NovelToon NovelToon
Warisan Sembilan Naga : Sang Penakluk

Warisan Sembilan Naga : Sang Penakluk

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Epik Petualangan / Perperangan
Popularitas:7.3k
Nilai: 5
Nama Author: Nugraha

**INI ADALAH BOOK KE 2 DARI SEMBILAN GULUNGAN NAGA LEGENDARIS.**

Ketika seluruh semesta terancam, satu pemuda harus memilih: menjadi monster yang menyelamatkan dunia, atau tetap manusia dan membiarkan semua musnah.

Lin Tian, kehilangan segalanya, karena invasi entitas misterius yang melahap dimensi. Kini, sebagai pewaris teknik "Orkestrasi Sembilan Naga," ia melintasi batas dimensi untuk berburu Master mereka: Pemangsa Dimensi yang mengancam 30 dimensi sekaligus.

Di Dimensi Asura, dimensi pejuang brutal, Lin Tian menemukan kekuatan... tapi hampir kehilangan kemanusiaannya. Antara latihan mematikan, pertarungan melawan entitas cerdas, dan persahabatan yang tak terduga, ia belajar kebenaran paling sulit: kekuatan tanpa hati adalah tirani, tapi hati tanpa kekuatan adalah kehancuran.

Bisa kah ia menyelamatkan alam semesta tanpa kehilangan jiwanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nugraha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6 : Kekalahan Brutal

Fajar merah kembali menyinari Dimensi Asura.

Namun kali ini suasana tempat pelatihan jauh lebih ramai dibanding kemarin.

Kabar tentang orang luar yang berhasil mengalahkan prajurit Lapisan Keempat telah menyebar ke seluruh arena. Ratusan Asura kini berkumpul untuk menyaksikan apakah keajaiban itu bisa terulang.

Lin Tian berjalan memasuki arena dengan langkah tenang.

Luka-lukanya hampir sepenuhnya sembuh berkat obat dan teknik penyembuhan Asura yang luar biasa efektif. Hanya sedikit rasa nyeri yang masih tersisa di tubuhnya.

Secara mental, ia juga jauh lebih fokus.

Kemenangan kemarin memang memberinya sedikit kepercayaan diri. Setidaknya sekarang ia tahu bahwa dirinya mampu beradaptasi dengan dunia ini.

Energi spiritualnya juga terasa lebih stabil dibanding sebelumnya. Tubuhnya perlahan mulai menyesuaikan diri dengan kepadatan energi Dimensi Asura.

Dan di dalam pikirannya, sebuah kemungkinan mulai muncul.

Jika kemarin ia bisa mengalahkan Lapisan Keempat…

Maka mungkin Lapisan Kelima juga masih bisa dihadapi.

Mungkin.

Tekanan besar tiba-tiba menyelimuti arena.

Kharos telah datang.

Suara gemuruh langsung memenuhi tempat itu saat sang Kepala Perang melangkah menuju tengah arena.

"Lin Tian!"

Tatapan emasnya menatap lurus ke arah pemuda itu.

"Pertarungan-mu kemarin sangat mengesankan."

"Lapisan Ketiga mengalahkan Lapisan Keempat bukan hal biasa."

Beberapa Asura mengangguk setuju.

"Kau menunjukkan bakat seorang jenius."

Namun nada suara Kharos segera berubah lebih berat.

"Tapi hari ini berbeda, Lawanmu adalah petarung di Ranah Transformasi Jiwa Lapisan Kelima. Tingkat kesulitannya mungkin meningkat dua kali lipat."

Aura perang perlahan memenuhi udara.

"Kemenanganmu tidak pasti, kekalahan sangat mungkin. Dan kematian… tetap menjadi kemungkinan."

Kharos menyeringai tipis.

"Tapi seorang pengecut tidak memiliki tempat di Dimensi Asura." Tatapannya langsung menyipit tajam.

"Jadi, apakah kau siap?"

Lin Tian mengangguk tanpa ragu.

"Aku siap, kapan pun."

Dari sisi arena, sebuah sosok besar perlahan melangkah maju.

