NovelToon NovelToon
Dosenku Canduku

Dosenku Canduku

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Pernikahan Kilat / Diam-Diam Cinta / Cinta pada Pandangan Pertama / Cinta Seiring Waktu / Kehidupan di Sekolah/Kampus
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Pena Remaja01

Karna sakit hati, aku merencanakan menggoda lelaki sok alim yang sering menesehati hubungan haram dan halal padaku. Tapi malam itu, harusnya aku berhenti dan mencibirnya setelah berhasil membuatnya tunduk dengan nafsu. Tapi bukan begitu yang terjadi.

.

.

Saat dia membuka mulut dan membalas ciumanku, aku merasakan ada satu rasa yang tak pernah kurasakan. Perasaan yang kuat hingga aku tak bisa berhenti melepaskannya. Tubuhku mulai meliuk-liuk ketika dia meletakkan tangannya di pinggangku.

"Ahh---" Cimannya terhenti saat aku mulai menggerakkan pinggul diatas pangkuannya.

.

.

"Maaf, semua ini tidak seharusnya terjadi. Saya salah, saya berdosa. Saya biarkan kita berzina."----Adam.

.

.

"Oh, setalah puas, baru Lo ingat dosa? Sedang enak-enak tadi Lo lupa? Cih! Gak usah deh berlagak sok alim lagi di depan gua! Munafik Lo!" Winda

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Pena Remaja01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Caper

Adam membuka mata. Dan ketika pandangannya di arahkan padaku, jantungku terasa di genggam, susah untuk bernafas.

"Win, dia melihat kesini! Dia melihat aku, Win!" desis Ana begitu histeris.

Huh! Dasar baper!

Selalu saja dia merasa pandangan Adam itu di tujukan padanya. Kuremas juga mulutnya ini lama-lama!

"Ya, ya. Dan cukup dengan pertanyaan pribadi ini, karna kita akan lanjutkan dengan hasil ujian tengah semester kalian." Adam kembali bicara dan wajahnya juga sudah kembali ke stelan profesional.

Seluruh kelas merungut, seolah tidak mau membahas tentang nilai ujian Minggu lalu.

"Saya cukup kecewa karena lebih dari separuh dari kalian mendapatkan nilai yang kurang dari ekspektasi. Entah apa yang salah, karena orang-orang yang sama sebenarnya mendapatkan nilai kuis yang cukup baik. Untungnya, beberapa dari kalian ada yang mendapatkan nilai cukup baik. Jadi, selamat atas usahanya." Adam memberikan komentar sambil mengeluarkan kertas-kertas hasih ujian kamu dari tas kerjanya.

"Saya akan memanggil nama kalian satu persatu dan silakan maju untuk mengambil hasil ujian ini." Adam menambahkan seraya berdiri di samping mejanya. Sekali lagi dia melempar pandangan ke arahku sebelum nama-nama mulai di panggil.

"Beb, kamu lihat sendiri kan? Dari tadi dia terus aja melihat kesini. Aku rasa dia mulai jatuh cintrong denganku. Eh, kamu tau gak? Semalam kami begitu mesra, dia nempel terus denganku, kayak prangko. Aku minta temankan ke toilet pun, dia mau dan nunggu aku depan pintu sampai aku keluar. Hihi." Ana kembali berbisik, dan terkikik sendiri saat aku menoleh padanya.

"Dan kamu tau gak, bunga penghargaan yang dia dapat dari tim juri di kasih ke siapa?" Ana menambahkan dengan senyum lebarnya.

Kalau begini, menyesal aku menoleh padanya. Sekarang rasa mau aku cakar-cakar muka dia ini.

"Dia kasih ke aku. Hihi. Mau dia kasih ke siapa lagi, dia kan masih jomblo."

"Dia yang bilang jomblo?" tanyaku dengan nada sedikit ketus. Mood bahagiaku tadi rasanya bagai di sayat-sayat mendengar cerita si Julianto ini.

"Iya. Dia yang bilang sendiri masih jomblo. Jadi artinya sekarang aku ada peluang untuk dapatkan dia," jawab Ana sambil menyenggol bahuku dengan bahunya. Bersamaan dengan itu nama Ana di panggil oleh Adam dan dia lansung melompat dari kursinya, berlari manja kedepan.

Lama juga mereka bicara sebelum kertas ujian ditangan Adam berpindah ke tangan Ana. Kemesraan mereka masih terlihat tebal, sama seperti kemarin.

