NovelToon NovelToon
SIMULATION

SIMULATION

Status: tamat
Genre:Action / Fantasi / Contest / Sci-Fi / Dunia Masa Depan / Evolusi dan Mutasi / Sudah Terbit / Tamat
Popularitas:646.8k
Nilai: 4.9
Nama Author: Lelevil Lelesan

Dunia tahun 2170. Setelah terjadi perang besar yang berdampak ke seluruh dunia, teknologi dan persenjataan militer menjadi satu-satunya andalan dalam pertahanan negara.

Namun, pemberontakan terjadi pada sebuah negara superpower bernama "The Great Ruler". Di tempat itu, teknologi dan sains biologi malah menjadi perbedaan mencolok.

Dua penguasa kembar malah membuat kedamaian di dalam dinding terpecah. Presiden bidang sains biologi dianggap sebagai pemberontak karena menciptakan makhluk-makhluk mutan ganas dan tak bernaluri untuk menjadikannya seorang penguasa tunggal.

Diasingkan dan merasa dikhianati, dia kembali untuk balas dendam mengambil kekuasaan yang dianggap menjadi miliknya.

Ribuan mutan dikerahkan untuk mengambil alih kekuasaan. Ribuan robot dan drone dikerahkan untuk melawan.

Hingga munculah seorang wanita tak dikenal dan terabaikan yang membuat perubahan dan harapan di The Great Ruler.

Siapakah yang akhirnya akan bertahan dan menjadi penguasa di Great Ruler serta seluruh dunia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lelevil Lelesan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAY*

Sandra fokus berlatih bersama Akira dan Tony usai dua pria itu pulang bekerja. Akira mengajarkan Sandra untuk memusatkan konsentrasi karena kemampuan dalam mengendalikan pikiran menjadi salah satu ujian penting agar lulus menjadi seorang User.

Sedang Tony, mengajarkan kemampuan fisik agar otot-otot tubuh Sandra padat dan tangkas ketika menggunakan persenjataan.

Insting bertarung sangat dibutuhkan dalam melawan musuh, dan Tony mengambil bagian sebagai instruktur pribadi Sandra.

Dua minggu sebelum tes dilangsungkan. Perbatasan Distrik 9 dan 10.

"Tempat ini sangat aman, Sandra. Kau bebas berlatih apapun, tapi jangan sampai membuat suara ledakan yang menimbulkan guncangan. Polisi robot perbatasan akan langsung menangkapmu, dan aku, tak akan bisa menolongmu termasuk Akira," ucap Tony tegas. Sandra mengangguk terlihat pucat.

Wanita bermanik biru tersebut melihat sekeliling. Tempat itu terlihat begitu damai, tak ada manusia di sana kecuali mereka berdua.

Ada sebuah bangunan putih tinggi menjulang sebagai pembatas antara Distrik 9 dan 10. Sandra dan Tony berada di sebuah teluk dengan hamparan pasir putih mereka pijak.

"Yang bisa masuk ke dalam sini hanya para Captain, Komandan, dan Perwira tertinggi militer dengan tujuan pelatihan diri. Aku membawamu ke sini, harus mengisi banyak sekali rentetan nomor dalam formulir digital dan itu membuat mataku perih," ucapnya sembari mengedipkan mata berulang. Sandra tersenyum.

"Thanks, Tony. Kau sungguh baik. Semoga usaha kerasmu untuk membantuku, membuahkan hasil," ucap Sandra terdengar begitu tulus bagi Captain pasukan robot level B tersebut. Tony balas mengangguk dengan senyuman.

"Jadi. Apa latihan kita hari ini?" tanya Sandra terlihat gugup dengan pakaian latihan ala militer milik Rey dulu.

"Menyelam."

"What?!"

"Hempasan dari arus laut sangat bagus untuk melatih fisik dan pernafasanmu. Meskipun kau berada dalam ruang Simulator, kau tetap saja berlari, memanjat, dan bertarung. Bedanya, kau tak merasakan sakit, kedinginan, atau kepanasan. Namun, semua itu bisa kau rasakan jika kau memikirkannya. Oleh karena itu, menjadi seorang User itu tidak mudah, apalagi Captain sepertiku," ucapnya menekankan, meski terdengar kesan sombong dalam perkataannya.

Sandra tersenyum lagi untuk kesekian kali. Ia merasa ucapan Tony sangat tepat.

Ia sudah mendengar penjelasan dari Roves, User robot level E. Sekarang, dia berguru pada User robot level B yang tingkatannya lebih tinggi dan sulit ketimbang ayah Otka tersebut.

"Oke. Aku siap. Katakan saja, apa yang harus aku lakukan," ucap Sandra gugup seraya menggosokkan kedua tangannya yang mendadak gemetar.

