NovelToon NovelToon
Istri Rahasia Dosen Killer

Istri Rahasia Dosen Killer

Status: tamat
Genre:Dosen / Nikahmuda / Hamil di luar nikah / Nikah Kontrak / Tamat
Popularitas:286.9k
Nilai: 5
Nama Author: Qwan in

bercerita tentang seorang gadis buruk rupa bernama Nadia, ia seorang mahasiswi semester 4 berusia 20 tahun yang terlibat cinta satu malam dengan dosennya sendiri bernama Jonathan adhitama yang merupakan kekasih dari sang sahabat, karna kejadian itu Nadia dan Jonathan pun terpaksa melakukan pernikahan rahasia di karenakan Nadia yang tengah berbadan dua, bagaimana kelanjutan hidup Nadia, apakah ia akan berbahagia dengan pernikahan rahasia itu atau justru hidupnya akan semakin menderita,,??? jangan lupa membaca 🥰

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qwan in, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

32

Langkah Jonathan tergesa-gesa menyusuri lorong rumah sakit. Di pelukannya, tubuh Nadia yang lemah terbaring tak bergerak, wajahnya semakin pucat, dan keringat dingin membasahi pelipisnya. Seorang perawat yang melihat mereka segera menghampiri dengan kursi roda.

"Masukkan ke IGD, cepat!" seru Jonathan panik.

Para petugas medis bergerak sigap. Nadia segera dipindahkan ke ranjang dorong dan dibawa masuk ke ruang tindakan. Seorang dokter muda berlari menyusul, memberi instruksi pada suster untuk pemeriksaan cepat.

Jonathan berdiri mematung di depan ruang IGD, napasnya masih tersengal, kemejanya kusut, dan tangannya menggigil hebat.

Beberapa menit kemudian.

Seorang dokter keluar, menghampirinya.

"Anda suaminya?" tanya dokter itu cepat.

Jonathan mengangguk cepat.

“Iya! Bagaimana keadaan istri saya? Dan anak kami…?"

Dokter menatapnya serius.

"Kami akan melakukan observasi. Istri anda mengalami kontraksi dini. Ini bisa jadi ancaman keguguran kalau tidak segera ditangani."

Kata-kata itu menghantam Jonathan seperti palu godam.

“Kontraksi…? Tapi usia kandungan Nadia masih…”

“Empat bulan,” potong dokter itu.

“Dan di usia ini, tekanan emosional yang kuat bisa sangat mempengaruhi kondisi janin. Anda sebaiknya menenangkan diri. Kami akan melakukan yang terbaik.”

Jonathan mengangguk, tapi tak ada kata keluar dari mulutnya. Tubuhnya seolah kehilangan tenaga, dan ia menjatuhkan diri ke bangku terdekat. Matanya menatap kosong ke lantai rumah sakit, perasaannya campur aduk antara panik, marah pada diri sendiri, dan ketakutan yang begitu nyata: kehilangan.

Jonathan mengusap wajahnya dengan kedua telapak tangan, mencoba menenangkan diri, tapi pikirannya terus dipenuhi oleh bayangan Nadia. wajahnya yang pucat, tubuhnya yang gemetar, dan suara napasnya yang berat saat ia menggendongnya dari mobil ke ruang IGD. Semua terjadi begitu cepat, tapi rasa bersalah di dada Jonathan terasa begitu lambat menggerogoti dirinya.

Ia tak bisa duduk diam. Beberapa kali ia berdiri, berjalan mondar-mandir di depan ruang tindakan, lalu kembali duduk. Tangannya terus-menerus mengepal, sesekali memukul lututnya sendiri. menahan gejolak emosi yang seakan ingin meledak.

Suara sepatu suster yang berjalan cepat menarik perhatiannya. Beberapa dari mereka keluar-masuk ruangan, membawa peralatan medis dan kantung infus. Jonathan menatap ke arah mereka dengan mata penuh harap, seolah ingin tahu setiap detil yang terjadi di dalam ruangan itu.

Waktu terasa melambat.

