Apa?!! Menikahi Musuhku? Apa itu mungkin?... Namaku adalah Demian Wulfric, yaitu raja dari kerajaan Endom, kerajaan terkuat di belahan bumi Eropa. Aku disebut sebagai raja dari kayangan, karena parasku yang sangat rupawan dan sifatku yang sangat dingin.
Selama hidupku, aku menanggung amarah yang amat dalam kepada musuh yang telah membunuh orang tuaku dan memporak-porandakan rakyat serta kerajaanku.
Namun, takdir berkata lain, aku terpaksa harus menikahi putri dari musuhku, yaitu putri dari kerajaan Alamore yang bernama Putri Aurora Delacour. Ia adalah putri yang sangat cantik jelita yang memiliki 'Mutiara Abadi' di dalam tubuhnya. Mutiara yang membuatku sangat bergantung kepadanya dan aku harus menahan rasa cinta yang mendalam kepadanya, hanya karena masa lalu yang sangat menyakitkan di antara kami.
Bagaimana kisah perjalanan cinta kami selanjutnya? Jangan lewatkan kisah kami ya...
Jangan lupa like, komen & dukung cerita ini dengan 5 Vote yaah...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ekouchi Aya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merasa Bosan
Selamat membaca ya teman-teman semua ...., jangan lupa tinggalkan jejak dan berikan Rate 5 untuk cerita ini, supaya Authornya rajin Up...
Thank you semuanya ...
Kepulangan kami masih tertunda karena kondisi Aurora yang tak memungkinkan untuk pulang ke kerajaan. Dua hari setelah Aurora pingsan, aku terus menghabiskan waktuku di samping tempat tidurnya dan berharap Aurora segera siuman. Aku tak sadar apa yang telah aku lakukan, keinginanku untuk selalu bersamanya mengalir begitu saja.
Pagi hari yang cerah, yang mana hari ketiga kutidur di kursi yang menghadap tempat tidur Aurora.
Sinar matahari mulai memasuki ruangan kamar itu. Aurora pun mulai sadar dan membuka matanya. Ia mulai mencoba mengenali sekeliling ruangan yang membuat ia mulai sadar akan kondisinya. Saat itu, tak ada siapa pun di kamar Aurora kecuali aku yang sedang tidur di kursi tepat di hadapan Aurora.
"Yang Mulia, kenapa ada di sini?" ucap Aurora dengan sangat lirih.
"Aku sudah berapa hari tak sadarkan diri?" saut Aurora lagi.
Tak lama kemudian, Mia memasuki kamar Aurora. Ia sangat senang melihat tuan putrinya sadar kembali.
"Tuan Putri, Anda sudah sadar?" ujar Mia sangat gembira.
"Huusstt, Yang Mulia Raja masih tidur." Aurora memperingatkan Mia untuk tak membuat kebisingan.
"Maafkan saya, Tuan Putri." Mia duduk di samping Aurora.
"Berapa hari aku tak sadarkan diri Mia?" tanya Aurora.
"Mungkin hampir tiga hari, Tuan Putri." Jawab Mia dengan meletakkan makanan di pangkuan Aurora.
"Anda perlu tahu, Yang Mulia Demian tak sedikitpun meninggalkan Anda. Sudah tiga hari beliau tidur di kursi ini, Tuan Putri." Lapor Mia kepada Aurora.
"Tidur di kursi?" kata Aurora dengan suara sangat pelan karena terkejut atas ucapan Mia.
Seraya aku pun terbangun karena mendengar suara obrolan mereka berdua. Terasa jelas mataku memandang sosok Aurora yang tersadar duduk di hadapanku.
"Maafkan aku," kataku sambil mengusap-usap kedua mataku untuk memperjelas pandangan kala itu.
"Kapan kau bangun?" tanyaku pada Aurora.
"Beberapa saat lalu Yang Mulia," jawab Aurora yang terlihat masih pucat.
"Mia, bisakah kau beri waktu kami sebentar, aku ingin berbicara dengan Aurora," tuturku menginginkan Mia untuk keluar kamar.
"Baik, Yang Mulia." Mia pun meninggalkan kamar.
"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku sambil memajukan kursiku lebih mendekat ke arah tempat tidur Aurora.
"Baik, Yang Mulia," jawab Aurora.
"Lukamu?" tanyaku lagi.
"Sepertinya tenaga saya sudah kembali, jadi luka saya pasti sudah sembuh" terang Aurora yang sedikit mengintip lukanya.
"Baguslah, sebenarnya apa yang terjadi malam itu? kenapa kau tak langsung mengatakan padaku?" Pertanyaanku membuat Aurora sedikit merasa pusing dan mengerutkan dahinya.
"Aduh," keluh Aurora sambil memegang dahinya.
"Aurora, kenapa?, ada yang sakit?" sontak aku berdiri dan mendekat ke arah tubuhnya
"Saya hanya ingat bahwa, saya tertusuk pisau, ada seseorang yang sengaja menyerang saya malam itu," jelas Aurora sambil berusaha mengingatnya kembali.
"Kau ingat wajahnya?, atau pawakannya?" tanyaku lagi.
"Tidak, Yang Mulia." Aurora menggelengkan kepala.
Di tengah-tengah kami berbincang-bincang, datanglah bibi Luis, Kai, Ken dan Clara.
