NovelToon NovelToon
Silent Trauma —Another Me

Silent Trauma —Another Me

Status: sedang berlangsung
Genre:Trauma masa lalu / CEO / Tamat
Popularitas:8.7k
Nilai: 5
Nama Author: Lily Vey

[SEDANG HIATUS!]


Diana Xylaria, Gadis cantik yang ceria dan optimis, ternyata ada rahasia besar tentang dirinya yang bahkan dia tidak tau.

Hidupnya yang biasa saja tiba tiba terusik karena pertemuannya dengan CEO dari sebuah perusahaan besar, Rylan Axelion. Namun sayang, keduanya bahkan tak ingat telah menghabiskan malam bersama.

Ditengah badai perebutan kekuasaan di keluarga Rylan, serta tentangan dari wanita yang berkuasa, Rylan dan Diana harus terus berjuang agar bisa bersama.

Akankah mereka bisa bersama?
Dan Apa sebenarnya Rahasia kelam Diana?

Simak ceritanya di sini.

ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩـ٨ـﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ﮩﮩ٨ـ♡ﮩ٨ـﮩﮩ٨ـ

「 ✦ UPDATE SENIN DAN KAMIS ✦ 」

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Vey, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 32

"Astaga, Diana! Bagaimana bisa kau bangun kesiangan!"

Aku berteriak histeris, suara melengkingku memantul di dinding kamar yang sepi. Jantungku mencelos saat melihat angka digital di layar ponsel yang menunjukkan pukul 09.15.

Ini mustahil. Aku ingat betul sudah menyetel lima alarm dengan interval lima menit. Namun, tak satu pun dari mereka bersuara. Keheningan pagi ini terasa seperti pengkhianatan yang nyata.

Tanpa membuang waktu satu detik pun, aku melompat turun dari tempat tidur hingga hampir tersungkur. Aku berlari ke kamar mandi, hanya sempat membasuh muka dengan air dingin yang mengejutkan sarafku. Tidak ada waktu untuk mandi. Tidak ada waktu untuk sarapan.

Rambutku yang berantakan kusisir dengan kasar, mengabaikan rasa perih saat sisir itu menarik beberapa helai rambut hingga rontok. Tanganku menyambar kemeja apa saja yang terlihat rapi, mengenakannya dengan gemetar, dan langsung berlari keluar.

Aku sampai di kantor dengan napas memburu dan peluh tipis di dahi tepat jam 10 lewat 5 menit. Rekor terburuk dalam sejarah karierku. Belum pernah aku setelat ini, kecuali mungkin beberapa kali saat aku masih di asrama dulu karena begadang mengerjakan tugas.

Suasana di kantor hari ini terasa ganjil, lebih ramai dan riuh dari biasanya. Orang-orang berdiri dalam kelompok kecil, berbisik-bisik sambil menunjuk layar komputer atau memegang brosur mengkilap.

Saat aku melangkah melewati meja mereka, beberapa rekan menoleh, lalu melemparkan senyum yang sulit kuartikan. Aku hanya membalas dengan senyum kaku, lalu segera menghilang di balik pintu lift yang tertutup rapat.

Pintu lift berdenting lembut saat sampai di lantai teratas. Aku melangkah keluar dengan ragu, mengamati ruangan luas yang biasanya sunyi itu.

Di sana, di atas sofa beludru, Tuan Rylan duduk dengan santai. Dia tidak tampak marah. Sebaliknya, dia justru menatapku dengan senyum tipis yang tampak… tulus?

Aku menghampirinya dengan langkah kecil, kepalaku tertunduk dalam. Tanganku terasa sedingin es, dan segala macam skenario pemecatan mulai menari-nari di pikiranku.

"Maaf, Tuan Rylan. Aku benar-benar minta maaf karena terlambat," ucapku dengan suara mencicit.

"Tak apa. Aku tahu kau sangat lelah akhir-akhir ini. Ayo, duduk di sini sebentar," jawab Tuan Rylan sembari menepuk sisi kosong sofa di sebelahnya.

Aku terpaku sejenak, terkejut dengan reaksinya yang sangat lembut. Aku pun duduk di sana, namun mataku tidak fokus. Rasanya seperti pencuri yang tertangkap basah. Tiba-tiba, sebuah paper bag berwarna putih dengan aksen keemasan disodorkan ke hadapanku.

"Ini untukmu."

Aku menerimanya dengan ragu, lalu mengintip ke dalam. Di sana, terlipat rapi sebuah kain berwarna putih mutiara dengan tekstur yang sangat halus. Sebuah gaun?

"Apa ini, Tuan Rylan?" tanyaku memastikan, suaranya hampir hilang.

Tuan Rylan tidak langsung menjawab. Dia justru mengambil sebuah kartu tebal dengan desain mewah dari atas meja dan memberikannya padaku. "Tiga hari lagi. Pesta ulang tahun Lion Group yang ke-100. Pakai baju itu di sana."

