Damian dan Aletha adalah saudara sepupu, bahkan mereka bekerja di kantor yang sama dengan Damian sebagai CEO dan Aletha asisten pribadinya.
Aletha menyukai Damian secara terang-terangan, tetapi Damian sama sekali tak pernah peduli akan hal itu.
Damian pernah menikah, tapi pernikahannya hancur dan berakhir dengan perceraian dengan Damian yang masih perjaka.
Meskipun Damian berstatus sebagai duda, tetapi Aletha tetap menyukainya, bahkan secara terang-terangan mengajak Damian menikah.
Entah takdir atau hanya kebetulan, suatu hari Damian memutuskan untuk menikahi Aletha demi menyelamatkannya dari perjodohan yang dilakukan oleh orang tua Aletha.
Apakah hubungan mereka akan berjalan dengan baik?
Apakah Damian akan mencintai Aletha dan melupakan kenangan pahitnya bersama Bella, mantan istrinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#32
[Apartemen Alvin]
Mobil Alvin berhenti di area parkir apartemen yang tidak terlalu ramai sore itu. Matahari sore masih menggantung, sinarnya masuk dari sela-sela gedung tinggi, memantul di kaca jendela hingga menciptakan kilau keemasan yang hangat, kontras dengan hati Aletha yang masih dingin dan rapuh.
Alvin turun lebih dulu, lalu membuka pintu untuk Aletha.
"Ayo turun," ucapnya sambil menahan pintu mobil.
Aletha mengangguk pelan dan turun. Langkahnya masih terasa berat, seolah setiap pijakan mengandung beban yang tak terlihat. Alvin mengambil koper Aletha dan menggiringnya masuk ke dalam gedung apartemen.
Di dalam lift, suasana hening. Hanya terdengar dengungan mesin lift yang bergerak naik. Aletha bersandar lemah di dinding, menatap kosong ke pintu lift yang tertutup rapat. Alvin meliriknya sesekali, jelas khawatir, tapi memilih diam.
Ia tahu betul, Aletha tipe orang yang tak mudah untuk menceritakan masalahnya pada orang lain. Sehingga, Alvin tak akan banyak bertanya, yang memungkinkan akan membuat Aletha tak nyaman bersamanya.
Begitu sampai di lantai apartemennya, Alvin mengajak Aletha langsung ke unit apartemennya. Ia membuka pintu unit dengan cepat.
"Silakan masuk, Al," ucapnya lembut.
Aletha lagi-lagi hanya mengangguk sebagai jawaban. Ia melangkah masuk lebih dulu dan disusul oleh Alvin dari belakang.
Aletha melirik ke setiap sudut tempat itu.
Apartemen itu tidak terlalu besar, tapi rapi dan nyaman. Ruang tamunya didominasi warna netral, abu-abu dan cokelat muda. Cahaya sore masuk lewat jendela besar, membuat ruangan terasa hangat dan tenang. Ada sofa dua dudukan, meja kecil di depannya, dan dapur mini yang menyatu dengan ruang utama.
Tempat itu memang cocok untuk bujangan seperti Alvin, yang hidup sendiri dan bahkan jarang ada di dalamnya.
"Silakan duduk, Al," kata Alvin sambil menunjuk sofa. "Aku ambilin minum."
Aletha menurut. Ia duduk di ujung sofa, kedua tangannya saling menggenggam di pangkuan. Pandangannya kembali menyapu ruangan itu, mencoba menenangkan diri dengan suasana asing yang justru terasa aman.
Tak lama, Alvin kembali dengan segelas minuman dingin.
"Minum dulu, Al. Biar agak segar," katanya sambil menyodorkan gelas.
Aletha menerimanya. "Makasih…"
Ia meneguk perlahan. Dingin minuman itu sedikit membantu meredakan sesak di dadanya.
Alvin duduk di kursi seberang, menatap Aletha dengan raut serius namun penuh empati.
"Al," katanya hati-hati. "Aku harus jujur dulu sama kamu. Biar kamu gak salah paham."
Aletha menoleh, sedikit tegang. "Kenapa?"
