Cerita ini adalah lanjutan dari novel ~MIRA~
_____
Enam tahun telah berlalu di mana kejadian aksi bunuh diri Mira belum bisa dilupakan oleh Raka Alendra. Pria muda tampan yang memiliki kelebihan dapat mendengar isi pikiran orang lain.
Dengan kemampuannya itu ia dapat membangun perusahaan terbesar serta perusahaan lainnya. Seorang Presdir termuda di Perusahaan Welfin di kota Byusan. Tanpa sengaja, ia bertemu dengan Sovia indriani, wanita yang baru tiba dari luar negri sekaligus seorang single mom yang memiliki rupa yang sama dengan Mira dan memiliki seoarang Putra yang bernama Deva. Sovia bekerja sebagai karyawan biasa di perusahaan Welfin.
Tiba-tiba saja seorang wanita lain hadir dan memiliki wajah yang juga mirip dengan Mira. Wanita itu mencoba untuk mengambil perhatiaan Raka. Namun karena gadis kecil yang bernama Dean, Putri kecil dari Raka mencoba untuk menyingkirkan wanita tersebut, karena tak ingin Ayahnya terjebak akan rencana jahatnya.
Begitupun dengan bocah yang bernama Deva, ia mencoba membantu Dean untuk mempersatukan Ibunya dengan Ayah Dean. Dan ternyata kedua bocah itu adalah saudara kembar yang artinya Sovia dan Raka adalah orangtua kandung mereka.
Lalu bagaimana semua itu terungkap?
Yuk kita baca sampai selesai:)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asti Amanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Persiapan Perayaan
...[Beri like dan komen]...
...___*______*___...
Sovia melangkah masuk di mana Raka terlihat duduk santai dengan tampang coolnya.
Sovia merasa lemas jika harus memberikan surat pengunduran dirinya kepada Pria di depannya. Sovia bermaksud tak ingin terlibat dengan Raka.
"Pres--presdir, saya minta maaf!"
Sovia langsung memberikan surat itu langsung di hadapannya. Sovia merasa cemas dan takut akan kemurkaan dari Pria di depannya.
"Yakin?" Raka menatap Sovia datar.
Sovia mengangguk yakin dengan tingkah bodohnya. Sekaligus ia heran akan respon dari Presdirnya.
"Kenapa dia tidak marah sedikitpun, saat aku berbicara tadi seharusnya dia kecewa."
Seketika Raka berdiri berjalan perlahan, terlihat postur tubuhnya bagaikan Atlet Profesional dengan tegak berjalan menuju padanya. Hingga mereka begitu sangat dekat.
Sovia menunduk memainkan kedua jari telunjuknya takut melihat mata sinis Raka.
"Presdir, maksudku ... saya akan melunasi ganti rugi semua ini jadi Presdir tolong lepaskan saya, biarkan saya membayarnya sendiri." Sovia masih saja menunduk dengan rasa gugupnya.
"Ganti rugi? Bagaimana ia bisa membayar semua ini, bahkan menjual dirinya saja di luar sana tak cukup untuk melunasinya."
Itulah yang dipikirkan Raka. Dengan tampan dingin serta mata yang mulai geram ia mendekati wanita itu.
"Jika itu mau mu bagaimana dengan surat kontrak lainnya!" gertak Raka.
Sovia tercengang mendengar surat yang hampir ia lupa, Sovia pun langsung mendongak dan saat itulah wajah mereka berdua sungguh berdekatan hingga muka Sovia mulai memerah merona.
"Astaga ini terlalu dekat bahkan sedikit gerak saja pun bisa bisa aku malah menciumnya."
Sovia menelan ludah lalu mendorong paksa dada bidang Raka agar menjauh darinya, posisi tadi membuatnya canggung sedangkan Raka hanya diam melihat tingkah wanita ini.
"Presdir, saya sudah tau semuanya jadi bisakah anda melepaskanku, saya janji akan melunasi utang itu." Kata itulah yang diucapkan Sovia namun Raka tak peduli ia pun berjalan kembali mendekatinya.
"Semudah itu kah? Kamu pikir membatalkan sebuah kontrak seperti merobek kertas biasa!" Raka marah sambil merobek robek surat pengunduran diri Sovia yang sedari tadi ia pegang. Sovia kembali lagi menelan ludah melihat Presdirnya kini marah besar.
"Pres-presdir, untuk acara itu bukankah lebih baik anda mencari yang lain, maksudku wanita yang tepat berada di samping Presdir."
Sekali lagi Sovia menunduk menggenggam kedua jarinya, terlihat tangannya bergetar jika ia harus menerima kemurkaan Raka.
"Dan juga saya bukan lah gadis yang anda cari, jadi saya harap anda bisa melihatnya dengan jelas." lanjut Sovia masih menunduk.
