Belasan tahun terjebak di dalam sel Abyssal Trench yang gelap dan pengap, Elara Nereida—seorang Siren yang tangguh—harus membayar mahal harga dari sebuah kenaifan. Cinta tulusnya pada Helios Marine justru berakhir tragis. Sang Merman ternyata telah beristri dan dengan tega mengurung Elara demi menutupi aib, membiarkannya kelaparan dan diasingkan oleh ras Siren-nya sendiri sebagai aib.
Ketika sebuah kekacauan besar menghancurkan penjara bawah air dan memberinya celah untuk lolos, Elara bersumpah tidak akan pernah meneteskan air mata lagi untuk masa lalu. Dengan kekuatan Siren yang telah lumpuh akibat racun, ia nekat naik ke daratan Kota Luminara untuk memulai hidup baru sebagai manusia.
Sanggupkah Elara bertahan di dunia baru tanpa kekuatannya? Dan di antara kutukan takdir serta perebutan kuasa para penguasa daratan, siapakah yang akhirnya akan memenangkan melodi terakhir dari hati sang Siren?
"Lautan telah membuangku, namun daratan akan bertekuk lutut di hadapanku!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3. Keluar dari Jeruji Sel Tahanan
"Itu tanda mate mutlak dari klan Merman," ucap Zephyr, suara baritonnya bergetar tak percaya.
Elara melepaskan tawa bergidik yang tertahan. Seringai sinis kembali terukir di wajah Siren-nya. "Kau jelas-jelas telah menelannya! Sekarang kau sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi, Gadis Kecil," timpal Elara, tatapannya mengunci manik mata Evelyn. "Kau tidak akan pernah bisa memuntahkan, apalagi mengembalikan The Heart Pearl yang sudah menyatu dengan jiwamu. Satu-satunya hal yang bisa kau lakukan adalah menerimanya."
Elara mendekatkan wajah menyeramkannya ke besi penjara, menatap Evelyn dengan intensitas yang mengintimidasi. "Dan kau harus tahu satu rahasia ini. Meskipun pangeran Merman berengsek itu terus menyiksa dan menyakitimu sampai mati... dia juga akan ikut mati dan merasakan setiap jengkal rasa sakit yang kau rasakan. Hanya ada satu saran dariku jika kau ingin keluar dari tempat ini hidup-hidup: pikat hatinya, lalu tundukkan pria arogan itu!"
"Tidak! Aku tidak sudi memikatnya, apalagi harus menundukkannya!" tolak Evelyn mentah-mentah. Suaranya bergaung keras di koridor penjara bawah tanah yang sunyi. Ego dan harga diri manusia itu menolak keras untuk mengemis cinta pada Merman yang baru saja menumpahkan darahnya.
Elara mendengus dingin melihat keras kepalanya sang gadis fana. "Percuma saja kau menolak," sahut Elara kejam. "Kau hanya akan tersiksa dan terjebak di sini selamanya sampai tubuh ringkihmu itu membusuk. Takdir mate yang telah digariskan semesta tidak akan pernah bisa dihapus, apalagi diubah!"
Elara menjeda kalimatnya. Pandangannya turun, menatap nanar ke arah genangan darah Evelyn yang mulai larut dan mengabur di dalam air pekat Abyssal Trench. Kilasan masa lalunya yang serupa mendadak terbayang, membuat dadanya berdenyut nyeri.
"Kau sekarang hanya punya dua pilihan di dalam hidupmu yang fana ini, Gadis Kecil," sambung Elara lagi, suaranya melembut namun terdengar dingin. "Bersikap keras kepala lalu sabar menunggu ajal menjemputmu secara perlahan di sel ini, atau menurunkan egomu demi meluluhkan hati pria arogan itu."
Evelyn mengepalkan kedua tangannya erat-erat hingga buku-buku jarinya memutih. Ungkapan Elara laksana hantaman telak yang mendarat tepat di dadanya. Di satu sisi, ia tahu waktu hidupnya tidak lama lagi karena kanker otak—glioblastoma—yang terus menggerogoti nyawanya dari dalam. Namun di sisi lain, tunduk pada Kaelen merasa jauh lebih buruk daripada kematian itu sendiri.
Trang! Trang! Trang!
Belum sempat Evelyn membalas ucapan Elara, suara gesekan mata tombak besi pada jeruji sel kembali menggema. Kali ini suaranya terdengar jauh lebih riuh dan berat, menandakan ada lebih dari satu pasukan yang sedang berjalan kemari.
"Kau dalam bahaya, Gadis Kecil. Tampaknya para pasukan Merman akan membawamu ke ruang hukuman," ucap Zephyr dengan nada panik yang jarang ia tunjukkan.
Elara menatap lurus pada Evelyn yang mulai gemetar. Rasa simpati yang langka mendadak menyusup ke sudut hatinya yang telah mati rasa. "Jadilah kuat dan tetap hidup!" tambah Elara cepat, menyisipkan peringatan serius di balik gema suara seraknya.
Evelyn membeku saat tiga prajurit Merman bertubuh kekar membuka paksa kunci selnya. Dengan gerakan kasar, mereka mencengkeram kedua lengan Evelyn dan menyeret tubuhnya keluar dari ruangan sempit itu.
