"I think I'm addicted to your body"-Jeffranz Altair-
Sherra menyesali keputusannya malam itu. Malam dimana ia menyerahkan tubuhnya pada cinta pertamanya---Jeffranz Altair si Perisai PASBARA yang terkenal dingin dan kasar.
Sherra menyesal. Karena setelah hari itu sikap Jeff berubah. Yang awalnya benci menjadi terobsesi.
Jeff menghancurkan masa depan Sherra dengan mengurung gadis itu dalam hubungan rahasia.
Sherra terpaksa menjadi selingkuhan.
Diperlakukan layaknya binatang.
Hingga dianggap wanita murahan.
Hidupnya hancur berantakan. Namun Jeff sama sekali tak peduli.
Karena bagi Jeff apa yang ia lakukan pada Sherra, adalah hukuman karena gadis itu berani mengusiknya.
-----
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Andara prina Larasati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
8. Malam penyesalan
...TOXICSERIES...
Sherra berlari terburu buru setelah keluar dari lift sambil melihat kartu yang Jeff berikan. Gadis itu melirik ke satu per satu pintu apartemen sebelum akhirnya menemukan ruangan yang di tuju.
Kamar 277.
Sesuai kesepakatan mereka tadi siang. Sherra takkan menyia nyiakan kesempatan ini. Ini sudah keinginannya dari lama.
Katakanlah ia terlalu terobesesi karena faktanya memang begitu.
Dengan jantung yang berdegup kencang dan tangan yang terasa dingin akibat gugup. Sherra mengetuk pintu apartemen Jeff. Seperkian detik kemudian pintu itu terbuka. Menujukkan sosok Jeff dengan kameja hitam dan celana jeans berwarna biru muda.
"Gue pikir lo gaakan dateng" Ujarnya. Sherra uang masih terbengong seketika menggelengkan kepalanya.
"Aku gak mungkin nyia nyiain kesempatan"Jawabnya. Jeff mengaut mangut sambil mengisyaratkan Sherra untuk masuk ke ruangan kemudian mengunci pintu dengan rapat. Sherra yang melihat hal itu sedikit mengerutkan keningnya.
"Kok dikunci?"
"Ya gapapa takutnya ada orang iseng masuk"
"Oh emang disini gak aman ya?"
"Ya gitu lah"Balas Jeff acuh sambil berjalan menuju ruang tamu kemudian membuka dua kancing teratas bajunya.
Sherra berdecak kagum. Netranya terus terpaku ke setiap penjuru ruangan yang terlihat minimalis namun mewah. Dengan gradasi abu abu dan putih bersih membuatnya terlihat sangatlah milenial.
Sherra menyukai setiap ornamen yang Jeff sediakan. Terlihat sangat modern berbeda dengan rumahnya yang memang di desain sederhana sesuai budget dan penghasilan sang mama.
"First time?" Sindir Jeff melihat netra binar Sherra pada apartemennya. Gadis itu menoleh sambil tertawa canggung.
"Hehe iya. Apart kamu bagus banget Jeff... Pasti mahal ya?" Jeff mendengus.
"Menurut lo aja gimana" Jeff kemudian berjalan menuju kamar mandi.
"Gue mau mandi dulu" Sherra menoleh kemudian mengangguk.
"Oke"
Pintu kamar mandi pun tertutup. Sherra mulai menelusuri setiap sudut apartemen Jeff. Menyentuh benda benda unik yang belum pernah ia lihat sebelumnya. Kemudian berhenti tepat di depan kaca besar yang menampilkan seluruh tubuhnya dari ujung kepala hingga ujung kaki.
Gadis itu sedikit memutar tubuhnya. Membuat rok payung dress putih itu sedikit terbang mengembang. Sherra akhirnya memilih dress putih polos tanpa lengan milik ibunya. Kata Mona dress ini cocok untuk Sherra. Karena desainnya yang polos namun elegan. Terlihat manis untuk Sherra yang memang sudah cantik.
"tunggu, jepitnya turun" Sherra membenarkan tampilannya. Mukai dari bedak di wajahnya yang sedikit luntir, surai coklatnya yang agak berantakan, jepitnya yang turun dan ujung dressnya yang terlihat kusut. Setelah itu ia pun menunduk untuk melihat kondisi kakinya yang sedikit lecet karena high-heels perak miliknya hingga tak sadar jika Jeff sudah keluar dari kamar mandi.
Dan mulai berjalan mendekat kearahnya.
Sherra yang masih fokus pada kakinya masih belum menyadari. Hingga Jeff berdiri dibelakangnya dan mulai melingkarkan tangannya pada pinggang ramping Sherra. Sontak gadis itu terperanjat dan langsung menatap kearah cermin.
Terlihat dengan jelas. Jeff tanpa baju atasnya memeluk tubuh Sherra dan menjatuhkan kepalanya pada pundak telanjang gadis itu. Sherra membeku, ini adalah kali pertamanya disentuh seintim ini.
