Rezza pria tampan dan mempunyai kehidupan cukup mapan sejak lahir dengan terpaksa harus menerima perjodohan dari ibunya dengan seorang wanita yang bernama Artiya sepupu dari kekasihnya sendiri,yang menurut Rezza wanita itu sama sekali tidak menarik dilihat dari segi manapun juga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon triy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MENIKMATI KEBERSAMAAN
Malam itu Rezzapun terpaksa tidur berdampingan dengan pak Jono dikamar tamu,
awalnya Rezza memilih tidur dikursi ruang tamu dan Rezza menyuruh pak Jono tidur dikamar tamu,sebab Rezza merasa tak tega membiarkan orang tua seperti pak Jono merasa tak nyaman tidur dikursi ruang tamu.
Namun malam semakin larut,mata Rezza tak bisa terlelap juga,
semua itu disebabkan, dia dijadikan santapan nyamuk nyamunk yang kalap kelaparan,
lalu dengan terpaksa Rezzapun beralih kekamar tamu dan akhirnya tidur berdampingan dengan pak Jono juga,
Saat akan membaringkan tubuhnya Rezzapun bergumam,merasa sedikit kesal dengan ibunya,
"inilah buktinya ",
" ucapan emak adalah sebuah do'a untuk anaknya",gerutu Rezza,
"langsung dijabah sama Allah",
"nyuruh aku tidur ditemeni sama pak Jono",
"awalnya sih gue ogah,eehhh...sekarang beneran gue sendiri yang mapan",
"ibarat prawan,awalnya jual mahal" "lama lama nyosor sendiri juga"
"kagak punya harga diri amat gue ini"
"eh...tapi apa ia, sebab aku kualat ya..sama pak Jono?" batin Rezza,
"masak iya sih...sebab tadi aku bandingin punya pak Jono sama pisang lokal?" Rezza masih membatin sambil melihat kearah muka pak Jono yang sudah terlelap dalam mimpinya.
"bodo amatlah...,yang penting bisa tidur dulu" ucap Rezz kemudian membaringkan tubuhnya disebelah pak Jono dan tak lama Rezzapun bisa terlelap juga.
Azan subuh sudah berkumandang,semua sudah bangun untuk menjalankan sholat subuh,
Kakung Tiya dan pak Jonopun sudah berangkat kemesjid yang tak jauh dari rumah pak Marijan,untuk mengikuti sholat berjama'ah,akan tetapi Rezza masih terlelap dalam tidurnya sebab dia baru bisa tidur sekitar jam tigaan pagi.
Melihat suaminya belum bangun Tiyapun bergegas membangunkan suaminya dikamar tamu,supaya bisa menjalankan sholat berjama'ah dimasjid.
"mas bangun"
"udah waktunya subuh lho.."
Rezza yang masih merasa mengantukpun terbangun juga, lalu menggosok giginya dan mengambil air wudu,dan pergi menyusul kakung Tiya dan pak Jono.
Setelah pulang dari masjid Rezza mengajak Tiya untuk berjalan jalan pagi,supaya Tiya dan bayinya sehat dan memudahkan istrinya bersalin jika waktunya nanti tiba.
Dengan senang hati Tiyapun mengiyakan ajakan dari suaminya itu.
Dikarenakan Tiyalah yang lebih tau kampung itu,maka Tiyalah yang menunjukkan jalan dimana mereka bisa menikmati pemandangan yang indah.
Tiya mengajak Rezza berjalan menyusuri jalan perkampungan yang menyuguhkan pemandangan persawahan dan perbukitan yang indah,
sepasang suami istri itu berjalan dengan bergandengan tangan,mereka tampak bahagia menikmati momen itu,
selama Rezza menikahi Tiya baru kali ini dia memiliki waktu yang luang untuk bersantai menemani Tiya istrinya.
Tiyapun sudah terlihat sangat bahagia walaupun hanya berjalan jalan pagi bersama suaminya,
bagi Tiya bisa menikmati waktu bersantai bersama suaminya adalah hal yang lebih menyenangkan dan membahagiakan, dibandingkan dengan apapun.