"Lepas sepatumu. Aku sudah menyiapkan alat agar kau tetap berada di dasar air sampai kau memutuskan untuk menyerah," jawabnya seraya membuka sebuah benda dari dalam koper jinjing yang ia bawa.

Sandra mengangguk. Ia melepaskan sepatu boots dan berdiri tegap ketika Tony mendekati lalu memasangkan alat seperti sebuah gelang besi di kedua pergelangan kakinya.

"Itu apa, Tony?" tanya Sandra bingung melihat benda tersebut menyalakan warna hijau.

"Oke. Kita coba dari ... 5 kg?" jawab Tony seraya mengeset tombol pada gelang besi itu. Kening Sandra berkerut, ia tak paham dengan ucapan kawannya. "Oke, melangkahlah," pintanya seraya berdiri.

Sandra mengangguk. Namun, saat ia melangkah, "Agh!"

BRUKK!

"Hehehehe," kekeh Tony karena Sandra jatuh di atas pasir dalam keadaan tengkurap.

Sandra menarik pergelangan kakinya yang terasa berat seperti ada beban yang membelenggunya. Ia sampai menyeretnya dan menarik dengan tangan.

"Itu adalah gelang pemberat. Beban yang harus diterima oleh masing-masing kakimu adalah 5 kg. Nah, berdiri dan berjalanlah sampai kau tenggelam di air," pintanya santai.

Sandra melotot. "Aku akan tenggelam! Aku tak akan bisa berenang ke permukaan!"

"Itulah tujuannya. Melatih kemampuan fisik hingga batas terakhir. Jika kau ingin tetap hidup dan menghirup oksigen, kau harus mengalahkan beban di kakimu itu. Kau harus memaksa tubuhmu untuk berenang ke atas agar tak tewas. Oke?" jawab Tony menjelaskan dan diakhiri dengan jempol serta senyuman.

Sandra terlihat pucat. Ia tak menyangka akan ada pelatihan fisik semengerikan ini. Ia melihat ombak di teluk itu cukup ganas.

Namun, Sandra sudah membulatkan tekat. Ia tak mau ucapan Roves benar, jika ia lulus karena bantuan dari Akira dan Tony. Ia sudah berjanji jika akan membuktikan dengan lulus menggunakan kemampuannya sendiri.

"Oke. You can do it, Sandra," ucapnya memotivasi diri.

Sandra menarik nafas dalam. Ia menggunakan kedua telapak tangannya untuk menopang tubuhnya kembali berdiri.

Tony berdiri di pinggir pantai seraya melihat Sandra yang berjuang dengan menyeret kakinya di atas pasir menuju ke tepian.

"Oh, wait!" panggil Tony tiba-tiba seraya mendatanginya sembari menempelkan sebuah alat diantara buah dadanya. Sandra terkejut karena pria itu bahkan tak meminta izin darinya. "Itu detektor oksigen. Jika kadar oksigen di paru-parumu sudah menipis, alat itu akan berbunyi nyaring. Dan aku akan menetralkan lagi gelang pemberat. Segeralah berenang ke permukaan sebelum kau terseret arus," ucap Tony menjelaskan.

Namun, Sandra malah semakin gugup. Ia tak menyangka pelatihannya akan seekstrim ini. Sandra memegang alat berbentuk oval yang terpasang di kaosnya. Lampu warna hijau menyala pada alat detektor oksigen tersebut.

Hingga akhirnya, kaki Sandra menyentuh air laut yang menyapu pasir-pasir di telapak kakinya. Sandra menarik nafas dalam.

Ia kembali melangkah meski menyeret kedua kakinya secara bergantian. Perlahan kaki Sandra tenggelam, lalu air itu naik ke pinggul, dada, dan BLUP!!

Sandra menghilang dari penglihatan Tony. Pria itu langsung membuka tablet yang terkoneksi dengan tiga alat yang terpasang di tubuh Sandra.

Tony mengawasi denyut jantung, kadar oksigen, dan tekanan di sekitar tubuh wanita cantik itu.

"Ayo, Sandra, kau pasti bisa," ucapnya menyemangati.

Mata Tony sibuk berganti dari tablet ke air, dari air ke tablet, begitu terus selama 5 menit sudah terlewati.

Tiba-tiba, PIP! PIP! PIP!

Tanda batas oksigen sudah mencapai titik kritis terdengar nyaring, baik dari tablet ataupun alat di dada Sandra.

Tony dengan sigap menonaktifkan gelang pemberat. Alat itu kembali ke ukuran beban semula yang hanya 1 ons saja.

"Hah! Uhuk!"

"Sandra!" panggil Tony panik dan segera mendatangi wanita cantik yang wajahnya muncul ke permukaan.

Tony berlari dan menarik Sandra yang malah diam mengapung tak berenang ke tepian. Sandra terlihat lemas dan wajahnya pucat. Tony segera mendudukkan Sandra di pinggir pantai dan menatapnya lekat.