"Apartemen ini cuma ada satu kamar," ujar Alvin tenang. "Kamu bisa tidur di kamar itu. Aku nggak masalah tidur di sofa atau di luar."
Aletha langsung menggeleng. "Vin..."
"Dengerin dulu," potong Alvin lembut. "Aku juga jarang nginep di sini, kok. Kadang nginep di rumah temen atau lembur di kantor. Jadi kamu aman di sini."
Aletha terdiam, merasa tak enak dan menganggap kehadirannya mungkin mengusir si penghuni secara halus.
"Vin, maaf... aku ngerepotin kamu. Tapi aku bisa tidur di sofa kok."
"Kamu nggak ngerepotin aku," sahut Alvin. "Aku berkata jujur, memang jarang nginep di sini. Kamu bisa tinggal di sini selama yang kamu mau. Nggak ada yang tahu kamu di sini, dan aku nggak akan bilang ke siapa-siapa. Termasuk orang tuamu."
Aletha mengangkat wajahnya, menatap pria itu. "Beneran? Aku takut nanti kamu ingkar janji."
Alvin terkekeh. "Kamu kayak baru kenal aku aja, Al. Kita kenal sejak kecil, dan kamu udah tahu aku seperti apa."
Aletha tersenyum kecil.
Ya, memang. Alvin adalah orang yang bisa dipercaya. Ia tidak pernah mengingkari janjinya ketika sudah terucap dari mulut. Alvin bisa menyimpan rahasia siapapun rapat-rapat.
Aletha menatap keluar jendela. Sinar matahari sore makin condong, menciptakan bayangan panjang di lantai apartemen. Waktu seolah berjalan lebih lambat, memberi Aletha ruang untuk bernapas.
"Maaf, aku datang tiba-tiba, Vin," ucap Aletha lirih.
"Nggak usah minta maaf," balas Alvin. "Kalau kamu nggak datang, aku malah khawatir. Takut banget kamu ngerasa sendirian."
"Memang itu yang aku rasakan, Vin," sahut Aletha jujur. "Aku merasa sendirian."
Alvin menatapnya meski Aletha menatap ke arah lain. Ia tak tahu apa yang sebenarnya terjadi pada gadis itu, tapi ia yakin apapun itu masalahnya tidak sesimpel yang ia pikir.
Aletha tak mungkin melarikan diri jika hanya masalah kecil yang dihadapinya. Ia kenal betul wataknya. Jika hanya masalah kecil, tentu Aletha akan menghadapinya dengan senyum.
Aletha tersenyum tipis, matanya menatap ke arah matahari yang perlahan turun.
"Makasih untuk kebaikan kamu, Vin. Aku gak tahu harus ke mana kalau bukan ke sini."
Alvin mengangguk. "No problem."
Ia berdiri. "Kamu istirahat aja dulu. Kamarnya di situ." Ia menunjuk ke arah pintu kamar. "Kalau kamu butuh apa-apa, tinggal bilang. Aku di sini."
Aletha mengangguk. Ia duduk diam sejenak, menikmati ketenangan sore itu. Sementara itu, Alvin melangkah ke dapur, membiarkan Aletha menikmati ketenangannya.
Di luar jendela, langit Surabaya perlahan berubah warna. Sore itu bukan hanya penutup hari, tapi juga awal tempat berlindung sementara bagi Aletha.
*****
[Malamnya]
Aletha keluar dari kamar setelah mandi. rambutnya setengah basah dan tubuhnya terlihat lebih segar.
Ia langsung saja pergi ke dapur dan menemukan Alvin di sana. Pria itu sedang menyiapkan makan malam. Celemek bergambar Doraemon menempel sempurna di tubuh atletisnya.
Aletha tersenyum geli melihatnya memakai celemek itu. Ia lalu mendekat dan berdiri di samping Alvin yang sedang sibuk memasak ayam goreng.
"Wah, kayaknya enak," ucap Aletha dengan mata menatap lurus ke arah penggorengan.
Alvin menoleh sebentar lalu menyahut, "Udah selesai mandinya?"
"He'em."
"Sebentar lagi matang. Kita bisa makan bersama."