Dulu Rezza selalu disibukkan dengan pekerjaannya,sebelum kembali ke kota S Rezza memutuskan untuk tinggal dikampung itu bersama istrinya selama seminggu.
Rezza masih ingin menikmati suasana perkampungan yang yang memiliki pemandangan Alam yang sangat indah di kampung kakung dan utinya Tiya itu.
Disepanjang langkah mereka berdua selalu mengukir senyum kebahagiaan,sesekali Rezza menanyakan pada istrinya,
"kamu sudah merasa lelah belum sayang?"
"belum mas!" jawab Tiya dengan senyum manisnya.
"mas udah lelah ya?" Tiya balik bertanya,
"mana mungkin aku lelah sayang"
"bersamamu, aku nggak akan pernah merasa lelah sayang"
"jadi jangan pernah tinggalin aku lagi ya...!" ucap Rezza penuh harap pada istrinya,lalu Rezzapun menciumi tangan istrinya yang digenggamnya sedari tadi.
"iya mas,aku nggak akan tinggalin kamu lagi"
"janji"
"aku janji mas" jawab Tiya meyakinkan suaminya.
Mendengar jawaban dari istrinya itu,hati Rezza menjadi tenang,lalu Rezzapun merengkuh bahu istrinya yang hanya sebatas bawah ketiaknya itu,
Tiya tampak sangat pendek berjalan disebelah Rezza yang terlihat jangkung itu.
Rezza berjalan menggandeng tangan istrinya terlihat seperti seorang kakak membimbing adiknya.
Rezzapun tak henti hentinya menciumi pucuk kepala Tiya,dan membungkukan badannya supaya bisa mencium pipi istrinya dengan penuh cinta.
Melihat kelakuan suaminya itu Tiyapun merasa malu,sebab Rezza melakukannya di sepanjang perjalanan kampung yang mereka lewati.
"mas jangan!"
"malulah..,ini dijalan lho.."
" banyak orang yang liatlah mas"protes Tiya pada suaminya.
"nggak papa sayang"
"kita inikan suami istri yang sah"
"bukan pasangan yang sedang berselingkuh"
"lagian biar semua orang orang dikampung ini tau,kalo kamu itu udah punya suami yang guanteng"
"biar nggak ada yang berani ndeketin kamu lagi",ucap Rezza dingin sebab mengingat kejadian kemaren,saat dirinya melihat Tiya duduk ditemani laki laki lain.
Seketika rasa cemburu dalam hati Rezza yang sempat ia lupakan itu timbul kembali.
Dengan kening ditekuk Tiyapun bertanya,
"siapa juga yang mau sama wanita yang lagi hamil kayak aku ini sih mas?" tanya Tiya heran,
"ya pastinya suamimu inilah yang paling mau sama kamu",
"kamu tu tambah cantik saat kamu lagi hamil anakku lho sayang" puji Rezza sambil mengelus elus perut Tiya.
"nggak boleh ada cowok laen lagi yang deket deket sama kamu!" ucap Rezza tegas,
"memang siapa sih mas yang udah ndeketin aku?", "jangan aneh aneh deh" ucap Tiya masih heran dengan perubahan suasana hati Rezza yang awalnya baik baik aja,
berubah menjadi sewot dengan muka ditekuk seperti ada yang tidak puas dari dalam hatinya.
"kamu pikir kemaren aku nggak liat apa?,kamu lagi duduk disisi warungnya uti, ditemeni cowok berseragan coklat?" kata Rezza dingin.
"masak sih mas?" tanya Tiya merasa kaget tak menyangka.
"kenapaaa?"
" kaget ya...?" tanya Rezza ketus,lalu menghentikan langkahnya.
"ya kagetlah mas..!"
"sejak kapan mas nyampek diwarungnya uti kemarin?"
"sejak setengah jaman sebelumnya",
Tiyapun terdiam sesaat lalu berkata "maaf ya mas, aku nggak tau kalo kamu ada disana",
"kemaren diwarung kan banyak orang yang makan mas,jadi aku nggak tau kalo ada kamu juga disana",
"ya..gara gara keasikan ngobrol sama tu orang kan?", "jadinya nggak nyadar udah aku perhatiin terus"sewot Rezza masih tak terima,
"dia itu setiap hari makan diwarungnya uti mas" jelas Tiya,
"dari sarapan,makan siang, trus sorepun dia minta dibungkusin juga lho.. mas",
"apa dia nggak bosen ya..mas,tiap hari makan soto terus?" ucap Tiya heran.