"Hah?" Responku keluar tanpa sadar. Otakku berusaha mencerna informasi itu. Seratus tahun? Pesta besar? Dan dia memberiku baju?

Tuan Rylan tiba-tiba memalingkan wajah ke arah jendela. Aku bisa melihat ujung telinganya memerah secara tidak wajar.

"Aku baru saja membeli jas baru, dan itu datang satu set dengan baju itu. Kupikir, daripada tidak terpakai, lebih baik kuberikan padamu. Anggaplah itu hadiah kecil atas kerja kerasmu selama ini."

Alasan yang sangat tidak masuk akal untuk pria sekelas dia, tapi aku terlalu terkejut untuk membantah. "Oh… Oke. Terima kasih banyak, Tuan Rylan," ucapku, dan bibirku perlahan membentuk sebuah kurva senyum yang tak bisa kutahan.

Aku memasukkan undangan itu ke dalam tas, tapi kemudian kenyataan menghantamku.

"Tunggu dulu… Ulang tahun ke-100? Tiga hari lagi?!" seruku setengah berteriak. "Artinya ada banyak sekali yang harus kita persiapkan, kan, Tuan? Di mana acaranya diadakan? Siapa saja tamunya?"

Rentetan pertanyaanku membuatnya sedikit terperanjat. Dia tertawa kecil, suara baritonnya yang rendah membuat wajahku mendadak panas. Aku merasa seperti asisten yang terlalu bersemangat.

"Aku sudah mengirimkan semua datanya ke ponselmu. Kau tak perlu khawatir berlebihan," ucapnya sembari bangkit dan melangkah menuju ruang pribadinya.

"Oh iya Tuan," panggilku tiba-tiba, membuat langkahnya terhenti. "Sudah beberapa hari ini aku tidak melihat Vino. Di mana dia?"

Punggung Tuan Rylan menegang sejenak. Dia menjawab tanpa menoleh sedikit pun. "Oh, dia sedang kuberi sedikit pekerjaan… di luar."

Dia memberikan senyum misterius sebelum menutup pintu ruangannya. Aku menatap pintu itu dengan perasaan aneh, lalu beralih menatap hadiah di tanganku.

Hadiah.

Kata itu terasa manis, sekaligus meninggalkan rasa senang yang tak bisa kujelaskan.

\=\=\=

Di dalam ruang pribadinya yang kedap suara, Rylan merebahkan tubuhnya ke atas kasur empuk. Dia menatap langit-langit sejenak, mengedipkan matanya perlahan, lalu mengangkat tangannya ke depan wajah, seolah sedang menghitung garis-garis di jari-jarinya.

Cahaya matahari yang masuk melalui gorden yang tersingkap membuat ruangan itu mandi cahaya keemasan. Rylan bangkit dengan gerakan malas, menutup gorden itu hingga ruangan menjadi remang, lalu mengambil sebuah buku jurnal kecil bersampul kulit dari dalam laci meja yang terkunci.

Dia meraih pena, lalu mulai menulis dengan tulisan tangan yang sangat rapi namun tajam.

Ada banyak yang harus kita kerjakan.

Kita.

Rylan menggarisbawahi kata itu dengan tekanan kuat hingga kertasnya hampir robek. Di bawahnya, dia menuliskan poin-poin observasi hari ini.

Hadiah berpindah tangan. Reaksinya Sesuai prediksi. Dia tidak menolak sama sekali.

Dia tersenyum sangat manis saat mengucapkan terima kasih. Sangat kontras dengan 'dia' yang lain.

Rylan meletakkan penanya, lalu membalik halaman-halaman sebelumnya yang terbuka ditiup angin AC. Halaman-halaman itu penuh dengan catatan pengamatan Rylan.

Diana terdiam dalam waktu lama. Melamun di meja kerja tanpa berkedip. Tidak merespon saat dipanggil. Istilah medis: STUPOR.

Xena terbangun. Sangat emosional dan tidak stabil. Dia menangis hebat, bergumam sedikit, lalu mendadak berubah menjadi dingin dan sinis dalam hitungan detik.

Diana kembali sadar. Terjadi diskoneksi ingatan. Gerakannya terlihat kaku dan tidak sinkron. Dia tersipu malu saat aku memberinya teh hangat, sama sekali tidak ingat tentang apa yang baru saja terjadi.

Rylan meraih sebatang cokelat Toblerone dari atas nakas, mematahkannya satu bongkah, lalu mengunyahnya perlahan sambil tiduran santai. Matanya yang dingin menatap langit langit ruangan sambil sesekali tersenyum membaca kembali tulisannya.

 \=\=\=

Jam 1 siang, aku duduk di meja kerjaku dengan segelas kopi dingin. Aku mulai menelusuri data yang dikirim Tuan Rylan. Pesta itu akan diadakan di Lumina Grand Hall, sebuah tempat yang hanya bisa disewa oleh kalangan elit.

