NovelToon NovelToon
The Red Dragon'S Whisper

The Red Dragon'S Whisper

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Istana/Kuno / Romansa Fantasi
Popularitas:720
Nilai: 5
Nama Author: Sarifah31

Di tengah pusaran takdir yang gelap, Kai terjebak di antara kutukan membara dan bisikan mistis Sang Naga Merah. Namun, bahaya terbesar justru datang dari keanggunan empat wanita penuh misteri di sekelilingnya:

Yuki, dengan topeng kitsune penutup niat aslinya.

Rei, si rambut perak penyimpan rahasia terdalam.

Hana, yang menyimpan kelembutan sedingin es.

Mai, dengan tatapan penjerat jiwa yang mematikan.

Ketika cinta, darah, dan ambisi berjalin menjadi satu, setiap senyuman manis bisa menjadi jebakan yang mematikan. Siapakah di antara mereka yang akan menjadi penyelamat Kai, dan siapa yang justru menjadi duri yang menghancurkannya?

"Satu bisikan naga, satu pemuda, dan empat takdir wanita. Siapa yang akan bertahan saat rahasia terungkap?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarifah31, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Benih yang Tertanam di Puing Sunyi

Gerbang belakang benteng timur menyambut kedatangan Kai dan Hana dengan keheningan yang muram. Obor-obor minyak yang terpasang di dinding batu terluar berkedip-kedip lemah, berjuang melawan embusan angin malam perbatasan yang membawa hawa dingin menusuk. Langkah kaki mereka yang bergesekan dengan kerikil halaman terdengar teratur, menjadi satu-satunya suara yang memecah kesunyian malam itu.

Beberapa pengawal yang berjaga di pos dalam segera menegakkan tubuh mereka begitu melihat bayangan Tuan Muda mereka berjalan mendekat. Mereka membungkuk hormat, menatap Kai dengan pandangan yang sarat akan rasa takut sekaligus kelegaan, takut akan sisa-sisa amukan api tiga malam lalu, namun lega karena pemimpin mereka kembali dengan selamat. Mereka sama sekali tidak menyadari bahwa di balik jubah hitam Kai yang tampak berwibawa itu, ada tubuh yang sedang menahan rasa lelah yang teramat sangat.

Kai hanya mengangguk pelan kepada para penjaga, terus melangkah menembus koridor dalam menuju kediaman pribadinya yang letaknya bersebelahan dengan taman dalam. Hana berjalan setia di sisinya, dengan jemari yang masih bertautan erat, seolah menjadi penopang tak kasat mata bagi kekuatan Kai yang perlahan mulai terkuras.

Begitu pintu kayu tebal kamar utama ditutup rapat, Kai mengembuskan napas panjang. Ia menyandarkan punggungnya pada pintu, membiarkan tubuhnya merosot sedikit sebelum Hana dengan cekatan menahan lengannya dan menuntunnya untuk duduk di tepi ranjang rendah berkelambu sutra.

"Kau harus beristirahat, Kai. Jangan memikirkan apa pun dulu untuk malam ini," ucap Hana lirih, matanya menatap cemas pada gurat kelelahan yang tercetak jelas di wajah pemuda itu. Ia berlutut di depan Kai, perlahan membuka ikatan jubah luar Kai yang berdebu untuk mempermudah napasnya.

Kai meraih tangan Hana yang sedang membuka simpul kain jubahnya, menghentikan gerakan jemari gadis itu. "Bagaimana dengan luka di tanganmu? Sejak di hutan bambu tadi, kau hanya memikirkan keadaanku, Hana."

Hana tersenyum tipis, seulas lengkungan bibir yang selalu berhasil menenangkan badai di dalam kepala Kai. Ia memperlihatkan telapak tangan kirinya yang terbalut kain bersih. "Energi suci kuil selatan mempercepat penyembuhan luka fisik, Kai. Ini hanya terasa sedikit perih, tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan energi dalammu yang terkuras habis."

Kai membawa telapak tangan Hana yang terbalut itu ke bibirnya, mengecupnya dengan lembut. Matanya yang kini sewarna malam menatap Hana dengan ketulusan yang mendalam. "Tanpa naga itu... aku merasa seperti manusia biasa yang rapuh. Semenjak kecil aku selalu mengutuk keberadaannya di dalam dadaku, namun saat dia benar-benar pergi dan Rei serta Mai kembali mengintai dari kegelapan, aku menyadari betapa ringkihnya benteng yang kubangun ini."

Hana menggeser duduknya, ikut naik ke atas ranjang dan duduk bersila di hadapan Kai. Ia menggenggam kedua tangan pemuda itu, menyalurkan kehangatan spiritualnya yang lembut untuk membantu memulihkan aliran chi Kai yang kacau.