Tubuhnya bahkan lebih besar dibanding Graz'tok.

Tingginya hampir tiga meter penuh dengan tubuh seperti benteng hidup. Otot-otot tebal menutupi seluruh tubuhnya, sementara aura berat menyebar dari setiap langkahnya.

Namanya Thal'rok. Julukannya: Gunung Besi, Ranah Transformasi Jiwa Lapisan Kelima puncak.

Spesialis pertahanan mutlak dan serangan balasan mematikan.

Di tangan kirinya terdapat perisai menara raksasa yang hampir menutupi seluruh tubuhnya. Sementara di tangan kanannya tergenggam palu perang besar yang terlihat mampu menghancurkan gunung.

Lebih dari dua ratus kemenangan. Tanpa satu pun kekalahan.

Namun berbeda dari Graz'tok, tatapan Thal'rok tidak dipenuhi ejekan.

Ia justru menatap Lin Tian dengan hormat.

Prajurit besar itu sedikit membungkukkan tubuhnya.

"Orang luar," katanya dengan suara dalam. "Aku menyaksikan pertarungan-mu kemarin. Kemampuan beradaptasi-mu sangat mengesankan."

Lin Tian sedikit terkejut. Rasa hormat seperti ini jarang ia dapatkan di Dimensi Asura. Namun ia tetap membalas dengan tenang.

"Terima kasih."

Thal'rok kemudian mengangkat perisainya. "Tapi hari ini aku tidak akan menahan diri, Kau akan menghadapi Lapisan Kelima. Dan semuanya akan kulakukan dengan kekuatan penuh."

Tatapannya berubah menjadi serius.

"Kekalahan-mu kemungkinan besar sudah pasti. Tetapi jika kau bertarung dengan terhormat, maka kematianmu juga akan menjadi kematian seorang prajurit."

Lin Tian menatap langsung ke matanya.

"Aku mengerti."

Ia lalu sedikit membungkukkan tubuh sebagai balasan hormat.

"Pertarungan ini akan kujalani dengan kekuatan penuh."

Untuk pertama kalinya, Lin Tian mulai memahami sesuatu tentang para Asura.

Mereka memang brutal, Namun mereka juga memiliki kode kehormatan sendiri.

Pertarungan pun akhirnya dimulai.

Namun, Thal'rok tidak langsung menyerang. Ia berdiri diam dengan perisai raksasa terangkat di depannya.

Posisi bertahannya benar-benar sempurna.

"Serangan pertama milikmu," katanya tenang. "Anggap ini bentuk penghormatan."

Lin Tian mempersempit matanya, Lawan seperti ini jauh lebih berbahaya.

Ia tidak gegabah seperti Graz'tok. Ia sabar dan sangat berpengalaman.

Namun Lin Tian tetap harus menguji kekuatannya.

Energi spiritual langsung mengalir deras ke seluruh tubuhnya.

"Serangan Fusi Jiwa!"

Tubuh Lin Tian melesat maju dengan kecepatan penuh. Teknik Orkestrasi Jiwa yang telah ia sesuaikan dengan energi Dimensi Asura langsung meledak dengan kekuatan maksimal.

DUAAAR!

Serangannya menghantam perisai Thal'rok secara langsung.

Lalu... Tidak terjadi apa-apa.

Perisai raksasa itu bahkan tidak berguncang sedikit pun. Mata Lin Tian langsung membesar.

Di balik perisainya, suara tenang Thal'rok terdengar jelas.

"Serangan mu diterima, tetapi kekuatannya tidak cukup."

"Pertahananku terlalu mutlak."

Dan detik berikutnya... Palu perang raksasa itu bergerak.

Cepat. Terlalu cepat untuk ukuran tubuh sebesar itu.

Lin Tian nyaris berhasil menghindar.

BOOOOM!

Palu itu menghantam tanah dan menciptakan kawah besar di arena.

Gelombang kejut yang dihasilkan langsung menghantam tubuh Lin Tian meski ia tidak terkena serangan secara langsung.

Tubuhnya terpental lebih dari seratus meter sebelum menghantam dinding arena dengan keras.