"Kalian mau membawaku ke mana?!" tuntut Evelyn, mencoba meronta.
Rasa perih di lengan kirinya kian menyengat karena para pengawal itu mencengkeram lukanya tanpa ampun. Darah segarnya kembali merembes, meninggalkan jejak merah yang samar di dalam air sepanjang koridor penjara.
"Tidak usah banyak bertanya. Kau hanya tinggal menunggu mati saja," jawab salah satu pengawal dengan raut wajah datar tanpa ekspresi.
"Manusia fana sepertimu sama sekali tidak layak berada di teritori kami terlalu lama."
Elara melekatkan tubuhnya ke jeruji sel, mengawasi siluet Evelyn yang perlahan terseret menjauh hingga menghilang di tikungan koridor.
Setelah suasana kembali sunyi, Elara membuang napas berat lalu tersenyum miris.
"Kau lihat pangeran Merman yang menyeretnya tadi, Zephyr? Dialah Kaelen sang pangeran Merman yang ingin kau temui," ucap Elara, suaranya bergetar penuh kebencian terpendam.
"Dia tidak ada bedanya dengan pria bajingan yang mengurungku di sini. Ayah dan anak sama saja."
Zephyr terenyak di dalam selnya. "Jadi... Merman yang menusuk dan menyeret gadis manusia tadi adalah Kaelen?"
"Iya," Elara membalikkan tubuhnya, menyandarkan punggung ringkihnya ke dinding batu berlumut dengan pandangan kosong ke langit-langit sel. "Bagaimana? Apa kau masih ingin menemui dan meminta bantuannya untuk mencari adikmu?"
"Kurasa tidak," ucap Zephyr tegas, nadanya berubah dingin dan dipenuhi kekecewaan. "Aku tidak sudi jika benar pangeran Merman seperti itu yang ditakdirkan menjadi calon pasangan dari adikku yang hilang."
Elara tidak menyahut lagi. Ia hanya menatap kepala ikan beku yang tergeletak di lantai selnya, merenungkan kapan gilirannya untuk bisa keluar dari neraka bawah air ini dan membalas dendam pada Helios.
****
Beberapa saat kemudian.
BOOM!
Sebuah dentuman dahsyat menggetarkan seluruh fondasi dinding batu Abyssal Trench, gema suaranya terdengar begitu keras dan memekakkan telinga dari arah luar koridor. Riak air di dalam penjara bawah tanah itu mendadak bergolak hebat, menciptakan arus liar yang mengombang-ambingkan benda-benda di sekitarnya.
Elara yang tadinya sedang terpejam mencoba menghemat tenaga, sontak membuka kedua matanya lebar-lebar. Insting bertahan hidupnya langsung menegang sempurna. Ia mencengkeram erat jeruji besi selnya demi menahan tubuh ringkihnya agar tidak terhempas oleh arus air yang mendadak kacau.
"Suara apa itu?!" seru Elara, suaranya yang serak meninggi menembus gemuruh sisa ledakan.
Matanya bergerak liar, menatap tajam ke arah kegelapan sel seberang. "Zephyr! Apa ada gempa palung laut?"
"Sepertinya bukan gempa," sahut Zephyr, suaranya terdengar berat dan waspada di tengah gemuruh yang perlahan mereda.
Elara terdiam cukup lama, matanya menyapu sekeliling sel hingga pandangannya terhenti pada sudut jeruji besinya.
Ledakan dahsyat barusan ternyata menghantam dinding luar dengan telak, membuat beberapa batang besi sel milik Elara membengkok dan menyisakan celah yang cukup lebar. Tanpa membuang waktu, Elara melesat maju, menyelinap keluar dari celah sempit itu dengan cekatan.
Begitu kakinya—atau lebih tepatnya siripnya yang melemah—menyentuh koridor bebas, ia langsung menoleh ke arah sel tetangganya. "Zephyr, ayo keluar! Aku akan membantumu," bisik Elara tegas.
Zephyr terenyak, menatapnya tak percaya dari balik jeruji. "Kau... kau akan kabur dari tempat ini?"
"Aku akan berusaha mengeluarkanmu dulu, jadi bersiaplah," ucap Elara cepat.
Ia langsung menghampiri pintu sel Zephyr, mencengkeram gembok besi yang besar, dan mencoba memutarnya dengan paksa.
Elara menggeretakkan rahangnya, mengerahkan seluruh tenaga fisik yang ia miliki. Sialnya, Helios benar-benar telah menghancurkan hidupnya.
Pria keparat itu tidak hanya melumpuhkan suara nyanyian Siren miliknya yang mematikan, tetapi juga mengikis habis kekuatan supranatural di dalam tubuh Elara melalui ramuan racun yang pernah diberikannya dahulu.
Elara memejamkan mata sesaat, kilasan penyesalan yang membakar dadanya kembali muncul. Ia mengutuk kenaifannya di masa lalu karena telah meminum ramuan aneh pemberian Helios secara sukarela—tepat sebelum ia mengetahui rahasia terbesar bahwa pria itu telah memiliki seorang istri.
"Ah, sial! Gembok bodoh ini tidak bisa dibuka!"