NovelToon NovelToon
Cinta Dalam Dilema

Cinta Dalam Dilema

Status: sedang berlangsung
Genre:Percintaan Konglomerat / Beda Usia / Romantis
Popularitas:24.6k
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Rangga melamarnya setelah suaminya meninggal. Mirisnya, Suaminya meninggal karena Rangga. Apakah Arumi dapat bertahan dalam takdir yang seakan sedang berkelakar ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Keputusan Gila

Hening seketika. Arumi merasa seolah oksigen di ruangan itu baru saja disedot habis. Ia nyaris tertawa jika saja wajah Rangga tidak terlihat seserius itu.

"Kamu sudah gila?" suara Arumi meninggi. "Kamu menabrak suami saya sampai meninggal, dan sekarang kamu mau meniduri saya?"

"Bukan begitu!" Rangga menyergap cepat, wajahnya memerah. "Ini pernikahan legal. Bukan kawin kontrak. Yang mengikat janji dengan Mas Ary adalah saya. Saya anggap itu sama halnya dengan akad saat wali menyerahkan perwaliannya ke suami. Saya tidak ingin mengambil risiko Mbak Arumi dijaga orang lain selain saya.”

“Saya tidak tahu apa saja yang sudah ada di atas kepala mesum kamu itu ya! Tapi usul kamu ini tidak dapat saya terima. Saya tidak dengar janji antara kamu dan Mas Ary, bisa saja kamu mengada-“

“Ada bukti rekaman dari masyarakat di sekitar lokasi.” Denny memotong dengan wajah tanpa ekspresi sambil menunjukkan ponselnya. “...Ini bukan bikinan AI, sudah di uji keaslian videonya. Dan mereka bergenggaman tangan. Seakan sedang ijab kabul.” Tapi Denny mengatakan hal ini dengan nada sinis.

Kenapa sinis? Karena reaksinya juga sama dengan Arumi saat tadi malam Rangga mengutarakan ide gilanya.

Tapi bagaimana pun, Rangga adalah kliennya. Masa ia tidak dukung? Walau pun baginya semua ini konyol.

Kalau Arumi tidak secantik ini, apakah Rangga akan mau menikahinya? Denny pikir jalan terbaik memang menjadikan Arumi karyawan saja di salah satu kantor Rangga. Risiko Arumi direndahkan di kantor, menurut Denny hal itu adalah risiko sebagaimana wajarnya karyawan. Memangnya ada yang ‘benar-benar teman’ di kantor? Rangga tidak memiliki kewajiban apa pun untuk menjaga Arumi segitunya, toh mereka sama-sama dewasa dan punya kehidupan sendiri-sendiri juga. Kecelakaan itu bisa menimpa siapa saja.

“Kamu, Denny...” Arumi mencebik sinis, “Sebagai pengacara kamu pasti tahu kalau pemaksaan seperti ini melanggar hukum kan?”

Di hadapan Arumi yang sedang menatapnya dengan kilat permusuhan dan penuh penekanan, Denny hanya bisa tersenyum tipis. Anak kucing di depannya sedang mendesis mencoba mengancam Herder sepertinya.

"Bu Arumi, sebagai praktisi hukum, saya sangat paham batasan antara pemaksaan pidana dan negosiasi perdata," Denny memulai, suaranya terdengar datar namun sarat akan penekanan yang tak bisa didebat. "Secara hukum, tidak ada satu pun pasal yang sedang kami langgar hari ini. Tidak ada unsur pemaksaan fisik, ancaman senjata, ataupun penyekapan. Klien saya, Pak Rangga, datang ke sini bukan untuk memaksa Ibu menandatangani buku nikah di bawah todongan senjata. Beliau datang membawa sebuah proposal penawaran. Hak mutlak untuk menolak atau menerima, sepenuhnya ada di tangan Bu Arumi."

Denny menjeda kalimatnya, sengaja mengetukkan jemarinya di atas map tebal berisi draf perjanjian pranikah yang sudah ia siapkan.

"Jika kita berbicara murni dari sudut pandang hukum hitam di atas putih... jangankan menikah, Pak Rangga bahkan sebenarnya tidak memiliki kewajiban hukum untuk membiayai sekolah anak-anak Almarhum Ary sampai kuliah, atau membayar seluruh tagihan rumah tangga, Karena kata-katanya hanya menunjuk Bu Arumi seorang. Bukan ‘jaga Arumi dan- anak-anak’." lanjut Denny dengan kelugasan yang kejam. "Sanksi pidana untuk kasus kelalaian lalu lintas itu memiliki batas, Bu. Jika kasus ini naik ke meja hijau dan hakim menjatuhkan vonis, hukumannya adalah kurungan penjara atau denda kompensasi yang nilainya diatur oleh undang-undang—dan percaya pada saya, nominal denda tidak akan sebanding dengan nyawa yang hilang, belum lagi biaya hidup bulanan dua anak remaja untuk sepuluh tahun ke depan."

