NovelToon NovelToon
Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Single Mom / Anak Kembar
Popularitas:336.4k
Nilai: 4.8
Nama Author: Miss AL

Derasnya hujan malam ini, seorang gadis yang sedang merenungkan nasibnya sekarang, air mata terus berjatuhan tak ada niatan untuk di hentikan, bibirnya mengatup hanya ada isakan yang terdengar, matanya hanya tertuju pada satu benda dan kertas foto persegi kotak di tangannya dan seluruh tubuhnya bergetar hebat "Apa, yang harus aku lakukan." Jeritnya pilu.

Keputusan apa yang akan ia pilih. melepas atau menerimanya dan pergi menjauh ia butuh ketenangan.

Dan apa jadinya saat kehidupannya sudah tenang seolah olah takdir sedang mempermainkannya.

Ini tantangan hidup apakah ia bisa melawan traumanya karena masa lalu ataukah ia akan menemukan takdirnya bersamaan kembalinya dia dan orang orang masa lalu yang mulai hadir.


Heyy buat para reader semoga suka karena karya ini asli hasil imajinasi sendiri NO PLAGIAT NO CURI² MILIK ORANG LAIN, murni hasil berpikir sendiri 😁.

selamat membaca 💞

salam dari Author 💋😻

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss AL, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

AKSM 32

Genio sudah terlebih dahulu berada di mejanya, Gino dan Lucas masih berburu cemilan maka nya mereka belum nampak di meja.

"Nio, Gino dan Lucas mana? Bukannya tadi kalian sama sama kestan makanan?" tanya Camaro.

"Mereka masih berburu cemilan uncle," jawab Genio datar.

"Hah, mereka ini kalo sudah menyangkut makanan terutama cemilan pasti akan lama, yang diambil bukan satu tapi pasti banyak," gumam Camaro tapi masih terdengar oleh Tarissa dan Genio.

Tarissa sejak tadi matanya awas mengawasi Gino dan Lucas yang masih distan cemilan begitupun Genio walau mulutnya sibuk mengunyah tetapi mata tajamnya tak lepas dari sang adik dan sahabat.

Gino dan Lucas masih asik memilih cemilan yang akan mereka bawa ke meja.

"No, kayaknya ini enak nih, gimana mau dibawa gak?" tanya Lucas.

"Bawa aja, kalo menurut mu enak dah sikat aja," cetus Gino tanpa melihat.

Setelah dirasa cukup mereka pun kembali ke meja. Gino yang membawa keranjang cemilan di tangan kirinya dan tangan kanannya membawa sup coklat. Lucas pun sama bedanya tangan kanannya membawa semangkuk es krim. Lucas yang kurang hati hati hampir menabrakkan diri pada orang yang berjalan dihadapannya kalo saja Gino tak cepat menariknya tetapi yang kena tumpahan es krim Lucas dan sup coklat Gino malah orang yang berjalan di belakang mereka.

Brukkk!

"Aaaaaaaaaa. What gaun mahal kuuuu! dasar anak anak nakal, lihat gaun mahal ku kotor dan rusak gara gara kalian!" hardiknya.

"Aduhhhh gaun putih ku, dasar anak anak udik," geramnya.

Keributan itu mengundang beberapa pasang mata terutama Ansel dan Juno, sedangkan Tarissa dan Genio menahan diri karena mereka tau Gino bisa mengatasinya kecuali mereka sudah main kasar pada anak anak itu baru Tarissa akan maju, sedangkan Camaro yang melihat anaknya di bentak oleh orang lain ia tak terima saat hendak menyusul Lucas dan Gino pergerakannya dihentikan Tarissa.

"Kau mau kemana?" tanya Tarissa dingin.

"Menyusul Lucas dan Gino."

"Tak perlu." ucapnya singkat.

"What, kau tidak lihat anak ku dan Gino sedang dalam masalah," pekik Camaro.

"Aku melihatnya,"

"Kalau kau melihatnya kenapa berdiam diri di sini, kalau kau tak ingin ke sana biarkan aku yang ke sana," saat Camaro mulai melangkah suara Genio menghentikannya.

"Duduk lah uncle," kata Genio dingin.