Lion Group benar-benar mengerahkan segalanya. Rekan bisnis dari luar negeri, pejabat tinggi, hingga selebriti papan atas akan hadir. Namanya tertulis di sana: Aura Celestia. Aktris dan penyanyi yang sedang naik daun itu bukan hanya tamu, tapi juga pengisi acara utama.

Aku masih asyik membaca detail protokol keamanan saat sebuah notifikasi pesan masuk dari nomor yang tidak kukenal.

“Diana. Kau merasa hebat sekarang, huh?”

“Setelah tidak membalas pesanku kemarin, kau jadi semakin sombong ya?”

Aku menatap layar itu dengan dahi berkerut. Siapa ini? Kenapa nadanya begitu agresif?

"Maaf, tapi kau siapa?" balasku singkat.

Detik berikutnya, balasan langsung muncul.

“Oh.. Jadi kau sudah menghapus nomor kontakku? Cepat sekali. Ingat ini, aku Calantha.”

"Aku memang tidak pernah menyimpan nomor Anda, Nona Calantha. Dan aku tidak mengerti apa maksud Anda," ketikku, mencoba tetap sopan meski emosiku mulai naik.

“Jangan berpura-pura bodoh! Pantas saja pesanku tidak kau balas kemarin. Kau pasti sengaja menghapusnya, kan?"

Aku terdiam sejenak. Kemarin? Aku memeriksa seluruh riwayat pesan di ponselku. Tidak ada satu pun pesan dari Calantha kemarin. Tidak ada panggilan tak terjawab. Kosong.

“Mau aku perlihatkan kembali video Grace?” sambung pesan itu lagi.

Jantungku tiba-tiba berdegup kencang. Nama itu lagi. Grace. Kenapa nama itu terdengar begitu familiar namun di saat yang sama terasa seperti lubang hitam dalam ingatanku?

"Siapa Grace? Kau selalu menyebut nama-nama yang aneh," balasku, tanganku mulai bergetar.

“Hah! Pengecut kau, Diana! Jangan berakting lupa! Kau tahu persis apa yang terjadi di gudang itu!”

Aku segera memblokir nomor tersebut. Napas dan detak jantungku tidak beraturan. Aku tidak ingat pernah ke gudang. Aku tidak ingat siapa Grace. Aku tidak ingat mendapat pesan kemarin.

Aku menatap paper bag di sudut meja. Pikiranku kacau. Tubuhku tiba tiba terasa sangat aneh. Tanganku terkepal, kakiku menegang, seperti sedang bersiap untuk lari maraton.

Aku merasa luar biasa lelah. Dalam kebingungan, mataku tertutup dan aku tertidur. Kali ini seharusnya benar hanya tidur.

1
yrputri
direktur Katrina perlakuannya cukup dingin ya /Smile/
yrputri
bagus 🤭
Risa Virgo Always Beau
Rylan kamu perhatian banget sama Diana deh
Risa Virgo Always Beau
Calantha itu nempel terus sama Rylan
Risa Virgo Always Beau
Rylan ternyata tipe orang yang tegas bahkan mengamati beberapa orang
Risa Virgo Always Beau
Rylan sangat membenci Calantha karena menduga Calantha yang memberi obat perangsang untuk dirinya
Risa Virgo Always Beau
Rylan di jebak obat perangsang ya sampai memaksa Xena melakukan hubungan layaknya suami istri
Risa Virgo Always Beau
Diana apa punya penyakit amnesia ya
Nuri_cha
aku kasih tahu ya Diana, kamu akan kecewa dengan calantha
Nuri_cha
rencana busukmu itu udah gagal Calantha 😐
Nuri_cha
nyata... Xena sudah mengambil alih tubuhmu Di
Xlyzy
Ini Bukan Diana deh ini kepribadian Lain nya dari diana
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
buset pertanyaannya. bisa ga usah curigaan ga? 🫵
🍾⃝ʙͩᴜᷞʟͧᴀᷠɴͣ sᴇᴘᴀʀᴜʜ
ga usah diceritain. ga usah 😑
Three Flowers
Rylan gak tertarik sama kamu meski suci, karena hatimu jelas gak suci.. apalagi sekarang, dobel gak sucinya..
PrettyDuck
perlu banget. bahaya banget loh penyakitmu itu.
walaupun kepribadian xena kuat dan bisa diandelin, tapi bisa nyelakain kamu juga kalo gak terkendali 😖
Three Flowers
nonton bokep versi mereka sendiri dong?😂
Three Flowers
hehehe... lucu sekali kalimat nya🤣
PrettyDuck
maap tapi aku ketawa 🥲
PrettyDuck
dia yg buat ulah dia yg dendam /Sweat/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!