Beberapa jam kemudian, pintu IGD terbuka. Seorang dokter wanita. lebih tua dari yang sebelumnya. melangkah keluar. Di wajahnya ada ketegasan profesional, tapi juga sedikit empati yang tersembunyi di balik tatapan seriusnya.

"Pak Jonathan?"

Jonathan segera berdiri.

"Bagaimana kondisi istri saya? Bagaimana... anak kami?"

Dokter itu menarik napas dalam.

“Kami berhasil menstabilkan kondisinya. Untuk saat ini, kontraksi telah berhenti dan detak jantung janin masih ada. Tapi...”

Jonathan menegang. “Tapi?”

“Kehamilannya masih dalam ancaman. Kami harus memantau selama beberapa hari ke depan. Dia harus istirahat total, baik fisik maupun emosional. Tidak boleh stres sedikit pun.”

Lagi-lagi kata-kata itu menohok Jonathan. Semua ini karena emosinya. Karena ketegangan antara mereka. Karena semua luka masa lalu yang belum selesai. dan sekarang, bisa saja ia kehilangan keduanya: Nadia dan bayi mereka.

“Boleh saya menemuinya?”

“Untuk sekarang, hanya sebentar. Ia masih lemah dan butuh banyak istirahat.”

Jonathan mengangguk. Dengan langkah berat dan napas tertahan, ia melangkah masuk ke ruangan.

Di sana, Nadia terbaring di ranjang rumah sakit, selimut menutupi tubuhnya hingga dada. Wajahnya masih pucat, tapi matanya terbuka, menatap kosong ke langit-langit.

Saat mendengar suara langkah kaki, matanya beralih. Pandangan mereka bertemu.

Jonathan mendekat perlahan.

“Sayang…” ucap Jonathan, dan untuk pertama kalinya ia memanggil Nadia dengan sebutan itu.

Nadia hanya diam, tapi dalam diam itu, dadanya bergetar halus. Suara lembut Jonathan barusan membelah hening yang mencekam antara mereka. seolah ada sesuatu yang berubah, meski belum sepenuhnya utuh. Pandangannya menelusuri wajah pria itu, yang tampak lebih lelah dan rapuh dari biasanya. Mata Jonathan memerah, menyimpan penyesalan yang begitu dalam.

“Kenapa bapak memanggilku begitu?” tanya Nadia pelan, nyaris seperti bisikan, suaranya serak karena kelelahan.

Jonathan duduk di tepi ranjang, mendekat sedikit, tapi tetap menjaga jarak agar tidak membuat Nadia merasa tertekan.

" Karena kamu istri ku Nadia."

" Bagaimana kondisi mu. Apa masih sakit?," ucap Jonathan, sembari engelus lembut Peru Nadia.

" Masih sakit..." Ucap Nadia lirih.

" Maafkan aku. Sayang. Aku...aku hanya tidak suka melihat kamu terlalu dekat dengan Kevin."

" Aku terlalu emosi, karena merasa cemburu." Lanjut Jonathan.

Nadia terdiam. Matanya menatap Jonathan lekat-lekat, seolah ingin memastikan bahwa kata-kata yang baru saja diucapkan itu memang datang dari hati. Nada suaranya lirih, lemah, namun sorot matanya menyimpan banyak luka.

“Cemburu?” gumamnya.

“ pak Nathan… aku bahkan tidak punya siapa-siapa selain kamu sekarang. Kevin hanya teman. Teman lama yang peduli saat kamu memilih diam dan menjauh.”

Suara Nadia bergetar, dan butiran air mata mulai mengalir dari sudut matanya. Jonathan buru-buru mengusapnya dengan jari-jari gemetar, namun sentuhan itu justru membuat Nadia menarik wajahnya perlahan, menghindar.

"Aku... aku gak tahu harus percaya atau enggak. Kamu bilang aku istrimu, kamu bilang kamu cemburu... tapi selama ini kamu bahkan gak pernah memperlakukan aku seperti seseorang yang berarti." Suaranya lirih tapi tajam.

Jonathan menunduk. Hatinya mencelos. Kata-kata Nadia seperti belati, tapi ia tahu, luka yang dirasakan perempuan itu jauh lebih dalam daripada rasa sakit yang ia tanggung sekarang.

"Aku salah, Nad," ucap Jonathan pelan.