"Kau tidak ringkih, Kai. Dan benteng ini tidak runtuh hanya karena naga itu pergi," kata Hana dengan nada suara yang penuh keyakinan. "Semalam, kau menghadapi Mai dan Rei bukan dengan kekuatan monster yang menghancurkan. Kau menghadapi mereka dengan instingmu, dengan keberanianmu sebagai seorang pemimpin yang ingin melindungi tempat ini. Dan yang paling penting... kau melakukannya demi melindungiku."

Hana menatap lurus ke dalam mata Kai, pendar di matanya sendiri mencerminkan keteguhan hati yang luar biasa. "Kelicikan Rei dan Mai berhasil dipatahkan malam ini bukan karena mereka takut pada api yang membakar hutan, tapi karena mereka terkejut melihat seorang Kai yang tidak lagi bisa mereka dikte dengan rasa takut."

Kai terdiam, meresapi setiap kalimat yang keluar dari bibir Hana. Kehangatan yang menjalar dari tangan Hana perlahan membuat otot-otot tubuhnya yang tegang mulai mengendur. Rasa kosong di dalam dadanya kini tidak lagi terasa seperti sebuah kelemahan, melainkan seperti sebuah wadah bersih yang siap diisi dengan lembaran baru—lembaran yang ia tulis sendiri, bukan oleh takdir kutukan leluhurnya.

"Kau benar," bisik Kai, garis rahangnya yang tegas kini melunak. Ia mendekatkan wajahnya, mengecup kening Hana perlahan, membiarkan aroma wangi bunga kemuning yang khas dari rambut gadis itu memenuhi indra penciumannya. "Kita punya waktu untuk bersiap. Selama mereka mengira naga itu masih ada di sini, mereka akan menyusun rencana dengan penuh kehati-hatian, dan waktu itulah yang akan kita gunakan untuk memperkuat diri."

Di luar jendela kamar, angin malam kembali berembus, menggoyang dedaunan pohon dedalu tua di taman dalam. Benteng timur mungkin sedang berdiri di atas puing-puing kepercayaan yang hancur, dan tiga wanita yang mendendam masih menenun jaring di balik kabut perbatasan. Namun di dalam kamar yang sunyi itu, di atas benih kepercayaan dan cinta yang baru saja tertanam, Kai dan Hana tahu bahwa mereka tidak lagi berjalan sendiri-sendiri menghadapi kegelapan yang sedang mengintip di ufuk timur.

Malam kian larut merayap di atas atap-atap benteng timur. Setelah memastikan Kai telah tertidur lelap di kamarnya untuk memulihkan energi yang terkuras habis, Hana melangkah pelan membelah koridor sunyi menuju kediamannya sendiri. Langkah kakinya terasa berat, sisa penat dari pertempuran di hutan bambu kini benar-benar menagih haknya pada tubuh ringkih sang gadis suci.

Kamar Hana temaram, hanya diterangi oleh sebatang lilin kecil di sudut meja rias yang apinya meliuk-liuk lemah ditiup angin malam dari celah ventilasi. Di atas ranjang kayunya, suasana tampak biasa saja. Sebuah guling kain putih berbaris rapi di samping bantal, terlihat empuk dan mengundang siap saja yang kelelahan untuk segera merebahkan diri. Namun, di bawah rajutan benang kain itu, tersembunyi sebuah sihir penyamaran yang teramat rapi. Yuki, meski dalam kondisi lemah, masih memiliki sisa-sisa pelayan siluman yang setia. Salah satunya adalah Ming Tonk, siluman tingkat rendah yang memiliki kemampuan mengubah bentuk fisik menjadi benda mati secara sempurna.

Hana mengembuskan napas panjang, melepaskan tusuk konde emasnya dan meletakkannya di atas meja kecil. Dengan tubuh yang teramat lelah, ia berjalan mendekati ranjang, lalu merebahkan tubuhnya di atas kasur yang empuk. Secara refleks, tangan kirinya yang terbalut kain bersih meraba ke samping, meraih guling putih di dekatnya untuk didekap erat, sebuah kebiasaan kecil untuk mencari kenyamanan di tengah malam yang dingin.

Saat Hana memejamkan mata dan mulai tenggelam dalam pelukan itu, sebuah kejanggalan magis terjadi tanpa disadarinya. Kain guling yang semula terasa dingin dan padat perlahan-lahan melunak, memancarkan hawa hangat yang ganjil. Dalam keheningan yang pekat, wujud benda mati itu meleleh, bergeser secara halus dan senyap berubah menjadi wujud manusia. Ming Tonk telah kembali ke bentuk aslinya, berbaring tepat di dalam dekapan Hana yang sudah setengah terlelap.