Mendengar penuturan dari istrinya tersebut ,Rezza yakin pasti laki laki itu ada hati pada istrinya,Rezza tak akan membiarkan ada pria lain yang mendekati istri tercintanya.
Tiya merasa aneh dengan perubahan sikap dari suaminya itu yang tiba tiba terdiam,
untuk mencairkan suasana Tiyapun mengajak Rezza untuk mampir kewarung bubur yang terlihat diujung jalan.
"mas aku udah laper nie..kita makan bubur yuk!" ajak Tiya pada suaminya,
Rezza yang semula berada dalam dunianya sendiri itupun kembali kedunia nyata, dan dengan sedikit gelagapan iapun menjawab,
"ayo...ayo..ayo...",
"mana buburnya sayang?" tanya Rezza pada istrinya,
"warungnya masih didepan mas",
"diujung jalan itu lho..mas" jawab Tiya sambil menunjuk kearah depan.
Rezza dan Tiya memesan dua porsi bubur ayam dan satu porsi bubur kacang hijau,sebab Tiya tak akan merasa kenyang jika dia hanya memakan satu porsi saja.
Sambil menunggu pesanan mereka datang Rezza mengangkat kedua kaki Tiya diatas pangkuannya lalu Rezzapun memijit dengan lembut kaki istri tercintanya tersebut.
Tiyapun hanya membiarkan suaminya melakukan itu,sebab akan sia sia juga jika Tiya melarang Rezza melakukannya.
Mereka menikmati bubur yang sudah diantar oleh penjualnya,sesekali Rezza mengelap sisa bubur yang menempel diujung bibir istrinya.
Sepasang suami istri itu menikmati kebersamaan mereka dengan bersuka ria.
Mereka tak menyadari ada seseorang yang sedari tadi melihat kearah mereka,orang itu melihat kebahagiaan Rezza dan Tiya dengan hati yang terluka.
Ya orang itu adalah Herman,kemarin setelah dia melihat Tiya yang benar benar sudah menikah dan sedang mengandung buah cinta dari suaminya,Herman memutuskan tidak akan lagi membeli sarapan diwarung soto milik utinya Tiya.
Jadi Herman memutuskan untuk sarapan diwarung bubur ayam dekat dengan tempatnya tinggal,
Justru hal yang tak terduga ia lihat, adalah mendapati Tiya dan suaminya terlihat sangat bahagia sedang menikmati sarapan ditempat itu juga.
Melihat orang yang disukainya terlihat bahagia dengan pasangannya,Herman menjadi kehilangan selera makannya lalu iapun segera pergi dari warung bubur itu setelah membayar makanan yang belum sempat ia nikmati itu.
Selesai menikmati sarapan Rezza dan Tiya memutuskan untuk kembali kerumah,sebab matahari mulai menunjukkan sinarnya,tak lupa Rezza membungkus beberapa bubur ayam dan kacang hijau untuk semua orang dirumah dan untuk Tiya juga tentunya.
Rezza tau orang yang sedang mengandung pasti memiliki selera makan yang luar biasa,ia tau itu sebab dulu Rezza melihatnya dari Amel saat Rezza menemaninya makan.
Hari menjelang siang,uti Tiya memutuskan untuk tidak berjualan dihari itu,karena jaran jarang mereka mendapat tamu dari luar kota.
Hari itu juga,Rezza mengajak satu keluarga untuk pergi ketempat tempat wisata yang ada dikota J.
Sehari itu mereka gunakan untuk family day,sebab bu Sanusi dan pak Jono akan pulang ke kota S setelahnya, dan Rezza akan tinggal bersama Tiya selama seminggu dirumah kakung dan utinya Tiya.
Sekeluarga itu sampai dirumah sekitar jam 5 sore,mereka mengunjungi tempat wisata seperti taman,bangunan bersejarah,berbelanja dan pergi kerumah makan yang menyajikan pemandangan alam kota J yang sangat indah.