Darah langsung keluar dari mulutnya. Seluruh arena menjadi sunyi beberapa detik.

Lin Tian mencoba berdiri dengan susah payah. Rasa sakit luar biasa menyebar dari dadanya.

Beberapa tulang rusuknya retak dan itu hanya akibat gelombang kejut.

Jika serangan tadi mengenainya secara langsung, ia pasti sudah mati.

Tatapan Lin Tian berubah menjadi berat. Perbedaannya terlalu besar.

Lapisan Kelima benar-benar berada di tingkat yang sama sekali berbeda dibanding Lapisan Keempat.

Ini bukan peningkatan biasa. Kekuatan mereka meningkat secara mengerikan

Dan untuk pertama kalinya sejak tiba di Dimensi Asura… Lin Tian benar-benar merasakan keputusasaan.

Thal'rok berjalan mendekat dengan langkah berat namun tenang.

Tidak ada kesombongan di wajahnya. Hanya ketenangan seorang prajurit yang memahami perbedaan kekuatan di antara mereka.

"Orang luar," katanya sambil menatap Lin Tian yang masih berusaha berdiri. "Kau cukup mengesankan karena masih hidup setelah terkena gelombang kejut-ku."

Tatapan tajamnya mengarah pada tubuh Lin Tian yang penuh luka.

"Kebanyakan orang sudah mati sejak serangan pertama." Ia mengangkat palu perangnya perlahan. "Tapi perbedaan antara Lapisan Ketiga dan Lapisan Kelima terlalu jauh."

Suara Thal'rok tetap tenang, seolah ia hanya menyampaikan fakta sederhana.

"Menyerah masih menjadi pilihan, dan Kehormatanmu tetap terjaga."

"Kau akan hidup, Tapi jika terus bertarung… kematianmu hampir pasti."

Pilihan itu kini berada di tangan Lin Tian.

Lin Tian meludahkan darah ke tanah.

Tubuhnya terasa hancur, napasnya terasa berat. Namun meski begitu, ia tetap memaksa dirinya berdiri tegak.

Menyerah memang pilihan paling masuk akal. Bertahan hidup adalah keputusan cerdas.

Tetapi…

Jika ia mundur sekarang, maka semua yang telah ia lakukan sejauh ini tidak akan berarti.

Misinya adalah melindungi alam semesta. Dan untuk melakukannya, ia membutuhkan kekuatan.

Jika terus menghindari pertarungan mustahil, maka dirinya tidak akan pernah berkembang.

Lalu sebuah ingatan muncul di benaknya. Suara Lin Feng kembali terdengar pelan.

"Tian… kalah itu tidak masalah. Tapi menyerah adalah hal yang tidak boleh kau lakukan. Terus mencoba meskipun terlihat mustahil… itulah keberanian yang sebenarnya."

Tatapan Lin Tian kembali tajam.

"Aku tidak akan menyerah," katanya sambil menahan rasa sakit. "Aku akan terus bertarung. Sekalipun kalah… aku tetap bisa belajar."

Untuk pertama kalinya, mata Thal'rok menunjukkan rasa hormat yang jauh lebih dalam.

"Keberanianmu luar biasa." Ia mengangguk pelan. "Bodoh… tapi mengagumkan."

Palu perang di tangannya kembali terangkat.

"Kalau begitu kita lanjutkan. Aku tidak akan menunjukkan belas kasihan, karena itu adalah bentuk penghormatan tertinggi bagi seorang prajurit."

Aura berat langsung memenuhi arena.

"Bersiaplah."

Lima menit berikutnya berubah menjadi mimpi buruk sepihak.

Lin Tian menyerang tanpa henti, menggunakan semua teknik yang ia miliki.

"Harmoni Sembilan Naga!" Serangannya diblokir sepenuhnya.

"Perobekan Jiwa!" Tidak memberi efek berarti.

"Kilatan Kekosongan!" Masih terlalu lambat.

"Ledakan Fusi Jiwa!" Tetap tidak cukup.

Setiap teknik yang selama ini menjadi andalannya terasa tidak berguna di depan pertahanan Thal'rok.