Mendengar ucapan Sovia, mata Raka terbelalak kaget bercampur amarah ternyata wanita di depannya mulai berani mempermainkannya.
"Berani sekali kamu berkata seperti itu, apa kamu pikir aku buta?" Dengan nada marah ia mencekeram rahang mulut Sovia menekannya kuat membuat wanita itu kesakitan dan kian bertambah takut.
"M4mpus diriku ini telah membuatnya marah, argh! Sakit sekali rasanya, bisakah dia melepas tangan ini."
Sovia berusaha melepas tangan yang terasa halus di rahangnya itu dengan paksa. Tangan Raka berhasil disingkirkan hingga ia mempunyai kesempatan untuk berbicara.
"Presdir! Asisten Willy telah memberitahuku semuanya, soal Mira itu bukan lah diriku, saya adalah putri sulung dari pak Candy, saya harap Presdir dapat mengerti, kalau saya bukanlah gadis itu, dan karena anda melihat diriku mirip dengannya anda jangan seenaknya mempermainkan saya." Sovia pun menunduk merasa puas telah mengatakan semuanya.
"Baiklah sekarang aku cuma perlu tenang dan menghadapinya, siapa tau dari semua ini dia bisa melepaskanku."
Namun dugaannya salah.
Raka semakin marah mendengar Sovia menyebut nama itu, ia langsung menarik paksa tangan kiri Sovia dan mencengkeram kuat sambil menatap wajah bodoh wanita di depannya. Dengan suara nada marah ia seperti menekan pada Sovia.
"Jangan pernah menyebut nama itu! Bahkan wajah palsumu ini sangat jelas jika kamu datang kemari hanya untuk mendapatkan perhatian dariku!"
Raka marah besar. Tidak disangka di pikiran presdirnya itu, ia bagaikan wanita murahan di luar sana, sakit dan perih mendengarnya, membuatnya ikut emosi.
"Anda sungguh keterlaluan, ucapan anda telah menghina harga diri saya, harusnya anda lebih tau cara menghargai seorang wanita, lagian gadis yang anda maksud itu sudah meninggal mengapa anda malah bersikeras mencarinya. Anda juga harus tau gara-gara gadis itu setiap malam saya selalu saja dihantuinya." Amarah Sovia semakin kian membesar kepada Raka. Matanya menatap tajam melihat Raka.
"Mimpi? apa dia mulai ingin membodohiku?" itulah yang dipikirkan Raka.
Jika saja Raka bisa membaca pikiran Sovia, mungkin dari dulu ia juga tak mau berurusan dengan wanita ini.
"Dengan penjelasanmu ini apa kamu pikir aku percaya? Wanita seperti mu memang banyak mengaku padaku."
"Tidak! Itulah yang sebenarnya yang anda harus tau!" Sovia membantah tak mau kalah.
Pertengkaran ini tak lagi seperti karyawan dengan atasan melainkan seorang suami istri yang sedang bertengkar. Sorotan tatapan mereka berdua sungguh menakutkan tetapi terlihat lucu satu sama lain.
Perdebatan mereka bahkan terdengar sampai di luar membuat karyawan yang melewati ruangan itu kaget dan heran apa yang terjadi di dalam.
Raka yang mulai tak tahan mendengar ocehan wanita di depannya, ia mulai geram dengan emosinya memuncak, ia langsung memeluk Sovia bahkan memberinya kecupan dibibir mungilnya. Terasa lunak dan lembut tapi tidak untuk Sovia yang kini terbelalak melihat semua ini.
Deg!
Terdengar jantungnya berdetak kencang merasakan sesuatu bermain di bibirnya. Sentuhan itu benar-benar membuatnya sontak terkejut.
"Aaaaa! Dasar Mesum!" Sovia berteriak kaget langsung segera menghindar dari Pria di depannya yang sudah keterlaluan.
"He ... sudah puaskan?" Raka tersenyum smirk dengan wajah menakutkan.
"Kamu! Beraninya mengambil keuntungan dariku!" Sovia membentak tak terima dengan mata mulai geram.
"Seharusnya kamu senang mendapatkan apa yang tidak didapatkan wanita di luar sana."
"Ck ... aku bahkan tak menginginkannya!" Sovia mengusap bibirnya paksa. Raka yang melihatnya semakin geram dengan tingkah wanita ini. Ia menarik tangan itu segera.
"He! Seharusnya kamu bersyukur dapat menerimanya bukan malah menolaknya, dasar wanita bodoh!" Raka menatap mata Sovia tajam.
"Apa? Rasanya sungguh menjijikkan sekali." Kata itulah yang dilontarkan Sovia di hadapan Raka. Rasa takutnya telah hilang membuatnya berani berkata seperti itu.