Ketika Ana menoleh bersama senyum yang begitu lebar, giliran namaku dipanggil.

"Nilaimu cukup bagus. Lebih baik dari kuismu. Kerja bagus, Winda," ucap Adam dengan senyum tak lekang di bibirnya. Aku ambil kertas di tangannya, lalu berpaling setelah mengucapkan terimakasih dengan pelan. Ketika aku berada di kursi dan memandang kedepan, riak wajah Adam sedikit berubah, tapi cepat-cepat dia sembunyikan sebelum mahasiswa lainnya sadar akan perubahan itu.

Kelas di lanjutkan, membahas soal ujian pertengahan semester. Adam menerangkan dan dengan sabar menjawab pertanyaan mahasiswanya. Hingga akhirnya jam mata kuliahnya di isi begitu saja tanpa membahas bab baru.

"Baiklah, jika Anda sekalian memiliki pertanyaan atau ada yang masih tidak paham,  jangan ragu untuk datang ke kantor saya. Saya telah memilih 5 mahasiswa dengan nilai terendah untuk menerima bimbingan lebih. Jadi saya ingin bertemu dengan 5 dari kalian sore ini pukul 14.30."

Aku agak kaget ketika salah satu nama itu adalah Juliana.

Setelah kelas selesai, aku ingin segera keluar, tapi baru saja berdiri namaku di panggil Adam. Ana sampai keheranan melihat menyaksikan itu.

"Winda, kamu baik-baik saja, kan?" tanya Adam setelah ruang kelas itu kosong. Aku hanya menjawab dengan anggukan kecil.

"Pasti ni tentang nilai ujian kamu, kan? Jangan menyalahkan dirimu sendiri. Saya tahu kamu sudah berusaha sebaik mungkin," sambung Adam memberi kata semangat seraya meraih tanganku, tapi cepat-cepat aku tarik lagi tanganku.

"Sorry, aturan dasar masih berlaku. Aku mau kekelas dulu, Ana juga sudah menungguku di luar," ucapku, lalu meninggalkan ruangan kelas, menyusul Ana yang masih setia menungguku di luar.

"Adam ngomong apa sama kamu tadi?" tanya Ana sambil kami berjalan ke kelas CCT.

Dia ini kalau tidak sibuk dengan urusan orang, memang tidak bisa.

"Gak ada. Dia hanya bilang tentang nilai ujianku yang sedikit mengecewakan," jawabku berbohong.

"Ya lah, untuk mahasiswa cerdas kayak kamu ini, nilai udah bagus gitu masih di bilang mengecewakan. Tapi gak apa-apa sih, yang penting dia gak paksa kamu untuk ikut bimbingan seperti dia memaksaku," balas Ana sambil tersenyum.

Huh! Memaksa apanya? Yang ada dia ngemis-ngemis minta bimbingan pada Adam.

***

Selesai makan siang, Ana minta aku menemankannya ke ruang kerja Adam. Di luar pintu ruang kerja sudah terlihat 4 orang rekan kelasku, semua perempuan.

"Eh, Win? Lo termasuk ke dalam 5 terendah juga? Bukannya semester lalu Lo dapat anugrah dekan?" tanya Alya dengan kening berkerut.

"Dia nemenin aku aja. Setelah ini kami mau shoping. Kamu kenapa sih, kayak gak suka aja sama Winda? Dia ini gak kayak kamu yang sengaja mendapatkan nilai terendah semata-mata karna ingin mendapatkan bimbingan khusus Dangan Adam." Ana yang menjawab. Nadanya jaga sewot.

"Eh, Nona Juliana, ngomongin diri sendiri ya?" sinis Alya seraya melangkah setapak kedepan. Namun, suara deheman di belakang membuat kami berenam reflek menoleh.

"Kalian semua kenapa ada di sini? Bukannya meeting kita pukul 14,30?" Adam menyapa, memandang setiap wajah dan berhenti di mataku. Keningnya tiba-tiba berkerut.

"Winda? Sungguh kejutan yang menyenangkan jika kamu ikut bergabung dengan kami," ucap Adam tersenyum.

"Hm...ehh. Nggak kok. Aku, eh, saya mau pergi keluar dengan Ana setelah ini. Itu sebabnya saya ikut dia kesini sekali. Jadi nanti kami bisa sama-sama pergi," jawabku sambil menggigit bibir bawah.