"Kau tak apa?" tanya Tony cemas berjongkok di sampingnya.

"Yah, aku hanya ... aku ... aku kaget," ucapnya seraya mengusap wajahnya yang basah.

"Kaget? Kaget kenapa?" tanya Tony bingung.

"Ada ikan mendatangiku. Lalu kura-kura dan semakin banyak ikan. Aku takut dan panik," ucapnya sampai gemetaran.

"Setauku teluk ini aman, Sandra. Tak ada makhluk air yang membahayakan," jawab Tony tegas seraya melihat ke arah laut.

"Menyelam bersamaku?" ajak menguji.

Kening Tony berkerut, tapi ia mengangguk setuju. Kali ini, tak ada gelang pemberat. Tony bahkan membawa alat penyetrum dengan ujung terfokus sehingga alirannya tak menyebar dan mengenai mereka nantinya.

Tony berjalan duluan masuk ke dalam dan diikuti Sandra di belakangnya. Hingga akhirnya, dua orang itu tak terlihat lagi di permukaan.

Sandra menunjuk tempat ia di datangi hewan laut itu. Tony mengangguk dan berjalan ke arah tersebut.

Namun, sudah 5 menit berlalu, baik Tony ataupun Sandra tak mendapati hewan apapun di sekitar mereka. Tony meminta kembali ke atas permukaan dan Sandra mengangguk.

"Hah, hei. Kau bohong ya? Kau sengaja ingin membuatku basah dengan ikut masuk ke air? Kau licik, Sandra," tanya Tony menyipitkan mata mencurigai kawannya.

"Bukan begitu. Sungguh! Tadi itu sungguh mengejutkan. Aku seperti memberi makan ikan-ikan itu. Mereka mendatangiku dan menggigiti bajuku, seakan aku ini makanan mereka. Aku takut," jawabnya terlihat serius.

Tony kembali menyelam tanpa Sandra ikut bersamanya. Sandra masih mengapung dan melihat sekitar terlihat pucat. Tony mengajak Sandra kembali berenang ke tepian.

"Jangan-jangan, kau belum mandi? Atau baju itu tak pernah kau cuci? Jadi ... bajumu beraroma seperti makanan ikan," tanyanya seraya bertolak pinggang.

Sandra mendesis kesal dan menepuk lengan Tony kuat hingga pria itu merintih kesakitan.

"Well. Kalau begitu, kita cari tempat menyelam yang lain. Kita ke kolam renang umum saja," jawabnya memberi saran, dan Sandra mengangguk setuju.

"Em, Tony. Aku ingin sekali ke Distrik 10. Aku ingin tahu seperti apa di sana. Bisakah ... kau membawaku ke sana? Please, satu kali saja," pintanya memohon dengan sangat.

Tony bertolak pinggang terlihat memikirkan permintaan Sandra dengan serius.

"Oke. Tapi sebelum pukul 9 malam, kita harus keluar. Aku tak mau terkena teguran, terlebih membawa sipil sepertimu," jawabnya terlihat terpaksa.

"Thank you," ucap Sandra dengan senyum merekah.

Mereka kembali memakai sepatu, meski pakaian mereka basah. Namun, Tony mengatakan jika di sana ada banyak pedagang kaki lima yang menjajakan pakaian, meski bergaya kuno. Sandra terlihat semakin tertarik dan tak sabar berkunjung ke sana.

***

ILUSTRASI

SOURCE : PINTEREST (Inspiration Grid)

Doain novel ini menang lomba ya krn masuk nominasi. Amin~

1
👑Metania👩‍💻🔫💣
Love bangeett❤️🌟
Felisyah
aduh aduh...
Felisyah
dudududu... ad ap ini
Felisyah
gitu toh ceritanya..
hemmmmmm...
Felisyah
kurang 1 ae kok y ..
selamat sandra.. sepertiny ad yg cemburu..
Felisyah
aduh sandra.. ok lh keputusanmu.
women x women..
Felisyah
manut" wae mb aju. visual siapapun keren..
Felisyah
ono op meneh iki.. tegang pas akhir.😑
Felisyah
semanggat sandra..
Felisyah
baru baca lg eh... ad yg bikin ngilu.. 😫😫😫
Felisyah
oh.. mb vesper I miss u.. 😚😚😚
seperti ny matteo brusha jd blue
Felisyah
hemmmmm...
Felisyah
semanggat mb aju..
Felisyah
in jendral kok kayak bocah y..
gemesssss sm matteo..
Felisyah
ad ap in mb aju..
mosok akira ate nyusul rey..
Felisyah
masuk perangkap y sandra..
Felisyah
sapa dalange iki..
Felisyah
ad udang dblik batu..
Felisyah
lh tony khn laki" normal. harap maklum..
Felisyah
penguntit yh.. hahay
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!