Aletha mangut-mangut. Tangannya mengambil pencapit dari tangan Alvin dan mengambil alih tempat pria itu di depan kompor.
"Sini, biar aku yang lanjutin goreng ayamnya," ucapnya.
Alvin ingin menolak, tapi Aletha sepertinya senang melakukan, bahkan ia terlihat tersenyum senang ketika membalik paha ayam.
"Aku tuan rumah loh," kata Alvin. "Kamu harusnya menghargai aku. Bukan malah ngerebut apa yang sedang aku lakukan," candanya.
Aletha tertawa kecil, berbalik menatap Alvin. Mereka berhadapan. Jari telunjuk Aletha menyentuh dada bidang Alvin dan mendorongnya kecil. "Terus, itu masalah buat kamu? Aku mau bantu, dan aku maksa."
Alvin tertawa sambil geleng-geleng kepala. "Tamuku yang satu ini emang ngeyel dan suka maksa." Ia mendesah sambil angkat tangan tanda pasrah. "Ngalah deh."
Aletha tersenyum puas, merasa menang. Ia kembali sibuk membolak-balikkan ayam goreng yang sebentar lagi akan matang.
Sementara itu, Alvin mulai menyiapkan nasi dan piring di meja makan. Ia memastikan Aletha nyaman makan malam bersmanya.
Sejak dulu, mereka sering masak bersama. Alvin jago memasak meski ia seorang pria. Dan meskipun Aletha tidak pandai memasak, tapi Alvin selalu mengajarinya cara masak yang benar, walaupun lebih sering masakan itu asin, gosong, atau terlalu manis.
Kebersamaan mereka menciptakan kenangan indah tersendiri bagi keduanya. Membuat Aletha dan Alvin saling menyayangi satu sama lain, seakan mereka benar-benar kakak dan adik sungguhan.
Ketika ayam goreng telah matang dan semua makanan tersaji di atas meja makan, Alvin dan Aletha duduk bersebelahan, siap menikmati makan malam mereka.
"Tumben... ayam gorengnya gak gosong," komentar Alvin dengan mata melirik ayam goreng yang baru saja diangkat itu.
Aletha tersipu malu. "Udah nggak dong. Aku udah jago masak sekarang. Masa iya, udah nikah masih sama aja."
Alvin tersenyum mengejek. "Gak percaya."
"Palingan karena kamu masaknya di sini aja, makanya gak gosong. Takut di roasting sama aku," tambahnya.
Aletha pura-pura cemberut, tapi bibirnya kemudian menglusa senyum. "Sok tau banget. Aku udah banyak belajar kok."
Alvin mangut-mangut seolah percaya, tapi jelas sedang mengejek. "Ya, ya, ya..."
Aletha mendengus. Tangannya terulur, lalu tanpa aba-aba langsung menjewer daun kuping Alvin.
"Aww... Aww..."
"Terusin aja, Vin..." kata Aletha sambil mengencangkan jewerannya. "Ayo, terusin."
"Ahhh... sakit, Al... Lepasin..." Alvin memohon.
"Nggak ada," jawab Aletha. "Udah ngejek aku, seenaknya aja pengen dilepasin."
Alvin tertawa kecil meski masih meringis karena jeweran Aletha. Tangannya pelan menahan pergelangan tangan Aletha, bukan untuk melawan, hanya supaya jewerannya mengendur.
"Oke… oke… aku kalah," ujarnya sambil terkekeh. "Ampun, sepupu cantikku..."
Aletha akhirnya melepas jeweran itu. Ia mendengus kesal, lalu kembali duduk rapi di kursinya. Namun senyum kecil masih tertinggal di wajahnya, sesuatu yang sejak sore hampir tak terlihat.
Alvin memperhatikan itu. Senyum itu.
Pria itu terdiam sejenak, menatap Aletha dengan ekspresi yang jauh lebih lembut dari sebelumnya. Tidak ada candaan, tidak ada ejekan. Ia tampak serius.
"Aku gak suka lihat kamu sedih," ucap Alvin pelan, suaranya lebih rendah. "Jadi aku harus bisa bikin kamu senyum lagi."