"Tapi Nio,"

"Lucas aman dengan Ino," kata Genio singkat

Camaro pun mau tak mau menuruti perkataan Genio, ia mengawasi sang anak dan Gino dari tempat duduknya.

Di meja Ansel dan Juno berada.

"Tuan apa perlu kita ke sana untuk membantu?" tanya Juno.

"Kita lihat situasi, jangan gegabah," kata Ansel tenang, karena ia melihat Gino yang pembawaannya yang sangat tenang, entah kenapa ia percaya dengan anak itu, tetapi ia tetap pengawasi pergerakan mereka terutama pada dua orang dewasa itu.

kembali di mana Gino dan Lucas berada.

"Ma maafkan kami bibi, kami tidak sengaja, tadi kami menghindari yang ada di depan kami," lirih Lucas yang hampir pecah tangisannya karena sedari kecil Lucas tak pernah mendapat teriakan atau bentakan.

"Maafkan kami bibi, kami betul betul tidak sengaja. Lagi pula itu salah bibi berdua kenapa tiba tiba ada di belakang kami padahal sebelumnya tidak ada para bibi berjalan di belakang kami," ucap Gino tenang.

"What, anak ini menyalahkan kita Lun," pekiknya.

"Heh dasar kalian anak anak gak tau diri, jelas jelas kalian yang salah malah menyalahkan kami," pekik wanita yang bernama Luna.

"Kami kan sudah minta maaf, lagi pula kami akan ganti rugi pada gaun gaun bibi," sahut Gino.

"hah apa katanya tadi? Kau dengar tidak tadi dia bicara apa Ra? Ku rasa kuping ku yang bermasalah," serunya mengejek.

"Tidak tidak, tadi dia bilang, dia akan mengganti rugi pada gaun gaun kita ini," ujarnya dengan wajah menghina.

"Haha haha haha," mereka tertawa menghina perkataan Gino.

"Aduh dia lucu sekali, memangnya anak kecil seperti kamu dapat uang dari mana bisa mengganti gaun gaun yang sudah kalian buat kotor dan rusak ini," cibirnya. "Heh asal kalian tahu ya harga gaun kami ini sangat fantastis dan limited edition, sekalipun ibu mu menjual diri seumur hidupnya, kau tidak akan bisa menebusnya," ucapnya mencemooh.

"Jangan hina mommy ku!" teriak Gino yang wajahnya sudah mengeras, tangannya terkepal erat serta pandangan tajam menghunus kedua orang dewasa yang ada di hadapannya ini, "Jangan pernah sekali kali kau menghina mommy ku, mommy ku adalah wanita terhormat bukan wanita seperti kalian, memakai baju saja seperti gelandangan, ini acara fashion show dan amal bukan tempat pesta yang mengundang pria pria berhidung belang, lagi pula baju kekurangan bahan milik bibi sekalian ini tidak layak untuk ada di acara ini," hina Gino dengan seringai.

Wajah kedua orang dewasa itu memerah karena marah dan malu karena bisik bisik para tamu yang membenarkan perkataan Gino membuat mereka bertambah tak punya muka. Tarissa, Camaro, Genio dan Ansel yang mendengar perkataan Gino tersenyum puas. Sementara Lucas mengkerut ada di belakang punggung Gino untuk bersembunyi.

"Kurang ajar," teriaknya marah.

Plak!

Kejadian itu sangat cepat membuat Tarissa, Genio dan Ansel marah besar sedangkan Camaro terkejut melihat Gino ditampar oleh wanita berpakaian warna merah, ia cepat melangkah karena melihat sang anak menangis keras saat melihat sang sahabat ditampar di dapan matanya. Saat Camaro sudah tiba di samping anak anak, ia lalu membantu Gino dan sang anak untuk berdiri.

Tarissa dan Genio dibuat marah melihat Gino ditampar sampai tersungkur, mereka para tamu yang melihat juga tak menyangka kalo dua wanita dewasa itu tega menampar seorang anak kecil yang hanya tak sengaja menumpahkan semangkuk es krim dan sup coklat dibaju mereka padahal mereka juga sudah meminta maaf.

Saat ini inginnya Tarissa mengeluarkan pistolnya yang ada di dalam gaunnya ini, tetapi ia tak bisa membuat keributan untuk menembak mati kedua medusa itu, ia harus bersabar kalo ingin menyingkirkan mereka.