"Je-Jeff... "Lirih Sherra merasa canggung.
"Gue baru sadar, ternyata lo cantik juga" Pipi Sherra bersemu merah. Gadis itu menolehkan kepalanya. Kembali menatap cermin.
Degup jantung gadis itu berdegup kencang saat tangan Jeff yang semula berada di perutnya kini mulai merayap keatas. Perlahan tapi pasti lelaki itu berusaha melepas kancing baju bagian atas Sherra. Sigap gadis itu menghentikan pergerakannya.
"Jeff gaboleh. Ini salah!" Ungkapnya gemetar. Jeff memandang gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Bahkan kini meraih kedua tangannya untuk di genggam. Kemudian membalikkan tubuh Sherra untuk menghadap kepadanya.
"Lo... Cinta sama gue kan?" Jeff menghimpit tubuh Sherra hingga punggung gadis itu membentur kaca. Seolah terhipnotis gadis itu mengangguk yakin.
"Kalo gitu. Serahin diri lo!"
"Hah?"
"Lo pasti ngerti apa maksud gue" Sherra terdiam sebentar mendengar penuturan Jeff. Gadis itu tak bodoh. Ia mengerti apa yang Jeff inginkan.
Tubuh Sherra gemetar. Ia tak menyangka ucapan ini akan keluar dari lelaki yang paling ia cintai.
Kenapa lelaki itu dengan mudah meminta sebuah pembuktian dengan Sherra yang harus mengorbankan segalanya?
"ak-aku...."
"Its oke kalo lo gak mau" Jeff langsung menjauhkan tubuhnya dari Sherra. Kemudian membalikkan badannya seraya meraih korek diatas meja dan seketika itu juga menyalakan rokoknya.
"Lo bisa pergi dari sini"
Sherra menatap punggung itu parau.
"Dan jangan harap gue bales perasaan lo" Mendengar itu netra Sherra terbelalak. Gadis itu memejamkan matanya, memikirkan jalan pintas agar keluar dari jeratan namun otak bodohnya malah semakin menekan Sherra untuk menyerahkan diri.
Bagaimana pun. Malam ini adalah kesempatan terakhir. Jika Sherra menyia nyiakannya itu artinya Sherra akan kehilangan Jeff selamanya.
Seperkian detik kemudian ia mengangkat kepalanya dengan perasaan yakin. Sebelum suaranya berkata dengan lirih.
"Tapi.... Kamu bakal tanggung jawab kan?"
Bibir tipis Jeff menyeringai.
"Ya, gue akan tanggung jawab atas apapun yang terjadi" Ada sedikit kelegaan dari hati gadis itu.
Sherra kemudian melangkah maju dan berdiri tepat di belakang Jeff.
"Ak-aku.... Mau"Putusnya memeluk tubuh Jeff dari belakang. Tanpa waktu lama Jeff langsung membawa Sherra dalam ciuman memabukkan. Meraih pinggang gadis itu kemudian membawanya ke sebuah kamar dimana pada akhirnya Sherra menyerahkan segalanya.
...TOXICSERIES...
Sedangkan di tempat lain. Mona tak bisa terlelap. Matanya terus terbuka sesekali ia juga melirik jam yang tergantung di dinding kos-nya. Menunggu sosok yang berjanji aka pulang kemari.
Sejak pukul 10 hingga kini pukul 2 dini hari ponsel Sherra tidak aktif. Dihubungi beberapa kali pun tak ada jawaban seolah telpon Mona sengaja diabaikan. Begitupula dengan Jeff yang malah mereject panggilannya dua jam lalu.
Mona khawatir. Relung hatinya diselimuti rasa gundah takut terjadi sesuatu pada sahabatnya. Namun ia juga tak bisa berbuat apa apa. Ia tak tau apartemen Jeff bahkan ia juga tak tau nomor sahabat Sherra. Kai yang selalu mengantar jemput gadis itu, untuk dimintai tolong.
Mona mendesah pasrah sambil menjatuhkan lengannya ke wajah. Berusaha menutup mata dengan ribuan perasaan gundah dihatinya.
"Semoga lo baik baik aja, Sher" harap Mona.
...TOXICSERIES...
Setelah melewati sepanjang malam penuh dengan hasrat duniawi. Sinar matahari akhirnya menyapa dua insan yang masih bergelung di satu selimut yang sama.
Arloji sudah menunjukkan pukul 7 pagi. Dan hari minggu yang cerah ini berhasil membuat Jeff bangun lebih awal dari biasanya. Lelaki itu merenggangkan ototnya sebentar sebelum melirik kearah ia menyimpan ponselnya di balik pot bunga. Ia pun bangkit sambil memakai handuk kimono untuk menutupi tubuh polosnya.