Aletha menoleh perlahan, sedikit terkejut dengan perubahan nada bicara Alvin.
"Aneh banget kalau lihat kamu sedih," lanjut Alvin, bibirnya melengkung tipis. "Soalnya gak biasa."
Aletha terdiam. Kata-kata itu sederhana, tapi menghantam tepat di dadanya. Tangannya yang tadi gesit kini menggenggam sendok lebih erat. Dadanya terasa hangat… dan perih di saat bersamaan.
"Aku… nggak bermaksud bikin siapa pun khawatir," ucap Aletha lirih.
"Aku tahu," jawab Alvin cepat. "Makanya kamu lari sejauh ini. Tapi Al…" Ia menarik napas pelan. "Kamu gak harus menahan rasa sakit kamu sendirian."
Aletha menunduk. Matanya berkaca-kaca lagi, tapi kali ini air matanya tidak langsung jatuh.
"Di sini," lanjut Alvin sambil mengetuk pelan meja makan di depan mereka, "ada aku. Kamu bisa cerita apapun ke aku tanpa harus ragu, malu atau canggung. Dari kecil kamu anggap aku kakak, kan? Jadi, kalau ada masalah cerita aja. Kamu bisa berbagi tawa dan tangis kamu ke aku."
Aletha mengangguk kecil. Bibirnya bergetar, lalu ia tersenyum tipis, senyum yang rapuh, tapi nyata.
"Makasih, Vin," katanya pelan. "Aku akan cerita kalau aku sudah siap. Tapi untuk saat ini... aku memang belum siap."
Alvin menganggukkan kepalanya. "Aku bakal tunggu. Kapan pun kamu mau cerita, cerita aja."
Aletha tersenyum manis sambil mengangguk.
"Nah, gitu dong. Senyumnya jangan dipelihara buat sendiri aja. Aku juga berhak lihat," canda Alvin.
Aletha terkekeh kecil, meski matanya masih basah. Ia mengusap cepat sudut matanya, lalu mengambil sepotong ayam goreng dan menyodorkannya ke piring Alvin.
"Nih. Sebagai ucapan terima kasih karena udah cerewet dan baik hari ini."
Alvin tertawa. "Wah, cuma dibayar ayam goreng nih?"
"Kurang?" Aletha melirik menantang.
"Kurang," jawab Alvin sambil mengambil ayam itu. "tapi kalau kamu senyum terus, itu lebih dari cukup."
Aletha geleng-geleng kepala. Kakak sepupunya yang satu ini memang selalu bisa menghibur dirinya saat sedih. Itulah kenapa Aletha selalu nyaman bersamanya setiap saat.
Mereka pun mulai makan sambil sesekali membahas tentang kenangan saat kecil. Menciptakan suasana hangat di ruang makan.
Di luar jendela, malam tampak masih sibuk namun teratur. Lampu-lampu kota menyala terang memantul di kaca apartemen.
Dan untuk pertama kalinya sejak meninggalkan rumahnya, Aletha merasa, meski hanya sementara, ia tidak sendirian lagi.
Ada Alvin di sisinya, yang siap menghiburnya setiap kali ia sedih. Setidaknya Aletha bisa melupakan sosok Damian. Sementara.
*****
akhirnya kesalahpahaman Aletha dan Damian berakhir
semoga setelah ini mereka berdua hidup bahagia walaupun ada kerikil kerikil kecil yang menghadang
biar tau kebenaran ucapan Damian dan Erik
bukan untuk menyebarkan aib tapi terlebih untuk membuat Aletha percaya apalagi saat pernikahanmu yang pertama usai pun kamu masih jejaka
dengarkan Damian dulu
baru ambil keputusan
tapi jangan lama-lama ya mbak🤭🤭🤭
harus ada yang nyentik Damian dulu biar dia sadar
cinta Aletha terlalu berharga untuk diperjuangkan
siapa tahu bang Erik bisa bantu ato paling nggak beban hatimu agak berkurang
baru setelah kamu siap menghadapi Damian, balik lagi dengan kondisi terbaikmu
tenangkan hatimu dulu meskipun akan sulit tapi kamu gadis yang tangguh
kami kuat Aletha