“Sangat salah. Aku terlalu larut dalam masa lalu, dan kemarahan. Aku terlalu takut membuka hati… sampai akhirnya aku menyakitimu, tanpa sadar, terus-menerus.”

Nadia terdiam. Air matanya masih menetes, tapi kini tak disertai isak. Hanya keheningan yang menggantung di antara mereka, diiringi bunyi pelan monitor detak jantung yang berdetak stabil. Hening yang penuh luka dan kata-kata yang belum sempat terucap.

" Apa kita akan tetap bercerai setelah anak ini lahir, sesuai dengan isi perjanjian itu?" Tanya Nadia.

" Atau kau, tetap meminta ku untuk berada di sisimu. Hanya sebagai pelarian karena Dewi telah tiada." Ucap Nadia, suaranya bergetar.

Pertanyaan Nadia menggantung di udara, berat seperti beban yang tak kasat mata namun menekan dada Jonathan sampai sesak. Ia menatap wajah pucat istrinya, perempuan yang selama ini ia abaikan, tapi kini keberadaannya terasa lebih penting daripada apa pun di dunia ini.

" Aku mencintaimu, Nadia. Kamu istriku. Kau mengandung anakku. Bukan karena pelarian."

" Memang waktu itu, kita menikah tidak didasari dengan cinta. Tapi seiring berjalannya waktu. Cinta itu muncul. Dan sekarang aku mencintaimu. Dan aku tidak suka, melihat Kevin terlalu dekat dengan mu. Nadia. Aku cemburu."

Nadia terdiam, tubuhnya sedikit bergetar. Air matanya mengalir deras, tak terbendung. Seperti anak kecil yang akhirnya mendapat pelukan setelah lama tersesat, ia menangis tanpa suara, hanya tersedu-sedu di antara rasa haru dan tidak percaya.

“Bapak… nggak bohong, kan?” tanyanya lirih, nyaris seperti bisikan. Matanya yang sembab menatap langsung ke mata Jonathan, mencari jawaban yang tulus di sana.

Jonathan menggeleng cepat, tangannya meraih jemari Nadia yang lemah, menggenggamnya hangat.

“Tidak, Nad… Aku tidak pernah lebih serius dari ini. Aku mencintaimu. Bukan karena rasa bersalah. Bukan karena Dewi. Tapi karena kamu… karena siapa kamu sebenarnya.”

Nadia terisak. Tangannya menggenggam balik tangan Jonathan, erat, seolah takut kalau perasaan itu hanya ilusi yang bisa lenyap kapan saja.

“Tapi kenapa… kenapa baru sekarang?” tanyanya di antara tangis.

“Kenapa harus nunggu aku sakit, nunggu aku hampir kehilangan anak kita, baru bapak sadar?”

Jonathan menunduk, suara Nadia menusuk hatinya.

“Aku pengecut, Nad… Aku terlalu takut membuka hati lagi setelah semua yang terjadi di masa lalu."

Nadia menangis lebih keras. Tangannya menutup wajahnya, menahan gejolak emosi yang membuncah di dalam dada.

“Aku benci sama perasaan ini, Pak…” katanya sambil terisak.

“Benci karena aku sayang sama orang yang bahkan selama ini aku pikir nggak pernah peduli. Tapi sekarang... aku malah bahagia karena akhirnya bapak lihat aku.”

Jonathan mengusap punggung tangan Nadia dengan lembut, suaranya nyaris patah.

“Maafkan aku… Aku tahu maaf saja tidak cukup. Tapi aku janji, aku akan berubah. Aku akan jadi suami yang kamu butuhkan, ayah yang baik untuk anak kita.”

Nadia menarik napas panjang, mencoba meredam tangisnya. Ia menatap Jonathan, matanya masih basah, tapi kali ini ada kilatan harapan di sana.

“Aku ingin percaya, Pak… sungguh. Tapi hatiku sudah terlalu sering retak. Tolong… jangan hancurkan lagi.”

Jonathan mengangguk, matanya basah.

“Tidak akan, Nad. Aku akan buktikan… setiap hari, mulai dari sekarang. Aku akan berada di sisimu, bukan sebagai pelarian, tapi sebagai lelaki yang mencintaimu sepenuhnya.”