Arumi mengepalkan tangannya di bawah meja, giginya gemeretak menahan amarah yang mendesak di dada. Logika ekonomi yang diucapkan Denny secara tidak langsung memojokkan posisinya yang sedang tidak memiliki daya tawar finansial.

"Tapi, kalau dipertimbangkan secara legalitas formal," Denny mencondongkan tubuhnya ke arah Arumi, menatap langsung ke dalam manik mata wanita yang sedang mencoba untuk bangkit kembali. "Pernikahan ini adalah salah satu instrumen hukum terbaik yang sah yang bisa kami tawarkan dan paling aman. Karena begini Bu,"

Denny memicingkan mata berusaha untuk menjelaskan dengan bahasa orang awam. "...semua uang yang dimiliki Pak Rangga diamati oleh pemerintah, terutama otoritas pajak. Uang keluar dan masuk. Belum pihak lain, seperti Para pemegang saham, manajemen, masyarakat dan keluarga besar. Tanpa status hukum yang sah, seperti 'suami-istri', perpindahan dana akan dianggap celah untuk dituntut. Dan bisa kapan saja digugat oleh pihak luar. Contoh yang paling mudah adalah... Istri sah Pak Rangga, seandainya nanti dia punya."

Denny menyandarkan kembali punggungnya ke kursi kayu kafe. "Klien saya sedang menawarkan seluruh proteksi hukum terbaiknya. Beliau rela mengikatkan diri dalam hukum perkawinan demi menjamin masa depan kalian. Jadi, keputusan ada di tangan Mbak Arumi: mau terus bertaruh di luar sana melawan kejamnya syarat batasan usia pencari kerja, atau hidup tenang dengan anak-anak melalui cara yang paling sah di mata hukum negara?"

Arumi menarik nafas panjang dan memejamkan matanya. sia-sia ia meminta pendapat Denny. Yah pasti pria itu akan membela Rangga mati-matian. "Bagaimana kalau saya menolak tawaran kamu? Menikah dengan orang yang saya tidak cintai dan saya anggap musuh, bisa menghancurkan mental saya. Saya anggap kalau pilihan yang kalian tawarkan antara saya menikah dengan kamu, atau saya miskin, itu sudah saya anggap kategori pengingkaran janji."

“Saya tidak akan inggar janji, Mbak. Kita bertemu karena sedang berdiskusi mengenai jalan terbaik yang bisa bertahan selama mungkin.” Desis Rangga. “Bukannya saya ingin mengambil kesempatan di atas kesempitan.”

Denny terkekeh pelan, karena ia tahu kalau Rangga memang sepertinya ingin mengambil kesempatan di saat orang sedang bersedih. Dan Denny tidak suka hal ini. Ini sudah melanggar batas profesionalitasnya. Jadi, ia memutuskan untuk ‘mengerjai Rangga’ sedikit.

“Bu Arumi tidak salah, sih, hehe," potong Denny secara mengejutkan, membuat Tony mendongak kaget.

Rangga hanya bisa tarik nafas. Kalau Denny sudah mulai melawannya, pasti ada hal yang menyentil jiwa profesional-nya.

Denny menatap Rangga dengan pandangan menghakimi. "Dari sudut pandang psikologi hukum, memeras korban secara finansial agar mau masuk ke dalam lembaga pernikahan itu bisa dikategorikan sebagai pemaksaan kehendak. Mental Mbak Arumi taruhannya. Kalau dia depresi dan gugat Pak Rangga atas tuduhan kekerasan psikis dalam rumah tangga di kemudian hari, draf pernikahan yang saya sudah buat ini malah jadi senjata makan tuan untuk Pak Rangga."

Arumi hanya terbelalak melihat perubahan sikap Denny. Pria itu tersenyum ke arah Arumi dengan pandangan seorang yang salut. Suaranya kini melunak namun tetap realistis. "Saya setuju dengan Anda, Bu Arumi. Ini pilihan yang tidak adil. Tapi... ini pilihan terbaik yang ada di atas meja sekarang."

“Kamu tahu pasti pilihannya bukan hanya dua ini.” Sahut Arumi.

“Kami-“

Rangga mengangkat tangannya menghentikan Denny bicara melalui segi hukum.

Karena manusia mana pun yang sedang terdesak seperti Arumi, pasti akan semakin emosi kalau dihadapkan dengan hukum yang kaku, mengikat dan manipulatif.

“Mbak, masih ada pilihan lain. Seperti Mbak bekerja di kantor saya, atau Rian akan saya persiapkan menjadi karyawan. Resikonya, mbak tahu sendiri, sudah saya peringatkan di awal. Saya anggap Mbaknya sudah siap. Tapi saya anggap hal itu tidak efektif. Saya tidak tega Mbak, terus terang saja. Mas Ary memperlakukan Mbak Arumi seperti Ratu. Saya juga akan begitu. Mas Ary tidak membiarkan mbak bekerja keras sampai berkeringat, saya juga akan begitu.” Kata Rangga.

