Pernikahan yang tak dilandasi oleh cinta. Dan rasa ingin mempertahankan sebuah pernikahan membuat Zahra harus berusaha sangat keras untuk meluluhkan hati suaminya. Meski ribuan luka yang menusuk hati, Zahra tetap harus mempertahankannya karna dia adalah imam baginya.
SELALU AKU YANG TERSAKITI
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon olifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 32
Jarum jam terus berputar dan waktu pun mulai berlalu. Hingga malam mulai datang, Azka tak kunjung sadar. Zahra masih disampingnya untuk terus menjaga dan merawatnya. Tanpa lelah Zahra selalu mengganti kompresnya, berharap demamnya dapat turun dan kembali normal. Namun Zahra juga merasakan rasa kantuk yang luar biasa, matanya mulai berat dan mencoba menyandarkan kepalanya ditepi ranjang didekat Azka. Perlahan-lahan matanya mulai terpejam, kesadarananya pun iku meghilang.
Beberapa jam kemudian Azka terbangun, dan mendapati Zahra yang sudah berada disampingnya.
Dengan perlahan-lahan dia bangkit dari ranjang, berusaha untuk tidak membangunkan Zahra yang sedang tertidur. Dia memindahkan Zahra ke atas ranjang, kemudian berlalu pergi ke kamar mandi. Azka menenggelamkan tubuhnya kedalam bathup, mencoba melupakan kejadian dimasa lalunya yang kembali datang. Sudah lama sekali mimpi buruk itu tak singgah menghampiri Azka, namun kenapa akhir-akhir ini mimpi itu datang kembali. Mimpi itu adalah bagian dari masa lalu Azka yang sangat ingin dia lupakan. Dimana Azka terjebak disebuah situasi yang sangat membuatnya ketakutan. Dan itu masih sangat membekas padanya. Di saat Azka msaih remaja, yang duduk di bangku kelas 3 SMP, dia pernah mengalami sebuah kecelakaan. Dimana kecelakan itu telah merenggut nyawa teman sekelasnya. Azka melihat dengan jelas detik-detik kematian temannya tersebut. Temanya tergletak tak berdaya ditengah jalan dengan tubuh berlumuran darah. Semua itu terjadi hanya karena sebuah taruhan yang konyol, mereka berdua melakukan balapan motor, dengan taruhan siapa yang kalah dia akan berhenti untuk mendekati ketua kelas atau bisa dikatakan wanita yang sama-sama mereka berdua sukai. Mereka balapan secara diam-diam tanpa diketahui oleh siapa pun. Tepat pada malam hari balapan itu pun dimulai. Awalnya semua berjalan dengan baik-baik saja, sampai di sebuah tikungan, tiba-tiba saja motor temannya menghantam motor milik Azka. Dan terjadilah kecelakaan tersebut. Azka terpental sampai ke sisi jalan, sedangkan temannya terkapar ditengah jalan dengan motor yang menimpa tubuhnya. Darah segar mulai keluar dari tubuhnya. Azka yang masih sedikit sadar tanpa bisa bergerak, melihat keadaan temannya yang sangat tragis. Dia ingin sekali menolong temanya itu, tapi apa daya tubuhnya tidak bisa diajak kerja sama. Sesaat setelahnya Azka pun pingsan. Dan disaat dia tersadar, Azka sudah berada di rumah sakit. Mulai sejak saat itu, Azka mulai bermimpi buruk hingga hampir membuatnya depresi. Namun selama berjalannya waktu, mimpi itu pun menghilang dan Azka kembali ke kehidupannya yang normal.
Azka keluar dari dalam bathup dan mengenakan handuk yang melingkar kuat dipinggangnya, dan melangkah keluar kamar mandi. Dia melemparkan pandangan kesisi ranjang, dilihanya Zahra yang masih tertidur. Langakahnya pun menghampiri tempat dimana Zahra tertidur. Dia menatap lekat-lekat wajah wanita yang berada didepanya saat ini. Dibelainya secara lembut dan perlahan kepalanya, lalu mendaratkan sebuah ciuman tepat dikening Zahra. Disaat bersamaan Zahra membuka matanya, dan secara reflek dia bangkit hingga membuat kepalanya berbenturan dengan kepala Azka.
"Aaauu" Erang Zahra.
"Kenapa tiba-tiba kamu bangun?" Tanya Azka dengan mengelus kepalanya yang terbentur.
"Mas Azka sendiri, kenapa juga ada didepan saya." Ikut mengelus kepalanya yang juga terbentur.
"Aaa..ku.... Nya..muk, iya nyamuk, tadi ada nyamuk diwajahmu." Ucap Azka yang terbata-bata.
"Dan kenapa Mas Azka seperti ini?" Menatap Azka dari atas kepala sampai kaki, yang hanya mengenakan handuk dipinggangnya.
"Seperti ini..." Azka melihat ke arah dirinya sendiri. Dia pun mulai menyadarinya.
"Tentu saja aku baru selesai mandi, kenapa harus kamu menanyakannya." Balas Azka yang kembali menatap Zahra.
"Mas Azka barusan demam tinggi, seharusnya Mas Azka tidak mandi saat ini. Nanti kalau sakitnya Mas tambah parah gimana?" Ujar Zahra yang merasa khawatir.
"Tubuhku terasa lengket sekali, jadi mana bisa kalau aku gak mandi. Udah deh.., aku udah gak apa-apa sekarang, kamu gak perlu cemas. Sebaiknya kamu kembali tidur." Balas Azka.
"Saya akan buatkan bubur untuk Mas. Sudah sejak kita pulang tadi, Mas Azka belum makan sama sekali." Terang Zahra.
"Tidak perlu, kamu kembali tidur saja, pasti kamu sudah lelah karena merawatku dari tadi." Balas Azka.
"Saya akan kembali tidur setelah membuatkan bubur untuk Mas. Kalau begitu Mas tunggu sebentar disini." Zahra berlalu pergi.
Azka tidak bisa berbuat apa-apa lagi, bila itu sudah menjadi kemauan Zahra. Dia pun mengambil setelan baju, lalu memakainya.
***
Setelah cukup waktu, akhirnya bubur pun sudah jadi. Zahra segera membawakannya kekamar Azka. Sampai dikamar, Azka tengah duduk disisi ranjang, dengan setelan baju tidur berwarna biru matang.
"Mas makan dulu." Ucap Zahra yang berjalan menghampiri Azka dengan membawa nampan yang berisi semangkuk bubur.
"Dari bau sepertinya enak. Apakah kamu tadi sudah makan?" Tanya Azka.
"Saya tadi sudah makan Mas." Balas Zahra.
"Benarkah...?" Kembali bertanya.
"Iya Mas, benar saya sudah makan tadi." Selesai bicara tiba-tiba saja perut Zahra mengeluarkan bunyi, yang tak terhindari.
"Kruu..k... Kruk.." Suara perut Zahra.
"Nampaknya kamu memang tidak pandai untuk berbohong. Kemarilah!" Titah Azka sambil menunjuk tempat disisinya.
Zahra pun mengambil duduk didekat Azka.
"Buka mulutmu!" Titah Azka kembali.
"Tapi Mas, bubur ini saya buatkan untuk Mas Azka." Protes Zahra.
"Buka saja, gak perlu banyak protes." Ucap Azka yang memegang sendok yang sudah terisi bubur.
Zahra pun menyerah dan membuka mulutnya lebar-lebar. Dan semangkuk bubur itu pun, mereka nikmati berdua secara bersama-sama.