Bu Sanisi dan pak Jono berpamitan pulang setelah menunaikan sholat maghrib,bu Sanusi mau mengirim mobil pada Rezza selama dia tinggal disana supaya memudahkan Rezza pergi kemana mana,namun Rezza menolaknya dengan lembut.
Rezza beralasa jika dia hanya ingin menikmati suasana dikampung itu,dan saat Rezza dengan Tiya akan kembali ke kota S Rezza berencana menaiki kereta api saja.
Malampun telah larut,sudah waktunya untuk semua orang beristirahat,akhirnya Rezza bisa berdua saja dengan istrinya setelah sebelumnya dia menemani kakung dan utinya Tiya mengobrol.
Tiya tampak duduk bersandar ditepian ranjangnya sambil membaca buku,melihat istrinya yang belum tertidurpun Rezza menyusul disebelahnya.
"lagi baca apa sayang?" tanya Rezza lembut,
Tiyapun menoleh kearah suaminya dan menjawab" lagi baca buku panduan untuk ibu hamil mas"
"ooohhh...udah malam tidur yuk!" ajak Rezza sambil mengambil buku yang masih dibaca oleh istrinya itu.
"akukan belum ngantuk mas" ucap Tiya memprotes,
"kalo belum ngantuk",
"aku ajak olahraga yang bikin kamu ketagihan yah...sayang",
"maksudnya?" tanya Tiya pura pura tak mengerti,
"kita kan udah lama nggak bersama sayang,masak kamu nggak kangen sih sama aku?" tanya Rezza merasa sedih.
Tiya yang melihat suaminya dengan tatapan sendu itupun langsung mengecup bibir singkat Rezza "cup",
Merasa mendapat perlakuan istimewa dari Tiya,Rezzapun tak menyia nyiakan kesempatan itu,diraihnya dagu istrinya yang sedikit menjauh itu, lalu Rezza mengucapkan do'a sebelum menjamah istrinya dan mencium keningnya Tiya.
Kemudian Rezzapun ******* bibir Tiya dengan penuh kelembutan.
Setelah merasa Tiya mulai kehabisan oksigen,Rezzapun melepaskan perlahan dengan masih menyatukan kening mereka.
Detak jantung kedua pasang suami istri itupun tak beraturan,setelah mereka mendapat oksigen lagi yang cukup, Rezzapun meyambar bibir mungil istrinya lagi dan mengulangi ******* dan mengulum dengan penuh hasrat,
setelah puas, bibir Rezza beralih kebagian leher istrinya dah memberi beberapa tanda kepemilikan disana,tak berhenti disitu Rezza mulai membuka kancing baju istrinya satu persatu dan membuang baju Tiya kesembarang arah.
Hanya tersisa baju dalaman istrinya, yang menutupi kedua buah gunung kembar milik istrinya yang terlihat lebih montok dari sebelumnya.
Perut Tiya yang buncitpun terlihat nyata disana,lalu Rezzapun menciumi perut istrinya dan berkata dengan pelan disana,
"dik pinjem mama sebentar ya?",
"papa sangat kangen sama mamamu",lalu Rezzapun menciumi kembali perut Tiya , dan melanjutkan lagi aksinya kebagian tubuh istrinya yang lain.
Setelah bergerilya kesana kemari,dan pusat dari kehidupannya mengeras sempurnya Rezzapun mulai memasukkannya kesarang kenikmatan milik istrinya,Rezza melakukannya dengan pelan, takut aksinya akan menyakiti Tiya maupun calon bayinya.
Malam itu mereka melakukannya hanya duakali saja,tak seperti biasanya yang akan Rezza dan Tiya lakukan paling sedikit tiga kali dalam satu malam.
Rezza sebenarnya masih ingin menambah lagi,tapi dia mengingat pesan dari dokter jika dirinya belum boleh melakukan kegiatan yang terlalu menguras tenaga,
dan diapun tak boleh egois dengan syahwatnya itu,dia juga harus memikirkan keadaan istri dan calon bayinya yang masih dikandung oleh istrinya.