○●□■

"Apa yang kau lakukan pada anak ku," seru nada dingin itu dengan marah, entah apa yang terjadi pada dirinya, saat ia melihat Gino ditampar di depan matanya hatinya sangat pedih dan api membara membakar hatinya. Dan entah kenapa tiba tiba mulutnya bergerak sendiri mengucapkan kata anak padahal ia sendiri belum memastikannya.

Kedua wanita itu terkesiap mendengar suara bernada dingin itu tepat di belakang mereka, mereka serempak membalikan tubuh keasal suara itu. Mata mereka melotot sangking kagetnya melihat seorang pria tampan rupawan tepat berdiri dihadapan mereka, mata yang tadinya melotot kini berubah berbinar, sepertinya mereka melupakan kata "anak" yang tadi sempat dilontarkan Ansel. Kini mereka berlomba membenahkan diri dan mereka melupakan anak yang baru saja mereka tampar di depan semua mata dan melupakan seolah olah kejadian barusan tidak ada, eh.

Orang tua dari dua wanita tadi sejak mereka memarahi kedua anak yang tak sengaja menumpahkan makanan digaun putri mereka terdiam sebagai penonton tak menghampiri dan menegur putri mereka tetapi kini langkah mereka pasti karena ada seseorang yang sangat ingin mereka jumpai.

"Selamat malam tuan muda, apa kabarnya tuan," sapa orang tua Luna.

"Selamat malam tuan," ucap orang tua Dira.

"Siapa mereka Juno?" tanya Ansel sembari menatap tajam sepasang parubaya itu tanpa repot repot menjawab sapaan mereka.

"Mereka-." Juno belum menyelesaikan ucapannya sudah di potong oleh para orang tua itu.

"Ah maafkan kami tuan atas kelancangannya, kami belum memperkenalkan diri kami," ucapnya. "Saya Boby Demik, ini istri saya Lusi Demik dan anak kami Luna Demik dan saya adalah pemilik sekaligus pemimpin DK grup yang saat ini sedang menjalin kerjasama dengan perusahaan tuan," sambungnya jumawa.

"Perkenalkan saya Doni Law, ini istri saya Liliana Law dan anak saya Dira Law dan saya adalah pemilik dari LW grup yang saat ini juga sedang menjalin kerjasama dengan perusahaan tuan," ucapnya seraya mendorong anak perempuannya maju memperkenalkan diri.

Tak mau kalah dari keluarga Law yang memperkenalkan putri mereka, Boby dan sang istri pun mendorong bahu Luna untuk mendekati Ansel, saat ini dua putri pengusaha kecil ini mencoba peruntungan siapa tahu salah satu dari mereka bisa menjadi nyonya dan bisa mengangkat perusahaan orang tua mereka lebih berjaya lagi.

"Hai, salam kenal," sapa mereka bebarengan menyodorkan tangan pada Ansel.

Mereka saling berebut untuk mendekati Ansel.

"Aku duluan yang berkenalan," pekik Dira.

"Enak aja, aku duluan lah," ucap Luna sinis.

"Apa pantas tangan kotor itu yang sudah berani menampar anak kecil yang tak berdaya itu bersentuhan dengan kulit tangan kakak ku," seru seseorang yang berada di belakang punggung Juno.

Lantas mereka yang ada di situ melihat seorang perempuan cantik, anggun dan tinggi semampai itu menghampiri mereka dengan kaki jenjangnya itu, lebih tepatnya menghampiri sang kakak yang masih menatap tajam mereka. Juno menggeser sedikit tubuhnya untuk memberi jalan nona muda Dominic itu.

"Siapa kau?" tanya Luna sinis.

"Aku? Ah ternyata tak hanya pendengaran kalian saja yang tuli tetapi otak kalian juga b*d**, aku yakin saat pembagian otak kalian tidak ada di tempat kan?" tanyanya menghina sembari tersenyum kecil.

"Siapa kau sudah berani menghina putri ku, putri ku ini perempuan yang sangat cerdas dan terhormat tidak seperti mu cantik sih tetapi sayang mulut mu tidak di sekolahkan," tutur Lusi menghina balik.