Nadia akhirnya menunduk, dan dalam pelukan keheningan yang menyelimuti ruangan itu, tangan mereka tetap saling menggenggam. Luka yang dulu terasa terlalu dalam kini perlahan mulai menemukan obatnya. dalam bentuk kejujuran dan air mata.

1
nanik sriharyuniati
Luar biasa
Nurul Aisyah
Aura Kasih tiup terompet.. Preeeettt
Tamirah Spd
Bapak yang kelakuan bejat demi minuman dan cuan rela menjual anak gadisnya. Di dunia nyata banyak bapak yg bejat, anak kandung sendiri aja dihamili cek ..cek.... parah.
Tamirah Spd
Awal dari kesadaran Kajeng Ratu akan kesetiaan dan ketulusan cinta nya Nadia terhadap anaknya yg saat ini cacar fisik. Hilang sdh sikap angkuh nya dan berganti rasa sayang dan menghargai pada mantunya Nadia.
Tamirah Spd
Kalau zaman now gak ada orang sebaik nenek nya Bella sampai menjual sawah demi menolong orang yg tidak dikenal,apa lagi kehidupan Bella dan neneknya dibawah standar ekonomi, cerita ini menjadi pelajaran bagi siapa saja terutama readers bahwa Tuhan tak pernah tidur untuk memberikan hidayah bagi umat yg dikehendaki Nya.
Tamirah Spd
Berharap Thor Yonathan sadar dan gak amnesia kembali pada keluarga kecilnya nya,.
Tinggalkan Nadia menaklukkan Gusti Kanjeng Ratu, untuk Bella apa kata Author nya mau dibawa kemana alur ceritanya.
Tamirah Spd
Cukup di novel ini saja,Seorang ibu berhati iblis kok bisa berbuat kejam pada mantu yg gak diharapkan padahal anak yg dikandung Nadia adalah cucu nya .
Tapi hukum alam pasti berlaku siapa yg menabur dia yg akan menuai itu pasti.
Tamirah Spd
Sesuai isi menikah kontrak bayi lahir langsung cerai jalani kehidupan yg lebih baik perbaiki penampilan toh dari lahir sdh cantik karena faktor ekonomi gak mampu perawatan jadinya jerawatan dan kucel.
Tamirah Spd
walah kalau lakon intiny sudah dead cerita nya menjadi hambar alias gak seruu Thor.
Tamirah Spd
Orang kalau sdh punya rasa dendam yg berkarat dia pandai menyamar,berakting,menahan emosi hingga mangsa nya gak menyadari bahwa inilah monters yg sesungguhnya.!!!!
Tamirah Spd
Kalau benar Dewi itu adiknya Sintia yg balas dendam karena Kakaknya hamil tapi Yonathan gk tanggung jawab hingga meninggal,mau disembunyikan ke manapun istrinya tentu Dewi tahu.Ya yg jadi korban Nadia.
Tamirah Spd
Adakah kehidupan spt ini di dunia nyata,gak hanya percintaan dibalik tembok kampus, tapi juga ada penyiksaan mungkin juga pembunuhan .Yah pasti ada si kuat dan di lemah lanjut Thor.
@Al**
/Good/
Her$a: Terima kasih 🤗
total 1 replies
Maria Abdullah
aku lebih suka kevin ama Nadia bersatu..
fans kpop: tapi peran utama pria bukan Kevin
total 1 replies
Sumiyati
orang kaya,istri hamil besar dtinggal sendiri,g bisa bayar pelayan kh,agak lain ini
Angelica James
baguss bangwttt 🤩
Her$a: terima kasih 🤗
total 1 replies
Subaidah aisya ais
oala NAD jangan percaya NAD tinggalin aja NAD biar kapok
Subaidah aisya ais
pergi saja Nadia tinggalin saja laki laki pengecut itu enggak bela sama sekai
Ahn Mo Ne
kenapa Nadia gak pergi jauh aja
Ririn Nursisminingsih
ya Allah terharu a thor perjyangan cinta,kesetiaan dan pengorban jadi satu
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!