Axeline tumbuh dengan perasaan yang tidak terelakkan pada kakak sepupunya sendiri, Keynan. Namun, kebersamaan mereka terputus saat Keynan pergi ke luar negeri untuk melanjutkan pendidikannya.
Lima tahun berlalu, tapi tidak membuat perasaan Axeline berubah. Tapi, saat Keynan kembali, ia bukan lagi sosok yang sama. Sikapnya dingin, seolah memberi jarak di antara mereka.
Namun, semua berubah saat sebuah insiden membuat mereka terjebak dalam hubungan yang tidak seharusnya terjadi.
Sikap Keynan membuat Axeline memilih untuk menjauh, dan menjaga jarak dengan Keynan. Terlebih saat tahu, Keynan mempunyai kekasih. Dia ingin melupakan segalanya, tanpa mencari tahu kebenarannya, tanpa menyadari fakta yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mutzaquarius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Keyvan berdiri di dekat jendela dan menghela napas panjang. Matanya menatap kosong ke luar, tetapi pikirannya penuh dengan ucapan istrinya.
Dia bingung, tanggal pertunangan Keynan dan Agnes sudah ditentukan. Jika mereka menghentikannya sekarang, akan ada banyak pertanyaan dan konsekuensinya.
Di belakangnya, Nayya mendekat dengan ragu-ragu. Suaranya terdengar hati-hati saat berkata, "Van, kita harus melakukan sesuatu. Mungkin kita harus memberitahu Keyra dan Alexio jika ... "
"Tidak mungkin, Nay," ucap Keyvan langsung menyela.
"Kenapa tidak? Kau tahu sendiri, mereka bukan saudara sepupu kandung. Jadi, tidak ada yang salah jika mereka bersama! Lagipula, bukankah menikah dengan sepupu itu tidak di larang?"
Keyvan memijat pelipisnya, mencoba menenangkan pikirannya. Lalu, ia berbalik menghadap istrinya.
"Aku tahu itu, Nay. Tapi hanya keluarga kita yang tahu," seru Keyvan.
Nayya membuka mulut hendak bersuara, tetapi Keyvan lebih dulu melanjutkan. "Di luar sana, semua orang menganggap mereka adalah saudara. Jika kita tiba-tiba mengungkap kebenarannya sekarang, apa kau pikir itu akan mudah?"
Nayya terdiam memikirkan ucapan Suaminya.
Pria itu menarik napas dalam sebelum melanjutkan. "Aku tidak keberatan jika Keynan dan Axeline bersama. Tapi, bagaimana dengan Keyra dan Alexio?" Ia berhenti sejenak, lalu menatap istrinya dalam-dalam.
"Selama ini, mereka hidup dalam ketakutan. Takut jika Axeline tahu yang sebenarnya, dia akan memilih pergi untuk mencari keluarga kandungnya."
Nayya mengatupkan bibirnya erat.
"Alexio hampir hancur saat kehilangan putrinya, Nay. Dan Keyra ..." Keyvan menarik napas berat. "Kau tahu sendiri betapa rapuhnya dia. Dia sempat sakit-sakitan saat teringat putrinya yang bahkan sebelum sempat ia bisa menggendongnya sendiri."
"Jadi, aku tidak yakin, jika mereka punya keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya pada Axeline."
Nayya mengepalkan tangannya erat. Tentu dia ingat betul bagaimana keadaan Keyra setelah kehilangan putrinya yang baru dilahirkan. Rasa sakitnya, tangisannya, betapa kosongnya sorot matanya saat itu.
Bagaimana mereka semua, Keyra dan Alexio, juga keluarga besar mereka, menuangkan seluruh kasih sayang mereka kepada bayi mungil yang akhirnya mereka adopsi.
Bagaimana mereka menjadikan bayi itu sebagai pengganti putri mereka yang telah tiada.
Bagaimana mereka membesarkan Axeline, tanpa pernah mengungkapkan kebenaran.
Nayya memejamkan mata. Ada rasa sakit dan rasa takut di dadanya. Jika mereka diam saja, Keynan akan bertunangan dengan Agnes. Tetapi jika mereka mengungkapkan kebenaran, apakah Axeline akan membenci mereka?
Nayya menggigit bibirnya. "Tidak, Van. Aku yakin mereka bisa menerimanya. Bagaimanapun juga, ini demi kebahagiaan putri mereka. Jadi ..."
Keyvan menghela napas panjang. Ia tahu, dari dulu Nayya sangat keras kepala, tetapi keputusan ini bukan hanya tentang mereka berdua.
"Jangan lupakan Agnes, sayang," potong Keyvan tiba-tiba. "Kau tahu pasti, aku selalu mendukung apa pun yang ingin kau lakukan selama itu benar. Tapi sebelum itu, Keynan harus mengakhiri hubungannya dengan Agnes. Dan setelah itu, aku akan mencoba berbicara perlahan dengan Alexio."
Senyum lebar tersungging di bibir Nayya. Ia langsung memeluk Keyvan erat dan mencium singkat pipinya. "Terima kasih, Van." Tapi, sebelum ia bisa berkata lebih banyak, Keyvan menatapnya tajam.
"Untuk Agnes ... Kau yakin Keynan bisa mengakhiri hubungan mereka begitu saja?"
"Aku sudah memintanya. Tapi ... sepertinya ada sesuatu yang Keynan sembunyikan tentang hubungannya dengan Agnes."
Keyvan menyipitkan mata. "Kenapa begitu?"
"Aku juga tidak tahu. Aku sudah memberinya pilihan untuk melepaskan Axeline, atau mengakhiri hubungan nya dengan Agnes. Seharusnya, itu cukup membuat dia senang karena aku mendukung pilihannya. Tapi, dia terlihat ragu," ujar Nayya.