"Iya betul itu, putri ku ini lebih berharga dari siapa pun, yang kotor itu kamu, cih," Liliana berdecih sembari melihat perempuan itu sinis.

"Hoho ho ho, ooh yaaa begitu, baik lah, kalian mengakui kalo putri kalian ini perempuan yang cerdas, terhormat dan berharga. Kalau begitu bagaimana kedua putri kalian ini meminta maaf pada anak laki laki itu yang baru saja putri kalian tampar, lagi pula hanya meminta maaf tak akan membuat kalian miskin bukan? Bukan begitu KAKAK?" tanyanya seraya kepalanya memutar menghadap sang kakak.

Sedangkan para suami sudah ketar ketir saat melihat istri mereka maju untuk membela putri mereka karena dua kepala keluarga ini sudah melihat kobaran api dimata tajamnya Ansel, setiap mereka menarik sang istri selalu ditepis. Dalam pikiran mereka "habislah sudah". Luna dan sang ibu Lusi. Dira dan sang ibu Liliana membelalakan mata saat mendengar dengan jelas saat perempuan yang mereka hina memanggil Ansel dengan sebutan kakak.

"Apa, tidak mungkin," seru mereka bersamaan.

"Apa, apanya yang tidak mungkin? Antara aku dengan kakak ku, begitu?" tanyanya sarkas.

"Ah ti tidak begitu nona, maafkan istri dan anak saya karena sudah menghina mengata ngatain nona muda," ucap Roby cepat seraya membungkukkan badannya begitu pun sang istri dan anak yang ia suruh untuk meminta maaf.

"Iya nona, kami minta maaf karena ketidak tahuan istri dan anak saya," ucap Doni takut akan kemarahan Ansel, ia berpikir jangan sampai perusahaan yang di bangun keluarga hancur karena ulah istri dan anaknya.

"Baiklah kalo kalian ingin selamat dari auman singa jantan kalian suruh putri kalian untuk meminta maaf pada anak laki laki itu kalo perlu sujud di bawah kakinya," perintahnya.

Ansel yang diibaratkan singa jantan oleh adik perempuannya hanya melirik malas pada sang adik, sedangkan Juno berusaha menahan tawa dengan deheman.

♤♡◇♧

Buat pembaca ku, maaf yaaa gantung untuk up selanjutnya mohon bersabar.

Jangan lupa dukung selalu karya ku .

like, komen dan subscribenya yaaa

Love You All 😊😘

1
Agustina Amy
lanjut kak tambah seru aj ceritany
Agustina Amy
percaya diri bngt tuch si bella...blom tahu dy siapa ansel
Agustina Amy
Lanjut kak tambah seru ceritanya
fatmawati (pipit)
mungkin gk ya shica hamil muda
Farida Irwanq: mereka kayaknya belum,menjalankan malam pertama setelah menikah.
total 1 replies
Glastor Roy
update ya torku yg baik hati
Glastor Roy
torku update ya
Farida Irwanq
Terimakasih kak thor.. semoga anaknya cepet sembuh.
Farida Irwanq
Di tunggu bab selanjutnya kak thor. nanggung nih.. apa kah itu mama nya yasicha
Farida Irwanq
di tunggu bab selanjutnya kak thor🙏
Farida Irwanq
semangat up kak thor di tunggu bab selanjutnya. terimakasih banyak🙏
Farida Irwanq
Semangat up nya kak thor. trimakasih🙏
Farida Irwanq
makasih kak thor. selalu menunggu
Agustina Amy
sllu d' tunggu updatenya Thor...jng lama" ya
Farida Irwanq
di tunggu bab selanjutnya kak thor,trimakasih🙏
Agustina Amy
Jujur Thor aq kasihan sma leo... bikin bs melarikan dri aj Thor Leony...biar logan g' makin dendam yg akhirnya merugikan dri logan sndri
Farida Irwanq
Di tunggu bab selanjutnya kak thor
Farida Irwanq
Di tunggu bab selanjutnya kak thor trimakasih banyak🙏
Glastor Roy
makasih torku update ya
Farida Irwanq
up lgai kak thor
reza indrayana
ai kembal sudah kenal ternyata dengan sang opa.. 🥰🥰
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!