Arumi menarik nafas lagi, “Kamu dan Mas Ary tidak sama.”

“Ada benang merah yang terjalin sampai saya ada di posisi ini. Dan kita berdua percaya dengan takdir dan ketentuan Tuhan, Mbak. Saya akan berterus terang, saya tidak suka wanita.”

“Kamu... kaum itu?!” Arumi memandang Rangga dengan jijik.

“Bukan, saya bukan penyuka sesama jenis. Mereka berdua bukan pacar saya.”  Rangga menunjuk Denny dan Tony dengan ibu jarinya. Tony menunduk, dan Denny langsung mendengus. “Ibu kandung saya adalah istri kedua. Bedanya dengan Mbak Arumi, ia menjegal Istri sah dengan cara yang salah. Sampai pada akhirnya kebiasaannya berselingkuh tidak dapat dihentikan. Sementara istri pertama ayah saya tidak memiliki keturunan.  Sepeninggal ayah saya, hanya saya satu-satunya keturunan ayah yang bisa melanjutkan perusahaan. Pun saya dicap anak haram, tapi saya tetap menghormati istri pertama ayah saya dibanding ibu kandung saya sendiri.”

“Maksudnya, ibu kandung kamu ani-ani? Pelakor? Dinikahi secara siri?” Arumi berkata gamblang.

“Dinikahi secara sah. Sisanya benar. Tapi karena ibu saya berselingkuh dengan banyak laki-laki lain juga, tetap saja setelah saya lahir dia diceraikan ayah saya. Sekarang dia entah ada di mana.”

“Kamu mengalami trauma itu, kenapa sekarang kamu mau menikahi saya.”

“Kita anggap saja ini bisnis, boleh? Saya butuh seorang istri. Dan saya ingin menafkahi Mbak Arumi. Kalau saya menikah dengan wanita lain, seandainya istri saya tidak meridhoi saya untuk menafkahi Mbak Arumi, saya tidak akan bisa berbuat banyak. Pun kalau Mbak Arumi tidak menikahi saya dan suatu saat dinikahi laki-laki lain, belum tentu orang itu sebaik Mas Ary. Walau pun saya juga tidak bisa mengategorikan saya sebaik Mas Ary, setidaknya uang saya lebih banyak. Blak-blakan saja mbak, suka nggak suka.” Kata Rangga lugas.

Terdengar kekehan Denny, entah apa maksudnya. Dan Arumi yang hanya bisa melongo mendengar penjelasan Rangga.

Sementara Tony hanya bisa meneguk teh manisnya untuk meredakan ketegangannya.

**

1
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
aku jadi Arumi mending cuma tau duit nya ajalah🤣🤣🤣
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
kok bisa ya bintang kayak gitu, trauma apa yg membentuk dia seperti itu
ㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤㅤ
bintang gak selamanya jadi bintang kan..
Lempongsari Samsung
makasih upnya maddam❤❤❤❤❤❤
HilVi Tanurahardja💋
tonyyyy, no no no no ya☝🏻
HilVi Tanurahardja💋
😆😆😆😆
HilVi Tanurahardja💋
betul, guru jg begitu
HilVi Tanurahardja💋
semoga GK ketemu 2 lagi ya rum, ngeri banget ih
mamaqe
mamaq mumet tau duit ajalah😅🤣🤣
Atala Putri
hadir madam💪 tak tunggu up mu
Naftali Hanania
26thn dah melesat kayak komet 😍👍
Hai Madam....Alhamdulillah nongol lg....hbs liburan ya Madam 💖
Miss F
Rangga pelukable loh rum,,MW rasain g??🤣🤣
Leni Pur indah sari
sudah tergoda belum mba arumi??🤭🤭
𝕭𝖚𝖊 𝕭𝖎𝖒𝖆 💱
weew ... selalu emejing tulisan madam 🤩🤩🤩🤩
Reni
Gimana Rum, Rangga emang se mempesona itu, gk heran banyak demit ganjen berkeliaran di kantor kan? tuh, biang demitnya si Bintang baru aja di amankan🤭
Siti Rohmah
mantap
Eni Istiarsi
kalo mau cari bacaan yang all in ya disini. ini udah kayak ruang publik yang one stop service.dapet hiburan, dapet ilmu, dapet realita hidup
Eni Istiarsi
mulai bergeser penilaian Arumi ke Rangga🤭
Dede Maesaroh
lanjut madam😍
virdarizki / ig vindy yuliana1
recomend banget semua novel kamu ka beda dari yg lain, ga bosen² baca nya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!