"Bibi," panggilku ketika melihat Bibi memasuki kamar.
"Bagaimana keadaanmu, Aurora?" tanya bibi Luis
"Baik, Nyonya." Aurora merasa canggung.
"Aku minta maaf, atas segala perkataanku kapan hari yang lalu, kuharap kau memakluminya," pinta bibi Luis pada Aurora.
"Tidak papa Nyonya, semua ini sudah sepantasnya saya terima," tutur Aurora sambil menunduk.
"Sepenuhnya ini bukan salahmu, maafkan kami yang telah terhanyut akan rasa sakit ini," kata bibi Luis lagi.
Saat itu Clara hanya terdiam melihat kondisi Aurora. Raut wajahnya terlihat tak senang dengan kondisi Aurora yang mulai membaik. Kai pun tak luput dari pemandangan itu. Kai selalu menaruh perasaan curiga kepada Clara. Kai memandang Clara dari setiap ekspresi wajahnya.
"Aku tak akan pernah memaafkan Aurora sesikit pun, lihat saja nanti." Terlintas di hati Clara sambil mengepalkan tangannya.
"Kita akan tinggal di sini beberapa hari lagi. Kalian berdua ..., kirimlah surat kepada Pamanku untuk melaksanakan tugas kerajaan sementara," perintahku kepada Kai dan Ken.
"Baik, Yang Mulia." Jawab mereka berdua.
* * *
Pagi itu, Aurora sangat ingin berjalan-jalan keluar kamarnya. Ia mulai merasa bosan karena beberapa hari hanya berbaring di tempat tidur saja.
"Mia aku ingin pergi ke pantai, aku rindu sekali suasana pantai," tutur Aurora yang berjalan-jalan di sekitar rumah bibi Luis.
"Tuan Putri, sepertinya di sini jauh sekali dengan pantai. Kita cari tempat lain saja, selain pantai," jelas Mia mencari solusi lain.
Aurora pun mulai menentukan tempat yang ia ingin kunjungi. Tiba-tiba ketika Aurora dan Mia hendak kembali ke panti asuhan, mereka melihat Clara sedang bermain asyik bersama seorang anak kecil laki-laki. Aurora melihat pemandangan yang sangat indah, seperti menyaksikan kasih sayang seorang ibu kepada anaknya.
"Kenapa wanita itu tidak bermain dengan anak-anak lain?" tanya Mia mulai memunculkan sifat ketusnya kepada Clara.
"Mia, jaga sikapmu," saut Aurora yang menghiraukan Clara saat itu.
* * *
Di ruang tamu, terdengar suara anak-anak panti asuhan yang sedang bermain di luar rumah. Kami semua berkumpul hanya ingin berbincang-bincang ringan seperti biasa.
"Kapan kalian semua akan kembali?" tanya bibi Luis kepada kami semua.
"Mungkin besok atau lusa, Bi." Aku menjawab sambil memandang wajah Aurora.
"Aurora, kau sudah baikan?" tanya bibi Luis kepada Aurora.
"Iya, Nyonya." Jawab Aurora.
Seakan pembicaraan kami terpotong ketika seorang anak yang sangat lucu berlari dan memeluk bibi Luis yang sedang duduk di atas kursi rodanya. Disusulah Clara yang sedang berjalan di belakang anak itu.
"Nenek ..." panggil anak lelaki itu kepada bibi Luis.
"Lucas, kapan kamu kemari? dan bersama siapa?" tanya bibi Luis.
"Tadi kujemput dan kuajak bermain sebentar, kemudian Lucas ingin bertemu denganmu Bi," jawab Clara yang terlihat sangat menyayangi Lucas.
"Lucas, berapa umurmu sekarang? kau sudah tumbuh besar rupanya?" saut Ken sambil mengelus rambut hitam pekat Lucas.
"Umurku lima tahun," jawab Lucas sangat lugu.
"Tuan Putri, anak itu ..., bukankah anak lelaki yang bermain dengan Clara tadi?" bisik Mia ke arah bahu Aurora.
"Hhmmm, " jawab Aurora singkat.
"Aku ingin pergi ke air terjun 'Shin', Kak Clara sudah berjanji padaku," tutur Lucas dengan lucunya.
"Lalu, tunggu apa lagi? pergilah!" ujar bibi Luis.
"Air terjun 'Shin'?" gumam Aurora yang sempat kudengar suaranya
"Kenapa, kau tak tahu?" tanyaku mengagetkan Aurora.
"Apa?!, aahh maaf. Iya aku belum pernah mendengarnya," timpal Aurora.
"Tuan Putri, Anda tadi bilang merasa sangat bosan dan ingin ke pantai, sayangnya tak ada pantai di kerajaan ini. Bagaimana sebagai gantinya kita ke air terjun Shin itu, gimana?" ucap Mia membuat Aurora tak enak hati kepada kami semua.
"Mia, apa yang kau katakan?" saut Aurora sangat malu.
"Anda bisa pergi ke sana, benarkan Yang Mulia?" kata Ken yang mencoba menawari Aurora.
"Tidak bisa, besok pagi kita semua harus kembali ke Endom, jadi hari ini waktu kita untuk istirahat dan bersiap-siap," kataku membuat raut wajah Aurora terlihat sangat kecewa.
seorang raja ko sifatnya seperti itu menyebalkan