Ia segera meraih ponselnya yang rupanya sudah daya mati. Mungkin kehabisan batrai, Jeff pun mencharger ponsel miliknya. Ponselnya pun berhasil menyala, dan satu nontifikasi yang pertama kali ia dapatkan adalah.
Jojo
Udah gue transfer ke rekening lo
100 juta
Bibir Jeff membentuk seringaian puas. Jarinya menari mengetikkan sesuatu.
^^^Jeff. ^^^
^^^Jangan lupa motor lo!^^^
Jojo
Haha tenang aja
Pilih langsung ke showroom!
Bayaran gue dari live streaming
Gratis lo hahah
Jeff hanya membaca pesan tersebut tanpa ada niat untuk membalasnya. Lelaki itu kemudian melirik kearah gadis yang masih terbaring pulang diatas kasurnya.
"Dasar cewe bodoh" Gumamnya sambil masuk ke kamar mandi.
Tanpa lelaki itu sadari. Netra Sherra terbuka dengan air mata yang meluruh membasahi pipinya. Tubuh gadis itu langsung meringkuk dengan jemari yang meremas selimut dengan erat.
...TOXICSERIES...
"Jadi... Kita resmi pacaran kan?" Celetuk Sherra malu saat selesai keluar dari kamar mandi. Menggunakan baju dressnya tadi malam.
Gadis itu memandang Jeff penuh binar dan seyuman hangat berbeda dengan sang empu yang memandangnya datar kemudian tertawa penuh hinaan.
"Ngarep banget" balasnya.
"Lo pikir gue mau sudi pacaran sama cewe murahan?"Seolah ada petir menyambar diri. Tubuh Sherra mematung, mendengar penuturan Jeff yang berhasil menusuk relung hatinya.
"Tapi bukannya kamu janji bakal jadiin aku pacar kamu kalau aku dateng? Aku juga udah lakuin apa mau kamu. Apa itu kurang Jeff?" Bukannya mikir lelaki itu malah tertawa sumbang.
"Dan lo percaya?"
Jantung Sherra seolah ditusuk tombak panjang. Sakit dan perih saat Jeff dengan mudahnya melontarkan sebuah kata menyakitkan dan menyinggung.
"Sher, satu hal yang harus lo tau. Jangan pernah percaya pada janji lelaki" Kedua tangan Sherra yang gemetar saling terpaut.
"Ngeliat lo yang gampang percaya sama janji gue. Terbukti lo adalah cewe bodoh yang gak punya pendirian" Tukas Jeff tega.
"Cewe rendahan kaya lo gak pantes bersanding sama gue,Sher" Gadis itu mengangkat wajahnya dengan tatapan sendu bahkan nyaris menangis. Tak sanggup mengeluarkan kata atau membalas mulut jahat Jeff untuknya.
TAK.
Netra Sherra terbuka lebar saat Jeff melemparkan segepok uang ke bawah kakinya. Sherra masih berdiri tanpa sudi mengambil pundi pundi merah di bawahnya.
"Maksud kamu apa?"Tanya Sherra sedikit tersinggung.
"Bayaran lo" jawab lelaki itu santai. Sherra memandang segepok uang itu dengan berkaca kaca. Kemudian kembali menoleh pada Jeff. Alis lelaki itu menukik.
"Kenapa? Kurang?" Sherra menundukkan kepalanya.
"Kamu pikir aku jalang?"
"Bukannya iya? Buktinya lo dengan mudah nyerahin diri lo ke gue. Udah jelas kan? Betapa murahnya tubuh lo?" Gadis itu langsung mengusap air matanya kasar. Memandang Jeff tak terima.
"Aku gak butuh uang itu" desis Sherra mulai berani.
"Gausah munafik! Gue tau lo miskin!"
"Aku gaakan ambil uang itu!"
Sherra meremas dressnya kuat kemudian melemparkan tatapan penuh luka pada lelaki di depannya. Sorotnya sangaylah sendu sampai sampai Jeff terpaku.
Gadis itu melanjutkan perkataanya dengan suara bergetar
"Mulai sekarang aku gaakan pernah ngejar kamu lagi" Gadis itu meremas dressnnya kuat.
"Terimakasih atas penghinaanya. Dan terimakasih udah menyadarkan aku kalau orang yang selama ini aku cintai adalah manusia sampah yang gak punya hati nurani" Netra gadis itu berkilat. Ia menyurai rambutnya kebelakang dengan dada naik turun tak beraturan.
Jeff membalikkan tubuhnya kemudian berjalan dengan santai kearah balkon. Menyisakan Sherra dengan penyesalan hingga akhir hidupnya.
Sherra melangkah dengan penuh luka. Meninggalkan apartemen yang menjadi saksi betapa bodohnya ia kala jatuh cinta. Hingga kini tubuhnya hancur bersama seluruh harga dirinya.
Kini yang tersisa hanyalah Raga tanpa nyawa. Dan hati rapuh yang sulit untuk sembuh.
...TOXICSERIES...