Mata Adam tertancap ke bibirku sebelum dia kembali berjalan ke pintu. Kunci di keluarkan dari kantong dan para gadis bermuka tembok mendekat saat Adam membuka pintu ruang kerjanya.

Kemudian Adam mempersilahkan kami semuanya masuk dan dia duduk di kursi kerjanya. 5 orang berebut ingin duduk di kursi yang berada tepat di hadapan Adam. Setelah perebutan kekuasaan berlangsung, akhirnya Alya dan Juliana-lah yang berhasil duduk disana. Tiga lainnya duduk di sofa panjang yang pernah menjadi tempatku istrahat waktu demam dulu.

Adam melihatku yang hanya berdiri di depan pintu. Kemudian dia mengedarkan pandangan sekeliling ruangan, tapi tidak ada tempat lagi untukku duduk. Setelahnya dia mengeluarkan ponsel, dan ketika ponselnya itu di simpan, malah ponselku yang berbunyi. Adam sudah mulai membahas persoalan yang ingin di tanyakan rekan-rekanku yang kecentilan, sedang aku membuka pesan yang baru saja masuk. Ternyata Adam yang mengirim pesan.

Sayang, saya akan melakukan ini secepat mungkin. Kasian kamu terpaksa berdiri. Saya harap kamu mau duduk di pangkuan saya. Sungguh, sayang. Sungguh.

Ish, dia ini. Bisa juga ternyata dia nakal. Awas saja nanti.

Dengan menahan senyum, aku ketik balasan.

Sungguh apanya? Benar-benar aku lakuin, tau rasa.

Aku perhatikan Adam waktu membaca pesan dariku, dan kulihat matanya membulat sesaat. Sempat juga dia menoleh padaku, tapi cepat-cepat di alihkan lagi.

Lebih kurang 15 menit, Adam meluangkan waktu untuk sesi tanya jawab pada kelima mahasiswanya. Aku hanya memperhatikan saja tanpa ikut campur. Yang aku lihat, Ana dan Alya begitu antusias berebut perhatian Adam. Untung saja yang tiga lagi tidak begitu kegatalan, rasanya mau aku benturin kepala mereka semua.

Aku juga merasa Adam seperti sedang sibuk dengan ponselnya yang di sembunyikan di laci meja.

Mungkinkah dia sedang mengetik balasan pesan dariku?

5 menit berlalu, Adam kembali fokus pada kelima mahasiswanya dan kuperiksa ponsel, tidak ada pesan masuk darinya. Jadi, tadi dia sibuk apa? Ah, kok aku jadi curiga gini?

Setelah sesi tanya jawab selesai, kini giliran menentukan jadwal masing-masing dan setelah itu mereka selesai berdiskusi.

Janjinya tadi sebentar, tapi hampir pukul 3 juga baru selesai. Huh!

Semua gara-gara Alya dan Juliana yang masing-masing menolak waktu mereka di samakan Dangan yang lain. Bisa di bilang mereka berdua meminta waktu khusus. Jadi Adam terpaksa mengatur ulang semua jadwalnya agar bisa meluangkan waktu untuk mereka berdua.

Huh! Dasar caper!

Sempat Adam menghadiahkan senyum kecil padaku ketika Ana mengajakku keluar. Dalam perjalanan menuju parkiran, 1 pesan masuk ke ponselku.

Maaf ya, sayang. Butuh waktu lebih lama dari yang saya  janjikan. ngomong-ngomong, saya sudah transfer 2 juta untuk kamu shoping. Kalau tidak cukup beritahu saya. Jaga dirimu, hati-hati di jalan. 

Pesan dari Adam itu kubaca berulang kali, seakan tak percaya. Dia transfer aku uang? Kapan dia transfer?

"Beb, kamu kenapa? Jadi gak shopping? Ayolah, tanganku udah gatal nih, udah lama banget gak shopping." Ana memanggilku ketika menyadari langkahku terhenti saat membaca pesan dari Adam.

"Eh, jadi kok. Ayo."

1
Nopi Agustin
ini???
Rike
cerita ny semakin bgung
Sasa Sasa: Kalau kakak bacanya gak loncat-loncat gak akan bingung.. Karna bab sebelumnya panjang. Mungkin kakak gak ngikutin yang sebelumnya, makanya bingung.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!