.
"Memang, apa lagi coba, nih udah aku siapkan panci nya." Jawab Rani menunjukkan panci yang telah da dalam genggamannya.
"Jangan nyonya, nanti saya kena marah tuan Malik. Nyonya Rani cukup balik ke kamar dan bersantai saja, nanti kalo sudah selesai saya akan memanggil nyonya." Ucap bi Ijah.
Mendengar bi Ijah memanggilnya dengan sebutan nyonya membuatnya terasa aneh terdengar olehnya. Karena biasanya wanita itu memanggil Rani dengan sebutan non Rani, tapi ini beda karena kini ia statusnya adalah seorang istri dari pria tua yang menjadi majikan bi Ijah.
"Sepertinya bi Ijah gak perlu manggil aku dengan sebutan nyonya, Rani merasa tua banget." Ucap Rani.
Bibi Ijah malah tersenyum, ia pun juga terpaksa memanggil itu karena sejatinya ya memang statusnya telah berubah.
"Mau gimana lagi nyonya, kalo tidak nanti tuan Malik menganggap saya gak hormat sama nyonya Rani."
Rani malah terkekeh dengan menepuk bahu bi Ijah, "tidak mungkinlah mas Malik marah, tapi ya sudahlah terserah bi Ijah saja."
Kini bi Ijah yang terkekeh mendengar nyonya majikannya memanggil tuan nya dengan sebutan mas, padahal dulu Rani sering memanggil Malik dengan panggilan kakek.
"Kenapa tertawa bi? Ada yang lucu ya?" Tanya Rani memicing.
"Tidak ada nyonya, hanya lucu saja nyonya memanggil tuan dengan sebutan mas." Kekeh sang bibi yang kini malah membuat Rani mengarukan tengkuknya yang tidak gatal sama sekali.
"Masa sih bi?" Lirih Rani, namun kemudian ia malah tertawa bareng setelah mencerna nya lagi.
"Tuh kan benar aneh kan? Bibi aja merasa aneh denger Rani panggil kakek Malik dengan panggilan mas, sama juga Rani merasa lucu dipanggil nyonya. Rani kan masih muda banget." Cicit Rani.
Keduanya pun sempat memasak bersama setelah mereka tertawa bersama dan bercanda, dari jarak yang tak terlalu dekat seorang wanita melihat mereka dengan sinis.
Wanita itu siapa lagi kalau bukan Susan yang saat itu hendak ke dapur ingin mengambil air minum karena stok minuman di kamarnya telah habis.
"Lihat saja nanti kamu jal*Ng kecil, aku akan membuat mu malu satu kampung." Umpatnya dalam hati.
Entah apa yang akan dilakukan oleh Susan dengan rencana liciknya yang telah di rancang oleh Rico pastinya.
##
Karena waktu akan menjelang sore, akhirnya Tikno memutuskan untuk pulang ke rumah nya, namun sebelumnya ia akan mengantarkan Winda untuk kembali ke tempat semula mereka bertemu tadi.
Supaya Tikno bisa aman dari amukan istri bawelnya, sungguh ia merasa tak berselera jika bermain dengan sang istri. Mungkin karena pria itu sudah kerap memasuki lahan muda yang legit sehingga rasa nya ia menjadi tak bersemangat ketika sang istri mengajaknya main kuda-kudaan.
"Jangan lupa bagian Winda om, kan tadi Winda dah serv1ce om!" Ucap nya setelah ia turun dari motor besar Tikno.
"Iya gak usah khawatir pokoknya beres."
Winda tersenyum dan sempat mengedipkan nakal matanya pada om hidung belang, lalu ia berjalan gemulai menjauh dari Tikno.
Pria yang masih ada diatas motornya pun tersenyum senang sehabis bertemu dengan Winda.
"Winda.....Winda, kamu ini sangat cantik dan hebat maen nya, walau lebih cantik Rani tapi kamu yang teer the best lah." Pujinya dengan senyum-senyum bak orang yang sedang dimabuk asmara.
Pulang dari pergi bersama Winda Tikno terlihat bersemangat, apalagi setelah 10 hari ia dan kekasihnya itu tidak bertemu.
"Mas kamu baru pulang?" Tanya Susi menatap suaminya curiga, wanita itu merasa bahwa Tikno terlihat begitu bahagia.
"Iya, mas mau mandi dulu capek." Tukas Tikno menghindar dari omongan istrinya nanti yang ke mana-mana.
"Kamu kenapa kelihatan seneng gitu?" Tanya Susi membuat langkah Tikno terhenti saat itu juga.
Pria itu menoleh pada istrinya yang ia belakangi, Tikno tersenyum menatap sang istri supaya Susi tak curiga.
"Tidak apa sayang, hanya saja tadi cukup senang bertemu kawan lama." Bohong Tikno.
"Teman atau teman mas? Jangan bohong kamu?"
"Teman koq sayang, memangnya kenapa sih? Jangan curigaan gitu sama mas." Tukas Tikno sekuat tenaga ia ingin membuat istrinya melenyapkan rasa curiganya pada dirinya.
Bisa bahaya nantinya jika ia ingin bertemu kembali dengan Winda.
"Ya sudah sana kamu mandi dulu." Perintah sang istri bersikap sewajarnya.
Tikno pun melangkah menuju kamar mandi dan disitulah ia merasa lega karena sang istri tidak mencecar pertanyaan lagi.
"Leganya.....untung karung beras gak curiga." Kekeh Tikno di dalam ruangan sempit itu.
Sedangkan Susi sepeninggal suaminya yang sedang bersih-bersih, ia pun menatap ponsel suaminya yang tadi ia taruh di atas nakas samping tempat tidur.
Hatinya tak tenang akan jawaban suaminya tadi, hingga Susi memutuskan meraih handphone sang suami untuk mencari isi pesan yang ada di benda pipih itu.
"Lihat aja kamu mas kalo sampai kamu bohong, awas aja." Keluh Susi dan mulai hendak ingin tahu.
Namun sayangnya ponsel Tikno ternyata di password, dan Susi yang berusaha ingin mencari tahu informasi tentang suaminya terpaksa tak bisa.
"S1alan kamu mas, bisa-bisanya hp kamu kasih pasword." Geram Susi, ia sudah 3 kali mencoba pasword ponsel Tikno tapi tak bisa membuka kuncinya.
Susi pun terlihat frustasi, hingga ia pun menaruh ponsel Tikno kembali ketempat semula dengan penuh emosi. Dan Susi merasa aneh pada tingkah laku suaminya, ia sering melihat gelagat aneh ketika ia mengintip suaminya sedang senyum-senyum sendiri melihat ponselnya.
Belum lagi Tikno sering bernyanyi kecil layaknya orang yang sedang jatuh cinta. Sungguh buat orang curiga, terutama ia sebagai istri. Dan Susi mengira ini ada kaitannya dengan seorang wanita, karena memang suaminya itu sangat suka wanita muda dan cantik. Juga yang memiliki tubuh indah dan s3k$i.
"Aku harus cari tahu ini semuanya...." Batin Susi mulai ingin mencari tahu yang berkaitan dengan suaminya.