Sepertinya alam semesta ingin bercanda denganku, orang yang ku cintai meninggalkanku di saat mendekati hari pernikahan kami. meninggalkan luka yang menurutku tidak ada obat untuk menyembukannya walaupun dia kembali untuk minta maaf.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon olip05, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Eps 31
“Mitaa” teriak nayla padaku saat aku masuk loby rumah sakit.
“bisa gak si kalau manggil nama gue tu gak usah teriak-teriak, malu tau di liatin orang-orang” protesku pada nayla saat dia sudah dekat denganku.
“yaelah gitu aja sewot bun” celetuk nayla cuek
“lu tu ya jadi dokter ada wibawa dikit ke,” aku masuk kedalam lift bersama nayla di sampingku.
“bosen gue denger kata-kata itu terus keluar dari mulut lu” tutur nayla
Aku hanya memutarkan bola mataku jengah, diam tak menyahuti perkataan nayla. Aku memang sering mengatakan bahwa nayla harus bersikap wibawa saat di rumah sakit karena aku sering mendengar karyawan rumah sakit membicarakan sikap nayla, aku tak ingin sikap nayla menjadi bahan gosip para karyawan di rumah sakit ini. Saat aku memberitahu nayla bahwa dia sering menjadi bahan gosip disini, respon nayla malah tak peduli, bodo amat. temanku ini memang sikap bodo amatnya sudah sangat di atas rata-rata.
“eh ini apaan?” tanya nayla sambil menyentuh leherku
“haha ini kissmark ya?” lanjut nayla sambil terkikik menahan senyumnya.
Aku mengerutkan halisku, tadi sudah aku tutupi bekas kissmark yang arun buat pagi ini dengan foundition tapi kenapa masih terlihat oleh nayla.
“gue udah tutupin kissmarknya sama founition masa masih kelihatan si” tanyaku heran
“dia hot banget ya di atas ranjang,? Kissmarknya banyak bengat dileher lu” tanya nayla ambigu memandangi leherku.
Aku melototkan mataku mendapati pertanyaan nayla “apaan si lu nanya-nanya kaya gitu” ujuarku sedikit salah tingkah.
“hahaha lu tutupin kissmarknya yang bener, itu masih kelihatan banget”
Aku langsung menarik kuncir rambutku agar rambutku tergerai menutupi leher dan langsung berjalan cepat menuju ruang kerjaku saat pintu lift terbuka meninggalkan nayla di dalam lift yang masih tertawa.
Aku langsung mengambi kaca di dalam tasku setelah aku menutup pintu, dan benar saja masih terlihat tanda-tanda merah yang cukup banyak di leherku. Ah sial kenapa aku hanya asal menutupi tanda merah itu dengan foundition, syukur nayla langsung bilang padaku kalau tidak pasti banyak orang yang melihatnya.
*****
“dokter mita ditungguin tuh sama suaminya yang ganteng” ucap salah satu suster yang berada di meja represionis menunujuk pria yang duduk di kursi tak jauh dari jarak aku berdiri.
Aku menoleh pada pria tersebut yang sibuk memainkan ponselnya. “hey, lagi apa disini?” tanyaku pada arun saat aku sudah ada di dekatnya.
Arun tersenyum melihatku dan berdiri dari duduknya memasukan ponselnya di saku celana. “kamu dari mana?” tanya arun balik. Bukannya menjawab pertanyaanku arun malah balik bertanya.
“aku baru selesai makan malam di luar” jawabku.
“yah aku telat dong, aku udah beli dua porsi makanan. Tadinya mau makan malam bareng kamu tapi ternyata kamu udah makan” ucap arun kecewa.
“kenapa gak bilang kalau mau makan malam bareng? Kalau tahu gitu aku gak perlu makan diluar tadi” ucapku sambil melihat plastik yang berisi makanan di samping kursi arun.
“tadinya mau bikin kejutan”
Aku terkekeh sambil menepuk lengannya pelan “dih so soan bikin kejutan”
Arunpun ikut tersenyum “yaudah sekarang temenin aku makan, aku dari siang belum makan”
“yaudah makannya diruang kerja aku aja” aku mengambil plastik yang berisi makanan di kursi dan berjalan mendahului arun.