Dan setiap serangan balasan yang diterimanya terasa seperti dihantam gunung.

Serangan pertama mematahkan beberapa tulang rusuknya lagi. Serangan kedua membuat lengan kirinya retak. Serangan ketiga menghancurkan keseimbangan kakinya. Serangan keempat memecahkan hidungnya hingga darah mengalir deras.

Dan serangan kelima mengguncang organ dalamnya sampai ia terus memuntahkan darah.

Namun Lin Tian tetap bangkit setiap kali terjatuh.

Arena perlahan menjadi sunyi.

Tidak ada lagi ejekan. Tidak ada lagi tawa.

Para Asura hanya menatap diam pada orang luar yang terus berdiri meski tubuhnya hampir hancur total.

Di atas arena, Kharos mengawasi tanpa berkata apa-apa. Namun di balik tatapan tajamnya, ada persetujuan samar. Karena inilah cara Dimensi Asura berkembang.

Belajar melalui penderitaan dan menjadi kuat melalui kekalahan.

Menit kelima tubuh Lin Tian akhirnya hampir mencapai batasnya.

Ia nyaris tidak mampu berdiri.

Beberapa tulangnya patah. Organ dalamnya terluka parah dan energi spiritualnya hampir habis sepenuhnya.

Bahkan kesadarannya mulai kabur.

Dan yang paling jelas... Kemenangan sudah mustahil.

Thal'rok berjalan perlahan mendekatinya sambil mengangkat palu perang raksasanya.

Tatapannya tetap penuh hormat.

"Lin Tian, Keberanianmu layak dihormati. Kau telah mendapatkan rasa hormatku sebagai prajurit."

Namun suaranya berubah berat.

"Tapi pertarungan ini harus diakhiri." Ia mengangkat palunya lebih tinggi. "Kematianmu akan menjadi kematian terhormat dan kau harus bangga."

Palu perang itu mulai turun, dan di mata Lin Tian, semuanya perlahan menjadi gelap.

Jadi ini akhirnya? Mati di ujian kedua? Misinya gagal… Karena Ia terlalu lemah.

Bayangan Yeye muncul samar di pikirannya.

Maaf… Aku masih belum cukup kuat…

Namun tepat sebelum palu itu menghantam... Sebuah suara menggelegar mengguncang seluruh arena.

"BERHENTI!"

Palu perang Thal'rok hampir menghantam kepala Lin Tian.

Namun sebelum serangan itu turun sepenuhnya, sebuah bayangan besar muncul di tengah arena.

Terlalu cepat.

Tidak ada seorang pun yang bisa melihat pergerakannya dengan jelas.

Kharos sudah berdiri di antara mereka.

Dengan satu tangan, ia menangkap palu raksasa Thal'rok seolah benda itu tidak memiliki berat sama sekali.

Seluruh arena langsung terdiam.

"Thal'rok." Suara Kharos bergema dengan berat. "Hentikan."

Thal'rok langsung menundukkan kepala tanpa protes sedikit pun.

"Orang luar ini sudah membuktikan keberaniannya."

Tatapan emas Kharos beralih pada Lin Tian yang nyaris tidak sadarkan diri.

"Kematian sekarang tidak diperlukan."

"Dia kalah, Tapi dia telah belajar."

Aura besar memenuhi arena saat Kharos melanjutkan, "Dan itu memiliki nilai."

Ia melepaskan palu Thal'rok dengan santai.

"Pelatihannya akan dilanjutkan tapi metodenya berubah." Tatapan tajamnya menyipit. "Aku akan melatihnya secara pribadi."

Keributan kecil langsung terdengar dari para Asura di arena.

Pelatihan pribadi dari Kharos bukan sesuatu yang diberikan sembarangan.

Thal'rok kembali membungkuk hormat. "Dimengerti, Kepala Perang."

Tatapan Thal'rok beralih pada Lin Tian.

"Orang luar itu memang berani dan dia pantas hidup."

Setelah mengatakan itu, Thal'rok mundur dan meninggalkan arena.

1
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Mat
seru, semangat thor💪
Rinaldi Sigar
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!