Setelah selesai Rezza dan Tiya tak langsung tertidur,dengan tubuh yang masih polos,hanya berbalut selimut Tiyapun mengusap dada suaminya yang terdapat bekas luka operasi,
"mas sebenarnya apa yang terjadi sewaktu aku pergi sih?",
"kenapa banyak sekali bekas luka jahitan dibagian kepala dan dibagian dadamu ini mas?"
Rezza meraih tangan kanan istrinya yang mengelus lembut dadanya lalu menciuminya dengan lembut.
Ķemudian Rezza memiringkan tubuhnya berhadapan dengan Tiya dan mulai bercerita,
"sebenarnya aku mengalami kecelakaan yang cukup parah,lima bulan yang lalu sayang",
Tiya sangat terkejut dengan ungkapan dari suaminya barusan,lalu Tiya memandang suaminya dengan penuh kesedihan "kenapa bisa mas?" tanya Tiya iba,
"sewaktu aku baru kembali dari kota M,aku membaca surat yang kamu Tulis sayang",
"sesudah membacanya,yang ada dalam benakku hanyalah ingin menemukanmu,dimanapun kamu berada sayang"
"saat itu aku hanya ingin bertemu denganmu,memelukmu,dan menjelaskan semua kesalah fahamanmu terhadapku,sayang",
Tiya hanya mendengar ucapan dari suaminyà dengan penuh penyesalan dan dipelupuk matanyapun mulai berkaca kaca,
"yang aku tuju saat itu adalah rumahnya om Sudiman dan tante Suriyah"
"aku ingin mencari tau dimana aku bisa menemukanmu"
"tapi sebelum aku sampe disana,mobilku sudah menghantam pembatas jalan dan terjadilah kecelakaan itu",
"aku harus dioperasi dibagian kanan kepada dan dada sebab ada tulang yang patah dan ada darah beku didadaku",
"aku harus opnam selama sebulan dirumahsakit H",
"sebab setelah operasi aku mengalami koma,dan tak ada kemajuan disana"
"lalu ibu dan kak Ana membawaku terbang kesingapura untuk mendapatkan perawataan yang lebih baik disana selama tiga bulan lebih",
"dan alhamdulillah aku bisa bangun dan bersamamu saat ini sayang" ucap Rezza penuh syukur.
Dengan rasa bersalah Tiyapun berurai air mata,làlu memeluk tubuh polos suaminya,dia mendekapnya dengan erat,seakan akan takut kehilangan suaminya.
Rezzapun membalas pelukan dari istrinya dengan berucap "sayang jangan pernah pergi lagi ya...!" ,
"aku nggak akan bisa hidup tanpa kamu",
"aku sangat sangat mencintaimu sayang",
Mendengar ungkapan dari suaminya itu Tiya langsung menempelkan bibirnya dengan bibir suaminya,Tiya tak ingin mendengar suaminya meminta lagi padanya.
Tiya merasa bersalah pada suaminya sebab dia tak berada disamping suaminya disaat suaminya membutuhkannya.
Tiyapun menciumi bekas luka dikepala suaminya dan dibagian dada suaminya sambil berkata,
"maafkan aku ya mas",
"aku nggak ada disisihmu disaat kamu membutuhkan aku",
"aku ini istri yang payah ya mas?tak bisa menjaga dan memahamimu" ucap Tiya penuh sesal dan derai air matanyapun tak berhenti mengalir.
"sssuuuuttt"
"bukan salahmu sayang,semua sudah takdir dari Allah",Rezza mencoba menenangkan istrinya dengan menyapu airmata istrinya yang tak berhenti mengalir.
"kamu jangan merasa bersalah",
"semua terjadi sebab kebodohanku sayang,yang tak berani berterusterang masalah Amel padamu",
"tapi dengan adanya kejadian itu",
"sekarang aku jadi tau,bahwa kamu menyukaiku semenjak kamu masih SMP" ucap Rezza menggoda istrinya sambil tersenyum tengil.
Seketika wajah Tiya menjadi merah jambu menahan rasa malu, sebab rahasia yang ia simpan rapat rapat selama ini, sudah ia utarakan pada Rezza suaminya lewat surat yang ditinggalkannya dulu sewaktu pergi.