Aku menghantikan langkahku saat merasakan ada tangan yang melingkar di pinggangku. Aku menoleh pada pemilik tangan tersebut. “kita harus terlihat romantis di depan para suster yang ada di sana, dari tadi mereka melihat ke arah kita terus” bisik arun di telingaku. Aku tersenyum dan melemparkan pandanganku pada beberapa suster yang berada di meja represionis. Ketika aku melihat ke arah suster tersebut mereka lansung mengalihkan pemandangannya ke arah lain.
Akupun melanjutkan langkahku dengan tangan arun yang melingkar di pinggangku.
“dokter mita kenalin dong suami gantengnya sama kita” ucap suster yang berada di meja represionis tersenyum saat aku dan arun melewatinya. Memang wajah arun ini sangat menarik perhatian sekali, ketampanannya yang di atas rata-rata membuatnya selalu menjadi pusat perhatian orang-orang di sekitar
“gak ah nanti kalian suka lagi sama suami aku yang ganteng ini” ucapku pura-pura cuek dan aku merasakan pelukan arun lebih erat di pinggangku dari pada sebelumnya.
“yah dokter mita, suaminya juga gak bakal tergoda sama kita ini”
“ternyata pak arun aslinya lebih ganteng dari pada di tv dan majalah” timpal suster yang lain. Arun memang sering muncul di tv dan majalah dikenal sebagai pengusaha sukses di usia yang masih muda jadi tak heran banyak orang yang mengenalinya
“tuhkan kalian udah kenal sama suamiku, ngapain minta dikenalin kalau udah kenal” ucapku heran.
“kan beda dok, kalau kenalan langsung”
“hallo semuanya salam kenal, saya arun suami dari dokter mita” ucap arun sambil tersenyum ramah.
“senyumnya manis bengat” ucap suster yang lain dengan suara pelan tapi masih terdengar di telingaku.
“kayanya pak arun suami yang posesif ya, keliatan bengat dari pelukannya yang erat banget di pinggang dokter mita” timpal yang lain sambil terkikik. Aku hanya tersenyum malu mendapat godaan demi godaan dari para suster tersebut.
Setelah sapa-sapa dan kenalan singkat dengan para suster tadi, aku dan arun melanjutkan langkah kami menuju ruang kerjaku.
“kenapa gak makan dirumah aja? Malah repot-repot kesini bawa makanan” ucapku memulai obolan saat kami sudah berada di ruang kerjaku.
“aku udah biasa makan berang kamu terus tiba-tiba makan sendiri jadi terasa aneh aja” ucap arun sambil menarik kursi yang biasa di duduki pasien, menaruhnya lebih dekat dengan kursi yang ku duduki. sebenarnya aku masih agak sedikit canggung dengan kedekatan kami sekarang tapi mau bagaimanapun aku harus terbiasa dengan kedekatan ini.
Aku hanya menganguk mengarti sambil membuka makanan yang ada di plastik kemudian menaruhnya di depan arun. arun mulai menyuapkan suap demi suap makanan kedalam mulutnya. Aku hanya memparhatikannya yang makan dengan lahap. Entah kenapa aku senang sekali melihat arun yang malan dengan lahap semua gerakannya tak luput dari penglihatanku.
“tadi siang kenapa gak sempet makan?” tanyaku mengingat tadi dia bilang belum makan siang.
Arun meliriku sekilas“tadi sibuk banget ngurusin pekerjaan jadi lupa untuk makan siang” jawab arun setelah menelan makanan yang ada di mulutnya.
“lain kali jangan kaya gitu, mau sesibuk apapun harus tetap makan siang” ucapku mengingatkan.
“makanya kamu ingetin aku untuk makan siang biar aku gak lupa” arun tersenyum sambil mengedipkan matanya sebelah menggoda
Aku tersenyum miring “udah gede juga masa makan aja harus di ingetin”
“justru udah gede itu sering lupa makan karena banyak yang harus dipikirin apalagi aku yang sibuk kerja jadi sering lupa untuk makan.”
Aku hanya diam tak menjawab perkataan arun. Mungkin lain kali aku harus lebih memperhatikan pola makan arun walaupun aku sangat sibuk di rumah sakit.
Aku yang tak mau ketahuan oleh arun karena sedang memperhatikannya memilih manyibukan diriku dengan posel yang di beri arun tadi pagi.
“suka ponselnya?” tanya arun
“siapa si yang gak suka di kasih ipone keluaran terbaru” jawabku tanpa melirik pada arun
Arun terkekeh sambil megusap kepalaku.
...----------------...
jangan lupa like, komen, vote dan hadiahnya ya. kalau likenya bisa banyak dengan cepat aku bakal langsung uptade.