Raka mulai dengan wajah masamnya menunduk lalu menarik paksa tangan Sovia menyeretnya keluar, sedangkan Sovia meronta-ronta untuk melepaskan cengkraman dari Pria ini. Namun Raka langsung mendorongnya Sovia keluar dari ruangannya.
...Brakk!...
Pintu tertutup keras dari dalam, Sovia seketika kaget mendengarnya.
"Ingat! Jangan buat aku malu nanti malam, jika kamu melakukan kesalahan, hidupmu tak akan kamu rasakan lagi!" Raka berteriak keras dari dalam.
"Apa-apaan sih dia, memangnya dia itu Tuhan yang bisa mengatur hidupku. Hmph!" Sovia berpaling muka terlihat kesal, karyawan yang melihatnya hanya terdiam membisu.
"Arghhh! Dasar sialan, menyebalkan sekali berurusan dengannya, usahaku hari ini malah sia-sia jadinya, jika tau akan seperti ini tak akan aku ambil poster yang terjatuh waktu itu." Sovia berjalan dengan emosi di kepalanya.
Sedangkan Raka yang masih dengan tampang masamnya, memukul mejanya berkali-kali.
"Wanita bodoh, tunggu saja aku akan memberimu pelajaran nanti malam." Raka kembali duduk mengacak-acak rambutnya. "Ah sial, mengapa aku bisa-bisanya mencium wanita itu tadi." umpat Raka mengacak-acak rambutnya.
...¤______¤______¤...
Sore ini Sovia sudah mulai mempersiapkan dirinya di kamar untuk menghadiri acara perayaan perusahaan Welfin. Ia masih tak bisa melupakan kejadian tadi siang di mana.Presdirnya itu telah menciumnya paksa.
"Isshh ... apa dia tak pernah berciuman sebelumnya, bibirku hampir bengkak seperti ini!"
Sovia di depan cermin terlihat kesal sambil menyentuh bibirnya yang lembut dan ada sedikit bekas gigitan Raka yang sungguh menciumnya.
Di depan cermin Sovia masih saja memikirkan kejadian itu, mukanya masih sama terlihat tak berselera memakai gaun yang dipilih oleh Raka waktu itu.
"Apa-apaan ini, kenapa dia memberikanku dress putih ini, dress ini sangat terbuka sekali, aku bagaikan wanita penghibur jika mengenakannya."
Sovia menatap dirinya di cermin, berputar sesekali melihat dress yang ia pakai.
Sovia menyipitkan matanya terlihat kesal dengan penampilannya lalu seketika ia tersenyum kecil.
"Emh ... ternyata aku cantik juga mengenakan dress ini." Sovia memuji dirinya mengambil beberapa gaya bodohnya.
"Tapi kenapa harus pakai yang ini! Dasar Presdir Mesum. Otak udang. Hmph!" Sovia mengumpat merasa gemas melihat dirinya di cermin.
Kemudian terdengar pintu kamarnya terbuka, ternyata Deva yang masuk melihat Ibunya langsung memeluknya.
"Mami sangat cantik malam ini." Deva mendongak tersenyum melihat Ibunya.
"Makasih sayang." balas Sovia tersenyum.
"Eh, Mami. Kenapa dengan bibir Mami, kok agak lebam gitu?" tanya Deva membuat Sovia terkejut.
"Ahaha ... ini Mami tidak sengaja gigit sendiri." jawab Sovia cengengesan.
"Oh, ya. Kenapa Putraku yang menggemaskan ini belum tidur?" lanjut Sovia segera bertanya.
"Deva maunya ditemani, Mih." rengeknya.
"Aku harus menghalangi Mami pergi malam ini."
"Aiss ... katanya punya ide bagus tapi sampai sekarang putri malah belum pulang juga." gumam Deva tertuju pada Putri.
"Maaf ya sayang. Mami ada urusan, nanti Bibi Vani yang temani kamu tidur." Sovia mengelus lembut kepala Putranya.
Deva hanya terdiam mencari cara untuk ikut melihat Ibunya, ia juga berfikir di mana hantu idiot itu berada.
"Sebenarnya dimana Putri berada hingga belum datang juga, apa mungkin dia dikejar lagi oleh hantu lain seperti kemarin?" Deva terdiam memikirkan Putri.
...****...
...Wah, Presdir nggak sabaran ><...
...Eh, apa yang terjadi dengan putri?...
...Halo Readers...
...Jangan lupa...
...Like...
...Komen...
...Dan...
...Vote...
...Terima kasih...
Maaf aku blm bca season 1 soalnya . Mau bca tp males ah..kpngen lgsug bca yg ini aja🤭