Hana yang matanya sudah terpejam rapat hanya bisa merasakan rangsangan aneh yang mulai merayap di permukaan kulitnya. Kesadarannya yang berkabut membuat akal sehatnya terlambat menyadari bahaya. Ia hanya merasa guling yang didekapnya mendadak terasa begitu hidup. Sepasang lengan yang halus namun dingin mulai membalas pelukannya, bergerak perlahan membelai punggung dan tengkuknya dengan ritme yang teramat lembut. Sentuhan-sentuhan halus itu terasa seperti mimpi di tengah rasa kantuk yang berat, seolah sengaja meninabobokan sisa kewaspadaan yang ia miliki.

"Napasmu begitu tenang, Gadis Suci..." bisik sebuah suara yang teramat lirih, nyaris menyerupai desiran angin malam di telinga Hana.

Ming Tonk menggerakkan jemarinya dengan sangat hati-hati, menghindari gerakan kasar yang bisa memicu bangkitnya energi spiritual dari pusaka Hana di meja seberang. Dengan keahlian silumannya, ia mulai meraba titik-titik aliran darah di sekitar leher belakang dan pundak Hana untuk mencari titik kelemahan fatal tempat energi kehidupan Hana berpusat. Setiap belaian lembut yang ia berikan sebenarnya adalah upaya untuk menyumbat aliran chi Hana secara perlahan.

Hana sedikit melenguh, kepalanya terasa kian berat dan pusing yang luar biasa mendadak menyerang kesadarannya. Hawa hangat yang mengalir dari sentuhan-sentuhan di tubuhnya membuat seluruh ototnya mati rasa, melumpuhkan kemampuannya untuk berteriak atau sekadar membuka mata. Di bawah manipulasi sentuhan lembut Ming Tonk, kegelapan yang pekat mulai merenggut kesadaran Hana sepenuhnya, menyisakan tubuh sang gadis suci yang kini terkulai lemas di dalam cengkeraman siluman suruhan Yuki, siap untuk dibawa pergi menembus pekatnya malam perbatasan.

1
ginevra
kenapa semuara orang mau bikin gara2 sama kai sih
ginevra
anggun sekali penggambarannya
Aquarius97 🕊️
buat saja Hana menjadi istrimu Kai ... atau mengamuk saja dulu, mereka pasti tunduk
Aquarius97 🕊️: hihihi siapp akak 🙏🏻
total 2 replies
Xlyzy
pergi gitu aja mai tinggalkan jejak gitu Tah berupa ayam bakar mungkin 😁
Sarifah_Aini97: Haha bisa aja nih! Kalau jejaknya ayam bakar, yang ada malah langsung habis dicemilin sebelum ketemu jalan pulangnya 😂 Makasih ya udah mampir dan baca!
total 1 replies
Miu.Nuha
haish Hana punya rasa takut juga ya ternyata 🤭 tadi sok2 berwibawa saat bicara berdua, hehe...
Miu.Nuha
apakah naga di dalam tubuh kai pernah keluar dan mengamuk?? 😱
Sarifah_Aini97: belum sampai kesitu isi ceritanya
total 1 replies
Rain Aricia
Kok aku merasa si Hana ada rasa ga suka gitu ya sama Kai? Apa mereka saling benci
Sarifah_Aini97: Pertanyaan bagus! Apakah mereka saling benci atau ada alasan lain di balik sikap mereka? Penasaran kan? Yuk, terus ikuti kelanjutannya, pelan-pelan rahasianya bakal terbuka kok! 🤗
total 1 replies
༺⬙⃟⛅ MULIANA💦
nah kan. hana sejenis mata-mata untuk melihat keadaan
Rain Aricia
Eh berarti si naga tau dong apa aja yang dipikirin sama Kai🤔
༺⬙⃟⛅ MULIANA💦
apa hana mata-mata yang dikirimkan?
Three Flowers
Mai atau Hana yang jahat?
Three Flowers: hehe iya gpp deh Thor... penasaran bikin tambah sedep nikmatin kisahnya
total 4 replies
Three Flowers
berarti Hana berada di pihak lawan?
Cimol krispy
Hei Mai, jangan asal bicara. bisa jadi Hana juga di paksa untuk datang
Cimol krispy
seolah² seisi benteng tengah mempersiapkan sesuatu yang besar dan berbahaya ya Kai
-Thiea-
jadi, semua orang pengen lihat si kai jatuh ya. karena kekuatannya sudah dianggap melemah, gak sekuat dulu. 🤔
Filan
vibenya sangat tegang tapi masih belum begitu paham masalah yang sedang mereka hadapi. Di sini hanya Hana yang bukan berasal dari klan mereka dari 4 wanita itu ya.
Mega Siregar
apakah itu peringatan😧?
Xlyzy
Apa yang mereka cari?, bisa bisa di tengah perjamuan bikin kacau
Three Flowers
apakah mereka mengincar Hana?
Three Flowers
sosok Mai ini kelihatan bar bar, kebalikan dari Hana.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!