Keyvan tersenyum. " Kalau begitu ... Kau harus mencari tahu." Setelah itu, tanpa berkata apa-apa lagi, Keyvan melewati Nayya begitu saja dan naik ke atas tempat tidur, untuk mengistirahatkan tubuhnya.
Sedangkan Nayya tetap berdiri di tempatnya. Pikirannya masih berputar tentang apa yang Keynan sembunyikan?
Keesokan paginya. Seperti biasa, Axeline bersiap untuk berangkat magang. Ia sudah terlihat rapi dengan setelan baju kerjanya.
Dengan satu tarikan napas, dia menenteng tasnya dan melangkah keluar dari kamar. Tapi, pagi ini terasa sedikit berbeda. Tidak seperti sebelumnya, Keynan tidak terlihat di tengah-tengah keluarganya.
Axeline merasa sedikit lega. Setidaknya, dia tidak harus berurusan langsung dengan pria itu.
"Selamat pagi, semuanya," sapa Axeline, berusaha terdengar ceria.
"Selamat pagi, sayang." Seperti biasa, Keyra menyambutnya dengan hangat dan mengambilkan sarapan untuknya.
Tapi saat Axeline duduk, ia menyadari ada yang janggal. Biasanya, suasana pagi di meja makan ini terasa hangat dan nyaman. Tapi hari ini, terdapat ketegangan yang tidak bisa diabaikan.
Axeline melirik ayahnya, yang tampak menghela napas panjang. Lalu, ia melirik ibunya, yang juga tampak lebih diam dari biasanya.
Axeline menatap mereka bergantian sebelum akhirnya bertanya, "Ada apa? Di mana Kak Axel?"
Alexio menghela napas panjang. "Kakakmu memutuskan untuk tinggal di apartemen," jawab Alexio dengan nada suara yang terdengar kesal dan sedikit geram. "Entah, kenapa dia tiba-tiba ingin tinggal di sana."
"Hah? Kenapa tiba-tiba?" tanya Axeline heran.
Sebelum Alexio bisa menjawab, Keyra menimpali dengan nada menyindir. "Bukankah semua ini salahmu, hm? Kau terlalu memaksa Axel."
Alexio menoleh ke istrinya, matanya menyipit tajam. "Tapi, semua itu juga demi kebaikan dia, Sayang."
Keyra menatap suaminya sekilas, tapi tidak lagi membalas. Ia tahu, sampai kapan pun, ia tidak akan menang berdebat dengan Alexio.
Ya, Ia tahu, semua yang dilakukan Alexio demi kebaikan putra mereka. Tapi, bukankah lebih baik jika mereka memberi kesempatan pada Axel untuk memilih sendiri pasangan hidupnya?
Axeline menyadari ketegangan di antara orang tuanya. Ia tidak tahu apa yang terjadi, tetapi yang jelas, telah terjadi sesuatu yang berhubungan dengan kakaknya.
Tidak ingin memperkeruh keadaan, Axeline memilih diam. Ia menghabiskan sarapannya dengan cepat, lalu bergegas ke luar tanpa banyak bicara.
Sopir keluarga sudah menunggu, membukakan pintu mobil untuknya.
Di sepanjang perjalanan, Axeline menggenggam erat tali tasnya. Entah kenapa, perasaannya tidak nyaman. Sejak tadi, dadanya terasa sesak, seolah akan terjadi sesuatu. Sesuatu yang tidak diinginkannya. Tapi, Axeline berusaha menepis firasat buruk itu.
"Jangan terlalu dipikirkan, Axeline," batinnya. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan diri.
Saat mobil berhenti di depan gedung NA Company. Axeline mengarahkan pandangannya ke luar, menatap bangunan megah itu.
"Baiklah, waktunya bekerja." Ia turun dari mobil dengan langkah mantap, dan bergegas masuk untuk melakukan absensi. Baru setelahnya, ia menuju mejanya dan mulai mengerjakan pekerjaannya yang sempat tertunda.
Namun, tidak lama setelah itu, suasana di sekitarnya berubah. Rekan-rekan kerjanya mulai berkerumun, berbisik-bisik membicarakan sesuatu yang samar terdengar olehnya.
Tapi, Axeline tidak ingin peduli. Sampai ia mendengar jelas topik yang mereka bicarakan.
"Itu dia, wanita yang mengaku sebagai nyonya muda Dirgantara."
"Jadi, mereka benar-benar menjalin hubungan."
"Wanita itu terlihat cocok dengan CEO."
Axeline mengkerutkan keningnya. Dia menoleh ke arah pintu masuk yang menjadi pusat perhatian semua orang.
DEG!
Hati Axeline langsung mencelos saat melihat Keynan datang bersama Agnes. Mereka berjalan beriringan dengan Agnes yang bergelayut di lengannya. Ekspresi wajah pria itu terlihat dingin seperti biasa, berbeda dengan Agnes, yang tersenyum bahagia, seolah ingin memamerkan dirinya.
Mereka berjalan melewati Axeline. Tanpa menoleh sedikit pun. Tanpa sedikit pun memberi perhatian, seolah Axeline tidak pernah ada.
Dan saat pintu lift tertutup di belakang mereka, Axeline menarik napas dalam-dalam, memejamkan mata, mencoba mengendalikan dirinya.
Tapi, itu tidak cukup. Matanya mulai memanas. Dadanya terasa sesak. Di dalam hatinya, ia sulit percaya dengan apa yang ia lihat.
"Dia benar-benar pandai mempermainkan perasaan orang lain. Dasar bajingan."
jadi penasaran
thor jgn lama2 up nya